APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penantian

Penantian

Dalam kondisi mengandung, Winarsih harus menghadapi kenyataan pahit saat Robby suaminya tak kunjung pulang setelah pamit bekerja ke luar kota. Kepergian Robby yang tanpa kabar membuat wanita sebatang kara ini terjebak dalam penantian panjang. Setelah upaya pencariannya menemui jalan buntu, Winarsih yang telah kehilangan orang tuanya kini terpuruk dalam keputusasaan. Misteri hilangnya satu-satunya keluarga yang ia miliki pun mulai menguji ketegaran hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dan ketika ku buka pintu, seseorang berdiri disana. Dia tersenyum sangat manis. Tapi …

"Hei! Orang datang, kok kamunya malah bengong!" sungutnya sambil memonyongkan bibirnya.

"Ng– nggak, aku pikir tadi …." Aku terhuyung, tidak mampu melanjutkan kata-kataku.

"Kamu kenapa sih? Kok aneh!" tanyanya sambil masuk nyelonong melewatiku yang masih bersandar lemas di pintu. Ia langsung ke dapur, lalu meletakkan mangkuk yang dibawanya di atas meja.

"Aku pikir tadi Mas Roby," ujarku lemas, membuatnya merasa tidak enak.

Dia adalah Mbak Tri, tetangga yang juga mengontrak di sebelah kontrakan kami. Kontrakan kami hanya dibatasi tembok. Kontrakan tempat kami tinggal terdiri dari empat pintu. Aku tinggal di kontrakan paling ujung dan Mbak Tri persis di sebelah kontrakanku. Diantara penghuni kontrakan yang lain, Mbak Tri adalah yang paling dekat denganku.

"Gimana ya Mbak, kalau Mas Roby nggak pulang sebelum aku lahiran!" 

"Nggak usah mikir yang aneh-aneh, Win! Doakan aja suamimu sehat, dan cepat pulang." Mbak Tri menguatkanku.

"Eh … kamu udah makan belum?" tanya Mbak Tri sambil membuka tutup mangkuk yang dibawa nya tadi. Aroma gulai menguar menggugah selera.

"Makan bareng yuk! Laper nih!" ujarnya sambil mengelus perutnya.

Kami memang sering seperti ini, makan bersama disaat pasangan kami sedang tidak di rumah. Suami Mbak Tri kerja sebagai sekuriti di sebuah pabrik. Mereka memiliki anak perempuan berumur delapan tahun, bernama Lea. Lea sudah sekolah kelas tiga SD.

"Kamu nggak punya nasi, Win?" tanya Mbak Tri saat membuka magic com yangbmasih kosong, aku hanya menggeleng.

"Ya udah, biar aku ambil ke sebelah," ujarnya seraya beranjak. Dan tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa panci magic com berisi nasi miliknya. 

"Aku nggak makan, Mbak! Nggak selera." ucapku ketika Mbak Tri menyodorkan piring berisi nasi padaku.

"Kamu harus makan, kasihan anak kamu. Nih, dikit aja." ujarnya sambil mengurangi nasi dalam piring tadi.

Mbak Tri sudah seperti keluarga buatku. Aku seperti merasa punya kakak, ah … bukan, bahkan mungkin seperti ibu. Aku yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, membuat kehadiran Mbak Tri mengisi sedikit ruang kosong di hatiku. 

Usia kami terpaut tiga belas tahun. Pembawaannya yang keibuan membuatku nyaman menceritakan masalahku padanya. 

"Belum ada kabar dari Roby, Win?" tanyanya setelah kami selesai makan. Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.

"Gimana ya, Mbak, aku harus gimana setelah anak ini lahir?" 

"Hah …." Terdengar Mbak Tri menghela nafas. Mungkin dia juga turut merasakan sesak di dadaku. 

"Aku juga bingung, Win. Aku nggak tau juga harus bantu gimana." ujarnya sesaat kemudian.

"Kalau aku kerja setelah anak ini lahir, anakku sama siapa? Kalau aku nggak kerja, kami makan apa? Benar-benar pusing aku, Mbak! Kalau di titipkan sama orang lain juga pasti butuh biaya kan, Mbak," Aku mengutarakan kegalauanku.

"Belakangan ini, kadang aku berpikir, sepertinya lebih baik  anak ini nggak lahir ke dunia ini, Mbak!" Tiba-tiba mata Mbak Tri membulat ke arahku. Terkadang aku memang merasa bahwa anak ini pembawa sial. Dulu, Mas Robby tidak pernah pergi tanpa kabar, tapi sekarang saat aku akan melahirkan anaknya, dia malah pergi entah kemana. Kurang aj*r kamu, Mas!

