APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Pengganti

Pernikahan Pengganti

Evelyn hancur saat Nathan, kekasihnya selama lima tahun, tak kunjung datang ke altar pernikahan. Di tengah rasa malu yang mendalam, Adrian yang merupakan kakak Nathan muncul untuk menggantikan posisi adiknya demi menjaga kehormatan keluarga. Meski awalnya terasa hambar, Evelyn perlahan menemukan motif terselubung di balik hilangnya Nathan serta alasan Adrian bersedia menikahinya. Kini, ia terjebak dalam rahasia besar yang mengancam sisa hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi pertama sebagai nyonya Evelyn Blackwood terasa... dingin.

Saat ia terbangun, cahaya matahari keemasan sudah masuk melalui jendela besar kamar hotel. Selimut di sampingnya masih rapi. Tidak ada bekas tubuh Adrian di sana, dan saat Evelyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, pria itu sudah tidak ada.

Tentu saja.

Adrian tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai sesuatu yang berarti.

Dengan napas panjang, Evelyn duduk di tepi ranjang dan memijat pelipisnya. Semua kejadian kemarin masih terpatri jelas di benaknya-penghinaan di altar, Adrian yang tiba-tiba menawarkan diri, pesta pernikahan yang lebih terasa seperti sandiwara, dan kata-kata Adrian yang terus terngiang di kepalanya.

Pernikahan ini bukan karena cinta, Evelyn.

Seolah ia perlu diingatkan akan fakta itu.

Evelyn turun ke lobi hotel dengan mengenakan dress sederhana berwarna krem. Meski wajahnya tetap tenang, ia bisa merasakan tatapan para staf yang mengenalnya. Bisikan dan gosip pasti sudah menyebar dengan cepat.

"Selamat pagi, nyonya Blackwood," salah satu pegawai menyapanya dengan sopan.

Evelyn terdiam sejenak. Ia masih belum terbiasa dengan sebutan itu.

"Tuan Blackwood menunggu di restoran," lanjut pegawai itu.

Evelyn mengerutkan kening. Adrian?

Dengan perasaan bercampur aduk, Evelyn berjalan menuju restoran hotel. Dan di sanalah pria itu berada, duduk tegap di meja dekat jendela dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Setelan abu-abu yang dikenakannya rapi tanpa cela, mencerminkan auranya yang selalu dingin dan berkelas.

Ketika Evelyn mendekat, Adrian menatapnya tanpa ekspresi. "Duduklah."

Evelyn menarik napas dalam dan duduk di hadapannya. Seorang pelayan segera datang membawa teh untuknya-tanpa perlu dipesan. Evelyn menatap cangkir itu dengan alis berkerut.

"Kau tahu aku minum teh di pagi hari?" tanyanya.

Adrian mengangkat bahu. "Kau sering memesannya saat makan malam keluarga."

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Evelyn merasa aneh. Apakah Adrian benar-benar memperhatikannya selama ini?

Ia menepis pikirannya dan meneguk tehnya sedikit. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya langsung.

Adrian meletakkan cangkirnya dan menatapnya dengan serius. "Kita perlu membicarakan beberapa hal mengenai pernikahan ini."

Evelyn mendesah. "Akhirnya. Aku juga ingin tahu rencanamu."

Adrian menyandarkan punggungnya di kursi. "Pernikahan ini hanya formalitas. Aku tidak akan mengganggumu, dan aku berharap kau juga tidak menggangguku. Kita hanya perlu bertahan selama beberapa waktu sampai semuanya stabil, lalu kita bisa membicarakan opsi lain."

Evelyn menatapnya, mencoba membaca makna tersembunyi di balik kata-katanya. "Opsi lain? Kau ingin bercerai?"

Adrian tidak menjawab langsung. Ia hanya mengaduk kopinya dengan tenang. "Kau ingin hidup seperti ini selamanya?"

Evelyn menghela napas. Tidak. Tentu saja tidak.

