APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Possessive Wife

Possessive Wife

Kehidupan pernikahan Ana berubah drastis setelah ia mengikuti Andra, suaminya yang berprofesi sebagai polisi, bertugas ke pedalaman Papua. Akibat berbagai rumor yang beredar, Ana yang dulunya tangguh kini berubah menjadi sosok istri yang sangat posesif, pencemburu, dan emosional. Ia sering memancing keributan demi perhatian, namun Andra selalu menghadapi sikap labil istrinya dengan kesabaran luar biasa, menjadi penenang di tengah kobaran api kecemburuan Ana.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku tengah menyiapkan makan siang di dapurku yang lusuh, rumahku memang sangat sederhana, bukan, tapi rumah kami, aku dan suamiku, kebetulan kami belum di karuniai buah hati, pernikahan kami baru seumur jagung, kami menempati rumah dinas dimana suami di tugaskan.

"Bun ... Bunda ...." Teriak suamiku berlari dari arah luar pintu belakang yang terletak di belakang dapur, ia tadi pamit padaku pergi main ke rumah temannya yang tidak jauh dari rumah. Ku perhatikan dari dapur di tangannya sudah memegang barang yang belum terlihat jelas di pandanganku.

Aku rasa itu adalah sebuah handphone, setauku ponsel suami memang sudah rusak dan tidak bisa di pakai lagi, mana sangka dia diam-diam membelinya, aku fikir ia akan mengajakku saat membeli ponsel barunya.

"Bun, ayah sudah beli HP baru," ucapnya dengan senyum riang menghampirimu yang tengah mengaduk masakanku di atas wajan, diperlihatkannya ponsel baru itu.

"Enak sekali beli HP baru, HP bunda ga di ganti?" Aku melengos, melirik sesaat hp yang ada di tangan suamiku, merk anu yang terkenal, tapi kalau di perhatikan bukan yang wow sekali, biasa-biasa saja, menurutku. Tapi aku iri, aku juga ingin ganti hp.

"Kan ayah memang hp sudah rusak bun, kalau bunda kan masih punya hp, hp masih bisa di pakai, masak mau beli hp lagi?" Ucapnya, itu tandanya dia tidak akan membelikanku hp baru.

Aku acuhkan ucapnya, ku lanjutkan aktifitasku memasak sampai selesai, lalu ku hidangkan di meja makan dan ku tutup dengan tudung saji.

Fikiranku terfokus pada hp baru, hpku juga merk anu, merk yang sama dengan ponsel suamiku yang baru. tapi sudah lama, sudah berkarat istilahnya, jaman sudah 4G, aku masih pake hp yang hanya bisa menangkap jaringan 3G, tanpa memakai pelindung dan sudah lecet sana sini pula karena seringnya terjatuh.

"Makan dulu yah, mungpung masih panas itu." Ucapku pada suamiku, sedangkan aku sudah memegang piringku, duduk bersandar di ruang tamu yang kecil, duduk lesehan, kami tidak memiliki sofa atau sejenisnya, karena aku tidak mau mengisi rumah dengan banyak perabotan, rencana kami ingin segera mengurus pindahnya suami ke Bali, itupun kalau rejeki.

"Iya sebentar bun." Jawab suamiku tanpa melirik ke arahku, ia masih fokus dengan hp barunya, ku lirik sesekali ke arahnya, ia begitu menikmati ponsel barunya, entah, mungkin sedang menyimpan nomor atau apalah, aku tak peduli.

Pelit sekali, minta ikut beli hp baru saja ga boleh, gerutuku dalam hati. 15 menit aku menyelesaikan makan siangku, suamiku masih saja pada posisi yang sama, duduk dan memainkan ponselnnya.

"Bun, ini gimana ya caranya? Mau mindahin nomor-nomor yang ada di kartu biar tersimpan di telpon? Ayah belum ngerti, belum paham." Tanyanya kemudian, aku masih sibuk mengunyah camilan kacang polong yang ku beli kemarin sore di warung depan asrama.

