APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin Paksa Tuan Kejam

Pengantin Paksa Tuan Kejam

Almira Safira hidup menderita bersama neneknya setelah orang tuanya tewas dibunuh secara misterius. Karena fitnah keji Rangga Prakoso, pria berkuasa yang ingin menjadikannya istri keempat, mereka pun terasingkan. Saat merencanakan pelarian dari ambisi gelap Rangga, seorang pria asing bersimbah darah mendadak muncul di depan pintu mereka. Siapakah dia? Mampukah kehadiran pria ini mengungkap rahasia kematian orang tua Almira sekaligus menyelamatkannya dari jerat Rangga?
Bab
Bagikan

Bab 2

Hening menyelimuti gubuk reyot di tepi hutan. Lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan bergoyang pelan, cahayanya bergetar seperti ikut menahan napas. Di atas dipan kayu sederhana, seorang lelaki muda terbujur, tubuhnya masih penuh perban seadanya yang dililit kain lusuh. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya.

Almira duduk di lantai, bersandar pada tiang bambu. Matanya sayu, namun ia memaksa tetap terjaga. Sesekali tangannya meremas ujung kain basah, lalu ditempelkan ke kening lelaki itu.

"Nek, apakah dia akan selamat?" bisiknya lirih.

Nenek Rahayu yang duduk di dekat tungku, mengaduk ramuan herbal di panci kecil, hanya menghela napas. "Itu tergantung pada seberapa kuat nyawanya bertahan, Nak. Luka di perutnya dalam. Kalau tidak segera diobati dengan benar, bisa berbahaya."

Almira menunduk. Hatinya gamang. Ia sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Namun entah mengapa, ia tidak tega membiarkannya mati begitu saja di depan gubuk mereka.

Sambil terus menunggu ramuan yang direbus, Nenek Rahayu sesekali melirik cucunya. Ada kekhawatiran di matanya, lebih dari sekadar soal luka lelaki asing ini. "Mira, dengarkan nenek," katanya serius. "Kalau lelaki ini sadar nanti, jangan sembarang bicara. Kita belum tahu siapa dia, juga belum tahu apa yang mengejarnya."

Almira mengangguk, meski hatinya penuh tanya. "Tapi, Nek... kalau dia berbahaya?"

"Kita akan tahu nanti," jawab neneknya tegas.

Malam semakin larut. Angin hutan berdesir lewat celah dinding bambu. Almira sempat terlelap sebentar, hingga tiba-tiba suara rintihan pelan membangunkannya.

"Uhh..."

Almira terlonjak, segera mendekat. Lelaki itu mulai menggeliat, matanya setengah terbuka. Nafasnya tersengal, tangannya bergerak mencari pegangan.

"Kau sadar?" Almira bertanya, suaranya gugup.

Lelaki itu membuka matanya lebar-lebar, menatap sekeliling dengan pandangan bingung. "Di... mana aku?" suaranya serak.

"Tenang," kata Almira, berusaha menenangkan. "Kau di gubuk kami. Jangan banyak bergerak, lukamu masih parah."

Lelaki itu meringis. Ia mencoba bangun, tapi langsung terbatuk keras. Darah segar menetes di bibirnya. Almira panik, menahan tubuhnya agar tidak memaksakan diri.

"Nek! Dia sudah sadar!" serunya.

Nenek Rahayu segera menghampiri, membawa mangkuk kecil berisi ramuan. "Minum ini dulu. Bisa meredakan sakitmu."

Dengan susah payah, lelaki itu meneguk ramuan pahit itu. Wajahnya meringis, tapi ia tidak melawan. Setelah beberapa teguk, ia kembali terbaring lemah.

"Siapa namamu, Nak?" tanya Nenek Rahayu lembut.

Lelaki itu menatapnya lekat-lekat, seolah menimbang apakah bisa percaya. Bibirnya bergerak pelan. "Namaku... Arga."

Almira mengulang dalam hati. Arga...

"Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Nenek Rahayu lagi.

Arga menghela napas berat. Matanya menatap langit-langit gubuk. "Aku... dikhianati. Ada orang-orang yang ingin membunuhku. Aku lari... sampai sini."

Almira merinding mendengarnya. Kata-kata itu membuat suasana semakin mencekam. Siapa sebenarnya lelaki ini? Kenapa ada orang yang mengejarnya?

Malam itu, setelah Arga kembali terlelap karena kelelahan, Almira tak bisa tidur. Ia duduk termenung, menatap wajah lelaki asing itu. Wajahnya meski pucat, tampak tegas dengan rahang keras, alis tebal, dan bekas luka di pelipis. Bukan wajah orang desa biasa.

Nek benar... lelaki ini pasti membawa sesuatu yang besar, batinnya.

Ketika pagi menjelang, cahaya matahari masuk dari sela-sela dinding bambu. Almira segera bersiap keluar mengambil air di sumur kecil di ujung hutan. Tapi Nenek Rahayu menahannya.

"Mira, hati-hati. Kalau ada orang bertanya, jangan katakan tentang lelaki itu. Katakan saja kau hanya tinggal berdua dengan nenek."

Almira mengangguk. Ada rasa takut yang makin membesar dalam dirinya.

Siang itu, Arga terbangun lagi. Kali ini pandangannya lebih jernih. Ia melihat Almira sedang menumbuk ramuan daun di lesung kecil.

"Kau... yang menolongku?" suaranya masih lemah.

Almira menoleh, tersentak mendengar suaranya. "Ya. Aku dan nenekku."

Arga menatapnya cukup lama. "Terima kasih."

Almira menggeleng cepat. "Kau tidak perlu berterima kasih. Tapi... siapa yang melukaimu? Apa kau orang jahat yang sedang diburu?" tanyanya tanpa sadar.

