APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Poison, I'll Kill My Husband

Poison, I'll Kill My Husband

Aaron, mantan pembunuh bayaran, memulai hidup baru bersama istrinya, Alice. Namun, Alice sebenarnya adalah agen rahasia yang menyusup untuk membalas kematian orang tuanya yang diduga dibunuh oleh Aaron. Memanfaatkan cinta tulus suaminya, Alice mengumpulkan bukti keterlibatan organisasi Greenice Group. Kini ia terjebak dilema antara misi dan perasaan cintanya. Di tengah intrik kriminal, Alice harus memilih antara mengungkap kebenaran atau terus hidup dalam kebohongan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Salju tipis menyelimuti jalanan berbatu di kota kecil Montreux, Swiss, memberikan sentuhan magis pada pagi musim dingin itu. Udara dingin menusuk, namun langit cerah tanpa awan, memancarkan sinar matahari yang memantul indah di permukaan Danau Jenewa yang membeku. Di tepi danau, berdiri sebuah kafe klasik dengan papan nama kayu yang bertuliskan "Café du Lac" dalam huruf bergaya vintage. Kafe ini telah menjadi saksi bisu kehidupan kota selama lebih dari satu abad, menawarkan kehangatan dan keramahan bagi setiap pengunjungnya.Aaron Blakewood, nama yang kini ia gunakan setelah meninggalkan masa lalunya sebagai Aaron Andromeda, melangkah memasuki kafe tersebut. Lonceng di atas pintu berdenting pelan saat ia membuka pintu, disambut oleh aroma kopi segar dan keju leleh yang menggoda. Interior kafe didominasi oleh kayu ek tua, dengan meja-meja bundar yang dihiasi taplak bermotif kotak-kotak merah putih. Lukisan-lukisan pemandangan Alpen menghiasi dinding, menambah nuansa hangat dan tradisional."Selamat datang di Café du Lac, Tuan Blakewood," sapa seorang pria tua dengan senyum hangat. Rambutnya yang memutih dan kerutan di wajahnya menunjukkan pengalaman hidup yang panjang. Ia adalah Armen, pemilik kafe yang telah diwariskan turun-temurun dalam keluarganya.

"Terima kasih, Tuan Armen. Senang bisa kembali ke sini," balas Aaron dengan anggukan sopan."Silakan duduk. Apa yang bisa saya tawarkan pagi ini?" tanya Armen sambil menyerahkan menu yang sudah usang namun terawat dengan baik.Aaron menerima menu itu, meskipun ia sudah hafal isinya. Matanya tertuju pada satu hidangan yang selalu menjadi favoritnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Montreux."Saya akan memesan Raclette, seperti biasa. Dan untuk minumnya, saya ingin mencoba Iva," jawab Aaron sambil menutup menu dan mengembalikannya kepada Armen.Armen tersenyum lebar. "Pilihan yang sempurna. Raclette kami dibuat dengan keju terbaik dari Valais, dan Iva adalah minuman khas yang terbuat dari bunga musk yarrow. Saya yakin Anda akan menyukainya."Aaron mengangguk, merasa nyaman dengan suasana kafe yang hangat. Ia memilih meja dekat jendela besar yang menghadap langsung ke Danau Jenewa. Dari sana, ia bisa melihat permukaan danau yang berkilauan diterpa sinar matahari, dengan latar belakang pegunungan Alpen yang megah.Sambil menunggu pesanannya, Aaron merenung tentang kehidupannya yang baru. Setahun telah berlalu sejak ia meninggalkan identitas lamanya sebagai Phonix, pembunuh bayaran yang bekerja untuk organisasi kriminal. Kini, ia adalah seorang pebisnis sukses yang memiliki restoran di pusat kota Montreux, menawarkan berbagai menu lokal dan internasional.Pikirannya teralihkan saat seorang pelayan muda datang membawa nampan berisi hidangan yang dipesannya. "Ini Raclette dan Iva Anda, Tuan Blakewood. Selamat menikmati," kata pelayan itu dengan sopan sebelum beranjak pergi.Aaron menatap hidangan di depannya. Sepiring kentang rebus yang masih beruap, acar bawang, dan potongan keju Raclette yang meleleh dengan sempurna. Di sampingnya, segelas Iva berwarna keemasan dengan aroma bunga yang khas.Ia mengambil garpu dan mulai menyantap Raclette tersebut. Rasa gurih dari keju yang meleleh berpadu harmonis dengan tekstur lembut kentang dan sentuhan asam dari acar bawang. Setiap suapan memberikan kehangatan yang menyebar di seluruh tubuhnya, mengusir dinginnya pagi musim dingin.Setelah beberapa suap, Aaron meletakkan garpunya dan meraih gelas Iva. