APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengkhianatan Tak Disengaja Ke-34-nya

Pengkhianatan Tak Disengaja Ke-34-nya

Tunanganku, dokter bedah ternama, tega merancang tiga puluh tiga kecelakaan demi menunda pernikahan kami. Ia terobsesi pada Kayla, residen baru, hingga membiarkanku jatuh dari atap dan menyebabkan kematian ibuku di penjara. Puncaknya, ia membiarkan Kayla menghancurkan pita suaraku saat operasi. Meski ayahku dulu menyelamatkan keluarganya, ia membalasnya dengan kekejaman. Kini, dalam kondisi lumpuh dan bisu, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tunanganku, dokter bedah terbaik di Jakarta, selalu merawatku dengan sangat baik. Itulah sebabnya pernikahan kami sudah ditunda tiga puluh tiga kali.

Lalu, suatu malam di rumah sakit, aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seorang teman. Dia mengaku bahwa dialah dalang di balik tiga puluh tiga "kecelakaan" yang kualami. Dia jatuh cinta pada seorang dokter residen baru bernama Kayla, dan tidak sanggup menikahiku hanya karena kewajiban keluarga.

Kekejamannya semakin menjadi-jadi. Saat Kayla memfitnahku telah menamparnya, dia mendorongku kembali ke tempat tidur dengan kasar dan memakiku gila.

Saat Kayla berpura-pura mau bunuh diri di atap gedung, dia bergegas menyelamatkannya, membiarkanku terjatuh dari tepi atap tanpa menoleh sedikit pun.

Saat aku terbaring lumpuh di ranjang rumah sakit, dia menyuruh orang memukuli ibuku di penjara sebagai hukuman, dan ibuku meninggal karena luka-lukanya. Di hari pemakaman ibuku, dia malah mengajak Kayla menonton konser.

Aku adalah tunangannya. Ayahku telah mengorbankan kariernya untuk menyelamatkan ayahnya. Keluarga kami telah mengikat kami bersama. Namun, dia menghancurkan tubuhku, ibuku, dan suaraku, semua demi seorang wanita yang baru saja dikenalnya.

Akhirnya, dia membiarkan Kayla, wanita yang dicintainya, melakukan operasi pada tenggorokanku. Dan Kayla sengaja menghancurkan pita suaraku, melenyapkan kemampuanku untuk bernyanyi selamanya. Saat aku terbangun, tanpa suara dan hancur lebur, dan melihat senyum kemenangan yang licik di wajahnya, aku akhirnya mengerti segalanya.

Aku mematahkan kartu SIM-ku, berjalan keluar dari rumah sakit, dan meninggalkan semuanya. Dia telah merenggut suaraku, tapi dia tidak akan bisa merenggut sisa hidupku.

Bab 1

Pernikahan ke-tiga puluh empatku seharusnya berlangsung besok.

Ini juga yang ke-tiga puluh empat kalinya pernikahan itu ditunda.

Pertama kali, aku jatuh dari tangga dan kakiku patah. Kedua kali, lampu gantung jatuh dan membuatku gegar otak. Ketiga kali, keracunan makanan. Dan daftarnya terus berlanjut.

Setiap kali, itu adalah sebuah "kecelakaan". Setiap kali, aku berakhir di rumah sakit, dan pernikahan kami dibatalkan.

Aku terbaring di ranjang putih yang steril, tubuhku penuh dengan luka lama dan baru. Aku begitu lemah hingga beberapa kali nyawaku nyaris melayang, hidupku di ujung tanduk. Para dokter dan perawat berbisik tentang betapa sialnya aku.

Aku mencoba untuk duduk, rasa sakit yang tajam menusuk tulang rusukku. Aku hanya ingin mengambil air minum, sebuah tindakan kecil yang normal dalam hidupku yang sudah jauh dari kata normal. Usaha itu saja sudah membuatku terengah-engah.

Tunanganku, Brama Wijaya, adalah dokter bedah paling cemerlang di Jakarta. Dia selalu merawatku dengan sangat baik.

Itulah yang dulu kupercayai.

Saat aku perlahan berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sepi, aku mendengar suara-suara dari balkon terpencil. Salah satunya adalah suara Brama.

Aku berhenti, tersembunyi di tikungan lorong.

"Bram, kamu serius? 'Kecelakaan' lagi?" Itu adalah suara temannya, seorang dokter juga. "Ini sudah yang ke-tiga puluh tiga kalinya Elara terluka tepat sebelum pernikahan. Apa kamu tidak merasa ini sudah keterlaluan?"

Darahku seakan membeku. Tanganku, yang meraih dinding untuk menopang tubuh, mulai gemetar.

Tiga puluh tiga kali. Dia menghitungnya.

"Memangnya aku harus bagaimana lagi?" Suara Brama terdengar dingin, tanpa kehangatan yang selalu dia tunjukkan padaku. "Aku tidak bisa menikahinya."

"Kalau begitu putuskan saja! Kenapa kamu terus menyakitinya seperti ini? Kamu hampir membunuhnya terakhir kali."

