APKDock Logo
Sampul Novel Pesanan Henna Calon Pengantin Suamiku

Pesanan Henna Calon Pengantin Suamiku

9.0 / 10.0
Kehidupan Rury seketika hancur saat ia menerima pesanan jasa lukis henna dari seorang pelanggan wanita. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari bahwa calon pengantin tersebut adalah selingkuhan suaminya sendiri. Di tengah pengkhianatan yang menyakitkan ini, Rury tidak tinggal diam meratapi nasib. Ia menyusun rencana matang untuk membalas dendam dan menghancurkan pesta pernikahan suaminya. Saksikan aksi berani Rury dalam menuntut keadilan bagi hatinya.

Pesanan Henna Calon Pengantin Suamiku Bab 1

Costumer Karen

[Kak, bisa ngerjain henna tangan buat tanggal 20 Agustus ini?]

Sebuah chat masuk pagi itu, saat aku baru selesai menyuapi Rangga, putraku yang berusia empat tahun di teras depan rumah.

[Insyaallah bisa Kak, mau buat acara pernikahan atau pertunangan?]

Langsung kubalas chat tersebut, rejeki tak boleh di tolak, dan saat kuingat-ingat pada tanggal itu aku tak ada pesanan.

[Pernikahan Kak. Aku mau yang henna putih sama nail art-nya sekalian, bisa minta list harga?]

[Bisa Kak. Untuk henna putih untuk sepasang tangan mulai tiga ratus ribu hingga tujuh ratus ribu rupiah, dan untuk henna maroon mulai dua ratus hingga lima ratus ribu rupiah. Untuk nail art mulai harga seratus hingga dua ratus lima puluh ribu Kak, semua tergantung model yang dipilih ya.]

[Itu sudah nggak nambah uang buat transport Kakak ke rumahku 'kan?]

[Benar Kak, itu sudah all in, tak ada biaya tambahan lagi.]

[Oke kalau begitu nanti kirim foto-fotonya ya Kak. Aku pinginya yang kelihatan eksclusive gitu, meski mahal nggak jaddi masalah deh. Nanti rekomendasikan pula yang menurut Kakak paling bagus.]

[Siap Kak. Ini dengan Kakak siapa ya?]

[Aku Karenina Kak, tadi aku sudah kirim pertemanan ke fb Kak Rury, tapi belum diterima.]

[Oh maaf ya Kak, soalnya kalau pagi masih ribet ngurus anak nih, setelah ini ku konfirmasi dan ku kirim foto-fotonya di sini ya. Aku simpan kontaknya ya Kak.]

[Oke Kak, ditunggu. Iya nomer Kak Rury juga sudah aku simpan kok.]

[Terima kasih Kak]

Setelah menyimpan kontaknya dengan nama Costumer Karen, aku langsung mengirim beberapa foto-foto yang tadi di mintanya.

"Mama, Rangga mau maem buah," ucap putraku yang bicaranya sudah tak cadel lagi.

"Mau maem buah apa Sayang?" jawabku sambil mengelap pucuk bibirnya yang sedikit belepotan karena makan tadi.

"Mau apel sama semangka," jawabnya sambil tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang mulai sedikit gigis.

"Iya Sayang, sebentar ya, biar dikupasin sama Bik Nurma dulu ya..."

Rangga mengangguk dan kembali bermain dengan mobil-mobilannya.

"Bik, tolong kupasin apel sama semangka sebentar ya," kataku pada asisten rumah tangga yang saat itu sedang menyapu.

"Baik, Bu," jawabnya sambil masuk ke dalam rumah.

Aku masih menunggu balasan dari pemesan baruku itu, sudah centang dua biru semua, mungkin dia sedang memilih-milih dan bingung dengan banyaknya pilihan yang kukirimkan.

"Ma, Papa kapan pulang, Rangga kangen nih..." celetuk Rangga sambil bermain.

"Nanti malam atau besok pagi gitu Sayang, kata Papa. Masak sih baru di tinggal Papa dua hari saja sudah kangen?"

"Iya kangen banget, Ma. Kan kalau pulang Papa selalu beliin Rangga mainan, jadi Rangga selalu kangen dengan kepulangan Papa, hehehe," jawab Rangga sambil tersenyum.

"Berarti kangen sama mainannya aja dong Sayang, nggak kangen sama Papa?" tanyaku mencoba menggodannya.