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan rasa manis dan sedikit pahit dari minuman itu memenuhi inderanya. Aroma bunga musk yarrow memberikan sentuhan akhir yang menyegarkan."Bagaimana rasanya?" tanya Armen yang tiba-tiba muncul di samping meja, matanya berbinar penuh harap."Luar biasa, seperti biasa. Raclette Anda tidak pernah mengecewakan, dan Iva ini memiliki rasa yang unik. Saya sangat menyukainya," jawab Aaron dengan tulus.Armen tertawa kecil. "Senang mendengarnya. Saya selalu berusaha mempertahankan kualitas terbaik untuk pelanggan setia seperti Anda."Aaron tersenyum, merasa terhubung dengan komunitas kecil ini. Di sini, ia menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Namun, bayangan masa lalunya terkadang masih menghantui, mengingatkannya bahwa kedamaian ini mungkin rapuh."Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan restoran Anda?" tanya Armen, mencoba mengalihkan pembicaraan."Semua berjalan dengan baik. Kami baru saja menambahkan beberapa menu baru, termasuk Raclette Anda. Pelanggan tampaknya sangat menyukainya," jawab Aaron dengan bangga."Itu kabar baik. Saya senang bisa berkontribusi pada kesuksesan Anda," kata Armen dengan senyum tulus.Mereka berbincang sejenak tentang bisnis dan kehidupan di Montreux sebelum Armen kembali ke tugasnya. Aaron melanjutkan sarapan, ia mulai memeriksa ponselnya, sejak setahun terakhir hidupnya damai, sampai sebuah pesan mengganggunya sejak semalam.'Aku melihatmu, Phoenix,' Pengirim yang tak diketahui mengirimkan sebuah gambar. Sebuah foto bagian luar restorannya, diambil dari kejauhan, seakan menjadi peringatan.Aaron menatap layar ponselnya dengan rahang mengatup. Mungkin ini hanya kebetulan, atau mungkin Greenice Group sudah mengetahui keberadaannya di Montreux.'Siapa kau?' balasnya dingin. 'Aku Jessica. Ayo bertemu besok pagi.' 'Tentukan lokasinya, aku akan datang.'Setelah mengirim pesan itu, ia mematikan layar ponselnya, menarik napas panjang. Keputusannya untuk meninggalkan kehidupan lamanya ternyata tak sesederhana yang ia kira.'Aku sudah sampai, Phoenix.'Sebuah pesan muncul di layar ponselnya. Tepat setelah itu, suara lonceng pintu berbunyi.Aaron mendongak. Seorang wanita melangkah masuk. Jessica.Ia masih sama seperti yang ia ingat. Rambut panjangnya tergerai dengan indah, mantel panjang warna krem membungkus tubuhnya, dan senyumnya seolah menutupi segala hal gelap yang ia simpan di dalam dirinya.Jessica melambaikan tangan dan berjalan mendekatinya. Tanpa ragu, ia duduk di seberangnya."Lama tak bertemu, Phoenix," sapanya dengan nada ringan, namun sorot matanya penuh kehati-hatian.Aaron mengamati wajah juniornya di Greenice Group. Gadis yang dulu ia anggap seperti adiknya sendiri. Sekarang, ia bukan lagi Phoenix. Ia Aaron Blakewood."Duduklah," ujarnya singkat, menyembunyikan emosinya.Jessica tersenyum tipis saat Aaron memanggil pelayan untuknya untuk memesan makanan dan minuman. "Samakan saja dengannya," katanya singkat.Pelayan mengangguk dan pergi.Begitu mereka hanya berdua, atmosfer di antara mereka berubah. Tegang, seakan ada banyak hal yang ingin dikatakan, tapi tak mudah diungkapkan.Aaron membuka percakapan lebih dulu. "Bagaimana kau bisa menemukanku?"Jessica menghela napas, "Oh, Phoenix, kau bahkan tak bertanya kabarku lebih dulu? Padahal kita lama tak bertemu," ujarnya sambil merengek kecil, meskipun begitu diluar sana ia adalah pembunuh bayaran yang sama sepertinya.Aaron hanya menatapnya datar, "Kau tampak baik-baik saja, aku tau kau akan selalu begitu," gumamnya.Gadis itu tersenyum, "Itu benar, aku baik-baik saja setelah bertemu denganmu, lalu kau? Bagaimana kabarmu? Kau terlihat lebih tampan,"Aaron hanya tersenyum miring, "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, dan aku senang tinggal disini," jawabnya seadanya.Jessica menatapnya lekat-lekat. "Aku bersyukur bisa menemukanmu lebih dulu," ucapnya"Aku mendengarnya dari ketua bahwa kau ada disini. Beberapa orang mungkin sudah mengawasi sekarang. Dan aku menemukanmu lebih dulu. Aku hanya ingin