"Tapi setidaknya aku ingin tahu kenapa Nathan meninggalkanku."

Tangan Adrian yang memegang sendok berhenti sesaat, namun hanya sekejap. Dengan cepat ia kembali tenang. "Itu bukan urusanku."

Evelyn mengepalkan tangannya. "Dia adikmu."

Adrian menatapnya lama sebelum menjawab, "Dan sekarang aku suamimu."

Jantung Evelyn berdebar. Ada sesuatu dalam cara Adrian mengatakannya yang membuat tengkuknya meremang.

"Kau menyembunyikan sesuatu," desisnya.

Adrian tersenyum tipis, tapi senyumnya tanpa kehangatan. "Hati-hati, Evelyn. Tidak semua jawaban yang kau cari akan membuatmu bahagia."

Hari itu terasa panjang. Setelah meninggalkan hotel, Evelyn mengikuti Adrian menuju rumah baru mereka-sebuah mansion besar di pinggiran kota yang dikelilingi taman luas dan pagar tinggi. Begitu mereka memasuki bangunan itu, Evelyn menyadari sesuatu: rumah ini terasa kosong.

Bukan dalam arti furnitur atau kemewahan. Tidak. Setiap sudut rumah ini dipenuhi dengan dekorasi elegan dan barang-barang berkelas. Tapi tidak ada kehangatan. Tidak ada tanda bahwa tempat ini benar-benar dihuni.

"Kau tinggal di sini sendirian?" tanyanya saat mereka memasuki ruang utama.

Adrian membuka jasnya dan melemparkannya ke sofa. "Sebagian besar waktu, ya."

Evelyn mengamati sekeliling. Tidak ada satu pun foto keluarga atau benda pribadi yang memberi kesan bahwa ini adalah rumah seseorang. Semua terasa terlalu rapi, terlalu steril.

"Bagaimana dengan Nathan? Dia pernah tinggal di sini?" tanyanya hati-hati.

Adrian berhenti sejenak sebelum menjawab. "Nathan punya tempat sendiri."

Evelyn menggigit bibirnya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi Adrian jelas tidak berniat membicarakannya.

"Kamar tidurmu ada di lantai atas," kata Adrian akhirnya, mengakhiri percakapan. "Kedua."

Evelyn mengernyit. "Kedua?"

"Aku tidak tidur di kamar yang sama denganmu, Evelyn."

Kata-katanya dingin dan jelas.

Evelyn mengangguk, pura-pura tidak peduli. "Bagus."

Adrian tidak menanggapi dan langsung berjalan ke ruang kerja, meninggalkannya sendirian di ruang tamu yang luas dan sunyi.

Malamnya, Evelyn berbaring di ranjang besar dengan pikirannya yang terus berputar.

Ada yang tidak beres.

Bukan hanya soal Nathan yang menghilang begitu saja di hari pernikahan mereka, tapi juga soal Adrian. Evelyn selalu mengira pria itu hanya sekadar dingin dan tidak peduli, tapi semakin lama ia berada di dekatnya, semakin jelas bahwa Adrian menyimpan sesuatu.

Dan yang lebih mengganggunya-mengapa Adrian bersikeras menikahinya?

Pikiran itu terus menghantuinya sampai ia hampir tertidur. Namun, tepat saat matanya mulai terpejam, suara lirih di luar jendela membuatnya tersentak.

Seseorang berbicara di luar.

Jantung Evelyn berdegup kencang. Dengan hati-hati, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati jendela. Cahaya bulan redup menerangi halaman belakang rumah, dan di sana, di dekat pagar, Evelyn melihat sosok Adrian.

Pria itu sedang berbicara di telepon, suaranya rendah dan nyaris tidak terdengar.

Evelyn menahan napas.

"Aku sudah melakukan bagianku," kata Adrian, suaranya tajam dan dingin.

Hening.

Evelyn tidak bisa mendengar jawaban dari orang di seberang.

