APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perselingkuhan Liar Istriku

Perselingkuhan Liar Istriku

Bayu sedang memacu gairah Dokter Mirza dengan keahliannya. Setelah berhasil melepas pakaian bawah sang dokter, Bayu mulai menelusuri sensitivitas tubuh wanita itu menggunakan lidah dan jarinya. Meski sempat kesulitan karena posisi yang membuatnya sesak napas, Bayu tetap berusaha memberikan kenikmatan maksimal. Dokter Mirza terus mengerang hebat hingga tak mampu lagi menahan gejolak hasratnya. Bayu pun mempercepat gerakannya demi mengejar puncak kepuasan sang dokter.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari ini, Ia masih berhasil menjadi istri yang baik. Tak terlalu baik sebenarnya. Tapi cukup berhasil menahan diri. Kelepasan sedikit saja, Ia pulang sebagai istri yang telah main serong. Kian hari, godaan makin besar untuk meneguhkan hatinya menjadi istri yang baik. Sumpah yang Ia ucapkan 14 tahun lalu. Hari yang tak akan pernah dilupakan oleh Mirza. Ia menjatuhkan pilihan pada seorang laki-laki, yang meski Ia tahu nama dan profilnya, tapi tak lama dikenal. Pilihan keluarga adalah yang terbaik baginya. Sebagai anak penurut dan begitu berbakti kepada kedua orang tua, Ia menerima tawaran yang sebenarnya lebih terkesan sebagai paksaan. Tapi Ia menerimanya. Dengan ikhlas, dengan lapang dada. Ia putuskan mengabdikan hidupnya pada lelaki itu.

Dua malam setelah hari itu, Ia baru merasakan menjadi seorang istri sesungguhnya. Pesta keluarga besar membuat Ia dan suami tak sempat melakukan ritual sepasang pengantin baru. Sebagi seorang dokter, sang suami juga tentunya, mereka hafal sekali persoalan tubuh manusia. Rasanya tak perlu diajarkan lagi. Dibesarkan dalam keluarga religius membuatnya segan untuk berbicara soal urusan ranjang. Yang Ia ingat hanya pesan Sang Ibu beberapa hari sebelum pernikaha. "Tugas istri adalah mengabdi pada suami. Tubuhmu menjadi milik suamimu sepenuhnya. Buat suamimu merasa senang ketika berada di dalam kamar," begitu bunyi pesan itu. Ia memegangnya teguh. Sampai hari ini.

Mirza bukan wanita bodoh dan miskin pengetahuan. Selama sekolah, Ia belajar banyak hal. Juga bertemu dengan berbagai jenis manusia. Ia tahu bahwa dalam hubungan suami istri di atas ranjang, kedua belah pihak berhak mendapatkan kepuasan. Namun pesan ibunya malam itu melekat lebih kuat dari ilmu. Ia memendamnya. Suaminya tak mampu memenuhi ekspektasi. Tentu dalam urusan ranjang yang dimaksud di sini. Selama berhubungan, Ia merasa hanya beberapa kali merasakan apa yang Ia tahu sebagai orgasme. Hal yang kemudian membuatnya berani membahas masalah itu setelah 10 tahun menikah. Iya, Mirza baru erai setelah se lama itu. Sekal lagi, Ia tak mendapatkan hasil sesuai ekspektasi. Suaminya berang. Merasa disentil ego tertingginya sebagai lelaki, Ia memakai dalih beraneka rupa. Mirza kembali mengingat pesan ibunya. Ia minta maaf. Beberapa hari setelah itu, hubbungan mereka baik kembali. Tapi tubuhnya mengatakan tidak. Usianya 37 tahun. Ia merasa melewatkan banyak hal. Mungkin usia aktivitas seksualnya tak lama lagi. Tinggal 10 tahun mungkin, atau bahkan kurang dari itu. Dengan kondisi seperti ini, tak ada yang bisa diharapkan. Ia kembali mengingat pesan ibunya. Kehidupan kembali berjalan seperti biasanya.