memberitahumu lebih awal."Aaron mengangkat alis, rahangnya mengeras. "Apa yang mereka inginkan?"Jessica menautkan jemarinya di atas meja, lalu berbicara dengan suara lebih pelan. "Mereka tak akan melepaskan aset berharga seperti kau begitu saja. Adikmu kini menggantikan posisi ketua, dan dia ingin kau kembali. Tanpa membunuh, tanpa menjadi bayangan. Kau hanya perlu kembali ke keluargamu."Aaron mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menatap Jessica lekat-lekat, mencari kebenaran dalam kata-katanya. Kembali ke perusahaan teknologi milik keluarganya? Tidak. Ia sudah menutup bab itu. Hidup yang ia jalani sekarang adalah hidup yang ingin ia pilih."Jessica," suaranya berat dan dalam. "Aku bukan lagi Phoenix. Jika kau bertemu mereka sebelum aku, katakan pada mereka bahwa aku tak akan kembali."Jessica menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu. "Aku mengerti mengapa kau tak ingin kembali. Setelah apa yang mereka lakukan padamu... memasukkanmu ke dalam organisasi hitam di bawah Greenice Group, sementara dunia hanya mengenal mereka sebagai perusahaan mobil. Itu pasti tak adil." Ia menatapnya dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut. "Tapi..."Ia ragu sejenak, lalu menghela napas."Apa yang kudengar benar? Apa kau sudah menikah?"Pertanyaan itu menggantung di udara. Jessica merasakan dadanya berdebar.Aaron menatap Jessica tanpa ekspresi. Tak ada yang perlu dijelaskan."Itu benar."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Tamara Levinka, model ternama sekaligus tunangan CEO produsen senjata Roger Jenandra, mendadak hilang tanpa jejak. Meski pencarian besar-besaran telah dilakukan, keberadaannya tetap misterius. Namun, setelah empat puluh sembilan hari, Tamara muncul kembali dengan kabar yang mengguncang semua pihak. Di balik kepulangannya, ada Jeff yang terobsesi memilikinya dan Tamara yang rela mengorbankan segalanya demi pria itu. Cinta mereka tumbuh di tengah konflik yang berbahaya.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.
Sampul Novel Kemarau Kapan Berlalu?
9.0
Sam Rahardja nekat menjadi kurir narkoba demi biaya sekolah keponakannya, meski upahnya dipotong oleh Galih. Saat Galih memutuskan berhenti, Sam terdesak masalah finansial. Di tengah kebuntuan, sosok misterius bernama Sena muncul mengancam akan melaporkan masa lalu ilegal Sam ke polisi. Terpojok demi masa depan Renaldi, Sam terpaksa menerima tawaran kerja dari Sena. Namun, ia justru terjebak dalam penyesalan mendalam karena pekerjaan tersebut adalah menjual diri.
Sampul Novel MAFIA DI KEJAR GADIS OBSESI
9.2
Dunia berlutut di hadapan bos mafia kejam yang dikenal sangat agresif dan tak kenal ampun. Namun, otoritasnya mendadak goyah saat menghadapi seorang gadis pemberani berjiwa pejuang. Berbeda dari orang lain, pebisnis tangguh ini justru berani membangkang, berdebat, hingga menggoda sang mafia tanpa rasa takut. Meski sang bos mencoba segala cara untuk mengintimidasi, keberanian gadis itu justru membalikkan keadaan. Akankah kekejaman sang mafia luluh oleh obsesi unik ini?
Sampul Novel Pembalasan Janda Talak Tiga
7.8
Hanya beberapa menit usai ijab kabul, seorang pengantin wanita harus menelan pil pahit saat suaminya menjatuhkan talak tiga secara mendadak. Di tengah riuh tamu dan hidangan yang belum tersentuh, riasan serta henna di tangannya seolah menjadi saksi bisu kehancuran martabatnya. Rasa sakit yang mendalam seketika berubah menjadi api dendam kesumat. Tak mau terus terpuruk, sang janda kini bangkit dan bertekad membalas perbuatan keji yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Pendekar Naga Biru
9.3
Ribuan tahun naga dianggap mitos di Kamandaria, hingga hadirnya Candaka mengubah segalanya. Sebagai titisan Pendekar Naga Biru yang diramalkan, ia bertekad mengakhiri penderitaan rakyat dari kekejaman raja lalim. Dalam petualangan penuh aksi ini, Candaka harus membuktikan eksistensi naga sekaligus memburu Kitab 9 Naga, pusaka silat terkuat di jagat raya. Mampukah ia menggulingkan tirani, mengalahkan Iblis Naga Hitam, dan merebut takhta demi kedamaian Bumi Karimun?