APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PERNIKAHAN DIATAS KERTAS

PERNIKAHAN DIATAS KERTAS

Jarvis, pengusaha kaya, menjodohkan putranya, Nathan, dengan Nindy yang sederhana. Pernikahan dipercepat demi Slamet, ayah Nindy, yang kemudian wafat. Namun, Nathan diam-diam menikahi kekasihnya, Jovanka. Setahun berlalu, Jarvis meninggal dunia. Nathan pun menceraikan Nindy atas desakan ibunya, apalagi Jovanka tengah hamil. Segalanya berubah saat pengacara mengungkap wasiat Jarvis; seluruh aset justru diwariskan kepada Nindy. Akankah Nathan menyesali keputusannya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2

PAGI PERTAMA

"Nathan, Nindy, sekarang kalian sudah menikah! Jadi, Papa harap, kalian mau saling mengenal. Nathan, tolong jaga Nindy. Perlakukan dia dengan baik!" ujar Jarvis.

"Iya, Pa!" sahut Nathan ogah-ogahan.

"Nathan, yang serius kamu. Kalau sampai kamu menyakiti Nindy, Papa tak segan-segan mencoret nama kamu dari daftar ahli waris," bentak Jarvis.

"Iya, Pa. Nathan paham."

"Ya sudah, ajak dia ke kamar. Biarkan dia Istirahat," ujar Jarvis.

"Pa, boleh Nathan mengajukan permintaan?"

"Apa itu?" tanya Jarvis.

"Pa, kami kan belum saling mengenal. Kami juga baru beberapa kali bertemu. Jadi, kalau boleh, aku mau bawa Nindy tinggal di apartemen saja," ujar Nathan.

"Kenapa harus di apartemen, sih? Kenapa gak disini saja?" protes Mamanya.

"Ma, kami kan pengantin baru. Jadi, perlu privasi. Lagipula, aku ingin belajar mandiri," sahut Nathan.

Jarvis tampak berpikir.

"Bagaimana menurut kamu, Nindy?" tanya Jarvis.

"Saya terserah Mas Nathan saja, Pa!" sahut Nindy lirih.

"Baiklah, Papa kasih izin kalian tinggal di apartemen, tapi mulai besok. Malam ini, kalian menginap disini. Sekarang, ajak dia ke kamar! Biarkan dia istirahat!" ujar Jarvis.

"Iya, Pa! Terimakasih!" sahut Nathan sembari tersenyum.

"Ayo!" ajaknya kepada Nindy.

Nindy mengikuti langkah panjang Nathan.

Nathan membuka pintu kamarnya. Nindy memandang takjub. Kamar itu sangat luas, bahkan lebih luas dari rumahnya. Warna catnya dominan abu menampilkan ciri khas sang pemilik yang selalu tampil maskulin. Nathan terus melangkah masuk dan berbaring. Nindy yang tampak kebingungan hanya berdiri saja di tengah ruangan.

“Ngapain bengong disitu? Sini, aku mau ngomong!” ujar Nathan dingin.

Nindy melangkah mendekati Nathan.

“Barang kamu taruh situ saja, gak usah dibongkar, besok kita pergi. Itu kamar mandinya!” ujar Nathan memberi penjelasan.

“Iya, Mas!” sahut Nindy.

“Oya, satu lagi. Malam ini kamu tidur di sofa. Nih, selimut sama bantal! Sudah sana, aku ngantuk, mau tidur!”lanjut nathan sembari melemparkan selimut dan bantal ke arah Nindy.

Nindy menerimanya dengan sedih. Meski ini pernikahan karena terpaksa, dia tetap berharap merekabisa menjalani pernikahan ini seperti orang lain.

“Mungkin dia perlu waktu!” pikir Nindy.

Nindy segera menuju kamar mandi, membersihkan badan, lalu membaringkan badan di sofa.

Sembari berbaring, dia memandang suaminya. Ternyata, pria itu belum tidur. Dia sedang berbalas pesan sambil senyum-senyum. Cukup lama nindy memperhatikan mereka, hingga akhirnya dia tertidur.

Tepat pukul 03.00 WIB Nindy terbangun. Dia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahjjud, lalu dlanjutkan tilawah. Nindy menangis dalam doanya. Dia merindukan orang tuanya, meski hidup mereka tergolong sederhana namun kala itu rasanya penuh kedamaian. Dia merindukan masa-masa itu. Dia juga berdoa semoga rumah tangganya bisa langgeng hingga kahir hayat.