Ujian memang datang pada manusia setiap waktu. Apa pun bentuknya. Dalam kehidupan yang sudah dijalani, rasanya sulit bagi Mirza mendapatkan ujian ekonomi atau kesusahan sejenis. Ia mendapatan ujian dalam bentuk lain. Penceramah seringkali berkata bahwa kenikmatan juga ujian. Begitu yang sedang dihadai Mirza saat ini. Laki-laki muda bernama Bayu Widiansyah yang baru Ia kenal selama 6 bulan ini begitu memenuhi pikirannya. Bukan. Ia tak sedang jatuh cinta. Meski menikah dengan perjodohan, waktu berhasil membuatnya jatuh cinta pada suaminya itu. Meski dengan kekurangan yang selalu Ia keluhkan. Bayu adalah soal yang selama ini tak begitu Ia dapatkan dari lelaki yang dicintainya. Pertemuan hari ini membuat sisi lain dari Mirza perlahan keluar. Bayu berhasil memancing itu. Untungnya, Ia cepat sadar. Tapi Bayu telah membuatnya keluar. Ia hampir melakukannya. Tubuhnya, dan tentu saja bagian otak yang memintanya berpikir jorok, menyetujui itu. Tapi Ia berhasil menahannya hari ini. Entah besok atau lusa.

Bayu tidak terlampau tampan. Ia laki-laki biasa dengan tinggi setara dengannya. Bukan laki-laki idaman ibu-ibu paruh baya di luar sana. Tubuhnya biasa, tak kurus juga tak gemuk. Katanya, Bayu masih suka olahraga meski tak rutin. Tapi cara bicara, gestur, hingga bagaimana Ia memperlakukan orang lain, terutama wanita, membuatnya terkesan. Dalam pikirannya, Ia merasa Bayu sangat menarik secara seksual. Bayu bukan laki-laki yang rapi seperti suaminya. Gaya pakaian dan tingkah lakunya terkesan sekenanya. Rambutnya juga agak panjang. Tak layak sebagai orang kantoran. Tapi itulah pesonanya. Mirza merasa laki-laki seperti ini yang membuat tubuhnya panas. Entahlah.

Mirza sedang susah memejamkan mata. Suaminya sudah lelap. Ia masih kepikiran kejadian sore tadi. Bagi wanita sepertinya, itu adalah hal yang luar biasa. Sesuatu yang paling berani yang pernah Ia lakukan. Ia tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tubuhnya birahi. Tak mungkin Ia mengajak suaminya bersetubuh malam ini. Selain tak akan mampu memenuhi hasratnya, Sang Suami tak suka jika sedang tidur dibangungkan. Kecuali untuk hal yang amat penting. Kepuasan batinnya tak termasuk hal yang amat penting itu.

Ia memejamkan mata. Hanya satu doanya sebelum tidur malam ini. Ia tak mengigau dan menyebut nama Bayu dalam mimpinya. Ini akan menjadi petaka luar biasa. Hidupnya mungkin akan hancur tak bersisa.

>><<

Kami sudah seminggu tak saling kontak setelah pertemuan hari itu. Besok, kami akan bertemu lagi. Aku hanya takut suasananya menjadi canggung. Alangkah tidak baiknya kami yang harusnya berkolabarasi untuk kesuksesan program ini malah membikin kacau. Aku punya dua pilihan: melanjutkan usaha untuk menggodanya dengan risiko hubungan ini kian buruk atau mundur teratus dan menyelamatkan semua. Setan masih mengajakku untuk tidak menyerah. Apalagi, sudah hampir tiga minggu aku tak dapat jatah dri istriku. Dia makin tak tertarik dengan seks semenjak melahirkan. Seingatku, kemampuanku di atas ranjang tak bisa dikatakan buruk. Paling tidak, Ia masih sering mendesah orgasme ketika kami berhubungan badan. Entahlah kalau itu hanya pura-pura.

"Besok saya langsung ke lokasi ya, Mas, soalnya ada perlu dulu. Langsung koordinasi sama Mas Yogi ya,"

Pesan dari Dokter Mirza malam itu terasa berbeda. Agak kaku dan terasa menjauh. Aku menghargai keputusannya. Kuikut saja kemana air mengalir sambil menyiapkan diri siapa tahu ada kejutan selanjutnya.

"Siap, Dok. Saya coba kontak Mas Yogi,"

Mas Yogi adalah leader di lapangan. Ia yang mengkomandani urusan logistik, perlengkapan, juga anggota lain.