"Hush … kamu ngomong apa sih, Win? Nggak boleh ngomong gitu!" ucapnya sedikit keras.

"Habis gimana lagi, Mbak? Seandainya Mas Roby pergi tanpa ada anak ini, mungkin aku nggak sepusing ini, Mbak!" Mbak Tri tidak menanggapi ucapanku, dia masih terus menatapku. Mungkin dia tidak percaya aku akan berpikir seperti itu.

"Aku bisa cari pekerjaan tanpa terbebani anak ini harus gimana. Aku hanya akan memikirkan hidupku, tanpa harus mikirin anak ini, aku bisa bebas, Mbak! " ucapku lagi, air mataku turut berkejaran keluar dari pelupuk mata. Kurasakan hatiku sakit sekali, aku tidak menyangka nasibku akan seperti ini. 

Mungkin aku mulai putus asa, tapi perasaanku saat ini sulit ku ungkapkan. Rasa rindu yang kemarin begitu berat, lambat laun mulai berubah. Kini mulai ada rasa sakit hati pada Mas Roby. Bagaimana mungkin dia tega membiarkanku sendirian dalam keadaan seperti ini? Rasa cinta yang tadinya begitu besar, kini mulai luntur berubah menjadi benci. 

"Udah, nggak usah berpikiran macam-macam dulu, kita belum tau apa yang terjadi sebenarnya. Nggak usah khawatir, aku ada disini." ujar Mbak Tri sambil mengelus punggungku.

"Sebentar lagi anak ini lahir, Mbak! Gimana aku bisa tenang kalau suamiku nggak pulang-pulang?" Nada suaraku agak meninggi. Ada rasa sesak di dada, yang sepertinya siap untuk meledak.

"Aku nggak punya keluarga, Mbak. Tanpa Mas Roby aku nggak punya siapa-siapa," Mbak Tri memelukku. Tangisanku semakin menjadi.

"Sabar, Win! Kamu harus tenang," Ia masih memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku.

"Coba kamu bicarakan ini sama kakaknya si Roby, siapa tahu mereka bisa bantu kamu." ucap Mbak Tri.

"Biar bagaimanapun, mereka keluarga Roby. Kalau Roby nggak bisa bertanggung jawab sama kamu, harusnya keluarganya yang mengambil alih tanggung jawab itu, karena kamu mengandung darah daging dari Roby, adiknya." Lanjut Mbak Tri memberi sedikit celah untuk penyelesaian masalahku.

Kenapa aku tidak kepikiran kesitu? Mbak Tri benar, harusnya keluarga Mas Roby bisa membantuku, paling tidak mengurus anak ini. Ada sedikit rasa lega di dada, meski belum tahu hasilnya nanti tapi aku harus mencoba.

"Mbak–," panggilku ragu. Mbak Tri menoleh ke arahku, menungguku melanjutkan ucapanku.

"Hmm … boleh aku minta tolong sama Mbak Tri?" tanyaku ragu.

"Apa? Aku pasti bantu kamu selagi aku bisa. Apa yang bisa kubantu?" tanya Mbak Tri berusaha menghilangkan keraguanku.

"Antarin aku ke tempat Mas Joko, Mbak. Aku harus kesana seperti yang Mbak saranin tadi." pintaku, sambil menatap mata wanita baik hati itu.

"Nanti aku omongin dulu sama Mas Edi, Win. Kebetulan lusa dia libur, siapa tau dia bisa mengantar kita kesana." ujar Mbak Tri. 

"Makasih ya, Mbak! Kalau nggak ada Mbak, nggak tau aku mengadu pada siapa." Mataku kembali berkaca-kaca.

"Udah, nggak usah dipikirin! Aku udah menganggapmu adik. Jadi nggak usah sungkan!" Aku memeluk Mbak Tri erat.

"Ishh … udah ahh, sesak ini!" Mbak Tri mendorong tubuhku yang memeluknya semakin erat.

"Aku pulang dulu ya, tadi Lea lagi tidur, siapa tau udah bangun. Belum makan dia tadi." ujar Mbak Tri, seraya mengambil panci magic com miliknya.

"Ini gulainya masih ada, kamu makan nanti ya. Kamu harus banyak makan, biar anakmu sehat." Mbak Tri menutup mangkuk berisi gulai ayam campur nangka muda, yang dibawanya tadi.

