APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perempuan Lain Di Pemakamanmu

Perempuan Lain Di Pemakamanmu

Duka Ayna atas kepergian suaminya, Afnan, berubah menjadi tanda tanya besar saat seorang wanita asing bernama Maria muncul di pemakaman. Dengan tangis yang begitu histeris, Maria mengungkap rahasia kelam bahwa ia adalah istri kedua yang dinikahi Afnan secara siri selama tiga puluh tahun. Kehadiran Maria bersama putra mereka, Riko, seketika menghancurkan kenyataan Ayna, memaksa ia menghadapi pengkhianatan panjang yang tersembunyi rapi selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebuah mobil berhenti di depan pagar. Sopirnya langsung turun dan mengintip dari jerujinya.

“Atas nama Ibu Ayna!” teriaknya yang kubalas dengan lambaian tangan pelan agar ia menyadari keberadaanku.

Demi melihat barang bawaanku, sopir baik hati itu meminta ijin masuk ke halaman rumah dan membantuku mengangkat tas besar itu ke mobil. Sementara ia sibuk memindahkan barang bawaanku ke bagasi, aku termangu di depan pintu rumah itu.

Mungkin ini terakhir kalinya tangan ini mengunci pintu rumah kami, amanat yang dititipkannya padaku akan kulepaskan. Aku tak menginginkan apa-apa lagi. Tak butuh pengikat antara aku denganmu, mas.

Aku akan kembali ke sini kala kerabat dan kenalan membaringkan tubuhku di ruang tengah dan mengaji untuk mengantarkanku ke peristirahatan terakhir.

Jika dulu aku berat meninggalkan rumah ini, maka kali ini hatiku terasa ringan. Tanpa beban. Kunci itu tak kubawa, kuletakkan di dalam pot anggrek bulan yang menempel pada dinding pagar. Hamim dan Hanana tahu kebiasaan kami ini, jadi jika sewaktu-waktu mereka kembali. Mereka tahu harus mencari di mana.

Aku mulai menerima keputusan yang Hamim dan Hana berikan. Mungkin ini awal yang baik untukku, setelah semua yang terjadi. Keluar dari rumah ini adalah langkah awal yang baik agar hatiku tak depresi mengingat-ingat pengkhianatan mas Afnan selama pernikahan kami. Karena setiap sudut rumah bukan lagi bercerita tentang kenangan kita, tapi betapa bodohnya aku selama ini.

Pak sopir dengan sabar menungguku naik.

“Ke Rumah Teduh Melati Bahagia ya bu?” Sapanya ramah sambil memencet-mencet layar ponsel.

“Iya nak, pelan-pelan ya nyupirnya... Ibu gampang mual kalau ngebut.”

“Baik bu, kenyamanan ibu adalah prioritas saya. Oya, pantinya bagus ini bu. Saya juga ada bapak di sana, setelah tinggal di sana beliau terlihat lebih sehat dan banyak senyum bu, karena punya teman ngobrol.” Dengan ramah sang sopir bercerita tanpa kuminta.

Aku hanya tersenyum, aku gak butuh teman. Aku butuh damai dan mati dengan tenang. Namun pikiran mati sendirian tanpa ada seorang pun yang tahu juga terasa begitu menakutkan. Aku ingin jenazahku diurus secepatnya dan dikebumikan seperti seharusnya.

Aku teringat, belum menuliskan surat wasiat untuk Hamim dan Hana. Aku memastikan diriku untuk tak lupa menyampaikan satu saja amanat penting jika nanti telah tiada. Selebihnya terserah mereka berdua.

Permintaan kecil, yang kurasa justru tak akan memberatkan mereka kelak. Yaitu aku tak ingin dikubur bersebelahan dengan mas Afnan. Cuma itu. Karena aku tak sudi.

Bekasi macet seperti biasa, jalanan utamanya padat merayap. Panas membara di luar, batas perbedaan antara kondisiku dan pemuda yang berdandan sebagai manusia silver di luar hanyalah setipis kaca mobil. Sementara dia panas-panasan sambil menenteng ember untuk menampung uluran belas kasihan dari orang-orang hanya untuk mengisi perut hari itu, aku merapatkan syal karena kedinginan oleh angin dari air conditioner dalam mobil.

