APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petualangan Gairah Kenikmatan

Petualangan Gairah Kenikmatan

Insiden tak terduga membuat Randy dan Ririn jatuh tersungkur hingga tubuh mereka saling menindih erat. Dalam posisi yang sangat intim itu, Randy merasakan detak jantung dan deru napas Ririn yang memburu tepat di depan wajahnya. Suasana mendadak menjadi sangat panas saat kontak fisik tersebut memicu gairah yang tak terbendung di antara keduanya. Di tengah ketegangan romansa yang memuncak, Ririn akhirnya menyerah pada hasrat dan meminta Randy untuk segera menyatukan cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

PROLOG

Namaku Randy Aditya Wibowo. Aku berasal dari keluarga biasa saja, ayahku bekerja sebagai buruh di Jakarta sedangkan ibuku bekerja sebagai penjual sayur di salah satu pasar di Jakarta.

Aku memiliki seorang kakak bernama Ranty Putri Wibowo. Dia seorang wanita yang cerdas, dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Hubunganku dengan kakakku tidak benar-benar dekat, aku jarang sekali ngobrol dengan dia bahkan hanya sekedar membahas tentang keluarga kami. Bisa dibilang kita punya kehidupan masing-masing.

Berbeda 180 derajat dengannya, aku adalah seorang murid yang kurang di bidang akademik, katakanlah bodoh. Sebenarnya aku bukan pemalas, aku sudah berusaha belajar dengan tekun, namun semua pelajaran itu tidak ada yang masuk ke otak sedikitpun. Jadi aku memutuskan untuk pasrah dan menerima kenyataan ini.

Tetapi dibalik kekurangan itu aku memiliki kelebihan yaitu di bidang non-akademik, olahraga dan beladiri menjadi keunggulan ku, saat aku masih SMP aku menjuarai hampir di semua cabang olahraga hingga beladiri.

Itulah mengapa aku bisa masuk ke sma yang cukup favorit di Jakarta, di sana aku hanya dijadikan sebagai lumbung prestasi untuk sekolah ini, aku tak pernah benar-benar dianggap siswa oleh sebagian guru yang anti terhadap siswa bodoh, fuck this school!.

*****

Bel sekolah berbunyi saat aku berada di warung belakang sekolah sedang menyantap sarapanku. Aku memang tidak biasa sarapan di rumah, ibuku terlalu sibuk untuk memasak di pagi hari sedangkan subuh saja ibuku sudah berangkat ke pasar untuk berjualan sayuran.

Pemilik warung itu adalah ibu dari salah satu teman sekolahku namanya Ririn, bukan teman sekelas tapi karena aku sudah menjadi langganan di warung itu aku pun cukup akrab dengan dia karena dia juga ikut membantu ibunya berjualan di pagi hari saat akan berangkat sekolah, saat istirahat dan setelah pulang sekolah.

Karena dia anak dari pemilik warung kecil di belakang sekolah, dia sering menjadi bahan bulian oleh anak-anak sekolah yang sok kaya dan berkuasa, namun aku selalu membela dan melindungi dia dari anak-anak itu.

“Ran, udah bel tuh masuk yuk!” ajak Ririn untuk bergegas masuk ke sekolah.

“Yuk,” balasku singkat.

Seharusnya untuk memasuki sekolah kita harus memutar dan melewati gerbang depan karena gerbang belakang sekolah hanya berupa pintu teralis yang digembok untuk menghindari siswa terlambat yang memasuki sekolah.

Namun karena terlalu jauh kalau harus memutar maka kita biasanya memanjat tembok yang tingginya kisaran 2 meter.

“Udah siap belum?” tanya Ririn memastikan.

“Udah yuk.” Aku bersiap-siap membantunya naik dengan mengangkat kakinya agar dia bisa menjangkau puncak tembok itu, terkadang momen itu aku manfaatkan untuk mengintip isi dalam roknya, namun entah dia sadar atau tidak sekarang dia selalu memakai celana pendek di dalam rok sma nya.

Setelah berhasil menjangkau tembok itu lalu dia melompat ke arah seberang. Setelah dia menghilang aku pun lalu melompat dengan hanya sekali tumpuan pada tangan kananku aku langsung melewati tembok itu.

Namun naas ternyata Ririn masih berada dibalik tembok tepat di bawahku dan aku tidak bisa menghindar sehingga aku mendarat di atas tubuhnya.