Dilhatnya, sang suami masih tertidur pulas. Usai melaksanakan salat subuh, Nindy membangunkan Nathan.

“Mas, bangun, ayo salat subuh dulu!” ujar Nindy.

“Mas!” panggil Nindy lagi, namun Nathan tampak tak bergeming.

Perlahan, Nindy menepuk-nepuk bagu Nathan.

“Mas!” panggilnya lagi.

“Apa sih? Pagi-pagi sudah berisik!” bentaknya.

Nindy tampak terkejut.

“Ada apa?” tanya Nathan lagi.

“Salat subuh dulu, Mas! Udah mau jam lima!” ujar Nindy.

Nathan kembali memejamkan matanya.

“Kamu salat sendiri sana! Aku masih ngantuk!” sahut Nathan.

Nindy tak berani membangunkan Nathan lagi. Perlahan, Nindy membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Dia berkeliling mengamati rumah tersebut dan berhenti di dapur.

“Non Nindy mau apa? Biar saya ambilkan!” sapa Bik Siti.

“Gak ada, Bi. Saya hanya berkeliling saja. Bibi masak apa?” tanya Nindy.

“Masak cap cay, nasi goreng, sama udang goreng tepung, Non!”

“Saya bantu ya, Bi!”

“Jangan, Non! Non Nindy duduk saja disana!” ujar Bibi sembari menunjuk meja makan.

“Gak enak, Bi. Aku bantu masak nasi goreng saja, ya!”

“Ya sudah, terserah Non saja!” sahut Bibi pasrah.

Sambil memasak, mereka berbincang ringan. Ternyata, Nathan tak suka makan sayur. Nindy tertawa terpingkal mendengar cerita Bibi.

“Masak gak mau sayur sama sekali, Bi? Kayak anak kecil saja!!” ujar Nindy.

“Beneran, Non! Dulu pernah Den Nathan mogok makan karena dipaksa Papanya harus makan sayur.”

Tanpa terasa, seluruh masakan mereka sudah matang. Dengan dibantu Tiwi, anak Bi Siti, mereka menata makanan di meja makan.

“Sudah siap, Bi?” tanya Adel.

“Sudah, Nya!”

“Ya sudah, sana panggil Nathan!” perintahnya.

“Biar saya saja, Ma!” sahut Nindy.

“Terserah!” sahutnya cuek.

Nindy melangkah naik dan memasuki kamar Nathan. Disana, tampak Nathan sudah selesai bersiap.

“Ada apa?” tanyanya.

“Dipanggil Mama, disuruh sarapan!”

“Hmm!” sahut Nathan singkat.

Nindy segera berbalik dan hendak turun kembali.

“Tunggu!” panggil Nathan.

“Iya, Mas?” tanya Nindy. Dia segera menghentikan langkahnya.

Nathan mendekati Nindy. Berada pada jarak sedekat itu dengan lawan jenis, membuat jantung Nindy berdetak kencang.

“Jangan bilang-bilang kalu tadi malam aku menyuruh kamu tidur di sofa! Ingat itu!” ujar Nathan, lalu mendahului menuruni tangga. Nindy mengikuti dari belakang.

“Selamat pagi, Ma! Selamat pagi, Pa!” sapa Nathan.

“Pagi! Ayo, sarapan!” ajak Mamanya.

Nathan segera duduk di kursinya. Dengan kikuk, Nindy pun ikut duduk di sebelah Nathan.

“Nindy, ayo makan! Jangan malu-malu!” ujar Jarvis.

“Iya, Pa!” sahut Nindy.

“Tumben nasi goreng Bibi rasanya beda!” ujar Adel.

“Iya, Ma, malah lebih enak dari biasanya!” sahut Nathan.

“Masak, sih?” tanya Jarvis yang memang memilih sarapan menggunakan cap cay.

“Beneran, Pa. Cobain deh!” ujar Adel, lalu menyuapkan satu sendok ke mulut suaminya.

“Bener, kan?” ujar istrinya setelah satu suapan mendarat dengan manis di mulut suaminya.

“Ini masakan Nindy, Ma! Papa hafal sama rasa nasi gorengnya!” ujar Jarvis.

Uhuk . tiba-tiba, Adel tersedak.

