APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PUSTAKA CERITA DEWASA 21+

PUSTAKA CERITA DEWASA 21+

Hadir khusus bagi pembaca dewasa, karya ini menyajikan kumpulan narasi romansa penuh gairah dari beragam latar belakang tokoh. Setiap bab dirancang untuk memicu imajinasi serta memberikan hiburan intens yang sangat cocok dinikmati saat malam hari. Jelajahi berbagai dinamika hubungan yang berani dan menggoda melalui setiap untaian ceritanya. Segera selami tiap bab untuk merasakan sensasi fantasi yang mendalam dan memuaskan bagi para penggemar genre ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Matahari sore menyorot tajam melalui jendela kaca kolam renang sekolah, memantulkan kilauan air yang bergoyang perlahan. Pak Radit berdiri di pinggir kolam, peluit menggantung di lehernya yang berkeringat. Latihan ekstrakurikuler renang sudah usai, dan sebagian besar siswa telah berhamburan ke kamar mandi atau langsung pulang.

Tapi tidak dengan Kania.

Gadis kelas XII itu masih berada di dalam air, tubuhnya yang ramping meliuk seperti ikan kecil di bawah permukaan. Rambut hitamnya yang panjang mengambang di sekitar bahunya, dan bikini merah yang dipakainya, terlalu minim untuk ukuran seragam renang sekolah, hanya menutupi bagian-bagian yang paling vital.

"Kania, latihan sudah selesai," panggil Pak Radit, mencoba menjaga nada suaranya tetap profesional.

Dia melihat Kania melambai, lalu berenang ke tepi kolam. Saat gadis itu naik, air mengalir di lekuk tubuhnya, membasahi kulit putihnya yang berkilau. Pak Radit dengan cepat mengalihkan pandangan ke clipboard di tangannya.

Ini hanya pekerjaan, ingatnya pada dirinya sendiri. Dia hanya seorang siswi.

Tapi tubuhnya tidak mendengarkan.

30 menit kemudian.

Pak Radit sedang mencatat kehadiran di ruang guru kecil dekat kolam ketika suara pintu kamar mandi siswa terdengar berderit. Dia mengangkat kepala—tidak seharusnya ada siswa yang masih di sana.

Dia berjalan mendekat, berencana hanya memeriksa sekilas.

"Apa ada yang masih di sini?" panggilnya sambil mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Dengan hati-hati, Pak Radit mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci. Ruang ganti kosong... kecuali untuk satu sosok di sudut.

Kania.

Gadis itu berdiri di depan cermin besar, hanya mengenakan bikini merahnya, handuk kecil terjatuh di lantai basah di kakinya. Dia seolah sedang mengamati sesuatu di cermin atau mungkin menunggu sesuatu.

Tidak. Tidak mungkin.

Pak Radit membeku.

Kania tidak terkejut. Tidak berusaha menutupi diri. Dia malah berpaling perlahan, mata gelapnya menatap langsung ke arahnya.

"Maaf, Pak," ucap Kania, suaranya seperti madu yang dituang perlahan. "Handukku jatuh."

Tapi dia tidak berusaha mengambilnya.

Dari jarak tiga meter, Pak Radit bisa melihat setiap detail tubuh Kania. Payudara kecil tapi berbentuk sempurna, tertekan oleh bikini yang nyaris tidak cukup menutupi putingnya. Perut rata dengan otot halus bekas latihan. Lekuk pinggul yang mengarah ke paha mulus, di mana tali bikini bawahnya hanya berupa senar tipis.

Dan yang paling berbahaya—senyum kecil di bibir Kania, seolah tahu persis apa yang sedang terjadi di celana training Pak Radit.

Darah mengalir deras ke selangkangan Pak Radit. Dia merasakan bagaimana celananya tiba-tiba menjadi ketat, bagaimana tubuhnya bereaksi terlalu jujur terhadap pemandangan ini.

Sial.

Dia harus pergi. Sekarang.

"Pak Radit?" Kania memanggil saat dia berbalik. "Apa Bapak tidak mau membantu aku mengambil handuk?"

Suara itu—naik turun dengan sengaja, seperti permainan.

