APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Perawat Tuan Daniel

Pesona Perawat Tuan Daniel

Pasca kecelakaan tragis, Daniel, CEO sukses yang kini lumpuh, tenggelam dalam depresi setelah ditinggalkan kekasihnya, Isabella. Di tengah keputusasaan dan rasa bersalah yang mendalam, Clara sang ibu berusaha keras merawatnya hingga ia menemukan Elara. Sebagai perawat baru, Elara hadir dengan empati dan ketulusan berbeda. Lewat kesabaran dan perhatian kecilnya, ia berupaya membangkitkan kembali semangat hidup Daniel yang sempat sirna dalam kegelapan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sambil mengunyah sepotong roti panggang, Daniel mendengarkan Elara berbicara tentang hari-harinya di rumah sakit. Suaranya yang ceria dan penuh semangat membawa angin segar di ruangan yang sepi itu, membuat Daniel merasa seolah-olah ia sedang duduk di taman musim panas yang ramai dengan canda tawa.

"Tapi kau tahu, Daniel, ada satu pasien yang membuatku kagum setiap hari," kata Elara, menatap Daniel dengan senyum lembut. "Dia seorang pria tua, sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Namun, setiap pagi, dia selalu tersenyum dan berkata, 'Elara, aku merasa muda hari ini.'"

Daniel terkekeh pelan, memandang Elara dengan matanya yang penuh keheranan. "Bagaimana bisa dia merasa muda, Elara? Kalau aku melihat ke cermin, aku merasa seperti orang asing."

"Ah, itu rahasia mereka, Daniel," jawab Elara, menyipitkan mata dan membuat ekspresi lucu. "Mereka menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Mereka tahu bahwa umur hanyalah angka, dan semangat yang membawa mereka maju."

Daniel menatap Elara, pikirannya berputar. Ia tidak pernah berpikir tentang hidup seperti itu, tentang menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Sejak kecelakaan itu, semua yang ia lakukan adalah menghindari kenyataan, mengurung diri dalam kesedihan, dan meratapi kehilangan yang terus menghantui. Tapi sekarang, ada Elara yang membicarakan tentang kebahagiaan dengan cara yang seolah-olah itu sangat mudah didapat.

"Apakah kamu percaya, Elara?" tanya Daniel, suaranya sangat pelan hingga hampir tenggelam oleh detak jam di dinding. "Apakah kamu benar-benar percaya aku bisa merasa hidup lagi?"

Elara memegang tangan Daniel dengan erat, matanya penuh keyakinan. "Daniel, aku percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk bangkit, bahkan saat mereka merasa tak berdaya. Dan aku tahu, di dalam dirimu, ada kekuatan itu. Kamu hanya perlu menemukannya. Aku di sini untuk membantu, untuk membimbingmu."

Air mata mulai mengalir di pipi Daniel, ia tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan perasaan itu. Ia takut mengharapkan sesuatu, takut akan rasa sakit yang lebih dalam jika harapannya tidak terwujud. Tapi ada sesuatu dalam diri Elara yang membuatnya ingin percaya. Senyuman itu, tatapan itu, membuatnya merasa bahwa dunia ini mungkin tidak seburuk yang ia kira.

"Ibu sering mengatakan hal yang sama," kata Daniel, suaranya nyaris tidak terdengar. "Tapi aku selalu merasa seperti... aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Aku telah gagal, Elara. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku, dan semua orang di sekitarku harus mengorbankan diri mereka untuk mengurusku."

Elara menatap Daniel, mengamati ekspresi yang tergurat di wajahnya-campuran keputusasaan dan rasa bersalah. "Daniel, kebahagiaan bukan hanya tentang menjadi sempurna atau tidak membuat kesalahan. Itu tentang menerima siapa kita, menerima kenyataan, dan terus berjuang meskipun sulit. Jika kamu bisa menerima dirimu seperti apa adanya, kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan itu lebih dekat dari yang kamu kira."

Daniel terdiam, merenung. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia selalu berusaha untuk kembali seperti dulu, berharap bisa mengembalikan masa-masa yang sudah hilang. Namun, Elara membuatnya melihat kenyataan dengan cara yang berbeda. Mungkin ia tidak perlu kembali seperti dulu, tetapi justru menerima siapa dirinya sekarang. Mungkin itu adalah langkah pertama menuju kebahagiaan.

Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan, dan Clara yang berdiri di pintu memandang ke arah Daniel dan Elara dengan ekspresi cemas. "Daniel, ada telepon penting untukmu. Itu dari kantor."

