APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemilik Hati

Pemilik Hati

Bertahun-tahun membina rumah tangga bersama Chandra rupanya belum cukup bagi Nila untuk melupakan Raksa. Meski statusnya adalah istri sah, hatinya tetap terpaku pada sang mantan kekasih yang sangat ia nantikan kehadirannya. Nila bahkan sengaja mencegah kehamilan demi menjaga harapan untuk bersatu kembali dengan cinta sejatinya. Baginya, pernikahan sakral sekali seumur hidup seharusnya hanya dijalani bersama sosok yang benar-benar ia cintai di dalam hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mobil BMW M4 Coupe milik Chandra berhenti di sebuah taman kanak-kanak yang menjadi satu dengan day care.

Nila menjinjing tas tangannya,dan tanpa bicara segera meraih handle pintu.

"Tunggu." cegah Chandra sambil memegangi pergelangan tangan Nila. Membuat istrinya tersebut,mengurungkan niat membuka pintu,dan menoleh padanya.

Nila menatap dengan pandangan antipatinya yang biasa.

"Sudah kau pertimbangkan saranku kemarin?" ia bertanya.

Nila mengangkat muka."Aku suka di sini." ucap Nila tegas.

Raut wajahnya tak berubah, saat melihat suaminya.Penuh permusuhan dan rasa benci yang mendalam.

"Di sini kau kurang di hargai. Kau juga akan cepat lelah, karena mengurus banyak anak kecil."

"Kurang di hargai?" ujung bibir Nila tertarik. "Aku tidak seperti kau yang gila hormat."ejeknya.

Si sopir yang duduk di depan, sampai tak berani mengangkat wajah jika dua orang majikannya ini sudah berbicara. Karena pasti hanya akan ada pertengkaran.

Wajah Chandra makin kaku dengan pandangan dingin yang membuat siapa pun gentar.Tapi tidak dengan Nila.

Merasa tidak ada perlu di bicarakan lagi.Ia segera membuka pintu mobil,dan tanpa pamit pada Chandra,wanita yang pagi ini terlihat manis dengan setelan rok dan cardingan warna pastel itu, pergi memasuki gerbang sekolah.

Dari kejauhan,lewat kaca mobilnya yang tertutup,Chandra memperhatikan istrinya yang di sambut anak-anak kisaran usia 3 sampai 5 tahunan.

Wajah dinginnya mengendur, saat melihat Nila tertawa riang bersama anak-anak yang mengelilinginya.

Tawa yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi dia juga yang merampas tawa itu dari pemiliknya.

Chandra baru menyuruh Sopirnya menjakankan mobil,saat gerombolan anak kecil tadi sudah membawa istrinya masuk ke dalam.

Di dalam kelas, Nila memandu anak-anak bernyanyi dengan suka cita. Caranya berbicara,serta air mukanya sungguh berbeda ketika sedang bersama Chandra.

Di sini Nila terlihat sangat bahagia di kelilingi anak-anak polos yang mengikutinya bermain dan belajar.

"Disini senang, disana senang..di mana-mana hatiku senang, lalalala..la..la..la.." Nila bernyanyi bersama anak-anak sambil melucu.

Di sinilah tempat di mana Nila bisa menjadi dirinya sendiri. Melupakan sejenak lara hatinya dengan memandang wajah-wajah polos yang berseri saa memandangnya.

Sedikit menjadi pengobat cita-citanya yang tak mungkin terwujud,serta masa depan impian yang kini untuk bermimpi pun,Nila anggap mustahil.

"Bu Nila." Bu Ida,kepala sekolah taman kanak-kanak itu berjalan ke arahnya,lalu duduk berhadapan dengan ia yang sedang menyusun foto anak-anak dan menempelkannya menjadi mading.

"Iya,Bu?" Nila tersenyum ramah. Melihat ke arah Kepala sekolah bertubuh subur itu sesaat,sebelun asik dengan aktifitasnya kembali.

"Kami sangat senang Bu Nila mau membantu mengajar di sini." ucap Bu Ida perlahan. "Anak-anak juga sangat menyayangi Bu Nila."ia melanjutjan.

Nila menghentikan gerakan melipat kertas menjadi bentuk bangau. Ekspresi wajahnya berubah. Ia teringat Chandra yang berkali-kali menyuruhnya berhenti mengajar.

"Tapi..seorang istri Direktur Utama Perusahaan Multinasional seperti Bu Nila,rasanya kurang pantas bekerja di tempat kecil seperti ini."hati-hati Bu Ida berkata.