"Terima kasih ya, Mas Bayu"

Balasnya masih kaku.

"Sama-sama, Dok"

Aku tiba di lokasi bersama rombongan dan tak melihat Doker Mirza di sana. Kata Mas Yogi, mungkin dia akan terlambat. Ada urusan dulu, katanya.

Ramai sekali hari itu. Peserta jauh lebih banyak dari biasanya. Aku sampai ikut turun untuk melakukan penertiban agar tak kacau. Sudah tak kuperhatikan lalu-lalang orang di balai desa. Hingga menjelang istirahat siang baru aku sadar bahwa Dokter Mirza sudah tiba. Ia terlihat sedang berbincang dengan kepala desa. Aku menyapanya dengan senyuman berusaha untuk mencairkan hubungan kami. Ia membalas dengan sedikit berbeda dari biasanya. Tapi sungguh, tetap manis sekali.

"Aku nanti pulang dulu ya, Mas, sekitar jam 2. Tapi ada yang perlu aku bicarakan sama Mas Bayu. Kalau bisa pulang duluan, nanti aku tunggu di sekolah ya,"

Tiba-tiba masuk pesan dari Dokter Mirza. Bikin penasaran juga. Kalau soal program, tentu bisa dibicarakan di sini. Kalau ini soal kejadian minggu lalu, aku harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Tapi, aku tak bisa membayangkan apa itu.

"Baik, Dok. Nanti kalau bisa saya mampir"

Balasku singkat. Sengaja. Namanya juga sedang memancing.

Ia tak membalas lagi, hanya mengirimiku lokasi sekolah yang dimaksud. Itu nampaknya lokasi sekolah play group yang Ia punya. Pikiran mesumku mulai muncul. Dengan asumsi 1 jam perjalanan dari sini ke sekolah tersebut, paling tidak baru akan sampai jam 2. Jam segitu, sekolah jelas sudah bubar. Tapi tak tahu juga ada ruangan apa saja di sana. Siapa tahu itu juga kantor yang diisi oleh para guru.

Aku sudah tak fokus. Pikiranku hanya tertuju pada Dokter Mirza. Ia sudah pergi dari setengah jam yang lalu. Aku akhirnya memutuskan untuk pamit kepada Mas Yogi dengan dalih ada urusan lain. Load pasien mulai menurun memang dan sudah bisa ditangani oleh teman-teman relawan lain. Aku cabut dengan pikiran tak karuan.

Karena diantar oleh supir kantor, aku meminta diturunkan di dekat lokasi yang dimaksud oleh Dokter Mirza. Sebelumnya sudah kuhubungi yang bersangkutan. Ia mengatakan baru sampai di lokasi. Ini sudah jam 4 sore. Aku masuk dan disambut oleh beberapa orang yang sepertinya staf administrasi sekolah itu. Mereka bersiap pulang. Aku dipersilakan untuk menunggu di ruang tamu. Dokter Mirza masih sholat, katanya. Satu per satu mereka pulang.

"Sorry, Mas, tadi sholat dulu," katanya

"Nggak apa, Dok. Santai saja," aku deg-degan sekali sampai tak tahu mau berkata apa

"Di ruangan saya saja, Mas," ajaknya

Aku mengikuti langkahnya. Ruangannya ada di pojok. Cukup besar dengan meja kerja, sofa untuk tamu, juga ornamen khas anak-anak yang lucu. Aku masih deg-degan. Sungguh.

"Silakan di minum, Mas," katanya menawarkan minuman yang sudah tersedia di meja, nampaknya memang disiapkan

"Terima kasih, Dok," balasku agak canggung

Dokter Mirza duduk di sampingku. Ia sudah tak memakai baju yang sama dengan tadi. Kini lebih santai, aku susah mendeskripsikannya. Seperti terusan longgar untuk muslimah begitu. Jilbab yang dipakai pun sederhana, tak seribet tadi.

"Aku mau membahas apa yang kita lakukan minggu lalu, Mas," katanya tanpa basa-basi

"Kita sudah melakukan apa minggu lalu, Dok? Bukannya cuma ngobrol?" jawabku

Ia menghela nafas. Dalam sekali.

