APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelangi Di Atas Singasari

Pelangi Di Atas Singasari

Mahesa, putra Arjuna dan Ken Rukmini, terjebak dalam intrik Kerajaan Pedang Wangi saat menghadapi ancaman Joyorono serta pasukan Mong. Didampingi Niken Wulandari, ia nekat bersekutu dengan Mong demi menumbangkan musuh, namun justru dikhianati. Untuk menyelamatkan negeri, Mahesa harus mengungkap rahasia masa lalu dan membangkitkan kekuatan pusaka Wesi Wangi. Di tengah pengkhianatan istana, ia belajar bahwa kepemimpinan sejati menuntut pengorbanan ego demi rakyat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Perjalanan Menuju Pasukan Mong

Langit di ufuk timur mulai berubah warna. Fajar menyingsing, memancarkan sinar oranye di atas perbukitan. Mahesa menyiapkan kudanya di halaman istana. Ia akan berangkat menuju perkemahan pasukan Mong yang terletak di tepian Sungai Tenggara, sebuah wilayah berbatasan dengan Pedang Wangi.

"Mahesa, kau yakin ini jalan yang benar?" Niken Wulandari berdiri di sampingnya, memegang erat selendangnya yang melambai diterpa angin pagi.

"Tidak ada jalan lain, Niken. Joyorono terlalu kuat jika kita hadapi sendiri. Pasukan Mong adalah satu-satunya harapan kita untuk membalik keadaan," jawab Mahesa, matanya penuh tekad.

Ken Rukmini mendekat, membawa sebuah bungkusan kecil. "Ini bekal perjalananmu, Mahesa. Ingat, Wesi Wangi bukan sekadar pusaka. Ia akan menjadi pelita bagi hatimu. Tetaplah murni dalam niatmu, meski badai menghadang."

Mahesa menunduk hormat, menerima bekal itu, lalu menaiki kudanya. Dengan ditemani beberapa prajurit terpercaya, ia berangkat menuju wilayah pasukan Mong.

---

Di Tengah Perjalanan

Hutan lebat membentang di sepanjang jalan. Cabang-cabang pohon tua yang menjulang tinggi seolah menjadi penonton bisu perjalanan Mahesa. Suara burung hantu terdengar sesekali, memecah kesunyian malam yang pekat.

"Tuanku," salah satu prajurit berbicara dengan suara lirih. "Kita sudah mendekati perbatasan. Haruskah kita berhenti sejenak?"

Mahesa menggeleng. "Tidak, kita terus maju. Kita tidak tahu kapan pasukan Joyorono akan menyerang lagi. Waktu adalah musuh terbesar kita sekarang."

Tiba-tiba, suara gemerisik terdengar dari semak-semak. Mahesa mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para prajurit untuk berhenti. Ia turun dari kudanya, menggenggam gagang Wesi Wangi yang terselip di pinggangnya.

Dari balik semak, muncullah tiga pria berbadan besar, berpakaian lusuh namun memegang senjata tajam. "Siapa kalian? Apa urusan kalian di wilayah ini?" tanya salah satu dari mereka dengan nada curiga.

"Kami adalah utusan dari Pedang Wangi," jawab Mahesa tegas. "Kami ingin bertemu dengan pemimpin pasukan Mong."

Para pria itu saling berpandangan, lalu tertawa keras. "Berani sekali kalian datang ke sini tanpa pengawalan besar. Apa kalian pikir pasukan Mong mudah didekati?"

Mahesa melangkah maju, menunjukkan Wesi Wangi yang bersinar dalam remang malam. "Kami datang dengan niat baik. Jika kalian tidak mengizinkan kami bertemu pemimpin kalian, kalian hanya akan memperlambat takdir yang sudah ditentukan."

Cahaya dari Wesi Wangi seolah memberi wibawa tersendiri. Para pria itu terdiam, lalu salah satu dari mereka mengangguk. "Ikuti kami. Tapi jangan berpikir untuk mencoba sesuatu yang bodoh."

---

Pertemuan dengan Pemimpin Pasukan Mong

Setelah perjalanan melelahkan, Mahesa dan rombongannya tiba di perkemahan besar pasukan Mong. Tenda-tenda menjulang, dengan bendera bergambar naga hitam berkibar di setiap sudut. Pasukan Mong terkenal kejam dan tanpa ampun, tetapi juga memiliki aturan kehormatan yang ketat.

Mahesa dibawa ke tenda utama, tempat seorang pria berusia sekitar empat puluhan duduk di atas kursi kayu yang dihiasi ukiran rumit. Ia adalah Jenderal Batu Karang, pemimpin pasukan Mong di wilayah itu. Matanya tajam, seperti elang yang memandang mangsanya.