"Mana bunda liat." Jawabku mencoba meraih hpnya, tapi tangannya menahan, ia seperti enggan memberikan ponselnya padaku.

"Kasi tahu caranya gimana bun?" Ucapnya lagi, masih menatap layar ponsel itu.

"Bagaimana mau kasih tahu kalau dipegang saja ga boleh!" Gerutuku kesal. Percis seperti bapakku, sifat suami dari A sampai Z benar-benar mirip dengan bapakku.

"Ya liat saja to, bilangin, ayah harus pencet tombol yang mana? Trus apa? Gitu kan bisa, ga harus bunda yang pegang hp." Jawabnya ketus.

"Ya sudah, cari aja sendiri, otak atik sendiri, ga usah tanya-tanya, pegang aja ga boleh, pelit." Aku meninggalkan suamiku pergi, masuk ke dalam kamar, rebahan, ambil hp, nyalakan tivi, entah niatku menonton apa yang jelas perasaan kesal sedang merajaiku, ku ganti-ganti canel beberapa kali sambil menggerutu sendiri.

"Bun, coba aturkan ini, ayah ga ngerti." Suamiku ikut masuk ke dalam kamar, ia menghampiriku, bersandar di sebelahku.

"Apalagi? Usaha to, cari-cari sendiri, kan sudah bisa." Aku mendelik, ku lihat sesaat ke arah ponsel yang ia pegang.

"Pasang memorynya gimana bun?" Suamiku menyodorkan hpnya padaku.

"Itu lubangnya disitu liat." Ucapku ketus, ku lirik sekilas ponselnya, sementara tanganku masih memegang remote tv.

"Pasangkan bun, tolong." Tanpa ku jawab, ku ambil hp itu dari suamiku dengan cepat, ku bongkar, dan ku masukkan memory card'nya, belum juga terpasang sempurna, dengan gesit tangannya sudah merampas lagi ponselnya seakan-akan takut aku menemukan sesuatu yang tak ingin terlihat olehku.

Seharian ini ia disibukkan melihat layar ponsel barunya, padahal hp biasa-biasa saja, tapi sepertinya dia sangat menikmati semua aplikasi bawaan ponsel tersebut.

Aku di abaikan, bahkan sampai jam tidur kamipun ia masih fokus dengan ponselnya, awas aja kalau nanti minta anu, biar ku suruh aja dia anu sama tuh ponsel, biar tahu rasa.

Ku peluk gulingku erat, ku bungkus diriku dengan selimut, ku punggungi suamiku yang masih tidak mau melepaskan ponsel barunya itu.

"Bun..." Panggilnya lagi, ia mencolek punggungku beberapa kali.

"Hmmm..." Jawabku malas.

"Bun, facebook ayah ga bisa buka, lupa kata sandinya, tolongin dong." Ucapnya dengan nada memelas.

"Ga bisa, yang punya facebook ayah, bunda mana tau sandinya." Jawabku ketus.

"Ayah lupa bun, tidak ingat." Ucapnya.

"Tanya aja sama mantannya ayah, mungkin dia tahu sandinya." Aku kembali mengungkit-ungkit masa lalunya suami, kebiasaan burukku ya begitu, aku sering kali mengungkit masa lalu suami.

Aku baru bertemu suamiku setelah putus 7 tahun lalu, sekalinya ketemu kita langsung menikah, aku baru tahu setelah menikah, ternyata sebelum kami menikah ia sudah punya kekasih yang putus 1 bulan sebelum kami bertemu.

Aku membenci wanita itu, dia memang tidak salah, tapi aku tidak suka aja suamiku sempat berpacaran dengannya, aku iri dengan kecantikannya, iri dengan gayanya yang wow, beberapa kalipun diminta iklas aku tetap tidak bisa, padahal kalau di fikir-fikir dia tidak salah.

Aku sempat mencari tahu perihal putusnya mereka, semua karena beda keyakinan, dan 1 lagi, sifat keras kepala dan mengaturnya si perempuan itu membuat suamiku tidak kerasan.