"Obrolan itu yang akan kita bahas," jawabnyanya singkat

"Silakan, Dok," aku deg-degan

Ia kembali menghela nafas panjang.

"Saya dari keluarga terpandang, suami saya seorang dokter yang terkenal. Kegiatan saya juga banyak sekali mau itu bisnis mau pun sosial. Saya dikenal banyak orang. Tapi mungkin kamu tahu setelah banyak ngobrol kalau ada yang kurang di hidup saya. Nggak usah disebutkan itu apa. Jadi saya mau tanya, kalau saya selingkuh apa risikonya?" katanya panjang lebar dengan nafas tak teratur

Bersambung

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Jantan Mafia Kampus
8.3
Kisah ini dirancang khusus bagi para pembaca yang pernah menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Namun, mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis pun tetap dipersilakan untuk menyelami alur ceritanya. Siapa yang tahu jika setelah membaca narasi ini, akan muncul sebuah perspektif baru atau perubahan minat terhadap lawan jenis. Nikmati jalinan romansa modern yang penuh gairah di tengah dunia mafia kampus yang menantang dan sangat memikat.
Sampul Novel Harta, Tahta, Perjodohan
8.8
Dua remaja SMA terperangkap dalam skenario perjodohan paksa demi ambisi orang tua mereka. Laluna Hasywa, gadis cantik berwatak keras, menentang keras rencana ini karena meragukan integritas calon suaminya. Di sisi lain, Biru Al Arsakha, pewaris Arsakha Company yang tampan, awalnya menolak namun akhirnya berbalik arah. Kini, Biru berjuang keras menaklukkan hati Laluna yang sekeras batu. Akankah kegigihan sang pewaris mampu meluluhkan prinsip kuat gadis pilihannya?
Sampul Novel Karena Anak Hatiku Melunak
9.4
Tanti dijual keluarga tirinya kepada Darian demi melunasi utang, hingga berujung pada kehamilan. Enam tahun berselang, mereka bertemu kembali saat putra Tanti, Ade, berjuang melawan penyakit sumsum tulang belakang. Darian terkejut saat tes DNA membuktikan Ade adalah anaknya. Ia pun berusaha menebus kesalahan masa lalu dengan menjadi donor bagi sang putra. Kini Tanti terjebak dilema antara benci pada Darian atau menerima bantuannya demi nyawa buah hatinya.
Sampul Novel MALAM TERAKHIR DI KOTA
8.7
Menjelang hari pernikahannya, seorang pria memilih merayakan malam kebebasan terakhir bersama para sahabat. Namun, suasana pesta berubah mencekam saat rahasia masa lalu yang terkubur mulai terungkap ke permukaan. Kebenaran yang tak terucap itu kini menjadi ancaman nyata bagi rencana masa depannya. Di bawah lampu kota, hubungan pertemanan mereka diuji habis-habisan, sementara nasib pernikahannya pun berada di ambang kehancuran yang tak terduga.
Sampul Novel PENYESALAN DI UJUNG CINTA YANG HILANG
8.3
Silvia baru menyadari bahwa tiga tahun pernikahannya dengan Erik hanyalah kepura-puraan dan misi balas dendam. Setelah bercerai dan pergi, ia kembali empat tahun kemudian bersama putri kecilnya. Erik yang hampir menikahi wanita lain justru mulai dihantui penyesalan mendalam. Saat mengetahui bahwa anak Silvia adalah darah dagingnya, Erik bertekad menebus kesalahan masa lalu demi mendapatkan kembali cinta Silvia dan hidup bersama keluarga kecil mereka selamanya.
Sampul Novel Permainan Rahasia Istriku
8.8
Cassandra terjebak dalam dilema besar saat Randa mengancam akan membongkar rahasia kehamilan dan hubungan gelap mereka. Intimidasi Randa membuat Cassandra ketakutan, karena skandal ini berisiko menghancurkan rumah tangganya. Kini, masa depan pernikahannya berada di ujung tanduk. Akankah Alfian sanggup memberikan maaf setelah mengetahui pengkhianatan pedih yang selama ini disembunyikan istrinya? Simak perjuangan pelik dalam kisah rumah tangga penuh rahasia ini.