"Emmm...dua-duanya sih Ma. Mama teleponin video Papa dong, Rangga mau pesen mainan," ucap Rangga yang kini telah berdiri di samping tempat dudukku.

"Iya...iya ayok."

Aku pun langsung mencoba mem-video call, Mas Satria-suamiku. Kebiasaan Rangga jika sudah kangen sama Papanya pasti langsung minta video call. Dia langsung girang saat tahu aku sedang menelepon Papanya. Namun tiga kali panggilanku tak mendapat respon dari Mas Satria.

"Sepertinya Papa sedang sibuk Sayang atau malah masih bobok, nanti siangan saja ya kita telepon lagi," bujukku pada Rangga yang teihat kecewa.

"Ngga mau! Pokoknya Rangga maunya sekarang, kangen banget nih sama Papa, Ma!" Rangga mulai merajuk.

Aku kemudian mencoba menelepon Mas Satria lagi, meski berdering, namun tak dihiraukannya panggilanku ini. Aku kemudian mengirim pesan padanya.

[Pa, lagi repot atau lagi ngapain sih? Nih Rangga kangen katanya minta vc, angkat sebentar dong!]

Tak lama chat yang kukirim berubah menjadi centang biru, berarti sudah dibuka, dan terlihat Mas Satria sedang mengetik.

[Aku lagi sama orang-orang kantor nih, Ma. Nggak enaklah,]

[Bentar aja, Pa. Tau sendirikan Rangga bisa nangis seharian kalau sedang kangen kamu.]

[Ya sudah bentar saja ya. Biar aku yang telepon saja.]

"Sayang sini dipangku mama, Papa mau vc nih. Tapi sebentar saja ya, soalnya Papa kan lagi sibuk," ucapku sambil mengangkat Rangga yang terlihat amat bahagia.

"Assalamualaikum anak ganteng papa," ucap Mas Satrio saat vc itu di mulai.

"Waalaikumsalam, Pa. Kapan pulang Rangga kangen!" teriak anakku saking girangnya.

"Besok pagi Sayang, mau dibawain mainan apa nih?" tanya Mas Satrio.

Kubiarkan anak dan suamiku itu mengobrol lewat vc, pikiranku justru tertuju pada backgroud tempat duduk Mas Satrio. Terdapat korden dan tivi Lcd yang menggantung di tembok dibawah sebuah AC, mirip sekali seperti di sebuah kamar, tepatnya seperti kamar hotel.

Bukankah tadi dia bilang sedang bersama orang-orang kantor, tapi kok kayak di kamar sih? Jangan-jangan? Aku kemudian mencoba menepis pikiran buruk itu, siapa tahu itu memang ada di ruangan kantor, bisa jadi 'kan? Hingga kemudian kudengar suara seorang perempuan tertawa lirih dan berkata, "ihhh nakal deh!" . Aku sangat yakin suara itu berasal dari sekitar Mas Satrio, suara manja seorang wanita yang sedang di goda.

"Asyik buahnya datang!" Rangga beralih menuju meja kecil yang berada di sampingku, saat pesananya dibawakan oleh Bik Nurma.

Aku kemudian berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Rangga, dengan video call yang masih tersambung. Aku ingin menanyakan kejanggalan tadi pada Mas Satrio.

"Pa baru saja aku mendengar suara manja seorang perempuan di sana, kamu sedang berada di mana sebenarnya?"

Mas Satrio terlihat kikuk, mendengar pertanyaanku barusan. Tentu saja hal itu membuatku makin curiga.

"Oh...oh...ini orang kantor kan ada juga yang cewek, Ma. Lagi bercanda saja tadi," jawabnya sambil tersenyum, namun hal itu tak bisa kupercaya, karena suara wanita tadi terkesan sangat manja sekali.

"Hemmm benarkah, coba dong kamu arahin kameranya ke orang-orang kantor itu!" titahku spontan.

"Aduh kamu ini ada-ada saja. Malulah aku sama mereka, dikira apaan nanti. Sudah dulu, Ma, nanti malam aku telepon lagi. Assamualaikum."

Tanpa persetujuan dariku, Mas Satrio langsung mematikan panggilan itu, kebiasaan banget.

