APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA

PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA

Dewi tidak pernah menyangka bahwa kediamannya di rumah Pak Darma akan menyingkap tabir gelap. Di balik kemegahan hunian sang mertua, tersimpan berbagai rahasia kelam yang selama ini tersembunyi rapat. Satu demi satu misteri mulai terungkap, menyeret Dewi ke dalam pusaran kenyataan yang mengerikan. Puncaknya, ia harus menghadapi kebenaran mengejutkan mengenai jati diri aslinya yang berkaitan dengan kengerian di rumah tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA

Bab 3

Mungkin saat ini wajahku sedang memerah, mas Roni memang pandai membuatku tersipu malu.

"Ya udah, Mas temeni sampai kamu tidur."

Aku naik ke pembaringan yang sangat empuk. Baru kali ini aku tidur di ranjang sebagus ini. Tempat tidur yang kami miliki di rumah kontrakan, hanya berupa kasur kapuk saja tanpa ranjang. Hmm, nyaman sekali rasanya, ditambah udaranya sejuk, karena kamar ini menggunakan ac.

"Hei, siapa kamu!" Aku terlonjak melihat seorang anak kecil lelaki, kisaran usia sepuluh tahun, sedang berdiri di dekat jendela.

Dia hanya mematung menatapku, bulu kudukku meremang melihatnya.

"Kenapa kau masuk kesini, pergi dari sini!" Aku mengusirnya, dia tak bergeming. Pandangannya kosong ke arahku.

Aku semakin takut melihatnya, keringat mengalir dari pelipisku, padahal disini dingin. Siapa anak ini? Kenapa dia bisa masuk? Kemana mas Roni? Bukankah katanya akan menemaniku? Dia tak pamit denganku kalau ingin keluar kamar.

Gegas aku bangkit menuju pintu kamar, aku berusaha menarik handle pintu, tapi tak bisa. Pintu terkunci. Bagaimana ini?

Anak itu terus saja menatapku dengan pandangannya yang beku. Menjalarkan hawa dingin ke sekujur tubuhku, aku menggigil, namun berkeringat. Aku meringkuk ketakutan di balik pintu.

"PERGIIII!" Tiba-tiba dia berteriak. Suaranya begitu nyaring melengking, membuat gendang telingaku seakan mau pecah.

"TIDAAAK!" Aku spontan teriak juga dengan menutup kedua telingaku.

"Dewi, Sayang, kenapa kamu." Seperti ada yang menepuk-nepuk pipiku.

"Hos hos hos." Nafasku memburu. Keringat membanjiri wajah dan tubuhku.

"Kamu mimpi?!" tanya mas Roni, terlihat khawatir. Dia memberikan segelas air putih kepadaku.

Aku meminum tuntas air yang diberikan mas Roni. Aku merasa sangat kelelahan dan ketakutan. Mimpi itu begitu nyata. Aku melihat ke arah jendela, kosong. Tak ada siapa pun disana.

"Mas … aku takut." Aku langsung merangsek ke pelukan suamiku. Jantungku berdetak sangat kencang.

"Kamu cuma kecapekan." Dia membelai lembut rambutku.

"Kita keluar saja, biar bisa menghirup udara segar," ajak mas Roni. Aku mengikutinya, tak berani ditinggal sendirian.

Begitu keluar kamar, kami melihat Ibuk yang akan masuk ke kamarnya.

Kamar Ibuk dan kamar kami bersebrangan, hanya terhalang oleh sofa-sofa mewah yang tersusun sedemikian rupa. Disini biasanya Bapak dan Ibuk mengobrol dengan tamu-tamunya, kata mas Roni.

"Buk, motor Roni masih ada?" tanya mas Roni ke Ibuk.

"Masih, kuncinya di laci lemari yang di dapur," jawab Ibuk. Mas Roni, langsung ke dapur mengambil kunci motor.

"Udah sore begini, mau kemana?" tanya Ibuk lagi.