Brukkkk…

“Aduh!!!” Ririn memekik merasakan beban yang amat berat menimpa tubuhnya. Kami berdua ambruk dia dengan posisi terlentang, aku menindihnya dan dada kami saling menempel erat.

Sejenak mata kami bertemu, dadanya terasa kenyal mengganjal dadaku, wajahnya memerah nafasnya memburu, aku merasakan adikku mengeras di balik celana panjang ku, tiba-tiba dia berontak.

“Ah, Randy minggir!” pekik Ririn.

“Eh, sorry rin, gue gak tau kalo lo masih di situ,” ucap ku meminta maaf.

“Iya udah, tapi badan lo minggir berat tau.” Aku tersadar kalau kami masih berada di posisi yang sama. Untung saja tidak ada yang melihat, kalau ada pasti akan jadi masalah.

Aku pun membantunya untuk bangun, wajahnya sudah seperti kepiting rebus, sekilas dia melirik ke bagian depan celanaku melihat apa yang tadi mengganjal lalu ia berpaling.

Dia tampak berjalan sambil membersihkan seragamnya yang sedikit kotor karena terjatuh tadi, kami pun berpisah di koridor sekolah karena memang kita berbeda kelas.

Aku pun menuju ke ruang kelasku, setibanya di sana aku melihat teman sekelasku sudah datang semua, aku datang paling akhir.

Aku langsung menuju ke mejaku yang letaknya berada di pojok kanan depan, tepat berada di depan meja guru. Bukan karena aku rajin tapi karena aku terlambat saat hari pertama masuk sekolah, jadi aku kebagian duduk di bangku yang laknat itu.

“Randy!” sambut teman sebangkuku yang bernama Lisa.

Nasibnya sama sepertiku, kami sama-sama terlambat dihari pertama masuk ke sekolah sehingga kita jadi teman sebangku. Awalnya kami sangat canggung karena aku baru pertama kali sebangku dengan perempuan.

Tapi seiring berjalannya waktu kamipun semakin akrab, bahkan aku diam-diam mulai menyukainya tapi aku belum berani untuk menyatakan cinta kepadanya.

“Apa?” jawabku singkat.

“Lu udah ngerjain pr matematika belum?” tanyanya.

“Emang kalo gue jawab udah lu percaya?” jawabku sambil cengengesan.

“Nih,” ucapnya sambil memberikan pr yang sudah ia kerjakan.

“Thanks banget ya, lu emang sahabat gue yang terbaik.” Tanpa banyak urusan aku pun langsung menyalin semua jawaban pr nya.

Sudah jadi rutinitas kalau aku selalu mencontek semua tugas sekolah dari dia, meskipun hampir semua jawabannya salah tapi itu lebih baik daripada tidak mengerjakan sama sekali.

Tapi aku tidak mendapatkannya secara gratis, dia sering meminta tolong padaku untuk menjadi tukang ojeknya yang mengantarkan dia kemanapun dia mau, aku tidak keberatan justru aku senang karena bisa selalu dekat dengan dia.

“Ran!” panggil Lisa yang tepat berada di sampingku.

“Apa?”

“Nanti pulang sekolah temenin gue ya.”

“Kemana?” tanyaku masih sambil menyalin tugasnya.

“Ke tempat temennya kakak gue,” jawab Lisa.

Aku berhenti sejenak lalu menatapnya, aneh sekali dia tiba-tiba minta diantarkan ke tempat teman kakaknya namun aku tidak ambil pusing, aku kembali melanjutkan tugas yang aku hentikan tadi.

“Emang ada urusan apa?”

“Udah nanti lu bakalan tau deh.” Lisa kemudian membetulkan duduknya karena tiba-tiba gurunya datang.

Aku yang sedang menyalin tugasnya pun langsung mengerahkan kemampuanku, aku mengerjakan tugas dengan mataku menatap kearah guru yang datang memberi salam, aku melakukannya sampai selesai.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung berjalan ke tempat parkir, menyalakan motorku dan menuju ke gerbang sekolah. Di sana sudah ada Lisa yang menungguku karena memang kita ada janji sepulang sekolah.

“Yuk, mau pulang dulu?” tawar ku padanya.

“Gak usah, kita gas aja langsung.”

“Ya udah.” Setelah Lisa naik ke atas motorku aku pun langsung memacu motorku dengan arahan darinya.

Dia mengarahkan kami ke sebuah kafe dekat dengan kampus kakakku. Setelah aku memarkirkan motorku aku lalu menyusul Lusa yang sudah lebih dulu masuk ke kafe itu. Di sana sebagian besar diisi oleh mahasiswa yang sedang nongkrong. Kita menuju ke sebuah meja, di sana sudah ada 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan yang aku tebak mereka adalah mahasiswa di kampus tempat kakakku kuliah itu.

“Halo kak!” sapa Lisa kepada mereka.

“Halo Lis, sini duduk!” jawab salah satu laki-laki itu.

“Makasih.” Lisa kemudian duduk tepat di depan lelaki itu.

“Ini kak, temenku yang aku ceritain kemarin, namanya Randy,” ucap Lisa memperkenalkanku kepadanya.

“Ran, ini namanya kak Dimas, yang tadi aku ceritain.”

Dimas lalu berdiri dan menyodorkan tangannya.

“Dimas,” jawabnya singkat.

Aku kemudian menjabat tangannya dan menjawab, “Randy.”

Sejenak Dimas melihatku dari atas kepala sampai kaki, aku sedikit heran dengan apa yang dia lakukan. Sepertinya dia sedang menginginkan sesuatu dariku.

“Lu beneran anak SMA temennya Lisa?” tanya Dimas kepadaku.

“Lha iya, emang kenapa?”

“Lu gak kaya anak SMA, haha.” ucap dimas sambil tertawa.

“Masa iya? emang muka gue boros banget ya?”

“Enggak, bukan muka lu yang boros, tapi badan lu yang kegedean, haha.” Dimas kembali tertawa

“Tapi bagus deh, jadi lu gak ketahuan kalo lu masih anak SMA,” ucapnya lagi semakin membuatku curiga.

“Sebenernya ada apa sih? kalian ada perlu apa sama gue?” tanyaku dengan suara yang agak tinggi, aku kemudian menatap ke arah Lisa karena dialah yang membawaku kesini.

Lisa hanya menunduk tidak berani menatapku, ekspresinya cemas mungkin takut aku akan marah pada dirinya.

“Loh emang Lisa belum sama lu?” Dimas balik bertanya.

Aku hanya menggelengkan kepala.

“Jadi gini, minggu depan hari sabtu kita ada POM (Pekan Olahraga Mahasiswa) dan kita mewakili universitas kita di cabor basket.” ucap Dimas menjelaskan.

“Tapi dari hasil tahun-tahun sebelumnya, tim kita selalu kena bantai sama lawan lain yang lebih kuat,” lanjutnya.

“Dan kemarin Lisa bilang sama gue kalo dia punya temen yang jago basket, dan kita tertarik make lu buat memperkuat tim kita.”

Aku mengerti sekarang apa yang mereka inginkan, tetapi aku masih marah dengan Lisa karena dia tidak memberi tahuku dari awal.

“Gimana? lu mau kan?” tawar Dimas kepadaku.

Aku masih diam, belum memberi keputusan. Dimas melihat keraguanku menerima tawarannya.

“Gak usah khawatir kalo masalah duit, kita akan bayar 1 juta kalo lu mau ikut, kita yakin kalo Lisa gak akan bohong soal skill lu.”

Aku masih terdiam.

“Kalo sampe final gue tambahin 2 juta lagi.”

Aku belum bergeming.

“Gue tambahin lagi 2 juta kalo kita juara.” tawar Dimas terus merayuku untuk bergabung dengan timnya.

Sejujurnya bukan itu pertimbangan ku untuk bergabung dengan mereka, tapi aku takut kalau terjadi masalah apabila aku ketahuan bahwa aku masih SMA dan bukan berasal dari kampus mereka.

“Tapi gue gak terdaftar di kampus kalian, gimana caranya gue bisa ikut?” tanyaku kepadanya.

“Kalo masalah itu gak usah khawatir, kita bisa buatin lu KTM palsu, ya gak bon?” jawab Dimas sambil menengok kearah temannya yang ada di sampingnya.

Temannya yang tangannya sedang melakukan sesuatu dibalik meja di samping ceweknya pun kaget tiba-tiba ditanya seperti itu.

“Ehh iya bos,” jawabnya lalu menarik tangan yang sedari tadi dibawah meja itu.

“Ahh!” sejenak wanita yang ada di sampingnya itu melenguh kecil.

“Jangan disini bego, entar di kosan aja,” omel Dimas kepada pria itu yang ku ketahui bernama Boni.

“Jadi gimana? lu mau kan gabung ke tim kita?” tawar Dimas sekali lagi kepadaku.

“Gue pikir-pikir dulu deh.”

“Oke tapi jangan lama-lama, karena proses pendaftarannya juga ribet belum bikin KTM palsunya.”

“Besok gue kasih jawabannya.”

“Sipp!” jawab Dimas singkat.

Setelah itu kamipun berpisah, aku dan Lisa berjalan menuju motorku, dia masih belum berani berbicara padaku.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikejar Mantan Suami Arogan
9.1
Fay memohon dengan pilu agar Janus tidak menceraikannya, merasa cukup dengan hubungan yang ada tanpa menuntut lebih. Namun, permintaan itu justru membuat tatapan Janus mendingin. Dengan suara serak namun tegas, ia mengingatkan Fay akan kesepakatan awal mereka. Komitmen mereka harus berakhir saat Uke kembali. Meski suaranya sedikit bergetar, Janus menekankan bahwa janji lama itu adalah batas akhir bagi pernikahan mereka yang kini berada di ambang perpisahan.
Sampul Novel Gadis Penakluk Hati Tuan Muda Tampan
8.5
Demi takhta tuan muda, Arkana menikahi Yasmin lewat perjanjian formal. Meski sering kesal dengan tingkah Yasmin yang kekanak-kanakan, Arkana tetap menjalin cinta rahasia dengan kekasih lamanya. Setelah delapan bulan, Arkana memilih bercerai demi sang pacar. Namun, ia tak sadar bahwa ikatan fisik mereka telah mengubah segalanya. Yasmin ternyata menyembunyikan kehamilan darinya. Terkejut, Arkana pun menuntut rujuk demi darah dagingnya yang kini berada di rahim Yasmin.
Sampul Novel Head Over Heels
8.7
Miko hadir dalam kehidupan sebagai sosok rival yang paling dibenci, namun kehadirannya justru memicu badai emosi yang tak terduga. Hubungan benci tapi rindu ini perlahan mengobrak-abrik seluruh perasaan dan logika yang ada. Di balik persaingan sengit mereka, tersimpan getaran yang mengguncang hati secara mendalam. Kisah ini mengikuti perjalanan emosional yang rumit saat musuh bebuyutan berubah menjadi seseorang yang paling memengaruhi jiwa.
Sampul Novel JANGAN AMBIL ANAKKU
9.3
Almira, ibu muda berusia 30 tahun, terjebak dalam dilema besar saat memutuskan bercerai. Setelah 1,5 tahun menderita akibat suami yang pelit dan gemar berselingkuh, ia ingin mundur demi kewarasan mentalnya. Namun, melepaskan diri dari Iqbal tidaklah mudah. Iqbal justru memanfaatkan ketakutan terbesar Almira, yaitu kehilangan hak asuh anak, sebagai senjata untuk mengancamnya. Kini Almira harus berjuang mempertahankan buah hatinya di tengah tekanan mantan suami.
Sampul Novel Mamaku yang Cantik dan Pengagum Misteriusnya
8.0
Pasca dikhianati dan dijebak dalam cinta satu malam, Alisa kembali ke kotanya membawa anak kembar. Ia bekerja di bawah Marvin, CEO brilian yang ternyata menjalani kehidupan ganda sebagai Primus untuk menyembunyikan jati dirinya. Takdir menjadi rumit saat Alisa menyadari Primus adalah pria dari masa lalunya. Kini ia terjepit di antara dua identitas pria yang sama. Akankah rahasia Marvin terbongkar? Bagaimana reaksi sang CEO saat tahu ia sudah memiliki dua anak?
Sampul Novel PETUALANGAN KE KOTA PARIS
8.8
Pasca perceraian, seorang wanita muda memutuskan terbang ke Paris demi memulihkan jati dirinya yang hilang. Di tengah keindahan kota tersebut, ia bertemu seniman tampan yang mengubah pandangan hidupnya secara drastis. Hubungan mereka berkembang menjadi romansa yang sangat intens, dibalut dengan eksplorasi dunia seni yang mendalam. Perjalanan ini menjadi titik balik baginya untuk menemukan kembali gairah serta semangat hidup yang sempat redup di masa lalu.