Daniel mengernyit, kebingungan melintas di wajahnya. Sejak kecelakaan itu, ia tidak pernah berurusan dengan urusan bisnis. Semua yang ada di kantornya sekarang diurus oleh asisten dan manajer senior. Tapi telepon itu terasa seperti jembatan ke masa lalu yang ingin ia hindari.

Elara menjawab, "Saya akan membantu Daniel menerima telepon itu, Bu."

Clara mengangguk dan keluar dari ruangan, meninggalkan Daniel dan Elara dalam keheningan. Elara mengangkat telepon, memandang Daniel dengan tatapan penuh pengertian. "Jangan khawatir, aku di sini. Ambil napas dalam-dalam dan biarkan aku menangani ini untukmu."

Daniel mengangguk, tetapi dadanya terasa sesak. Ia merasa seperti sedang berdiri di ujung jurang, menatap ke bawah ke kekosongan yang dalam. Ia tahu bahwa apapun yang terjadi di telepon itu, itu akan mengubah segalanya.

Elara menekan tombol speaker dan memindahkan telepon ke dekat Daniel. Suara tegas dari manajer utamanya, Ryan, terdengar dari ujung telepon. "Tuan Daniel, kami telah mencoba menghubungi Anda beberapa kali. Ada beberapa masalah yang perlu Anda tangani langsung. Bisakah Anda memberikan waktu untuk berbicara?"

Daniel menatap Elara, memohon untuk mendapatkan kekuatan. Elara mengangguk pelan, seolah memberi dorongan untuknya. "Saya di sini, Daniel. Anda tidak sendirian."

Suara Ryan terdengar semakin jelas. "Tuan Daniel, apakah Anda mendengar saya? Ada beberapa keputusan penting yang harus Anda buat untuk perusahaan. Bisakah Anda berbicara sekarang?"

Daniel menelan ludah, merasakan darah yang berdebar kencang di pembuluhnya. Ia tahu bahwa perusahaannya adalah semua yang pernah ia perjuangkan. Dan, meskipun ia telah kehilangan kemampuan fisiknya, pikiran dan ambisinya tetap hidup. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih punya suara di dunia ini, bahwa ia masih bisa menjadi bagian dari apa yang telah ia bangun.

"Ya, Ryan," kata Daniel, suaranya lebih kuat daripada yang ia kira. "Mari kita bicarakan ini."

Elara tersenyum tipis, mengangkat tangan kanan Daniel yang terkulai dan menggenggamnya erat, seolah-olah memberi kekuatan pada setiap kata yang ia ucapkan. Daniel tahu bahwa ini adalah langkah baru, sebuah ujian untuk mengembalikan kepercayaan diri yang sudah lama hilang. Dengan Elara di sisinya, ia merasa sedikit lebih siap untuk menghadapi apa pun yang datang.

Saya bisa melanjutkan bab ini lebih jauh, dengan lebih banyak percakapan antara Daniel dan Elara, momen refleksi tentang masa lalu Daniel, dan bagaimana mereka berdua berusaha untuk membangun hubungan dan menemukan kekuatan dalam diri masing-masing. Jika Anda ingin lebih mendalam, beri tahu saya dan saya akan melanjutkan.Tentu, saya akan melanjutkan bab ini dengan lebih dalam, menggali emosi dan perkembangan hubungan antara Daniel dan Elara.

---

**Bab 1: Awal yang Baru (lanjutan)**

Sambil mengunyah sepotong roti panggang, Daniel mendengarkan Elara berbicara tentang hari-harinya di rumah sakit. Suaranya yang ceria dan penuh semangat membawa angin segar di ruangan yang sepi itu, membuat Daniel merasa seolah-olah ia sedang duduk di taman musim panas yang ramai dengan canda tawa.

"Tapi kau tahu, Daniel, ada satu pasien yang membuatku kagum setiap hari," kata Elara, menatap Daniel dengan senyum lembut. "Dia seorang pria tua, sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Namun, setiap pagi, dia selalu tersenyum dan berkata, 'Elara, aku merasa muda hari ini.'"

Daniel terkekeh pelan, memandang Elara dengan matanya yang penuh keheranan. "Bagaimana bisa dia merasa muda, Elara? Kalau aku melihat ke cermin, aku merasa seperti orang asing."

"Ah, itu rahasia mereka, Daniel," jawab Elara, menyipitkan mata dan membuat ekspresi lucu. "Mereka menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Mereka tahu bahwa umur hanyalah angka, dan semangat yang membawa mereka maju."