"Apa Suami saya mengatakan sesuatu ?" Nila menatap lawan bicaranya. Membuat Bu Ida sedikit gugup.

Melihat sikap rekan kerjanya itu,membuat Nila tertunduk.

Kenapa setiap hal yang membuat aku bahagia,selalu dia rengut?

"Suami Bu Nila sangat baik." puji Bu Ida. "Beliau memberikan bantuan untuk memugar gedung lama menjadi baru,juga melengkapi dengan peralatan pendukung lainnya." Bu Ida menerangkan. "Kami sangat terbantu dan sangat berterima kasih pada beliau,tentu saja pada Bu Nila juga.Kami merasa beruntung."

Wajah Nila sudah sembab.Tanpa sadar tangannya ikut terkepal menahan gejolak perasaanya.

"Beliau sangat khawatir dengan kesehatan Bu Nila." kepala sekolah tersebut melamjutkan. "Baliau juga ingin cepat-cepat menimang bayi." ia terkekeh.

Nila menelan ludan.Di kuat-kuat kan hatinya,supaya tak menangis.Ia tak mau orang lain mengetahui bahwa rumah tangganya hanyalah neraka belakang.

"Apa yang ingin Bu Ida katakan?" Nila bertanya setelah bisa menguasai diri.Meskipun tanpa bertanya pun,Nila ia sudah tahu,bahwa lagi-lagi suaminya itu tinggal menjentikan jari untuk sesuatu yang tak sesuai keinginanya.

"Maksud saya..eeng.." Bu Ida menunjukkan gestur tak nyaman.

Beberapa kali ia menghindari tatapan mata dari Nila.

"Maksud saya..eemm..kalau pun Anda mau bekerja,haruslah di tempat yang layak....." ucap Bu Ida mengantung.

Wajah Nila memelas. "Saya senang di sini. Saya suka bermain bersama anak-anak." Nila berhenti sebentar untuk mengamati reaksi dari lawan bicaranya. "Tapi jika Bu Ida menginginkan saya tidak mengajar lagi, saya akan mengundurkan diri."

"Saya bukannya tidak menginginkan Bu Nila mengajar.tmTapi orang seperti Bu Nila.." Kepala sekolah itu gelisah.

"Tidak apa-apa,Bu." Nila berusaha tersenyum. "Tolong sampaikan salam saya kepada anak-anak. Saya tidak tega jika harus berpamitan langsung." Nila memasukan barang-barangnya ke dalam tas.

"Bu Nila masih bisa main ke sini." Ia langsung ikut berdiri,begitu Nila bangkit dari duduk. "Anda juga tidak harus sekarang berpamitannya.Anda masih bisa mengajar satu, atau dua minggu lagi." wanita bertubuh gemuk itu terlihat cemas.Takut jika menyinggung hati Nila,yang bisa saja berakibat di batalkannya bantuan dana dari Chandra.

Tapi Nila tak mempedulika."Permisi."dia pamit begitu saja,dan langsung berjalan pergi.

"Bu Nila sudah di jemput ?"Bu Ida masih berusaha menahan.Tapi Nila sudah tak mendengar.

Awan mendung mengantung di langit siang kota Jakarta. Sepeda motor saling berkejaran di jalan raya, karena hujan akan segera turun. Tak mau kalah dengan pengguna sepeda motor,yang bermobil pun saling adu cepat. Seolah mereka yang nyaman di dalam, juga akan terkena percikan air hujan.

Nila berjalan pelan di pinggir trotoar jalan raya.Menuduk sambil memegangi tali tas yang ia sampirkan di pundak sebelah kanan.

Hatinya kosong, dan ia tak tahu sedang berjalan ke mana. Titik-titik air hujan mulai berjatuhan,membuat Nila tersadar dan menengadah ke atas.

Gerimis menjadi hujan,dan seperti orang linglung Nila tetap berdiri di atas trotoar yang kini sepi karena hujan turun dengan lebatnya.

Tanpa seorang pun menyadari,air matanya meleleh bersama hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.

Sore sekitar jam 4,Chandra menjemput seperti biasa. Betapa terkejutnya ia,saat mendengar, jika Nila sudah pulang dari tadi siang.

"Seperti yang Pak Chandra mau, saya sudah mengatakan kepada Bu Nila untuk bekeja di tempat yang lebih baik. Tapi sepertinya Bu Nila tersinggung dan langsung memutuskan untuk pulang saat itu juga." takut-takut,Bu Ida menjelaskan.