Aku kembali duduk di samping Rangga yang sedang makan buah, sambil terus memikirkan suara wanita tadi. Dan tentu saja hal itu membuatku berpikir kemana-mana. Hingga kemudian ada chat masuk, dan aku pun langsung membukanya.

[Kak, aku pilih henna putihnya dan nail artnya yang ini aja ya. Ini tadi pilihan calon suamiku loh, katanya pas banget buat aku, cantik. Berapa semuanya Kak?]

Ternyata itu chat dari Karen, yang disertai dua buah foto henna putih dan nail art pilihannya. Bagus memang dan ini menjadi yang paling mahal di koleksiku.

[Wah pilihan yang tepat itu Kak, pintar sekali calon suaminya milih. Semuanya sembilan ratus ribu rupiah Kak, all in.]

[Oke Kak kalau begitu aku mau. Nanti ku-sharelok lokasi rumahku ya Kak, soalnya ini masih di hotel, hehehe.]

[Siap Kak, ditunggu segera ya, biar aku pelajari lokasinya dan nggak bingung saat hari H. Kan tinggal tujuh hari saja nih, Kak. Terima kasih banyak ya.]

[Sama-sama Kak. Pasti setelah sampai rumah, akan segera ku kirim shareloknya. Maaf ya Kak mendadak, soalnya rencana nikahnya juga mendadak banget sih, hehehe.]

[Iya nggak apa-apa Kak, semoga semuanya lancar hingga hari H ya.]

Pikiran burukku pada Mas Satrio seketika menghilang, karena terkalahkan dengan bahagianya mendapat orderan kali ini, karena sudah sekitar sebulan tak ada pesanan sama sekali, karena memang sebenarnya sedang tak musim nikahan sih.

Aku membuka jasa henna ini memang masih dua bulanan, sebenarnya bukan karena ingin dapat uang, namun karena aku suka sekali menggambar cantik, hingga ada suatu kepuasan tersendiri, jika melihat tangan cantik para pengantin wanita hasil karyaku itu.

Aku mencoba berbaik sangka lagi pada suamiku, mungkin saja yang dikatakannya tadi ada benarnya, bukankah di kantor ada juga pegawai wanita? Mungkin aku saja yang terlalu parno karena seringnya mendengar perselingkuhan dari suami teman-temanku.

Iseng kemudian aku melihat status wa teman-temanku, hal yang biasa dilakukan emak-emak untuk menghilangkan kegabutannya. Nampak di deret paling atas ada nama 'Costumer Karen', dan tentu saja aku langsung membuka status dari pelanggan baruku itu.

INDAHNYA DUNIA BILA BERSAMAMU SAYANG

Begitu status itu ditulis dengan disertai sebuah foto seorang wanita cantik berambut pirang sedang memeluk mesra seorang lelaki berambut gondrong yang dikuncir keatas. Dan laki-laki itu tak lain adalah Mas Satrio-suamiku, yang tadi baru saja vc denganku dan Rangga dengan memakain kaos warna putih yang sama.

*duh apa nih yang harusnya dilakukan Rury melihat kemesraan antara suami dan pemesan henna tangannya itu?

Next nggak nih?

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pesanan Henna Calon Pengantin Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Sentuhan Ayah Tiri
8.2
Kehidupan seorang gadis berubah drastis saat Hunter Oragle memergokinya tengah mengintip kemesraan intim pria itu bersama sang ibu. Bukannya marah, ayah tirinya justru memberikan tawaran provokatif untuk mengajarinya secara langsung. Hubungan yang seharusnya murni kini terjebak dalam pusaran gairah terlarang yang berbahaya. Segalanya menjadi kian rumit dan penuh tekanan ketika fakta-fakta masa lalu mulai terungkap ke permukaan, mengancam batas moral mereka.
Sampul Novel SEPENGGAL KISAH TANPA JUDUL
8.9
Jeany, gadis Minang yang pendiam, terjebak dalam pusaran luka mendalam. Setelah diselingkuhi kekasihnya, ia harus menyaksikan kehancuran keluarganya. Sang papa pergi demi wanita lain, bahkan selingkuhannya tega mengirimkan video asusila yang membuat mama Jeany depresi berat. Trauma pernikahan kini menghantui Jeany. Bersama Jeje, saudara perempuannya, ia berjuang menghadapi teror pelakor dan cobaan hidup yang seolah tak kunjung usai. Sanggupkah Jeany bertahan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan