APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PRAMESWARI

PRAMESWARI

Prameswari, putri Kiai yang kabur dari pesantren demi menolak perjodohan dengan Ustadz Rayyan, kini bertaruh identitas sebagai Mytha di Yogyakarta. Di sana, ia terjerat dalam asmara rumit dengan Giga, pria beristri yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya bersama Peony. Di tengah pahit manisnya kota, rahasia masa lalu mulai terkuak saat Peony merasa tidak asing dengan sosok Mytha. Akankah Prameswari kembali ke pelukan keluarganya atau terjebak dalam cinta terlarang?
Bab
Bagikan

Bab 1

Yogyakarta, di suatu hari yang terik.

Prameswari turun di terminal bus Giwangan dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu. Marah, kecewa, benci, takut tapi juga sedih. Dalam benaknya yang sehancur Bantul seusai diguncang gempa tahun 2006 silam, berjejalan banyak pertanyaan tentang Abah dan Ummi yang telah sampai hati menjodohkannya dengan Ustadz Rayyan. Sosok yang selama ini menjadi bahan candaan di kalangan santriwati, termasuk dirinya sendiri. Mengapa begitu?

Karena Ustadz Rayyan masih belum menikah juga padahal umurnya sudah empat puluh lima tahun. Ustadz Lapuk. Begitulah Prameswari dan teman-teman memberikan label padanya. Siapapun orangnya, jika ketahuan berpapasan atau berdekatan dengannya, pasti habis, dibercandai. Bahkan, tak jarang juga jadi bahan olok-olokan di sepanjang hari. Oleh karenanya, tak seorang pun santriwati di Pondok Pesantren Al-Hidayah mau berurusan dengan Ustadz Rayyan. Termasuk Prameswari, meskipun kadang-kadang Abah atau Ummi menitipkan sesuatu untuk Ustadz Rayyan melalui dirinya. Sebisa mungkin, dia menciptakan alasan. Terlambat, tergesa-gesa atau apa saja, yang membuat mereka membatalkan untuk menitipkan sesuatu itu padanya.

'Apa sih, yang membuat Abah sama Ummi begitu?' tanya hatinya yang semakin remuk redam, 'Mereka kan tahu, Ustadz Lapuk sudah setua itu? Tega, tega, tega! Kenapa mereka setega ini padaku?' tanya hatinya lagi, kali ini sambil mengamati sekitar yang terasa asing baginya, 'Jahat, semua jahat!'

JOGJA - JAKARTA

JOGJA - SOLO

JOGJA - MAGELANG

Prameswari mengeja plakat bercat hijau dengan tulisan putih yang ada di depan sana. Sekitar lima puluh meter dari tempatnya berdiri. Sekeras mungkin, dia mengingat-ingat petunjuk yang diberikan Meyka, sahabat baiknya di facebook. Dia nggak berani mengeluarkan ponsel di keramaian---seperti yang diajarkan Meyka---jadi nggak ada jalan lain kecuali menggunakan ingatannya dengan baik. Ingatan yang sebenarnya tajam dan cemerlang jika bukan dalam keadaan sedarurat ini. Antara hidup dan mati.

"Kamu jangan sekali-kali ngeluarin hp di terminal ya, Ri? Bahaya!" begitulah pesan Meyka tadi malam sebelum dia benar-benar kabur dari rumah, "Dari terminal Giwangan, kamu ke luar. Sampai di luar, cari halte bus trans …!"

Prameswari tersenyum tipis sekarang, karena sudah berhasil mengingat dengan baik apa yang dikatakan Meyka. Sekarang, tanpa berpikir panjang dan berliku-liku, dia berjalan ke luar terminal. Meskipun sudah mati-matian menguatkan hati, tetap saja langkahnya gontai. Oleng, seperti layang-layang yang baru saja putus dari gulungan benangnya. Ditambah dengan wajah yang pucat berkeringat, sempurnalah sudah penampilannya hari ini, kusut masai kuadrat. Untung, tengah hari. Kalau nggak? Bisa-bisa, dia jadi santapan preman jalanan!