Aku menurunkan kaca mobil, mengulurkan tangan memberikannya selembar uang berwarna merah yang diterimanya dengan suka cita dan ucapan terimakasih berulang kali. Lihatlah, semudah itu aku menyebrang jarak antara ketimpangan dunia kami.

Andai, andai begitu pula mudahnya memangkas jarak antara masa kini dan masa lalu. Aku pun ingin semudah ini mengubah takdirku. 

Ada hutang yang ingin kubayar, untuk diriku yang selama ini telah kupaksa masuk ke dalam laci. Oh, betapa tak berdayanya seorang manusia...

Aku bukannya ingin dianggap kufur nikmat. Kekecewaanku belum menemukan pintu... Waktu yang memberi rasa sakit, akankah waktu pula yang menyepuh luka yang begitu lebar menganga ini?

“Masih jauh tidak nak?” Tanyaku pada sopir taksi online ini.

“Lumayan bu, karena macet jadi sekitar 1 jam lagi. Ibu istirahat dulu saja, nanti saya bangunkan kalau sudah sampai.”

“Ya. Terimakasih.”

Pikiranku mengembara, nun jauh ke masa pertemuan kita pertama. Padahal takdir kita bisa saja tak ketemu hari itu, namun kenapa aku bersikeras padamu? 

*** 40 tahun lalu -

“Na... Ayna, antar aku ke perpus yuk? Sudah sore, aku takut sendiri...” Bujuk Rita, sahabatku.

“Kan nanti di sana juga gak sendirian Ta, banyak yang nemenin tahu...”

“Mahluk tak kasat mata? Hii, ogah. Kalau dari fakultas lain mungkin iya banyak yang juga lagi cari literatur, tapi buku-buku jurusan kita kan di seksi yang nyempil tersendiri Na. Di lantai tiga pula... Haduuh, bawaanku merinding kalau sudah di sana. Yuk Na, temenin dooong...” Rita merajuk manja sambil memegangi tanganku. 

Aku akhirnya luluh. Keputusan yang bodoh.

Saat Rita dan aku hendak menyerahkan kartu berlangganan ke petugas perpus, ransel yang kusampirkan ke depan ternyata belum tertutup sempurna hingga memuntahkan isinya. Panik karena isinya kebanyakan sampah dari coret-coretan puisi tidak jelasku. 

Sepasang tangan dari orang yang mengantri di belakangku terulur membantuku mengumpulkan isi ranselku. Aku masih belum menyadari siapa pemilik tangan itu. Hingga saat semua telah terkumpul dan kepala terdongak baru aku melihat sang pemilik tangan baik hati itu.

“Makasih, mas.”

“Sama-sama... Sore banget mbak ke perpusnya?” Sapa pria itu ramah.

“Iya mas, baru dapat tugas.” Balasku sekenanya dengan tampang malu-malu.

“Boleh kenalan gak? Saya Raqib.”

“Mm... Ayna, mas.” Aku menjawab malu-malu.

“Iiish, bisa-bisanya kenalan di situasi begini. Cepetan! Ngantri nih, bentar lagi perpus tutup!” Hardik seseorang ketus dari belakang mas Raqib.

Dialah mas Afnan.

Padahal, dari pertemuan awal itu saja harusnya aku sadar bagaimana sikap mas Afnan sebenarnya, arogan dan mulut manis penuh intriknya. Tapi, aku terlalu buta, silau oleh tampang gagahnya yang digilai banyak wanita di kampus.

Sementara lelaki yang mencintaiku dengan tulus terpampang nyata di depan mata. Bodoh, bodohnya kamu Ayna...

*** 

“Bu... Maaf, kita sudah sampai.” Sapa sang sopir yang menyadarkanku dari lamunan.

“Oh, sudah sampai?” Aku turun dari kursi penumpang dengan ekstra lambat, tubuh tua ini sudah tak bersahabat. Sakit di beberapa persendian.

Berdiri di dekat mobil, aku mengamati rumah tempat Hamim mendaftarkanku. Rumah ini luas, tipikal rumah orang kaya jaman dulu. Dari pintu gerbang menuju rumah utama di batasi oleh halaman penuh sayur mayur dan bunga-bungaan, pohon mangga dan jambu memagari area kebun dan jalur masuk. Sangat asri.