"Roni mau keluar, ngajak Dewi ke rumah Iwan."

"Ya sudah. Jangan malam-malam pulangnya," pesan Ibuk setelah kami mencium tangannya.

Sepanjang jalan, mas Roni menyapa beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Tak ada yang spesial dikampung ini. Hanya ada perkebunan sawit di setiap sisi jalannya.

"Kita ke rumah teman Mas ya," ajak mas Roni.

"Terserah Mas aja." Aku hanya mengikuti kemana suamiku pergi.

Kami tiba di sebuah rumah sederhana, dindingnya pun masih terbuat dari papan, tapi tampak terawat. Banyak bunga yang menghiasi di depan rumah itu. Menambah kesan asri.

Tok tok tok

Mas Roni mengetuk pintu rumah itu.

Tak lama terdengar suara pintu yang berderit. Tanda pintu sedang dibuka.

"Assalamualaikum," sapa mas Roni, memberi kejutan pada si empunya rumah.

"Waalaikum salam, Roniii." Mas Roni dan temannya saling berpelukan. Seperti sudah sangat lama tak bertemu.

"Apa kabar Bung," kata teman mas Roni, dia memegang bahu mas Roni. Senyum lepas terus menghiasi bibirnya.

"Alhamdulillah baik. Perkenalkan istriku." Mas Roni memperkenalkan aku ke temannya.

"Nama saya Iwan, Mbak." Dia tak menjabat tanganku. Hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.

"Saya Dewi." Aku juga melakukan hal yang sama dengannya.

Dari pakaiannya aku tau, dia seorang yang sepertinya sangat agamis. Entahlah ... kadang kita tak bisa menilai hanya dari pakaian saja, bukan?

Dia memandangku cukup lama, membuatku agak risih dan salah tingkah.

"Ma–maaf Mbak, astaghfirullah," katanya sepertinya menyadari kekhilafannya.

"Napa, lu naksir sama istriku," celetuk mas Roni.

"Jangan salah faham Bung. Aku gak suka nikung sahabatku sendiri hahaha," ujarnya berkelakar. Sepertinya mas Roni sangat akrab dengannya.

"Bagaimana denganmu, apa sudah punya istri? Jangan sampai jadi panglatu," tanya mas Roni.

"Apa itu panglatu?" Bang Iwan tampak bingung dengan perkataan mas Roni.

"PANGlima LAjang TUa hahaha," tawa mas Roni begitu renyah.

"Ah kau ini, aku belum menemukan yang pas. Lebih tepatnya yang mau denganku hahaha. Kau kan tau, aku cuma buruh bangunan. Tampang juga pas-pasan, siapa yang mau? hahahaha," canda bang Iwan.

Aku ikut tertawa kecil, mendengar candaan dan celotehan bang Iwan dan suamiku. Bang Iwan itu ternyata orang yang menyenangkan, jarang aku melihat mas Roni bisa tertawa lepas seperti ini.

"Kamu yang terlalu banyak milih kawan. Tampangmu memang pas pasan, pas kayak artis. Artis siapa itu namanya?" Mas Roni seperti mengingat-ingat.

"Dude herlino, Mas," celetukku. Memang sejak awal melihat bang Iwan, aku merasa familiar melihat wajahnya. Setelah kuingat-ingat dia agak mirip dengan artis Dude Herlino. Agak sih.

"Hmm iya, betul itu kata istriku. Jangan terlalu banyak milih lah, Wan. Soal rezeki, sudah ada yang atur. Ini kata-katamu waktu aku akan meninggalkan rumah Bapakku dulu, ingat kan?"

Bang Iwan tersenyum mendengar kalimat yang terucap dari bibir mas Roni.

"Baru merantau beberapa waktu saja, kau sudah jadi dewasa sekarang," ujar bang Iwan menepuk-nepuk bahu mas Roni.

"Ya, nanti Allah pasti kasih petunjuk." Sangat bijak kata-kata bang Iwan.

