APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perjuangan untuk Arda

Perjuangan untuk Arda

Arda merupakan seorang pemuda yang memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya demi mengadu nasib di Yogyakarta. Sebagai anak rantauan, ia harus menghadapi berbagai tantangan hidup di kota yang asing baginya. Cerita ini mengikuti perjalanan emosional Arda dalam berjuang demi masa depan yang lebih baik, sembari menavigasi kehidupan barunya di tengah dinamika budaya Yogyakarta yang khas serta rintangan yang menguji keteguhan hatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Arda dan Ramdan menuju ke kantin yang tak jauh dari kelasnya. Mereka menyusuri koridor, dan tak sampai dua menit, mereka sudah sampai. Mereka mencari tempat duduk sebelum memesan makanan.

“Itu, ada tempat duduk kosong,” ucap Ramdan sambil menunjuk ke arah tempat yang kosong.

Arda hanya mengangguk dan keduanya langsung duduk di sana.

“Lo, mau pesan apa? Biar gue yang pesenin sekalian, Dan,” tawar Arda.

“Gue soto sama es jeruk aja. Thanks,”balas Ramdan kemudian.

Arda hanya mengangguk dan pergi memesan makanan. Tak berselang lama, Arda datang, membawa baki berisikan makanan dan minuman—yang Arda dan Ramdan pesan. Arda meletakkan baki di meja.

   Saking laparnya, mereka melahapnya dengan sigap. Tak berselang lama, keduanya ke kasir untuk membayar dan kembali ke kelas mereka.

Saat akan memasuki kelas, Arda tak sengaja menabrak seorang perempuan. Arda yang sadar menabrak perempuan itu langsung meminta maaf. “Sori, gue nggak sengaja,” ucap Arda tanpa menatap perempuan itu.

“Arda, kan, ya?” tanya perempuan itu yang ternyata Nana—perempuan yang menemukan dompet Arda.

Arda langsung menatap perempuan itu, “Oh… iya, Nana, ya, kalau nggak salah?”

Nana hanya mengangguk dan tersenyum. “Kalau jalan hati-hati, Da.”

Arda mengangguk-anggukukkan kepala tanda mengerti.

“Ruang kelas kamu mana, Na?” tanya Arda kemudian.

“Ruang sebelah. Kamu udah ikut UKM?”

“Belum.” Arda menggelengkan kepalanya lagi.

“Nanti kalau ada informasi tentang UKM, nanti aku kasih tahu, Da. Aku ke kelas dulu ya, Da,”pamit Nana.

  Ia melambaikan tangannya ke arah Arda, begitu pula dengan Arda.

Arda memasuki kelasnya, sebelum cowok itu sampai ke tempat duduknya, ia dipanggil oleh Ramdan. Arda berbalik arah dan meghampirinya.

“Udah dapat gebetan aja,” ledek Ramdan.

Arda mengernyit heran, ia tak paham apa yag dimaksudkan temannya.“maksud, lo?”

“Cewek tadi, gebetan lo?” Raut wajah Ramdan semakin serius, ia semakin kepo menjadi-jadi.

“Bukan. Kenal tadi pagi, dia yang nemuin dompet gue,” jelas Arda.

“CINTA DI BALIK DOMPET,” ujar Ramdan bermaksud meledek.

“Lo pikir judul FTV?” Arda mengangkat bahunya acuh. “lo kebanyakan nonton FTV,” lanjut Arda.

“Bodo amat, bro.” Ramdan merangkul bahu Arda dengan erat.

“Sesuka lo.” Arda tertawa terbahak-bahak.

“Kita kan udah berteman. Selow santai aja sama gue. Tapi, gue masih penasaran sama cewek yang tadi. Namanya siapa?”

“Nana,”jawab Arda singkat.

“Cocok,” ledek Ramdan.