Daniel menatap Elara, pikirannya berputar. Ia tidak pernah berpikir tentang hidup seperti itu, tentang menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Sejak kecelakaan itu, semua yang ia lakukan adalah menghindari kenyataan, mengurung diri dalam kesedihan, dan meratapi kehilangan yang terus menghantui. Tapi sekarang, ada Elara yang membicarakan tentang kebahagiaan dengan cara yang seolah-olah itu sangat mudah didapat.

"Apakah kamu percaya, Elara?" tanya Daniel, suaranya sangat pelan hingga hampir tenggelam oleh detak jam di dinding. "Apakah kamu benar-benar percaya aku bisa merasa hidup lagi?"

Elara memegang tangan Daniel dengan erat, matanya penuh keyakinan. "Daniel, aku percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk bangkit, bahkan saat mereka merasa tak berdaya. Dan aku tahu, di dalam dirimu, ada kekuatan itu. Kamu hanya perlu menemukannya. Aku di sini untuk membantu, untuk membimbingmu."

Air mata mulai mengalir di pipi Daniel, ia tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan perasaan itu. Ia takut mengharapkan sesuatu, takut akan rasa sakit yang lebih dalam jika harapannya tidak terwujud. Tapi ada sesuatu dalam diri Elara yang membuatnya ingin percaya. Senyuman itu, tatapan itu, membuatnya merasa bahwa dunia ini mungkin tidak seburuk yang ia kira.

"Ibu sering mengatakan hal yang sama," kata Daniel, suaranya nyaris tidak terdengar. "Tapi aku selalu merasa seperti... aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Aku telah gagal, Elara. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku, dan semua orang di sekitarku harus mengorbankan diri mereka untuk mengurusku."

Elara menatap Daniel, mengamati ekspresi yang tergurat di wajahnya-campuran keputusasaan dan rasa bersalah. "Daniel, kebahagiaan bukan hanya tentang menjadi sempurna atau tidak membuat kesalahan. Itu tentang menerima siapa kita, menerima kenyataan, dan terus berjuang meskipun sulit. Jika kamu bisa menerima dirimu seperti apa adanya, kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan itu lebih dekat dari yang kamu kira."

Daniel terdiam, merenung. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia selalu berusaha untuk kembali seperti dulu, berharap bisa mengembalikan masa-masa yang sudah hilang. Namun, Elara membuatnya melihat kenyataan dengan cara yang berbeda. Mungkin ia tidak perlu kembali seperti dulu, tetapi justru menerima siapa dirinya sekarang. Mungkin itu adalah langkah pertama menuju kebahagiaan.

Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan, dan Clara yang berdiri di pintu memandang ke arah Daniel dan Elara dengan ekspresi cemas. "Daniel, ada telepon penting untukmu. Itu dari kantor."

Daniel mengernyit, kebingungan melintas di wajahnya. Sejak kecelakaan itu, ia tidak pernah berurusan dengan urusan bisnis. Semua yang ada di kantornya sekarang diurus oleh asisten dan manajer senior. Tapi telepon itu terasa seperti jembatan ke masa lalu yang ingin ia hindari.

Elara menjawab, "Saya akan membantu Daniel menerima telepon itu, Bu."

Clara mengangguk dan keluar dari ruangan, meninggalkan Daniel dan Elara dalam keheningan. Elara mengangkat telepon, memandang Daniel dengan tatapan penuh pengertian. "Jangan khawatir, aku di sini. Ambil napas dalam-dalam dan biarkan aku menangani ini untukmu."

Daniel mengangguk, tetapi dadanya terasa sesak. Ia merasa seperti sedang berdiri di ujung jurang, menatap ke bawah ke kekosongan yang dalam. Ia tahu bahwa apapun yang terjadi di telepon itu, itu akan mengubah segalanya.

Elara menekan tombol speaker dan memindahkan telepon ke dekat Daniel. Suara tegas dari manajer utamanya, Ryan, terdengar dari ujung telepon. "Tuan Daniel, kami telah mencoba menghubungi Anda beberapa kali. Ada beberapa masalah yang perlu Anda tangani langsung. Bisakah Anda memberikan waktu untuk berbicara?"

Daniel menatap Elara, memohon untuk mendapatkan kekuatan. Elara mengangguk pelan, seolah memberi dorongan untuknya. "Saya di sini, Daniel. Anda tidak sendirian."

Suara Ryan terdengar semakin jelas. "Tuan Daniel, apakah Anda mendengar saya? Ada beberapa keputusan penting yang harus Anda buat untuk perusahaan. Bisakah Anda berbicara sekarang?"