"Tidak sesederhana itu," kata Brama, suaranya terdengar kesal. "Keluargaku punya utang budi padanya. Ayahku menghancurkan karier ayahnya, dan kami punya tanggung jawab. Pernikahan ini adalah bentuk tanggung jawab itu."

Sebuah tanggung jawab. Bukan cinta.

Kebenaran yang selama bertahun-tahun kutolak untuk kulihat, tiba-tiba terungkap begitu saja.

"Tanggung jawab yang rela kamu penuhi dengan menyiksanya?" tanya temannya, nadanya tidak percaya.

"Aku tidak punya pilihan," bentak Brama. "Tapi itu tidak penting. Aku harus menjaga jarak. Terutama dari Kayla."

Kayla Hartono. Dokter residen baru itu. Yang dia bimbing. Yang namanya sering kudengar disebut dengan nada lembut yang dulu kusalahartikan sebagai kebanggaan profesional.

"Kamu jatuh cinta padanya, kan?"

Brama tidak langsung menjawab. Keheningan itu adalah pengakuannya. "Aku tidak boleh."

Kata-katanya adalah pukulan terakhir yang brutal. Jantungku terasa berhenti berdetak. Udara seakan tersedot dari paru-paruku, dan koridor mulai terasa miring.

Aku terhuyung mundur, pandanganku kabur. Air mata yang tidak kusadari telah mengalir deras di pipiku.

Aku berlari, atau setidaknya berusaha berlari sekuat tubuhku yang remuk ini, kembali ke kamarku yang aman. Aku ambruk ke tempat tidur, kasur tipis itu tidak banyak membantu meredam benturan.

Tiga puluh tiga kecelakaan.

Lampu panggung yang rusak di konserku. Rem mobilku yang blong. "Tidak sengaja" terdorong ke kolam renang padahal aku tidak bisa berenang.

Semuanya. Semuanya adalah perbuatannya.

Semua karena dia tidak mau menikahiku.

Dia adalah Brama Wijaya, pewaris emas dari keluarga medis paling berkuasa di kota ini. Aku adalah Elara Anindita, seorang musisi indie yang almarhum ayahnya adalah seorang ahli bedah brilian. Ayahku telah mengorbankan kariernya, menanggung kesalahan yang dibuat oleh ayah Brama. Karena itu, keluarga Wijaya menerimaku, berjanji akan merawatku seumur hidupku.

Pertunangan kami adalah cara mereka memenuhi janji itu.

Dulu kupikir perhatiannya yang cermat, sentuhan lembutnya, kerutan cemas di dahinya saat aku terluka—kupikir semua itu adalah cinta.

Sekarang aku tahu itu hanya rasa bersalah.

Rasa sakit dari luka-lukaku kembali terasa, denyutan tumpul yang menggemakan penderitaan di dadaku. Setiap luka di tubuhku menjerit protes, sebuah paduan suara dari pengkhianatannya.

Pintu terbuka. Itu Brama.

Dia masuk, wajahnya memasang topeng keprihatinan yang sempurna. "Elara, kamu seharusnya tidak bangun dari tempat tidur. Tulang rusukmu masih dalam masa penyembuhan."

Dia menyebutkan tanggung jawabnya lagi, dan kata itu membuat perutku mual.

"Biar kuganti perbanmu," katanya, dengan nada lembut dan penuh perhatian yang dia khususkan untukku.

Dia duduk di tepi tempat tidurku, kotak medis di tangannya. Saat dia menyiapkan antiseptik, ponselnya bergetar. Dia meliriknya, dan untuk sesaat, topeng profesionalnya terlepas.

Aku melihat gantungan ponsel yang menjuntai—sebuah matahari kecil buatan tangan. Mataku terpaku padanya.

Aku ingat pernah memberinya gantungan serupa bertahun-tahun yang lalu, yang kubuat sendiri. Dia menyebutnya kekanak-kanakan dan melemparkannya ke laci. Tapi yang ini, matahari ini, identik dengan yang dipakai oleh Kayla Hartono. Aku melihatnya di mantel gadis itu beberapa hari yang lalu.

Dia menjawab telepon itu, suaranya langsung berubah, menjadi hangat dan akrab.

"Kayla? Ada apa?"

Aku bisa mendengar suara lembut dan cemas Kayla dari seberang. Dia bilang butuh bantuannya untuk sebuah kasus pasien. Dia terdengar panik.

Senyum tulus terukir di bibir Brama, senyum yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kulihat ditujukan padaku. "Jangan khawatir. Aku akan segera ke sana."

Dia menutup telepon. Suasana hatinya yang baik lenyap begitu matanya kembali menatapku. Dia tampak tidak sabar, gerakannya sekarang terburu-buru.

Dia mengambil pinset dan kapas yang dibasahi antiseptik. Seharusnya dia memberiku bius lokal dulu. Dia selalu melakukannya.

Kali ini, dia tidak melakukannya.

Dia menekan kapas antiseptik yang perih itu langsung ke lukaku yang terbuka.

