APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemuas Nafsu Tuan Muda 21+

Pemuas Nafsu Tuan Muda 21+

Demi mengangkat derajat hidup sang nenek, Nada, seorang siswi SMA, terpaksa memenuhi permintaan ganjil untuk menyusui Daffa, pemuda yang tengah lumpuh. Proses ini terus berlanjut hingga kondisi kesehatan Daffa pulih sepenuhnya. Namun, saat masa tugasnya berakhir dan Nada berniat pergi, Daffa justru menolak keras untuk melepaskannya. Ternyata, pria itu telah terobsesi dan kecanduan pada Nada. Akankah Nada berhasil lepas atau justru terjerat selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Duarr!

Bagaikan tersambar petir di siang bolong telinga Nada, ketika mendengar apa yang baru saja ditangkap oleh telinganya itu.

"Apa?" Nada membelalak kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Tuan Hendra.

"Ya. Saya sudah tau dari para anak buah saya, kalau kamu sudah bisa menghasilkan asi. Karena itu saya membawa kamu kesini untuk menolong Daffa. Saya pasti akan memberikan banyak uang untukmu dan nenekmu itu, asalkan anak saya bisa sembuh," kata Tuan Hendra dengan suara dingin.

"Ta ... Tapi, Tuan, saya nggak bisa. Saya masih sekolah dan saya ...."

"Saya tidak menerima penolakan, dan saya bisa saja menghancurkan hidup kamu, kalau kamu berani membantah perintah saya!" Tuan Hendra menatap tajam pada Nada dengan sangat dingin.

Tanpa menunggu jawaban dari gadis muda itu, Tuan Hendra segera keluar dari kamar dengan diikuti oleh kedua anak buahnya. Sedangkan Nada masih terdiam, bersama dengan Ira yang masih berdiri di sampingnya. Ia terpaku menatap hampa pada Daffa yang terbaring lemah bagaikan mayat hidup.

"Tuan Hendra tidak akan senang dengan penolakanmu. Jadi lebih baik kamu sekarang di sini saja dan temani tuan muda. Kalau dia bangun dan minta disusui, maka kamu harus siap menyusuinya," kata Ira dengan suaranya yang selalu saja ketus dan dingin.

"Aku nggak bisa, Bu. Aku ...."

Brak!

Ira pergi begitu saja dan menutup pintu kamar. Nada terkejut dan cepat-cepat berlari menyusulnya untuk membuka pintu. Namun, saat ia mencoba membukanya, pintu itu tetap tak kunjung mau terbuka. Sebab rupanya Ira sudah mengunci pintu itu dari luar.

"Bu, buka pintunya! Izinkan saya keluar. Saya nggak mau di sini, tolong!" pekik Nada sambil menggedor-gedor pintu dengan cukup keras.

Rasanya ia sangat ketakutan berada di dalam kamar itu, berdua saja dengan mayat hidup seperti Daffa. Nada sudah menangis sesenggukan, karena Ira sama sekali tak mau membukakan pintu kamar tersebut untuknya.

"Huhuhu, nenek, tolong aku!" isak Nada yang terus menangis sambil memanggil neneknya. Rasanya ia begitu merindukan nek Ijah.

"Uhuk! Uhuk!"

Nada sontak terdiam. Wajahnya mendadak terlihat pucat, saat ia mendengar suara terbatuk-batuk yang tak jauh di belakangnya. Dengan tubuh yang terasa kaku, perlahan gadis itu memutar tubuhnya dan menatap pada sosok pria tampan yang kini mulai membuka kelopak matanya.

"Pa," lirih Daffa dengan suara berat dan seakan tersangkut di tenggorokan.

Nada semakin terbelalak saat melihat Daffa yang sudah mulai siuman. Panik, gadis itu cepat-cepat berusaha sekali lagi untuk membuka pintu, tapi usahanya sia-sia. Pintu itu tak akan pernah bisa dibuka dari dalam.

"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Nada panik. Keringat dingin mulai mengalir membasahi wajah dan tubuhnya.