Daniel menelan ludah, merasakan darah yang berdebar kencang di pembuluhnya. Ia tahu bahwa perusahaannya adalah semua yang pernah ia perjuangkan. Dan, meskipun ia telah kehilangan kemampuan fisiknya, pikiran dan ambisinya tetap hidup. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih punya suara di dunia ini, bahwa ia masih bisa menjadi bagian dari apa yang telah ia bangun.

"Ya, Ryan," kata Daniel, suaranya lebih kuat daripada yang ia kira. "Mari kita bicarakan ini."

Elara tersenyum tipis, mengangkat tangan kanan Daniel yang terkulai dan menggenggamnya erat, seolah-olah memberi kekuatan pada setiap kata yang ia ucapkan. Daniel tahu bahwa ini adalah langkah baru, sebuah ujian untuk mengembalikan kepercayaan diri yang sudah lama hilang. Dengan Elara di sisinya, ia merasa sedikit lebih siap untuk menghadapi apa pun yang datang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Dingin Pemikat Hati
9.2
Shintia berjuang memulai hidup baru pasca putus dari Arya. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali saat Arya muncul sebagai CEO di kantornya. Meski cinta Shintia bersemi lagi, Arya justru menyimpan kebencian mendalam dan sering bersikap kasar. Keadaan kian rumit akibat kesalahpahaman masa lalu dan skandal Shintia dengan Felix yang memicu kemarahan Arya. Mampukah Shintia meluluhkan hati Arya dengan mengungkap alasan tragis perpisahan mereka dua tahun lalu?
Sampul Novel Cinta Beracun: Jatuh Cinta Pada Kekasihku yang Kejam
9.0
Brynn terjebak dalam hubungan toksik dengan Lawrence, pria yang kerap menghina sekaligus memanjakannya. Saat Lawrence mengumumkan pernikahannya, Brynn merasa bebas dan mencoba memulai hidup baru melalui kencan buta. Namun, di tengah hinaan keluarga calonnya, Lawrence tiba-tiba muncul dan mengklaim Brynn sebagai miliknya di depan semua orang. Brynn pun tertegun; mengapa pria itu ada di sini dan membelanya padahal hari ini adalah jadwal pernikahannya?
Sampul Novel Hati Terjerat: Jatuh Cinta pada Istriku yang Jelek
8.5
Demi membatalkan pertunangan dengan pria yang tidak setia, Viona menyamar menjadi wanita buruk rupa dan nekat tidur dengan Daniel, paman dari tunangannya sendiri. Setelah malam panas itu berlalu, Daniel yang sangat dihormati di kota justru enggan melepaskannya. Meski rumor tentang kehidupan asmaranya beredar luas, Daniel membuktikan pengabdiannya. Ia bahkan tertangkap kamera bersedia berlutut memasangkan sepatu Viona hanya demi mendapatkan satu kecupan manis.
Sampul Novel Miss Liar
8.1
Sandra, wanita yang tumbuh di panti asuhan, menyimpan dendam atas masa lalunya. Setelah melarikan diri dari jeratan rentenir di desa, ia memalsukan ijazah demi bertahan hidup di kota. Di sana, ia mencari ibunya dan bertemu Hardy, CEO stasiun TV yang bersimpati padanya. Namun, ia juga memikat hati Bayu, pengusaha sukses yang menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris hotel mewah. Di tengah ambisi dan rahasia, Sandra harus menghadapi Nina, sahabat masa kecil yang mengkhianatinya.
Sampul Novel Mr. Ergan Obsession
8.5
Ergan Tirta Alviano, CEO kaya raya sekaligus pewaris tunggal di Jakarta, terjebak dalam obsesi mendalam terhadap gadis biasa bernama Andira. Meski memiliki segalanya, cinta Ergan ditolak karena Andira setia pada kekasihnya selama dua tahun. Perbedaan materi tak menyurutkan langkah Ergan yang berkepribadian keras. Ia nekat menempuh berbagai cara, dari taktik halus hingga paksaan, demi memenangkan hati Andira. Akankah ambisi penuh emosi ini berujung pada cinta sejati?
Sampul Novel Perangkap Tuan CEO
8.1
Dalam jeratan obsesi sang CEO, tidak ada jalan untuk melarikan diri. Baginya, memiliki dirimu bukanlah pilihan melainkan sebuah keharusan yang mutlak. Ia menuntut pengabdian penuh atas tubuh, jiwa, hingga setiap jengkal kulitmu tanpa sisa. Di bawah kendalinya yang dominan, kamu terkunci dalam kepemilikan eksklusif yang tidak membiarkan siapa pun mendekat. Setiap napasmu kini menjadi milik sang penguasa yang hanya menginginkan dirimu seorang diri.