“Selamat datang bu di Rumah Teduh Melati Bahagia, dengan Ibu Ayna kan? Saya Indah bu, suster yang akan menemani ibu selama di sini. Mari saya bawakan barang ibu... Pemilik Rumah Singgah ini sedang menunggu Ibu. Beliau bilang Ibu adalah tamu istimewa yang beliau tunggu-tunggu kedatangannya... Mari bu?” Ramah sang wanita mengajakku masuk.

“Pemilik? Menunggu saya?” Tak urung aku penasaran, aku tak ingat punya kenalan pemilik panti jompo.

“Ya bu. Pak Raqib Abdullah. Pemilik tempat ini.”

Deg!

Mengapa takdir seolah mengolok wanita tua ini?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dipaksa Memberi Keturunan
8.1
Demi melunasi utang pengobatan ayahnya, Risa terpaksa menikahi Dhimas. Namun, suaminya itu menyimpan rahasia kelam dengan kepribadian ganda yang drastis di luar pengawasan ibunya. Risa pun terkejut saat mengetahui adanya wanita lain dalam hidup Dhimas. Di tengah tekanan mertua yang menuntutnya segera memberikan keturunan, Risa terjebak dalam pusaran konflik dan misteri. Mampukah ia bertahan dan mencari kebahagiaan di tengah pengkhianatan serta tuntutan keluarga ini?
Sampul Novel Finding A True Love
9.3
Bagi Kanaya Amelitta, cinta hanyalah luka yang harus dihindari. Ia menutup hati rapat-rapat hingga Gavin Januartha hadir membawa kehangatan. Meski merasa nyaman, Kanaya justru kabur saat Gavin menyatakan perasaan. Delapan tahun berselang, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi rumit yang mengikat keduanya, padahal Gavin sudah memiliki komitmen lain. Di tengah rasa benci dan takut, mampukah Kanaya mengabaikan Gavin yang kini bersikap sangat keras kepala?
Sampul Novel Istri Kontrak Tuan CEO
8.4
Hidup Scarlett Piers hancur saat ayah dan ibu tirinya menjebaknya untuk dijual kepada duda tua kaya. Di tengah keputusasaan, Xanders Rilley hadir menyelamatkannya. Pengusaha dingin nan misterius itu menawarkan perlindungan, namun dengan syarat pernikahan kontrak selama satu tahun. Kini Scarlett harus memilih: menerima tawaran Xanders demi membalaskan dendam pada keluarganya, atau justru terjerumus ke dalam lingkaran masalah yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Jodoh Dari Ayah
9.2
Genta Mackenzie dikenal sebagai playboy dengan banyak kekasih sebelum dipaksa menerima perjodohan ayahnya. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu calon istrinya. Genta langsung jatuh hati pada pandangan pertama dan menyatakan cintanya dengan tulus. Kini, pertanyaan besar menghantui hubungan mereka: mampukah gadis itu membuka hati untuk pria bule pilihan orang tuanya? Akankah ia menerima perasaan Genta meski awalnya terpaksa dijodohkan?
Sampul Novel Menikah dengan kakak ipar
9.0
Hanifah yang mandul mendesak suaminya, Raihan, untuk menikahi sang adik, Nur Naila Habibah, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tak layak bagi Raihan, dosen agama yang religius, karena ia adalah mahasiswi nakal yang belum berhijab. Tanpa mereka sadari, Naila sebenarnya bukan saudara kandung Hanifah, melainkan anak sahabat ibunya. Akankah Naila menerima permintaan kakaknya itu atau justru menolak pernikahan tersebut karena merasa terlalu berbeda?
Sampul Novel My Crazy Teacher
8.6
Arkana Bimantara adalah guru pengganti tampan sekaligus cucu pemilik SMA ternama di Bandung. Meski digilai banyak siswi karena kemapanannya, perhatian Arka hanya tertuju pada Nayena Lim, seorang murid penerima beasiswa. Terpikat oleh pesona Naya, Arka menghalalkan segala cara untuk mendekati gadis itu. Ia tak segan melampaui batas kewajaran seorang pendidik dan memanfaatkan kekuasaannya demi memastikan Naya selalu menuruti setiap keinginannya.