Kemudian Adrian berbicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah.

"Dia tidak boleh tahu yang sebenarnya."

Jantung Evelyn hampir berhenti.

Siapa yang dimaksud 'dia'? Apa yang tidak boleh aku ketahui?

Evelyn mundur dari jendela, napasnya memburu.

Ia sudah menduganya.

Adrian menyembunyikan sesuatu.

Dan apapun itu... Evelyn bersumpah akan mencari tahu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah, Tapi Bukan Untuk Dicintai
9.6
Terdesak utang, Lana menerima tawaran Valerie untuk menggoda ayahnya, Cedric Vellani, demi membatalkan pernikahan pria kaya itu dengan wanita pemburu harta. Namun, Cedric yang dingin tak mudah ditaklukkan. Lana justru terjebak dalam pesona sang target hingga hubungan transaksional mereka berubah jadi perasaan terlarang. Saat Valerie merasa dikhianati, Lana harus memilih antara uang atau cinta yang berawal dari kebohongan. Akankah ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia
8.0
Clara berharap kehamilannya mengakhiri rahasia pernikahan delapan tahunnya dengan David. Namun, penolakan keras David justru memicu konflik fisik yang fatal hingga Clara kehilangan salah satu janinnya. Sadar hanya menjadi pengganti, Clara yang semula lembut berubah dingin dan menuntut cerai. Kini, David harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan rasa bersalah mendalam saat melihat istrinya tak lagi peduli pada hubungan mereka yang penuh kepalsuan.
Sampul Novel Gairah Liar Masa Puber
8.0
Berlatar di sebuah kota kecil, kisah ini mengikuti perjalanan Kino dalam mengarungi gejolak masa remaja hingga menjadi pria dewasa. Sebagai pemuda biasa, ia mengalami fase pendewasaan yang sarat akan sensualitas dan drama emosional. Meski pengalaman kehilangan keperjakaan serta pembentukan seksualitasnya adalah hal yang lumrah dialami banyak orang, Kino memiliki sisi unik yang sering kali disembunyikan. Sebuah narasi tentang rahasia di balik kedewasaan.
Sampul Novel Istri mandul CEO bucin
8.8
Lima tahun membina rumah tangga, Asmaraloka dan Cadis Diraizel dikenal sebagai pasangan harmonis yang saling mencintai. Namun, kebahagiaan mereka mulai goyah saat Ara divonis mandul oleh dokter. Meski sang CEO tetap setia dan menerima kondisi tersebut tanpa menuntut keturunan, rasa minder Ara memicu keretakan. Situasi kian pelik ketika pihak ketiga hadir memperkeruh suasana dengan berbagai kesalahpahaman. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi cobaan ini?
Sampul Novel MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT
8.0
Sebulan pasca menikah, Rio justru berkhianat dengan menikahi siri Marta, sahabatku sendiri. Aku dianggap pajangan tak berarti di rumah kami, hingga suatu malam Rio merenggut paksa kehormatanku demi mengganti rugi mahar yang ia beri. Hancur karena dijadikan tumbal pernikahan tanpa cinta, aku mengadu pada orang tua namun tak mendapat pembelaan. Akhirnya, aku memilih pergi menjauh dan menghapus jejak demi menyembuhkan luka batin yang teramat perih ini.
Sampul Novel Menikahi Gadis Bar-Bar
8.4
Malaika Arabella adalah siswi kelas XI penerima beasiswa yang dikenal pemberani namun sering membolos. Meski jadi target perundungan, ia tetap berprestasi di kelas. Masalah muncul saat orang tuanya harus dinas ke luar negeri dalam waktu lama. Karena Mala menolak ikut dan tak ada kerabat, ia dipaksa menikah muda dengan putra teman ayahnya. Pernikahan rahasia pun digelar. Akankah Mala mampu menjalani rumah tangga ini di tengah masa sekolahnya yang penuh gejolak?