APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pendekar Pedang Patah

Pendekar Pedang Patah

Pancaka dikenal sebagai musuh besar bagi seluruh golongan persilatan, mulai dari sekte hitam hingga putih. Tanpa alasan jelas, ia menghancurkan organisasi tersebut dengan pedang tanpa bilah miliknya yang legendaris. Namun, kejayaan sang pendekar berakhir setelah ia menderita kekalahan telak. Secara misterius, Pancaka terlempar kembali ke masa lalu. Kini, ia harus memilih untuk memperbaiki perilakunya atau justru menjadi sosok yang jauh lebih kejam dari sebelumnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Panca masih berdiri mematung menatapi pantulan dirinya di air. Ia masih tak menyangka jika kini tubuhnya menyusut sampai sekecil ini. Ia mencoba mengingat-ingat lagi hal terakhir yang menimpanya sebelum ia menyusut menjadi seorang anak kecil berusia lima tahun.

“Sialan! Jangan-jangan aku berubah seperti ini karena jurus dari si tua Surawisesa! Tak bisa dibiarkan, aku harus segera kembali ke ukuran semulaku dan menuntut balas pada si tua sok asik itu.” Panca berjalan mondar-mandir di tepi sungai, masih dengan pakaiannya yang kini kebesaran.

“Tunggu dulu, pedangku!” pekiknya panik lalu berlari kembali ke tempat semula di mana ia tersadar. Dan wajah Panca semakin panik saat ia tidak mendapati pedang kesayangannya itu di sana.

“Kyaaak!” Panca menjerit sekuat-kuatnya yang terdengar seperti pekikan wanita. Pedang yang sudah seperti separuh hidupnya itu menghilang bersamaan dengan tubuhnya yang menyusut.

“Apa yang terjadi! Tidak mungkin, ini pasti mimpi! Ya, ini pasti mimpi. Aku harus bangun dari mimpi ini!”

Panca berlari kembali ke tepi sungai dan mencelupkan kepalanya cukup lama, berharap ia tersadar dari mimpi buruk ini. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, Panca tidak terbangun atau setidaknya itu yang ia inginkan.

Dengan wajah melas dan getir seperti kehilangan sesuatu yang berharga, Panca memandangi langit di atasnya. “Aku … kembali ke hidupku yang dulu, lemah dan tak berdaya.”

Setitik air mata mengalir dari sudut kedua matanya. Ia meratapi nasibnya yang kini menjadi lemah. Sekelebat ingatan masa lalu kembali terlintas dalam benaknya, saat ia mengemis di sebuah pasar dan tidak ada yang memperdulikannya.

“Ini bukan waktunya untuk jadi cengeng!” Seketika Panca bangkit dari kesedihannya dan mengusap kasar jejak air mata di pipinya.

“Sekarang, akan aku cari si Tua Surawisesa itu untuk mengembalikan wujudku seperti semula.” Panca lalu melangkah pergi dengan amarah yang menggebu-gebu pada si tua Surawisesa yang sudah membuatnya seperti ini.

“Hey.”

Sebuah suara mengagetkan Panca. Ia tak berani bergerak dan hanya berdiri diam mematung ketika mendengar suara itu dari arah belakangnya.

“Anak kecil? Apa yang kau lakukan di sini. Hari sudah sore, sebaiknya kau pulang sebelum ibumu mencarimu,” kata suara itu lagi.

Panca dengan kikuk memutar tubuhnya, dan ia dapat melihat seorang gadis kecil—kira-kira seumuran dengannya—sedang menatap intens dirinya. Jika dilihat-lihat, gadis kecil itu pastilah dari keluarga yang berkecukupan. Panca berani menilai begitu karena pakaiannya yang berbahan sutra dan beberapa aksesoris seperti cincin serta anting emas menempel di tubuhnya.

“Siapa … kau? Apa yang kau lakukan di sini? Sejak kapan kau memata-mataiku!” tuding Panca pada gadis kecil itu dan memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.

Gadis kecil itu tampak memiringkan kepalanya heran. “Apa yang aku lakukan? Aku ingin pulang. Sejak kapan aku memata-mataimu? Mungkin sejak kau bergumam akan membunuh seseorang yang kau panggil si tua tak asik. Dan siapa aku? Perkenalkan, namaku Sri Asih Kumalasari.” Gadis kecil itu lalu mengulurkan tangannya pada Panca sambil tersenyum lebar menunjukan giginya yang tanggal tepat di tengah.

“Namaku Panca,” sahut Panca sambil bersidekap, menolak jabatan tangan dari gadis kecil di depannya. “Dan kenapa kau mengamati orang asing selama itu? Apa kau ini maniak atau apa?”