****

Dua hari kemudian, setelah makan siang, Mbak Tri dan Mas Edi, suaminya menemaniku ke tempat Mas Joko dengan menggunakan mobil milik orang tua Mbak Tri, yang memang tinggalnya tidak jauh dari tempat kami tinggal, sementara Lea tinggal sama neneknya.

Tempat tinggal Mas Joko tidak jauh dari kios Pak Haji tempatku dulu tinggal. Dulu sebelum kami menikah, Mas Roby sering datang kesana. Disanalah dulu kami menikah, hanya disaksikan beberapa tetangga dari Mas Joko saja.

Hampir satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di halaman sebuah rumah berwarna hijau muda dengan model minimalis. Seorang wanita berdaster terlihat sedang  menyapu teras rumahnya. Terlihat wanita itu menghentikan kegiatannya saat sadar mobil yang kami tumpangi berhenti di depan rumahnya. 

Wanita itu adalah Mbak Hanyk, istri Mas Joko. Ia menatap ke arah mobil, mungkin ia menunggu kami keluar dari mobil.

"Winarsih?" Ia memanggilku, sepertinya ia terkejut melihatku datang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjerat dalam kontrak rumit yang memaksa dirinya menjadi mata-mata untuk mengawasi seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tidak terduga justru mengubah segalanya dan membuat nasib Alexa kini terjepit di antara dominasi dua CEO sekaligus. Terperangkap dalam situasi yang penuh risiko, ia harus menghadapi kendali dua pria berkuasa tersebut sembari menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya dan penuh dengan tekanan emosional.
Sampul Novel Api Dendam di Masa Lalu
8.9
Ditinggalkan mati dalam mobil yang terbakar oleh Arifin, suamiku sendiri, demi menyelamatkan selingkuhannya adalah akhir hidupku yang tragis. Ternyata, insiden itu merupakan pembunuhan berencana untuk merebut warisanku. Kini, aku terbangun kembali di masa kuliah dengan ingatan utuh. Melihat wajah Arifin yang tampak polos, aku menyadari busuknya niat pria itu. Takdir memberiku kesempatan kedua untuk membalas dendam dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.
Sampul Novel AZAB SUAMI YANG DZOLIM
9.7
Kalina adalah seorang pengusaha wanita yang sangat sukses. Ia membangun rumah tangga bersama Adit, pria yang hanya bekerja sebagai pegawai bank biasa. Namun, di balik pernikahan mereka, Adit ternyata hanya memanfaatkan kekayaan istrinya. Pengkhianatan itu semakin menyakitkan saat Kalina mengetahui bahwa suaminya telah menikah lagi secara diam-diam. Tidak tinggal diam, Kalina pun menyusun rencana elegan untuk membalas semua perbuatan dzolim suaminya.
Sampul Novel Hamil dengan Mantan Bosku
8.9
Tiga tahun Cynthia menjadi sekretaris sekaligus pendamping setia Juan, namun ia dibuang saat sang bos memilih menikahi wanita lain. Di tengah pelarian, Cynthia harus menghadapi kehamilan dan keserakahan ibunya hingga hidupnya hancur. Lima tahun berlalu, ia kembali sebagai sosok baru yang lebih kuat. Sementara itu, Juan yang selama ini tenggelam dalam penyesalan dan kekacauan, kini memohon agar Cynthia mau kembali ke pelukannya.
Sampul Novel JIKA CINTA INI SALAH
8.8
Demi cinta, aku rela melepaskan segala kemewahan hidup. Namun, pengabdian tulusku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit. Kini aku terjebak dalam dilema besar: bertahan dalam pernikahan yang hancur demi kelangsungan hidup anak-anak remaja kami, atau berani melangkah pergi. Di tengah ketergantungan ini, muncul sebuah rasa baru. Pantaskah seorang ibu dengan dua anak seperti diriku membuka hati bagi cinta lain yang hadir menawarkan harapan?
Sampul Novel Mencintai Gadis Amnesia
8.5
Waktu belasan tahun bersama Amelia tak mampu menumbuhkan rasa di hati Adib. Ia justru jatuh hati pada Adiba, gadis amnesia yang ditolongnya enam bulan lalu. Meski ditentang orang tua dan ditekan keluarga Amelia, Adib tetap ingin menikahi Adiba. Sang ibu memberi syarat: Adib harus menemukan keluarga kandung Adiba dan siap menanggung segala risiko. Mampukah Adib memperjuangkan cintanya dan bertahan saat badai besar mulai mengancam kebahagiaan mereka?