Ia menatap ke sekeliling kamar untuk mencari jendela, tapi tetap tak bisa menemukannya. Nada semakin cemas karena tak menemukan jalan keluar.

"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?"

Nada kaget mendengar pertanyaan itu. Refleks ia berbalik badan dan memandang pada Daffa. Namun, sungguh mengherankan karena pria itu tiba-tiba saja bangkit dari tempat tidur. Ia perlahan turun dari ranjang, sambil membawa tiang infus di tangannya.

Langkahnya tertatih-tatih, menghampiri Nada yang masih mematung tanpa berani berucap sedikit pun. Nada masih gemetar, apalagi saat kini akhirnya Daffa tiba di hadapannya.

Tatapan matanya menyapu seluruh tubuh Nada dari ujung kepala hingga ujung kaki, tanpa ada satu inci pun bagian tubuh Nada yang terlewat. Nada gemetar saat ditatap seperti itu, apalagi karena pakaiannya yang seperti kekurangan bahan.

Dengan cepat, ia langsung menutupi payudara nya dengan kedua lengan. Ia semakin takut saat mata Daffa menatap dada besarnya dengan liar.

"Apa kamu nggak punya telinga?" tanya Daffa sarkas.

Pertanyaan itu sontak membuat Nada mengangkat wajahnya cepat. Ia cukup terkejut dan tak menyangka, jika pria sakit seperti Daffa bisa mengatakan hal kasar seperti itu.

"Kamu ...?"

"Kenapa? Apa papa sudah mengatakan banyak hal sama kamu?" Daffa memandang Nada dengan sinis.

"Nggak begitu, tapi ...."

"Katakan apa yang sudah papa katakan!" desak Daffa dengan suara menggeram berat.

Nada tercekat. Ia memandang pada Daffa yang tampak kaku. Gadis itu cukup heran, karena sebelumnya Tuan Hendra mengatakan kalau separuh tubuh Daffa mengalami kelumpuhan. Namun, kenapa kini ia bisa berjalan dan mendekat ke arahnya?

"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu nggak bisa menjawab pertanyaanku? Wah, rupanya selain tuli, kamu juga bisu ya," kata Daffa dengan sangat kejam.

"Ma ... Maafkan saya, Tuan Muda. Saya ada di sini karena disuruh oleh Tuan Hendra. Tapi saya nggak tahu kalau ternyata tuan muda bisa ...."

"Bisa berjalan? Apa papa mengatakan kalau separuh tubuhku lumpuh?"

"I ... Iya." Nada mengangguk, mengiyakan pertanyaan Daffa.

"Hah!" Daffa mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Nada.

"Papa terlalu berlebihan. Separuh tubuhku memang lumpuh, tapi itu dulu. Aku sudah sembuh sekarang dan aku sudah nggak butuh bantuan dari siapapun lagi. Sekarang lebih baik kamu pergi saja dari sini!" usir Daffa sambil menunjuk ke arah pintu.

Rasanya Nada ingin berteriak kegirangan saat itu juga. Sebab ia tak jadi harus memberikan asi pada pria tampan itu. Nada segera menganggukkan kepalanya cepat dengan senang.

"Saya akan segera keluar dari sini, Tuan. Tapi pintu ini dikunci dari luar. Saya nggak bisa membukanya." Nada menunduk.

Tanpa menjawab perkataan Nada, Daffa memutar tubuh dan berjalan terseok-seok menuju ke sebuah lemari yang tak jauh dari tempat tidurnya. Ia membuka laci meja itu, dan segera mengeluarkan sebuah kunci dari sana. Daffa dengan cepat melemparkan kunci itu ke arah Nada.

"Nah, sekarang buka pintunya dan cepat keluar!"

Nada menangkap kunci itu dengan senang hati. Wajahnya sangat bahagia, membuatnya mengangguk dengan cepat.

"Baik, Tuan. Terima kasih banyak."

Gadis itu buru-buru membuka pintu. Namun saat ia sedang fokus, tiba-tiba saja terdengar suara seperti sesuatu yang terjatuh.

Bruk!

Nada refleks berbalik, dan seketika ia terkejut saat melihat Daffa yang jatuh di dekat ranjang.