Arda tak mehiraukan perkataan Ramdan. Baginya, yang selalu di hatinya hanya ada Aisyah. Ia akan bersikeras membuktikan ke orangtua Aisyah, bahwa ia pantas untuk gadis itu.

***

Arda merebahkan tubuhnya di kasur, ia menatap langit-langit kamar kosnya. Ia merenung sesaat, ia mulai berpikir bagaimana cara sukses di Jogja, sedangkan ia saja tak tahu sama sekali tempat-tempat di Jogja.

Lamunan Arda pecah ketika ada suara ketukan pintu. Ia bangkit dari tidurnya dan membuka gorder, dan ternyata yang mengetuk pintu Ibunya. Dengan sigap, Arda berlari dan membuka pintu.

“Ibu. Kok nggak bilang sama Arda,  kalau mau ke sini?” tanya Arda pada Ibunya.

“Ibu kangen sama kamu, Nak. Kamu beneran bakal betah di sini?” tanya Zumirah.

“Iya, Bu. Arda udah yakin. Arda mau mandiri, ibu nggak usah mengkhawatirkan Arda, Bu.”

  Arda menuntun ibunya untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

”Ya sudah. Ibu Cuma khawatir sama kamu. Baik-baik di sini ya, Nak.” Zumirah memeluk anaknya. Saat dipelukan ibunya, Arda merasa iba, karena di Jombang, ibunya hanya tinggal bersama adiknya yang masih duduk di kelas 6 SD. Sedangkan ayah Arda sudah meninggal empat tahun yang lalu karena sakit keras.

“Nggak apa-apa, Bu. Akmal kan juga di sini. Jadi, ibu nggak usah mengkhawatirkan Arda.”

Zumirah hanya mengangguk. Obrolan demi obrolan mereka berbincangkan—sampai waktu larut malam.

“Ibu tidur di kamar Arda aja, Arda nanti tidur sama Akmal, di kos sebelah,” ucap Arda pada ibunya.

Zumirah mengangguk dan menepuk bahu anaknya, lalu memasuki kamar Arda.

Arda keluar dari kos dan menuju ke kos-an Akmal.

Tok

Tok

Tok

Tidak ada jawaban dari dalam. Arda terus mengetuk pintu, sampai terdengar suara pintu terbuka.

“Ngapain, Da?” tanya Akmal sambil mengendikkan bahu.

“Malam ini, gue tidur sama lo, ya? Ibu gue datang ke sini,” ucap Arda meminta.

Akmal mengangguk dan mempersilahkan temannya masuk ke dalam kosnya dan memasuki kamar.

“Ibu lo, ke sini pakai apa?” tanya Akmal sambil mengunyah makanan.

“Gue lupa nanya.” Arda terkekeh.

Akmal menggelengkan kepalanya dan menabok bahu temannya itu.

“Wah… wah… , anak kurang ajar, lo, Da.” Lagi-lagi Akmal menggeleng tiada henti.

“Gue lupa. Lo jahat amat, masak gue,  nggak lo tawarin makan, gitu?” Arda mendecak sedikit sebal.

Arda langsung mengambil paksa makanan yang sedang dibawa oleh Akmal, Akmal kaget dan terjadilah perebutan makanan.

“Ngapain kita rebutan makanan?” Arda bingung sendiri.

Akmal mengendikkan bahunya. “Lo  yang mulai.”

“Tapi… “ Arda tak melanjutkan kata-katanya.

“Tapi, apa?” balas Akmal.

“Gue lapar, serius!” pekik Arda sambil melototkan matanya kea rah Akmal.

Akmal paham betul bagaimana sikap Arda, ia terkadang seperti anak kecil, kadang berpikir dewasa dan sikap yang paling tidak disukai Akmal adalah sikap Arda yang terlalu berambisi. Apalagi, kalau masalah Aisyah, Arda akan mengedepankan apapun, termasuk dirinya sendiri. Akmal juga pernah menasihati Arda untuk berhenti memperjuangkan Aisyah, tapi apa yang Akmal dapat? Arda malah marah, dan semenjak itu Akmal mulai berhenti mencampuri urusan Arda, kalau itu berurusan dengan “Aisyah”

“Lapar? Makan.” Akmal menuju ke dapur dan beberapa saat kemudian, ia datang membawa sepiring nasi dengan lauk ayam goring.