“Hati-hati, Ma, kalau makan!” ujar Jarvis sembari menyerahkan segelas air minum.

“Terima kasih, Pa!” sahut Adel setelah agak tenang.

“Udah,lanjutkan makannya! Jangan sambil ngobrol!” lanjut Jarvis.

Mereka menyelesaikan acara makan pagi mereka dengan tenang.

“Kalian ke apartemen berangkat jam berapa?” tanya Jarvis.

“Setelah ini kami langsung berangkat, Pa, soalnya kan, agak siangan nanti ada janji sama klien,” sahut Nathan.

“Apa gak sebaiknya kamu ambil cuti dulu? Kasihan Nindy, masak baru menikah sudah kamu tinggal. Ajaklah dia jalan-jalan!”

“Gak bisa sekarang, Pa! Kantor sedang sibuk-sibuknya! Lagian, kami masih bisa jalan-jalan kok, walau hanya dalam kota saja!”

“Terserah kamu sajalah! Oya, mulai besok, Nindy akan bekerja di kantor kita!”

“Apa? Memangnya dia bisa bekerja?” ejek Adel.

“Ma, jangan merendahkan orang seperti itu! Dia itu menantu kamu!” tegur Jarvis kepada istrinya.

Adel tak menanggapi ucapan suaminya.

“ Lagipula, apa kamu tidak tahu, dia ini sarjana ekonomi. Dia lulusan terbaik di kampusnya,” lanjut Jaevis.

“Trus, dia mau ditempatkan dimana? Kantor kita kan, sedang tidak membutuhkan karyawan,” tanya Nathan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Rehan Hadinata adalah CEO sukses sekaligus duda dengan satu anak yang merindukan kasih sayang wanita. Meski banyak yang mengejarnya, tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Suatu hari, ia mencoba aplikasi kencan daring dan tertarik pada sosok bernama Nesya Cintia Ayu. Rehan pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dan memulai perkenalan. Akankah interaksi mereka berkembang menjadi hubungan yang lebih serius dan penuh komitmen di masa depan?
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin
9.4
Demi melunasi utang keluarga yang menghimpit, Hana terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Ray, CEO berhati dingin yang butuh menjaga citra publiknya. Meski awalnya sepakat untuk tidak saling melibatkan perasaan, benih cinta perlahan muncul di tengah kepura-puraan mereka. Namun, saat masa lalu kelam Ray terungkap dan ancaman rival bisnis mulai menyerang, hubungan mereka pun diuji. Sanggupkah cinta sejati tumbuh dari sebuah kebohongan yang rumit?
Sampul Novel Jatuh Cinta Dengan CEO Duda
7.8
Pasca perceraian yang menyakitkan, Dimas tumbuh menjadi pengusaha dingin hingga ia bertemu Sinta. Sekretaris barunya yang penuh keceriaan itu perlahan mencairkan hatinya yang beku. Sinta bahkan menjalin ikatan emosional dengan Arya, putra Dimas yang selama ini merasa kesepian. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, mantan istri Dimas datang kembali untuk mengusik ketenangan mereka. Akankah cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi gangguan masa lalu tersebut?
Sampul Novel Keluarga Sewaan
8.0
Prima Jayashree, CEO muda Jayashree Company, menghadapi tekanan besar untuk segera menikah demi kelangsungan takhta perusahaan. Dalam keputusasaan, ia berlibur ke Tokyo dan menemukan jasa sewa keluarga. Prima memutuskan menyewa seorang istri serta anak untuk menemaninya. Namun, saat masa sewa berakhir, muncul ide nekat untuk membawa mereka ke Indonesia. Mampukah Prima mengubah sandiwara ini menjadi kenyataan tanpa terbongkar oleh sang ayah?
Sampul Novel Merebut Kekasih Selingkuhan
8.5
Sienna hancur saat memergoki Miranda, kakak iparnya, berselingkuh dengan musuh bisnis Damian di klub malam. Demi melindungi kakaknya yang rapuh, Sienna merahasiakan pengkhianatan ini. Ia pun merancang rencana nekat: menggoda Alec, selingkuhan Miranda, agar hubungan gelap itu hancur. Namun, misi balas dendam ini menjadi rumit saat Sienna mulai terjebak dalam permainan emosi yang ia ciptakan sendiri. Akankah ia berhasil menyelamatkan Damian atau justru ikut tenggelam?