"Astaga! Tuan muda!" pekik Nada sambil berlari menghampiri Daffa, membiarkan kunci tergantung di pintu begitu saja.

Dengan cepat ia mengangkat kepala Daffa. Tubuh pria itu tampak kaku, dan nafasnya juga terengah-engah seolah ia kesusahan untuk bernafas.

"Tuan, apa yang terjadi sama kamu?" panik Nada sambil meletakkan kepala Daffa di atas pangkuannya.

Daffa hanya menatap sayu pada Nada. Kepalanya menengadah ke atas, tepat menghadap dada Nada yang kini berada di hadapannya. Ia bisa menatap jelas dada Nada yang sangat besar dan padat tampak berguncang, seolah nyaris keluar dari tempatnya berada.

Daffa menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya gemetar, sedangkan tangan Daffa juga nampak bergetar. Jari telunjuknya terangkat dengan lemah, menuju ke dada Nada yang setengah terbuka dan membusung sempurna.

"A ... Aku butuh susu kamu," ucap Daffa tersendat.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Forgive Me, I can't Stop Loving You
8.8
Dua tahun Nia berjuang meluluhkan hati Raka, tetangga sekaligus kakak sahabatnya yang bersikap kasar dan dingin. Harapannya hancur saat Raka mengumumkan pertunangannya di depan umum tanpa peduli pada perasaan Nia. Memilih menyerah, Nia pun menghilang tanpa jejak dari hidup lelaki itu. Enam tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Raka tertegun saat melihat Nia bersama seorang anak laki-laki yang memanggilnya Bunda dengan penuh kasih sayang.
Sampul Novel Gadis Kecil itu Istriku
8.2
Kehidupan seorang siswi SMK berubah drastis setelah sebuah malam pesta yang tak terkendali. Saat menghadiri acara di hotel mewah milik rekannya, ia justru kehilangan kesuciannya dalam situasi yang tidak terduga. Tragedi ini menjadi titik balik bagi sang gadis muda dalam menghadapi realitas dunia dewasa yang keras. Kini, ia harus menanggung konsekuensi dari peristiwa malam itu sembari berjuang menentukan arah masa depannya yang kian rumit.
Sampul Novel Gairah yang Berapi-api: Istri CEO yang Bersalah
7.9
Di malam pengantin, Rogelio bersumpah menyiksa Marian karena menganggapnya penyebab kematian sang kakak. Meski dibenci dan tak disentuh, sebuah insiden memaksa mereka tidur bersama hingga Marian hamil. Di tengah penghinaan Rogelio, pria itu justru diam-diam melindungi aset dan keselamatan istrinya dari gangguan orang lain. Saat Marian berniat kabur membawa rahasia kandungannya, Rogelio justru memeluknya erat dan menolak melepaskan ibu dari calon anaknya tersebut.
Sampul Novel Kau Rebut Ayahku, Aku Rebut Suamimu
9.5
Kehancuran keluarga Arlena bermula saat wanita lain merebut ayahnya, hingga sang ibu wafat karena duka mendalam. Dendam membara mendorong Arlena untuk membalas rasa sakit itu dengan cara yang tak terduga. Ia menemukan celah saat mengetahui bahwa perusak rumah tangganya adalah istri dari Rafael Vallenzo, bosnya yang sangat berkuasa. Kini, Arlena bertekad merebut Rafael demi pembalasan, namun ia justru terjebak dalam risiko yang mengancam hatinya.
Sampul Novel Menikahi Pria Angkuh
8.3
CEO Steve Willson yang dingin terjebak obat perangsang dalam sebuah pesta. Ia akhirnya menghabiskan malam panas bersama gadis misterius yang tak sempat ia kenali wajahnya. Meski terobsesi mencari wanita itu, Steve justru dipaksa sang ibu untuk segera menikah. Demi menunda tekanan tersebut, ia menjadikan Zira, gadis yang terlilit utang, sebagai istri kontraknya. Akankah Steve menyadari identitas asli Zira, atau tetap mengejar bayangan wanita dari masa lalunya?