Kembali ke topik, setelah bujuk rayunya, akhirnya ku buatkan akun facebook baru buat suamiku, aku kira setelah selesai, dia akan berhenti memgang hpnya lalu istirahat bersamaku, sayang, dugaanku salah, ia masih saja fokus dengan ponselnya itu, entah mungkin sibuk menambah pertemanan pada facebook barunya atau sibuk menghubungi teman-temannya, maybe lah, yang pasti aku jengkel sejengkel-jengkelnya.

Perasaan kesal semakin memenuhi kepalaku, rasanya pengen mengumpatnya, hp terus di pegangin, istrinya malah di anggurin kayak jemuran kering ga di angkat-angkat. Liat saja ya, aku juga bisa seperti itu. Ku pejamkan mataku kemudian, ku tinggalkan dia yang masih sibuk bermain ponsel, aku memilih berselancar ke dunia mimpi.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BIDADARI
8.1
Aida Tazkia merasa rendah diri karena kondisi fisiknya sebagai penyintas kanker. Reiko Byakta Adiwijaya, pria dari keluarga konglomerat, justru tetap menikahinya meski melontarkan hinaan tajam. Di balik pernikahan tanpa cinta ini, tersimpan rahasia besar yang disembunyikan Reiko. Aida kini terjebak dalam belenggu keluarga Adiwijaya yang penuh tekanan. Mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati dan cinta tulus di tengah keraguan akan kesempurnaannya sebagai wanita?
Sampul Novel Cinta Virtual
7.9
Banyak orang terjebak luka akibat cinta virtual, namun aku justru menikmati hubungan tanpa status yang unik. Lewat layar ponsel, kami berbagi rutinitas mulai dari saling berkirim foto hingga sleep call setiap malam tanpa ikatan resmi. Meski hanya berteman dekat, perhatian yang diberikan terasa nyata dan sangat manis. Namun, mampukah koneksi digital ini berujung serius ke pelaminan? Ikuti perjalananku yang akan membuat siapa pun merasa iri dengan indahnya HTS.
Sampul Novel DANCING WITH DESTINY
8.2
Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Sampul Novel Gulai Daun Singkong Untuk Mertua
7.8
Nek Syam mengalami kepedihan mendalam setelah diusir oleh Jannah, putri kandungnya, hanya karena menginginkan gulai daun singkong. Merasa terhina di rumah sendiri, ia memilih pergi dan berlindung di kediaman putra bungsunya, Ahmad. Mengetahui perlakuan buruk sang kakak terhadap ibu mereka, Ahmad pun naik pitam. Ia langsung bertindak tegas dengan membawa bukti kepemilikan tanah dan balik mengusir Jannah dari rumah tersebut sebagai pembalasan.
Sampul Novel I WAS NEVER YOURS
9.0
Menjalin ikatan dengannya adalah sebuah larangan keras yang tidak seharusnya kulanggar. Namun, perasaan ini tumbuh begitu dalam meski aku tahu bahwa memilikinya adalah hal yang tabu. Setiap detik aku mencintainya, rasa sakit itu justru semakin mengoyak batasan hatiku. Aku terjebak dalam dilema antara keinginan memiliki dan kenyataan pahit yang terus menyiksa. Mencintai dirinya hanya membawaku pada luka yang kian menganga tanpa ada kepastian.
Sampul Novel Kehadiran Orang Ketiga
8.2
Keharmonisan rumah tangga Fahmi dan Hanum bersama kedua anak mereka, Arya dan Adiva, hancur seketika saat Hani hadir. Kakak kandung Hanum tersebut justru menjadi selingkuhan Fahmi. Saat Arya memergoki mereka, Fahmi malah mengancamnya agar bungkam. Hanum yang mencoba mengungkap kebenaran justru disalahkan oleh ibu mertuanya. Di tengah pengkhianatan lama yang terkuak, Hanum harus tetap tegar demi anak-anaknya. Akankah pernikahan ini bertahan atau berakhir cerai?