Kening Chandra berkerut dalam.Sebenarnya ia ingin marah,tapi hari telah sore,dan jarak pulangnya Nila dengan saat ini sudah berjam-jam lalu.

Chandra tak ingin terjadi apa pun pada istrinya. Segera ia meninggalkan sekolah yang merangkap day care itu cepat-cepat.

Sepatu hitamnya yang terbuat dari kulit sampai tanpa sengaja menginjak kubangan air,membuatnya kotor dan celananya ikut ternoda.

Chandra yang perfectionis, biasanaya akan langsung menganti.Tapi tidak kali ini,ia sibuk menelpon nomor istrinya, yang sayangnya tidak aktif.

Kemudian mengeser-geser nomor lain.

"Suruh anak buahmu untuk mencari istriku." Chandra memerintahkan seseorang melalui telpon gengam.

Di pandanginya matahari yang mulai terbenam dari kaca mobilnya yang tengah melaju di jalanan kota yang basah, karena hujan tadi siang.

"Dimana kamu, Nila?" keningnya berdenyut memikirka istrinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berbagi suami
8.7
Demi kemanusiaan, Sofia Marwah dengan tulus merelakan suaminya, Nizam, untuk menikahi Nurmala. Sahabatnya itu kini lumpuh dan sebatang kara setelah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nizam sendiri terikat janji pada almarhum sahabatnya untuk melindungi Nurmala. Di tengah pengorbanan besar ini, Sofia harus berjuang menghadapi realitas poligami. Akankah ketulusannya berbuah kebahagiaan sejati, atau justru pengkhianatan pahit yang menantinya di masa depan?
Sampul Novel CEO with Pole Dancer
7.9
Insiden sepele mengubah hidup Zia Zovanka selamanya saat ia menjadi target buruan Sagara Pratama. Amarah mendorong pria berkuasa itu untuk mengejar Zia, sang yatim piatu, hingga berhasil merenggut sesuatu yang paling berharga darinya. Meski Sagara dikenal dingin terhadap wanita, bayangan Zia justru terus menghantui pikirannya. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Sagara tanpa sengaja menemukan Zia sedang menari di sebuah klub malam langganannya.
Sampul Novel Dendam Istri Muda
8.7
Sepuluh tahun pernikahan Lita dan Khalid hancur seketika saat buah hati mereka meninggal di tangan Jenni, pengasuh yang pernah Lita tolong. Jenni memanfaatkan situasi ini untuk merayu Khalid dan menjadi istri kedua demi menuntaskan dendam lama yang ia simpan. Di tengah duka mendalam dan kehancuran rumah tangga, Lita kini harus menghadapi musuh licik dalam rumahnya sendiri. Akankah hubungan Lita dan Khalid bertahan menghadapi pengkhianatan dan kebencian ini?
Sampul Novel Fragile Heart (Hati yang Rapuh)
8.0
Hidup Jasmine hancur setelah ditinggalkan kekasihnya tanpa alasan pasti. Bertahun-tahun ia berjuang mengobati luka hati dan melupakan kenangan pahit tersebut. Namun, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Xavier, pria yang dahulu membuangnya. Luka lama Jasmine kian perih saat mengetahui Xavier adalah calon suami kakak kandungnya. Kini ia terjebak dalam dilema antara memendam rasa atau menghancurkan kebahagiaan kakaknya demi cinta masa lalu yang kelam.
Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Denish
9.6
Kejadian tak terduga menimpa seorang mahasiswi saat ia memergoki aksi panas dosennya di lorong kampus yang sepi. Pria itu adalah Heruon Danish, sosok pengajar tampan nan populer yang dikenal luas oleh seluruh mahasiswa. Bukannya merasa malu setelah tertangkap basah bersama mahasiswi lain, Danish justru mendekat dengan senyum sensual. Ia melontarkan tawaran provokatif yang menantang gadis itu untuk masuk ke dalam dunianya yang penuh gairah dewasa.
Sampul Novel Ketika Istriku Tidak Meminta Jatah Lagi
8.8
Habib merasa jenuh dengan Sheila, istrinya yang agresif namun tak kunjung hamil dalam pernikahan hambar mereka. Terbutakan nafsu, Habib memilih bercerai dan menikah lagi dengan wanita lain. Namun, tepat saat ia pergi, Sheila justru mengandung buah cinta yang selama ini mereka nantikan. Nasi telah menjadi bubur, Habib kini terjerat dalam penyesalan mendalam saat mengetahui rahasia kehamilan mantan istrinya. Akankah ia berusaha kembali pada Sheila?