Dengan napas berat, Pak Radit membungkuk, mengambil handuk, dan melemparkannya ke arah Kania tanpa menatapnya lagi.

"Pakai seragammu dan pulang," katanya, suaranya lebih kasar dari yang dia rencanakan.

Dia tidak menunggu jawaban.

Di mobilnya sepuluh menit kemudian, Pak Radit masih mencoba menenangkan nafas. Dia menyalakan AC dengan maksimal, berharap udara dingin bisa meredakan panas di tubuhnya.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal:

"Maaf tadi membuat Bapak tidak nyaman :)"

Jantungnya berdegup kencang.

Lalu pesan kedua datang—sebuah foto.

Hanya sepintas, tapi cukup untuk membuatnya tercekik:

Kania di kamar mandi sekolah, bibirnya menggemes, jari-jarinya menarik tali bikini merah itu ke samping, hanya cukup untuk memberi petunjuk, tidak cukup untuk memperlihatkan.

Pesan ketiga:

"Apa Bapak tidak ingin lihat lebih banyak?"

Di dalam mobil yang sunyi, Pak Radit mendapati tangannya sudah meraih resleting celananya.

***

Pesan itu masih terpampang di ponsel Pak Radit ketika dia masuk ke ruang guru olahraga keesokan harinya.

"Aku butuh les atletik, Pak. Untuk lomba antar sekolah. Mohon bantuannya."

Ditambah dengan emoticon senyum polos, kontras sekali dengan foto yang dikirim sebelumnya.

Radit menghela napas, jarinya mengetik balasan:

"Bisa. Lapangan jam 4 sore. Pakai seragam lengkap."

Dia sengaja menekankan bagian terakhir, berharap Kania akan mematuhi aturan kali ini. Tapi suatu bisikan di kepalanya berharap sebaliknya.

***

Sinar matahari sore masih menyengat ketika Pak Radit tiba di lapangan sekolah. Tempat itu sepi—hanya beberapa siswa yang masih latihan bola basket di ujung jauh.

Kania sudah menunggu di lintasan lari, tapi yang membuat nafas Radit tersendak adalah seragam yang dipakainya.

Baju olahraga sekolahnya, biasanya longgar, kali ini terlihat dua ukuran lebih kecil. Kain putih tipis itu melekat di setiap lekuk tubuhnya, dan celana pendeknya... Tuhan, celana pendeknya nyaris tidak menutupi pahanya yang mulus.

"Terima kasih sudah mau melatihku, Pak," sapa Kania dengan senyum manis, seolah tidak menyadari tatapan panas gurunya.

Radit mengeluarkan clipboard. "Kita fokus pada squat dan lari cepat hari ini."

Lalu latihan di mulai.

"Tekuk lutut lebih dalam," perintah Radit, berusaha menjaga nada profesional sambil berdiri di belakang Kania.

Gadis itu mengangguk, lalu melakukan squat perlahan.

Dan itulah saat bencana terjadi.

Setiap kali Kania menurunkan tubuhnya, celana pendeknya yang sudah mini itu naik, sedikit demi sedikit, hingga pada squat kelima...

Tidak.

Radit hampir tersedak.

Pantat Kania yang bulat sempurna sekarang terlihat jelas, karena gadis itu tidak memakai celana dalam sama sekali. Kulit halusnya berkilau oleh keringat, lekuk bawahnya yang menggoda terpampang tanpa malu.

"Seperti ini, Pak?" tanya Kania polos, masih dalam posisi squat, seolah tidak tahu apa yang baru saja diperlihatkannya.

Radit merasakan darah mengalir deras ke selangkangannya. "Cukup!" batuknya. "Kamu... kamu melakukan kesalahan gerakan. Hukuman push-up 20 kali!"

Kania tidak protes. Dengan senyum kecil, dia berbaring di rumput dan mulai push-up.

Dan Radit, dengan segala kesialannya, harus berdiri tepat di depan kepala Kania.

Setiap kali gadis itu menurunkan tubuhnya, baju olahraganya yang ketat melorot ke depan, memperlihatkan belahan payudara yang menggoda. Putingnya yang keras membentuk titik jelas di kain tipis.