Aku menjerit tertahan. Keringat dingin membasahi dahiku. Dunia berputar di depan mataku.

"Bram," ucapku tercekat, suaraku bergetar. "Biusnya..."

"Oh, iya. Maaf, aku tidak fokus," katanya, nadanya acuh tak acuh. Dia tidak berhenti. Sebaliknya, gerakannya menjadi lebih cepat, lebih kasar. "Tahan saja. Sebentar lagi selesai."

Tubuhku kejang. Aku mencengkeram sprei, menggigit bibir agar tidak berteriak. Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebenaran yang membakar pikiranku.

Dia menyakitiku agar bisa cepat-cepat menemuinya.

Dia selesai dengan cepat, melemparkan peralatan bekas ke nampan dengan suara berdentang. "Aku harus pergi. Ada keadaan darurat di rumah sakit. Jadilah anak baik dan tetap di tempat tidur."

Dia berdiri dan berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang.

Pintu tertutup, meninggalkanku dalam dunia yang penuh rasa sakit dan keheningan.

Jantungku terasa seperti dicabik-cabik. Setetes air mata mengalir di pipiku, lalu setetes lagi.

Penderitaan ini, baik dari lukaku maupun hatiku yang hancur, terlalu berat untuk ditanggung.

Pandanganku menjadi gelap saat aku pingsan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan
9.3
Liora Avanira, seorang anak angkat, terpaksa menggantikan kakaknya dalam perjodohan dengan Komandan Rayan Elvard yang dingin. Rayan memilih Liora bukan karena cinta, melainkan demi misi rahasia. Namun, pernikahan atas perintah atasan ini berubah menjadi obsesi berbahaya saat Rayan terpikat pada sikap dingin Liora. Di tengah kebencian dan ancaman musuh masa lalu yang mengincar nyawanya, Liora harus bergantung pada pria yang menjadi sumber penderitaannya tersebut.
Sampul Novel Benci Jatuh Cinta
9.6
Panji, anak yatim asuhan Terryn dan Deva, tumbuh tangguh meski dibenci Sheira akibat hasutan Imelda. Sebagai menantu keluarga Danuarta, ia tetap sabar menjaga martabat Deva walau terus dizalimi istrinya sendiri. Konflik memuncak saat rahasia kematian calon istri Panji yang melibatkan Sheira terungkap. Di tengah duka wafatnya ibu angkat dan kemunculan ibu kandungnya, Panji terjepit dilema batin antara luka masa lalu dan harapan masa depan yang penuh rintangan.
Sampul Novel Bukan Wanita Kedua
8.2
Dulu dibutakan cinta, Aulia kini hancur saat mengetahui Dimas berkhianat dengan menikah lagi. Tak hanya dikhianati, ia bahkan diusir dan dihapus dari kehidupan keluarga suaminya. Bertekad bangkit, Aulia menemui Rina untuk mencari kerja demi melupakan luka. Ia pun bekerja pada Sagas untuk membalas budi masa lalu. Meski hatinya sering goyah, dukungan sahabatnya terus menguatkan Aulia agar tidak kembali pada kekejaman Dimas. Sanggupkah ia berdiri tegak?
Sampul Novel Crazy Playboy - Gairah dan Obsesi Aktor Tampan
9.7
Permainan Truth or Dare mengubah hidup Syila saat ia memilih tantangan berani. Ia diwajibkan mencium pria pertama yang ditemuinya di depan toilet. Takdir mempertemukannya dengan Jaguar Adytama, aktor tampan yang kerap terjerat skandal bersama banyak wanita. Pertemuan tak terduga itu membuat Jake menjadi pria pertama dalam hidup Syila. Kini, Syila harus menghadapi konsekuensi setelah berurusan dengan sang playboy yang penuh gairah dan obsesi.
Sampul Novel Gadis Berbalut Luka
8.7
Pasca diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya, Ayana merasa semua pria itu sama dan tidak memiliki simpati. Ia bertekad menutup hati demi menghindari rasa sakit mendalam yang sulit disembuhkan. Namun, sumpah Ayana untuk tidak lagi terpesona pada lelaki diuji saat Bima Argunarta muncul kembali. Bima bukan sekadar orang asing, melainkan sosok dari masa lalu Ayana yang penuh kenangan mencekam sekaligus menyesakkan. Kini, ia harus menghadapi luka lama tersebut.
Sampul Novel Gairah Perempuan Bergaun Merah
8.8
Ruby adalah wanita berusia pertengahan tiga puluh tahun yang tetap menjaga bentuk tubuh indahnya dengan sempurna. Meski telah mengenyam beragam pengalaman asmara dan kehidupan ranjang, ia akhirnya terjebak dalam sebuah obsesi cinta yang membutakan nuraninya. Perasaan ini menjungkirbalikkan logika dan kewarasan Ruby karena sosok yang ia kejar adalah orang yang sangat terlarang. Ia nekat menerjang batasan tabu demi meraih cinta yang seharusnya tidak pernah ia miliki.