Sesampainya di halte bus trans Jogja, Prameswari langsung bergegas menuju loket pembelian tiket. Napasnya naik turun setelah berjalan kaki cukup jauh dari terminal bus. Tak tanggung-tanggung, wajahnya sekarang sudah bukan pucat berkeringat lagi tapi biru banjir. Untung nggak terlalu banyak antrian, hanya tiga orang di depannya. Jadi, Prameswari bisa menghela napas lega untuk pertama kalinya setelah berhasil kabur dari rumah.

Sebenarnya, dia juga meneteskan air mata karena teringat Ummi. Dia berpikir, Ummi pasti sedih dan hancur dengan kepergiannya yang seperti ini. Tapi, apa boleh buat? Ummi juga nggak bisa membelanya di depan Abah. Nggak berdaya, untuk lebih tepatnya. Cara apa lagi yang bisa membuatnya selamat dari perjodohan yang sangat sangat sangaaat menyedihkan itu? Nggak ada lagi, hanya ini. Ya, yaaahhh, meskipun tadi sebelum berangkat, hatinya sempat digelayuti keragu-raguan.

"Maafkan Wari, Ummi." bisiknya lirih,"Tapi Wari harus pergi, Ummi. Wari nggak mau nikah sama Ustadz Rayyan, sampai kapan pun, nggak mau. Karena cinta dan harti Wari hanya untuk Mas Eiden."

"Apa, Mbak?" kata petugas dari dalam loket menyentakkan kesadaran Prameswari, "Tujuannya ke mana, Mbak?"

Malu dan gerapan, Prameswari menjawab, "Sa saya ma mau ke Condong …?"

Kata-kata Prameswari terpotong begitu saja karena tiba-tiba bayangan Abah yang sedang murka muncul dalam benaknya dengan sempurna. Membara. Sementara Ummi hanya bisa berlinang-linang air mata di hadapannya.

"Oooh, Condong Catur?" tanya petugas dengan hangat, ramah dan sopan.

Prameswari mengangguk, tersenyum tipis lalu mengangsurkan selembar uang sepuluh ribu dan menerima selembar tiket bus untuknya. Sekarang, wajah pucat itu mulai terpulas warna lain, merah muda. Cantik.

***

Sejauh mata Prameswari memandang, yang ada di dalam benaknya hanya Ummi dan Abah. Marah sekali rasanya setiap kali teringat bagaimana tiba-tiba Abah mengatakan, "Wari, sekarang kan kamu sudah besar. Sudah saatnya kamu menyempurnakan ibadahmu dengan menikah. Siapkan dirimu Wari, karena besok malam, Ustadz Rayyan akan mengkhitbah kamu!"

Duaaarrr!

"Apa Bah, Ustadz Rayyan mau mengkhitbah Wari?" Prameswari bertanya dengan kemarahan yang berkobar-kobar hingga ke ubun-ubunnya, "Nggak salah, Bah?" tanya Prameswari lagi tanpa bisa dicegah, "Abah yakin, kalau Ustadz Lapuk bisa membahagiakan hidup Wari?"

Plaaakkk, plaaakkk!

Abah melayangkan tamparan mautnya ke pipi Prameswari, kanan dan kiri hingga meninggalkan bekas jari tangan di sana. Ummi yang menjerit tertahan di samping Abah, tak mampu menghentikan gerakan ringan telapak tangan Abah. Begitu juga dengan jerit tangis kesakitan Prameswari, sia-sia. Abah sudah terlanjur murka.

Tilulit, tilulit!

Ringtone chat di whatsapp memberai ingatan Prameswari tentang Ummi, Abah dan Ustadz Rayyan. Seketika konsentrasinya tertuju pada chat yang baru saja masuk. Harapannya membuncah, semoga itu Meyka. 'Eh, ya Meyka, lah. Siapa lagi? Dia kan satu-satunya yang tahu nomer whatsapp-ku?' batinnya mempertegas buncah harapan di hatinya.

Whatsapp

Chats (11) Status Calls (7)

Ternyata, selain chat, Meyka juga voice call sebanyak tujuh kali. Karuhan saja nggak terangkat, benak Prameswari terlalu padat. Overload.

Meyka:

[Ri, km udh smpe mana?]

[Kabari ea kalo dah smpe?]

[Aku tunggu di halte bus trans concat]

[Jgn smpe slh turun ea?]