"18... 19... 20..." napas Kania terengah.

Dia tidak segera bangkit. Tetap dalam posisi push-up, kepalanya tepat sejajar dengan selangkangan Radit.

"Pak Radit..." bisiknya, mata gelap menatap ke atas. "Bapak... terlihat tegang."

Radit menyadari posisinya yang mengerikan, celana trainingnya membentuk tendangan jelas yang tidak bisa disembunyikan.

Setelah latihan, Radit berusaha cepat-cepat masuk ke ruang ganti guru. Tapi Kania mengejarnya.

"Pak, aku masih belum paham teknik start yang benar," katanya, menyandarkan tubuh di pintu.

Radit tahu ini permainan berbahaya. Tapi tubuhnya menolak untuk mengusir gadis itu.

"Lain kali," jawabnya kasar.

Kania mendekat, tangan kecilnya tiba-tiba menekan pintu, menjebak Radit di antara dirinya dan lemari.

"Atau..." bisiknya, nafas hangat mengenai leher Radit, "Bapak bisa mengajariku... hal lain dulu?"

Dia menggerakkan pinggulnya, dengan sengaja menggesek sesuatu yang keras di celana training Radit.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Terinspirasi oleh simbol reinkarnasi bunga teratai, tujuh pemuda dengan kekuatan mistik luar biasa disatukan dalam satu tim khusus. Di bawah bimbingan Sagara Widyatama, mereka menjalani latihan keras demi menstabilkan dunia supranatural yang sedang kacau. Namun, misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bukan sekadar pertarungan fisik. Kehadiran Sagara perlahan membuka tabir rahasia mengenai hubungan mendalam mereka di kehidupan masa lalu yang misterius.
Sampul Novel Bermandikan Api: Kisah Reinkarnasi Seorang Putri
8.0
Terlahir kembali di tubuhnya yang berusia delapan tahun, Putri Yun Shang kini membawa beban ingatan dari masa depan yang kelam. Di kehidupan sebelumnya, ia hancur akibat pengkhianatan suami, kehilangan anak tercinta, dan kekejaman kakak perempuannya sendiri. Berbekal trauma dan pengetahuan masa lalu, Yun Shang bersumpah untuk membalikkan takdir. Ia tidak akan lagi menjadi korban yang lemah, melainkan sosok yang siap menuntut balas pada semua musuhnya.
Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Secara misterius, Halimah mendadak memiliki kemampuan supranatural untuk melihat dimensi asing yang mengerikan beserta para calon tumbal yang terancam nyawanya. Fenomena ghaib ini mengubah hidupnya menjadi penuh teror dan tanda tanya besar. Kini, dia terjebak dalam dilema gelap: haruskah ia ikut mencari tumbal tersebut demi keselamatan dirinya sendiri? Ikuti perjuangan Halimah dalam mengungkap rahasia kutukan ini dan mencari cara untuk menyelamatkan jiwanya.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Sampul Novel Pendekar Pedang Terhebat
9.1
Zero, bocah yatim piatu berusia sepuluh tahun, kerap dirundung karena ambisinya menjadi pendekar pedang hebat meski kemampuannya sangat buruk. Statusnya yang misterius di bawah asuhan Master Pedang juga memicu rasa iri kawan-kawannya. Namun, semangatnya terbakar hebat setelah mengetahui bahwa sang ayah ternyata adalah salah satu pendekar legendaris. Kini, Zero harus membuktikan kekuatannya melewati berbagai rintangan demi meraih gelar tertinggi tersebut.
Sampul Novel Putra Rahasia Jodoh Alfaku, Penolakan Terakhirku
8.9
Sebagai pewaris Serigala Putih, aku dikhianati oleh Alpha Kaelan yang memiliki keluarga rahasia. Orang tuaku bahkan tega mencuri dana kawanan demi membiayai selingkuhannya. Aku hanya dianggap alat penghasil keturunan sebelum akhirnya dibuang. Saat mereka berencana membiusku di hari ulang tahun ke-18, aku berpura-pura pingsan lalu melarikan diri. Namun, sebelum menghilang, aku mengirimkan kado berisi bukti kejahatan mereka untuk menghancurkan segalanya.