"Apa alasanmu datang ke sini, anak muda?" tanya Batu Karang dengan nada penuh wibawa.

Mahesa maju selangkah, menundukkan kepala sebagai tanda hormat. "Saya adalah Mahesa, pewaris Kerajaan Pedang Wangi. Kami menghadapi ancaman besar dari Joyorono, penguasa Muara Ridek. Kami datang untuk menawarkan aliansi."

Batu Karang tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di wajahnya. "Kenapa kami harus membantu kerajaanmu? Apa yang bisa Pedang Wangi tawarkan kepada kami?"

Mahesa menarik napas dalam. "Jika Joyorono menguasai Pedang Wangi, ia akan menjadi ancaman besar bagi wilayah kalian. Kami menawarkan perdamaian dan kerja sama jangka panjang. Selain itu..." Mahesa mengeluarkan Wesi Wangi dari sarungnya, memperlihatkan sinar keemasannya. "Keris ini adalah lambang kepercayaan kami. Jika kami berkhianat, biarkan pusaka ini menjadi saksi dosa kami."

Batu Karang memperhatikan Wesi Wangi dengan tatapan penuh minat. "Menarik. Tapi, bagaimana aku bisa percaya bahwa ini bukan tipu muslihat?"

Sebelum Mahesa bisa menjawab, seorang prajurit Mong masuk dengan tergesa-gesa. "Tuanku, pasukan Joyorono bergerak mendekat. Mereka mungkin tahu tentang keberadaan Pedang Wangi di sini."

Batu Karang berdiri dari kursinya, tatapannya berpindah ke Mahesa. "Baiklah. Aku akan menguji niatmu. Jika kau bisa membuktikan keberanianmu dalam pertempuran melawan Joyorono, aku akan mempertimbangkan aliansi ini."

---

### **Pertempuran di Sungai Tenggara**

Mahesa dan pasukannya bergabung dengan prajurit Mong di tepi Sungai Tenggara. Pasukan Joyorono yang mendekat membawa senjata berat, dengan jumlah prajurit yang lebih banyak.

"Mahesa," Batu Karang berkata, "ini adalah kesempatanmu membuktikan bahwa kau pantas menjadi sekutu kami."

Mahesa mengangguk, menggenggam Wesi Wangi dengan erat. Ia tahu bahwa pertempuran ini bukan hanya tentang mempertahankan wilayah, tetapi juga tentang menunjukkan keberanian dan kejujuran di hadapan Batu Karang.

Saat kedua pasukan saling mendekat, Mahesa memimpin serangan awal dengan memanfaatkan kecepatan kuda dan kelincahan prajurit Pedang Wangi. Ia berhasil membelah formasi musuh, membuat barisan Joyorono menjadi kacau.

Namun, pertempuran tidak berjalan mudah. Di tengah kekacauan, Mahesa menemukan dirinya berhadapan langsung dengan salah satu panglima Joyorono, seorang pria kekar bernama Ki Waroka.

"Akhirnya, aku bertemu denganmu, pewaris Pedang Wangi," ejek Ki Waroka sambil mengayunkan pedangnya ke arah Mahesa.

Mahesa menghindar dengan lincah, lalu melancarkan serangan balasan menggunakan Wesi Wangi. Pertarungan mereka berlangsung sengit, dengan denting senjata yang terdengar seperti alunan musik perang.

Akhirnya, dengan sebuah gerakan cepat, Mahesa berhasil melukai tangan Ki Waroka, membuatnya menjatuhkan pedangnya. Namun, sebelum Mahesa bisa menangkapnya, Ki Waroka melarikan diri ke arah pasukannya.

---

Kepercayaan yang Diperoleh

Setelah pertempuran usai, pasukan Joyorono mundur untuk sementara. Batu Karang mendekati Mahesa dengan senyum kecil di wajahnya.

"Kau telah membuktikan keberanianmu, Mahesa. Kau bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga seorang pejuang sejati. Aku akan menerima tawaran aliansimu," kata Batu Karang.

Mahesa menundukkan kepala. "Terima kasih atas kepercayaanmu. Bersama-sama, kita akan menghadapi Joyorono dan mengembalikan perdamaian ke Pedang Wangi."

Namun, di balik rasa lega itu, Mahesa tahu bahwa ini baru awal dari perjuangannya. Pasukan Mong adalah sekutu yang berbahaya, dan pengkhianatan bisa datang dari mana saja. Dengan Wesi Wangi di tangannya dan doa dari Niken Wulandari di hatinya, Mahesa bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar.