“Makan, nih,” gumam Akmal sambil menyodorkan piring itu ke Arda yang langsung diterima oleh Arda.

“Buat gue?” Akmal mengangguk cepat.

Arda langsung melahap makanan itu, tak sampai empat menit, makanan itu raib—masuk ke dalam perut Arda.

“Thanks. Piringnya, lo, ya, yang taruh di dapur,” gumam Arda.

Akmal menjitak kepala Arda, enak saja, batinnya, yang makan siapa, yang harus menaruh piringnya siapa. Dengan wajah kesal, akhirnya Akmal mengalah demi sahabatnya sejak kecil itu. Tak berselang lama, Akmal kembali—masih dengan muka sebalnya.

Arda yang memperhatikan gelegat raut wajah temannya sedikit merasa bersalah. Ia menghampiri temannya itu dan merangkul bahunya, dengan nada mengejek Arda menjulurkan lidahnya.  Akmal yang kesal dengan Arda langsung mengambil bantal dan melemparkannya tepat di wajah Arda.

“Sialan, lo!”umpat Arda.

Akmal berbalik menjulurkan lidahnya.

“Lo, mulai duluan. Rasain!”

Mereka saling melempar cemoan dan ejekan. Tapi, itu hal biasa karena mereka sudah memahami karakter masing-masing.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 15 + (Lima Belas Tahun Ke Atas)
8.5
Kehidupan masa SMA di sekolah 15 penuh dengan momen kocak dan tingkah konyol. Tiga orang sahabat menjalani hari-hari mereka dengan tawa serta berbagai kejadian absurd yang mewarnai dunia remaja. Menariknya, rangkaian peristiwa unik ini diangkat dari pengalaman nyata seorang pemuda bernama Vlomontleus. Pembaca akan dibawa menyelami dinamika persahabatan yang autentik, penuh kejutan, serta sangat relevan dengan realitas kehidupan anak muda masa kini.
Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Meri terpaksa melakoni profesi pembunuh bayaran demi uang karena sulit mencari kerja. Mike adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kelam ini. Meski Meri mencintai sahabatnya itu, ia memilih memendam rasa demi menjaga pertemanan, apalagi Mike sudah memiliki kekasih seorang model cantik. Namun, pertemuan tak terduga dengan seorang dokter tampan di rumah sakit mulai menggoyahkan hatinya. Siapakah sebenarnya belahan jiwa yang ditakdirkan untuk Meri?
Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta
8.3
Hyura Anastasya terobsesi mencari reinkarnasi Fino dari buku kuno kakeknya, namun pencarian itu justru mengancam hubungan dengan sahabat dan cinta sejatinya. Di tengah kemelut, muncul sosok hantu laki-laki yang ternyata memegang kunci atas segala teka-teki hidupnya. Mengandalkan kemampuan telepati unik yang ia miliki, Hyura harus berjuang menuntaskan misteri besar ini. Mampukah ia menyelesaikan masalahnya saat telepati itu terasa tak berguna untuk urusan cinta?
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel DANGEROUS MAN
9.8
Athur Paker adalah CEO ternama sekaligus mahasiswa dengan sisi gelap yang haus darah. Hidupnya yang dingin berubah saat ia terobsesi pada Shena, gadis ceria yang berani menolak ajakannya. Meski ditolak, Athur menggunakan paksaan demi mengklaim Shena sebagai miliknya. Kini, hidup tenang Shena hancur dalam jeratan sang psikopat yang tak bisa ia hindari. Namun, rahasia masa kecil mulai terungkap. Akankah identitas asli Athur membawa petaka baru bagi Shena?