"Kau, pulang kesini hanya sekedar pulang, atau akan menetap?" tanya bang Iwan.

"Belum tau Wan. Bapak Ibuk, menginginkan aku tetap tinggal disini. Tapi Bapak sepertinya belum menerima pernikahanku dan Dewi." Mas Roni bercerita dengan mata yang menerawang.

"Sabar, banyak berdoa semoga orangtuamu mendapat hidayah," kata bang Iwan.

"Hidayah? Apa maksudnya?" tanya mas Roni heran.

"Emmm, itu hidayah, biar dibukakan hatinya menerima istrimu." Bang Iwan kelihatan agak bingung menjawab pertanyaan mas Roni.

Aku agak curiga dengan jawaban bang Iwan. Seperti ada yang disembunyikan.

"Sudah mau Magrib, kami pulang dulu," ucap mas Roni berpamitan.

"Cepat sekali, sholat Magrib disini saja," tawar bang Iwan.

"Laen kali aku maen kesini lagi, asal kau tak bosan menerimaku hehehe," kelakar suamiku.

"Pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Aku bisa minta nomor kontakmu?"

"Bisa." Mereka saling bertukar nomor kontak.

"Jaga istrimu baik-baik," pesan bang Iwan, sebelum kami naik ke atas motor.

Cukup membuat tanya di hatiku. Apa maksud bang Iwan bicara seperti itu? Sepertinya mas Roni juga merasa heran, terlihat dari raut wajahnya.

★★★KARTIKA DEKA★★★

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dijodohkan Hantu
8.7
Erina, yatim piatu yang selamat dari tragedi kebakaran, memiliki kemampuan melihat hantu. Selama seminggu, sesosok arwah wanita terus menguntitnya demi sebuah permintaan ganjil: menghibur suaminya yang berduka. Meski sempat menolak, Erina akhirnya luluh dan menemui Eldrick Damiano. Pertemuan itu justru menumbuhkan benih cinta di hati Erina. Namun, Eldrick telah menutup rapat hatinya dan bersumpah hanya akan mencintai mendiang istrinya selamanya.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Hamil Anak Genderuwo
8.5
Pasca suaminya terkena PHK, Esmeralda terpaksa memulai hidup baru di kampung halaman pasangan hidupnya tersebut. Namun, kepindahan ini justru membawanya pada serangkaian penampakan sosok Genderuwo yang mengerikan. Di tengah penantian panjang akan hadirnya buah hati, Esmeralda akhirnya dinyatakan mengandung anak pertama. Sayangnya, kebahagiaan itu tertutup awan gelap saat ia menyadari ada kejanggalan besar yang menyelimuti janin di rahimnya.
Sampul Novel Istriku Kuyang
9.6
Yusuf, seorang pemuda asal Jawa yang merantau, menemukan tambatan hati pada seorang gadis cantik di Kalimantan. Namun, romansa indah itu seketika berubah menjadi teror mengerikan saat ia mengungkap identitas asli sang kekasih. Ternyata, wanita yang ia puja adalah sosok kuyang, siluman berkepala terbang dengan organ dalam yang menggantung. Kini, Yusuf terjebak dalam dilema antara cinta dan kengerian. Bagaimana nasib hubungan mereka selanjutnya?
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku
9.2
Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Sampul Novel Kisah Cinta di Batukarut
8.6
Lihar dipercaya memimpin perusahaan pasir di Batukarut menggantikan Pak Ajat yang menyimpan dendam. Meski dibantu Dadun dan Om Joni, tantangan berat muncul dari kecurangan pekerja hingga teror gaib garam misterius yang memicu kecelakaan beruntun. Di tengah kemelut bisnis, hubungan asmara Lihar dengan Yeti terancam oleh kehadiran Erom hingga memicu keributan warga. Meski teguh menghadapi sabotase mistis, Lihar harus tegar saat kariernya stabil namun kisah cintanya justru hancur.