---

(To Be Continued)

Bagian ini berfokus pada perjalanan Mahesa menuju perkemahan Mong, pertemuan dengan Batu Karang, dan pertempuran awal melawan Joyorono.

___***___

Sajak Bagian 2: Diplomasi dan Janji di Medan Perang

Di perbatasan Pedang Wangi yang redup,

Mahesa melangkah, hatinya tak gentar mengendap,

Di bawah bayang kabut sungai Tenggara,

Ia membawa harapan, meski jalan penuh duka.

Wesi Wangi di genggamannya berkilau,

Seperti doa sang ibu, tak pernah redup menyala,

Dengan tekad, ia mendekati pasukan Mong,

Berbicara tentang aliansi, tentang perang dan dongeng.

"Bantu kami," ucapnya dengan suara lantang,

"Joyorono adalah badai yang mengancam terang,"

Namun Batu Karang, sang pemimpin pasukan Mong,

Menguji nyali Mahesa dengan perang yang mendesak.

Di medan perang, pedang bersahutan,

Darah dan pasir berpadu di dataran,

Mahesa memimpin dengan jiwa ksatria,

Membelah formasi musuh dengan keberanian nyata.

Ki Waroka datang, bagai badai yang menggelegar,

Tawa ejeknya melukai, serangannya menyambar,

Namun Wesi Wangi membalas dengan nyala,

Melukai keangkuhan musuh hingga lari mengiba.

Saat malam datang dan pertempuran usai,

Batu Karang mendekat dengan senyum damai,

"Kau pahlawan sejati, Mahesa namamu abadi,

Sekutuku kini, mari kita tegakkan keadilan murni."

Namun di hati Mahesa, badai tak reda,

Ia tahu perang besar masih mengintai di sana,

Dengan cinta Niken dan doa sang ibu di jiwa,

Ia bersumpah menjaga Pedang Wangi selamanya.

---

Sajak ini mencerminkan perjuangan, keberanian, dan tekad Mahesa dalam membangun aliansi serta menghadapi ancaman Joyorono.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Sampul Novel Ditolak oleh Alpha-ku, Diklaim oleh Mahkota-ku
9.2
Alpha Damian mengkhianati pasangannya demi Lyra, serigala liar yang membawa anak haram. Saat upacara pewaris, Damian justru menyerang pasangannya yang hamil dan menuduhnya melukai anak Lyra. Ia membiarkan pewaris aslinya sekarat demi menyelamatkan anak simpanannya. Namun, Damian tidak sadar bahwa wanita yang ia buang adalah putri dari kawanan terkuat di dunia. Kini, pasukan keluarganya telah tiba di perbatasan untuk menjemput sang putri pulang.
Sampul Novel Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
8.5
Yun Xiaowen, calon ratu iblis, terjebak dalam nestapa usai bertemu Liuu Qiang Wen. Kaisar manusia berjuluk The Cyanide King itu membantai orang tua Xiaowen demi ambisi menguasai tujuh dunia. Tanpa cinta, ia menikahi Xiaowen hanya untuk memanfaatkan kelemahannya sebagai pion politik. Di tengah mimpi buruk yang seakan tak berakhir, Xiaowen meratapi nasibnya yang hancur sambil mempertanyakan apakah masih ada sisa kasih sayang di hati sang kaisar yang kejam.
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?
Sampul Novel Pacarku Anak Jendral
8.0
Sam melarikan diri ke kota Malang tepat saat ujian seleksi tentara dimulai demi menghindari paksaan ayahnya. Tanpa sengaja, ia terlibat perkelahian dengan komplotan pencopet dan justru berakhir menjadi pemimpin baru mereka. Di bawah kendalinya, kelompok kriminal tersebut perlahan bertransformasi ke jalan yang benar. Di tengah perubahan hidupnya, Sam bertemu seorang mahasiswi yang seketika mencuri hatinya sejak pertemuan pertama mereka di sana.
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 1
8.9
Suro Joyo memilih meninggalkan takhta Kerajaan Krendobumi demi menolong sesama. Dikenal sebagai Pendekar Rajah Cakra Geni, ia menjelajahi jagat raya hingga dijuluki Pendekar Kembara Semesta. Dalam perjalanannya, Suro terjebak perebutan Bunga Puspajingga, ancaman Dewi Pemikat, serta kehebatan Tombak Siung Sardula. Ia pun terseret konflik harta karun Goa Barong. Demi keadilan, Suro harus bertarung menghadapi kekuatan Putri Siluman Alas Waru.