Sri Asih awalnya bersedih karena sikap Panca, tapi gadis kecil itu mudah sekali berubah perasaannya. Ia lalu menarik tangannya dan menyunggingkan senyum bersahabatnya pada Panca. “Aku hanya penasaran. Aku belum pernah melihat wajahmu di sekitar sini, apa kau anak dari desa Antasari?” tanyanya kemudian, masih berusaha ingin mengenal Panca lebih jauh.

Panca mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi seakan ia merasa familiar dengan nama desa yang disebutkan oleh Asih. “Kenapa kau ingin tahu? Urus saja urusanmu.”

“Kenapa? Apa kau tidak punya rumah?” tanya Asih dengan polosnya. “Aku bisa membawamu ke rumahku kalau kau tidak punya rumah. Ibu pasti senang.”

“Cih. Aku tidak sudi ikut denganmu. Ada hal yang lebih penting yang harus aku urus. Jadi, sampai jumpa. Dan jangan pernah kau mengikutiku lagi,” ucap Panca memperingati Asih.

“Kenapa?” tanya gadis kecil itu polos.

“Karena ….” Panca hampir saja membocorkan tentang identitas aslinnya, tapi ia segera berkilah. “Karena tadi aku buang air besar di sana,” jawabnya asal sambil menunjuk ke sembarang tempat.

“Ap—ih, kau jorok!” pekik Asih mengambil langkah mundur menjauhi gundukan menjauhi Panca. “Kenapa buang air sembarangan? Apa benar kau tidak punya rumah?” Dengan ekspresi jijik ia masih berusaha ingin tahu lebih dalam tentang identitas bocah laki-laki di depannya ini yang mungkin saja bisa menjadi temannya.

“Aku punya—“

“Putri Asih! Putri Asih, di mana kamu?!” teriak sebuah suara membuat Panca lagi-lagi berjengit kaget.

Tanpa pikir panjang, ia menarik tangan Asih menjauh dari tempat tersebut. Entah kenapa ia bersikap begitu, mungkin karena pengalamannya yang pernah diburu di masa lalu membuat insting bertahan hidup Panca selalu aktif.

“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Asih yang terpaksa berlari mengimbangi Panca yang menarik lengannya secara paksa.

“Kita harus menjauh dari sini karena ada—tunggu dulu. Siapa namamu tadi?” ucap Panca seakan baru menyadari sesuatu.

“Namaku Sri Asih Kumalasari,” jawab gadis kecil bernama Asih itu dengan polos dan tatapan bingung.

“Apa suara orang tadi mencarimu?”

Asih mengangguk cepat dengan wajah yang lugu. “Iya. Itu mungkin Jaka, dia adalah orang kepercayaan ayah dan ibuku untuk menjagaku.”

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!” umpat Panca yang kesal karena kepolosan gadis di depannya ini.

“Kau tidak bertanya,” sanggah Asih membela diri. Ia dengan dengan lucunya mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

‘Dasar rubah kecil ini!’ umpat Panca dalam hati.

Panca yang sudah kehabisan akal, terpaksa harus beradaptasi dengan keadaannya saat ini sambil mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Dan di depannya saat ini, ada gadis kecil kaya yang bisa saja ia manfaatkan selama proses tersebut. Ia berniat memanfaatkan Asih sementara waktu sambil mengamati dunia ini—atau setidaknya tempat di mana Panca kembali berubah menjadi bocah berumur lima tahun.

“Jadi, kau tinggal di mana?”

“Di sana,” tunjuk Asih ke sebuah gapura yang sangat familiar dalam benak Panca.

“Itu …. Kau tinggal di perguruan?” tanya Panca ketika melihat sebuah pintu masuk khas perguruan di depan mereka.

“Ya. Aku tinggal di perguruan Sekte Pedang Suci.”

“Oh jadi kau ting—APA!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Navila terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada prajurit Erdan demi mendapatkan obat bagi ayahnya. Meski awalnya hanya rencana sekali saja, ia justru terjerat dalam keinginan sang Jenderal yang mulai jatuh hati padanya. Di tengah perseteruan dua kerajaan, mereka menyadari bahwa hubungan ini terhalang oleh waktu yang singkat. Akankah perasaan mereka mampu bertahan dan tersampaikan dengan tulus saat perang besar sedang berkecamuk di antara kedua belah pihak?
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.
Sampul Novel Pendekar Dataran Tengah
8.5
Jiu Cien nekat menikahi bibi gurunya meski ditentang keras oleh dunia. Namun, kebahagiaan mereka hancur saat sang istri yang tengah hamil dibantai oleh orang-orang iri. Terpukul oleh tragedi itu, Jiu Cien harus bangkit untuk membalas dendam pada para penghancur hidupnya. Ikuti perjuangan hebat Jiu Cien dalam menapaki jalan kependekaran hingga ia berhasil mencapai puncak tertinggi dan diakui sebagai sosok nomor satu dengan julukan Pendekar Dataran Tengah.