[Reply!]

[Aq dah di sini]

Dengan perasaan mengharu biru, Prameswari membalas chat Meyka. Dikatakannya kalau dia sudah di atas bus trans, seperti yang dipesannya kemarin. Dia juga cerita, kalau rasanya gemetar, hampir pingsan karena menahan lapar. Uangnya hanya tersisa tujuh ribu rupiah lagi.

Namanya juga Meyka, bukannya sedih atau bagaimana, malah mengirimkan emotikon senyum lebar sekali pada Prameswari. Kontan, Prameswari cemberut dan mengomel panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang, di chat room. Hehe. Dua sahabat baik di facebook itu sekarang saling balas chat di whatsapp dengan santainya. Dari hati ke hati. Eh, salah. Dari jari ke jari. Hehe. Iyalah, dari hati ke hati. Jari kan, hanya perantara hati?

Tilulit, tilulit!

Meyka:

[Ea udh ea Ri? Ati2]

[Aq tunggu ea? Bntr lg smpe kug!]

Lemas, gemetar dan pusing karena kelaparan, Prameswari mengetik chat balasan untuk Meyka, [Ya. Makasih banyak sebelumnya ya, Mey?]

Sayang sekali! Prameswari, gadis berumur delapan belas tahun dan baru saja menamatkan pendidikannya di SMU itu nggak tahu, kalau sebenarnya Meyka yang selama ini dia kenal dengan baik di facebook itu seorang laki-laki paruh baya. Dia, menggunakan aplikasi perubah suara setiap kali menelepon Prameswari. Sehingga yang dia tahu, Meyka benar-benar seorang gadis belia, sama seperti dirinya. Ah, sungguh disayangkan juga, Prameswari nggak begitu memperhatikan mengapa Meyka selalu menolak jiga dia Mengajaknya video call.

Apa yang akan terjadi setelah mereka bertemu nanti?

Apakah Prameswari kuat menghadapi semua kenyataan pahit ini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Alice nyaris tewas terseret ombak sebelum diselamatkan oleh Archer, sosok pria misterius yang ternyata adalah seekor duyung jantan. Meskipun sempat tidak percaya, Alice akhirnya yakin setelah menyentuh langsung ekor Archer yang berotot. Pertemuan ajaib ini berujung pada sebuah permohonan bantuan dari Archer kepada Alice. Akankah kehidupan normal Alice berubah total setelah terlibat dalam takdir sang penghuni laut? Simak kisah fantasi romansa modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Become True
9.2
Gadis berlesung pipi itu tertegun saat sebuah suara berat yang sangat ia rindukan tiba-tiba memanggilnya. Meski air mata kembali membasahi pipinya dengan deras, kali ini ada binar kebahagiaan yang terpancar. Sosok yang selama ini ia nantikan dalam doa dan harapan akhirnya benar-benar berdiri tepat di hadapannya. Pertemuan tak terduga ini membawa kembali kenangan lama yang sempat hilang. Dia telah kembali, mewujudkan segala impian yang selama ini dipendam.
Sampul Novel Cinta Buta Gadis Mafia
7.9
Apa jadinya jika takdir memaksa Anda tinggal satu atap dengan wanita yang menghancurkan hari pernikahan Anda sendiri? Kehidupan seorang pria berubah total saat sosok gadis dari dunia mafia hadir dan mengacaukan rencana masa depannya secara brutal. Di tengah dendam dan kebingungan, hubungan rumit mulai terjalin di antara mereka. Akankah benci berubah menjadi cinta, atau justru menjadi awal kehancuran yang lebih dalam bagi keduanya dalam drama romansa mafia ini?
Sampul Novel Fatimah Perjuangan TKW Indonesia
8.7
Demi meraih impian kuliah tanpa membebani orang tuanya, Fatimah mengambil langkah berani setelah lulus SMA. Meski merupakan anak tunggal, keterbatasan ekonomi keluarga mendorongnya untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKW. Tekadnya yang sangat kuat menjadi bahan bakar utama dalam berjuang mandiri secara finansial. Kisah ini mengikuti pengorbanan Fatimah yang rela merantau jauh demi mengangkat derajat hidup dan masa depan pendidikannya sendiri.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.