Arga terdiam. Ada kilatan tajam di matanya. Namun kemudian ia menutup mata, menghela napas panjang. "Aku tidak bisa menjawab itu sekarang. Yang jelas... aku tidak bisa kembali ke desa. Ada orang berkuasa yang ingin menyingkirkanku."

Almira tercekat. Dalam sekejap, bayangan Rangga Prakoso muncul di kepalanya. Lelaki itu memang dikenal berkuasa, juga kejam.

Apakah mungkin Arga punya urusan dengan Rangga?

Sore menjelang, suasana gubuk sedikit tenang. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari kejauhan, terdengar suara derap langkah kuda. Almira dan Nenek Rahayu saling berpandangan, wajah mereka tegang.

"Siapa itu, Nek?" bisik Almira panik.

Nenek Rahayu berdiri cepat. "Cepat! Bantu Arga masuk ke ruang belakang. Jangan biarkan mereka melihatnya!"

Dengan susah payah, Almira menolong Arga pindah ke bilik kecil di belakang, menutupinya dengan tikar tua. Arga merintih pelan, tapi ia mengerti situasi berbahaya ini.

Tak lama kemudian, terdengar suara keras dari luar.

"Rahayu! Buka pintumu!"

Almira menahan napas. Ia mengenali suara itu-suara pengawal Rangga.

Nenek Rahayu melangkah ke pintu, membukanya sedikit. "Ada apa datang malam-malam begini?" tanyanya dingin.

Pengawal itu menyeringai. "Kami hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja. Tuan Rangga khawatir, kalian mungkin mencoba kabur."

Mata Almira melotot dari balik dinding. Hatinya berdegup kencang. Kalau mereka masuk dan menemukan Arga... habislah sudah.

"Pergi dari sini!" bentak Nenek Rahayu. "Kami tidak akan ke mana-mana. Jangan ganggu kami lagi!"

Pengawal itu tertawa kecil, lalu meludah ke tanah. "Baiklah, tapi ingat. Tuan Rangga bisa datang kapan saja, dan menjemput cucumu."

Mereka pun pergi, meninggalkan debu jalan setapak.

Almira terkulai lemas, nyaris menangis. Ia berlari ke ruang belakang, membuka tikar penutup. Arga masih di sana, napasnya berat tapi matanya menyala tajam.

"Itu... orang-orang yang mengejarmu?" bisik Almira.

Arga menatapnya lama, lalu menjawab lirih, "Ya. Dan kalau mereka tahu aku ada di sini... kalian berdua akan dalam bahaya besar."

Almira merinding. Malam itu, ia sadar: hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kehadiran lelaki ini bukan hanya membawa misteri, tapi juga badai yang bisa menghancurkan segalanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Marco menjanjikan piknik romantis di tebing, namun ia justru mendorong Clara ke jurang demi selingkuhannya, Chika. Meski tubuhnya hancur, Clara bertahan hidup dan mendengar rencana keji Marco untuk memalsukan kematiannya sebagai kecelakaan. Di tengah keputusasaan, api balas dendam mulai membara. Harapan muncul saat Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya, datang menyelamatkannya. Kini, Clara siap menghancurkan pria yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Hasrat Nikmat Di Sekolah
8.2
Kehidupan di sebuah sekolah menengah ternyata menyimpan dinamika asmara yang tak terduga di balik ruang kelas. Meskipun suasana belajar dipenuhi keceriaan dan tingkah lucu para murid, para guru muda di sana memiliki sisi kehidupan personal yang jauh lebih intens. Hubungan romantis antar rekan kerja mulai bersemi dan berkembang menjadi kisah yang panas. Narasi ini menyoroti lika-liku cinta serta ketegangan emosional yang terjadi di antara para pendidik.
Sampul Novel Istri Pengganti Sang Miliarder
8.7
Hailey terpaksa membalas budi keluarga Brantley setelah rahasia identitas aslinya terungkap. Dia dipaksa menggantikan kakaknya untuk menikahi miliarder yang kabarnya sudah tua. Namun, kejutan besar terjadi di pelaminan saat sosok sang suami ternyata pemuda tampan bernama Mathias. Ketegangan memuncak pada malam pertama ketika Mathias menyudutkan Hailey ke dinding. Dia membongkar fakta bahwa dia tahu Hailey bukanlah putri sulung yang seharusnya dinikahinya.
Sampul Novel Kencan Buta Salah Alamat
8.3
Cinta terjebak dalam friendzone selama tujuh tahun demi menjaga perasaannya pada Raka. Saat hatinya hancur karena Raka memilih wanita lain, ia terpaksa menggantikan sahabatnya dalam sebuah kencan buta. Namun, rencana itu berantakan saat Cinta salah menemui orang. Bukannya pasangan kencan yang dimaksud, ia justru berhadapan dengan calon bosnya sendiri. Meski berawal dari insiden memalukan, takdir tampaknya punya cara unik untuk mempertemukan jodoh yang sebenarnya.
Sampul Novel KUTANG GANTUNG
9.4
Dara, remaja berusia 18 tahun, mengalami trauma hebat setelah kehormatannya direnggut paksa oleh ayah kandungnya, Herman, dan kakaknya, Ardi. Tragedi memilukan ini tidak hanya menghancurkan masa depannya, tetapi juga merenggut nyawa ibunya. Terjebak dalam penderitaan dan pengkhianatan keluarga sendiri, Dara kini berdiri di titik nadir. Bagaimana ia akan bangkit menghadapi luka batin tersebut dan membalaskan dendam atas segala rasa sakit yang ia terima?