APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Hati Sang Pewaris

Rahasia Hati Sang Pewaris

Siti, gadis desa yang gigih, tak sengaja bertemu Reza, putra mahkota bisnis perhotelan yang menutupi jati dirinya. Perbedaan kasta memicu ketegangan hebat di antara mereka, namun takdir justru menyeret keduanya ke dalam pusaran misteri kelam yang berbahaya. Di tengah kepungan dusta dan ancaman nyata, mampukah perasaan tulus mereka bertahan? Inilah kisah perjuangan cinta melawan rahasia besar di balik kemegahan harta dan kasta sosial yang memisahkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rudi, manager hotel, merasa sedikit lelah dengan persiapan penyambutan esok pagi. Ia belum pernah melihat rupa bos besarnya yang baru dilantik itu. Takut berbuat silap di hari pertama perkenalan.

Dua staf kesekretariatan yang duduk memakai baju piyama merengut mengantuk. Kepala divisi dan kepala koki juga terkantuk-kantuk duduk menunggu arahan manager. Beberapa staff setiap divisi juga bolak-balik memberikan laporan progress persiapan. 

Siti dengan seragam dinasnya duduk berbaur setelah turun dari lantai lima-puluh-dua. Ia terlihat agak pucat, memijit tengkuk yang terasa mau jatuh. Ia berusaha untuk tidak tidur. Staff yang bertugas shift malam itu harusnya yang bekerja tetapi sedang sibuk dengan persiapan penyambutan. 

Akhirnya, persiapan selesai dan mereka bubar. Rudi kembali mewanti-wanti agar tidak terlambat besok. Ia lalu menatap Siti yang sedang duduk membaca beberapa berkas yang masih belum tertangani sembari menghela napas, berat. Berharap besok lancar. 

Paginya …

Siti merapikan beberapa berkas dokumen yang tergeletak di atas meja. Ia juga merapikan sejenak rambut mullet-nya yang hanya diberi dry shampoo. Ia masih belum sempat keramas setelah tiga hari berturut-turut harus menjalani shift malam. 

Ia bergegas menuju lift hendak ke lobi menunggu tamu agung yang dikabarkan akan tiba pagi-pagi sekali. Saat pintu lift akan menutup, tangannya mencegah dan pintu kembali terbuka. Ia merapikan rambutnya dan melangkah masuk dengan elegan. Setelah masuk, ia merapikan seragamnya dan agak memijit kepalanya. Hentakan larian tadi agak berat di kepalanya.

Seseorang di sampingnya menegur, bertanya hendak ke lantai berapa. Siti berpaling ke arah penanya. Saat akan menjawab, ia terperangah. Pria itu dari kamar suite semalam. Alis terangkat yang bertengger di wajah elegan pria itu semakin memukau Siti.

“Emm … lobi lounge,” sahut Siti tanpa sadar. Wajah pria itu semakin lekat, mempertanyakan lobi yang mana. Namun, pria itu teringat. Lobi yang dimaksud gadis di hadapannya pasti lobi yang berada di area pintu utama masuk hotel. Pria itu tersenyum memperlihatkan sederet gigi putih bersihnya, lalu menekan tombol G. 

Lift tertutup dan segera menuruni ruang listrik dan tiba di ground floor. Siti melangkah keluar dari lift namun masih belum memalingkan wajahnya meski pria itu sedang menutupi sebagian wajah dari hadapan lift. Di luar sana tim penyambutan tamu agung hotel sudah standby sedari pukul enam. Rasa kantuk dan dingin masih menggigit.

Siti mendengar suara manager yang memanggilnya. Sejenak ia berpaling dan menyahut. Namun pintu lift sudah tertutup dan mata Siti mengarah ke atas pintu yang menunjukkan pintu berhenti di basement hotel.

Suara manager yang tidak sabaran membuat Siti tersadar. Ia bergegas menuju pintu utama hotel dan bergabung bersama dengan yang lain. Ia berdiri di barisan penyambutan karpet merah.

Pikiran Siti masih teringat pada pria tadi. Tadi malam lewat dini hari, pria itu meminta pihak hotel untuk menyediakan makan malam. Hal yang sangat memusingkan! Restoran hotel dan lobi lounge tentu saja sudah tutup. Akhirnya ia terpaksa keluar menuju supermarket membeli makanan siap saji dengan beberapa sayur dan telur. Pria itu tidak terima. 

“Kenapa tidak pesan saja di restoran luar,” ujarnya datar. Siti yang masih terkantuk-kantuk seperti terketuk di kepala dan ia menepuk jidat. Iya, benar! Kenapa tidak pesan di aplikasi online saja!

“Saya juga belum makan, Tuan. Sisanya boleh berikan untuk saya,” sahut Siti berkilah. Alasannya memang masuk akal tapi itu bukan dari bagian pelayanan hotel untuk tamu. Pria itu mengiyakan. Ia memberikan dapur untuk Siti memasak.

“Aku harap masakanmu tidak membuatku makin tidak bisa tidur,” ucap pria itu disambut acungan jempol oleh Siti.

Siti segera memasak dan menghidangkan dua cup besar mie instan rasa soto lengkap dengan telur ceplok dan sayur mayur. Pria itu duduk di hadapan dua cup dan memandang Siti bolak-balik. Siti tersenyum menyeringai. Segera saja ia meraih cup miliknya dan memakannya dengan lahap. Ia belum makan dengan benar semenjak tiba tadi.

Pria itu menatap Siti dengan lekat lalu tersenyum sumringah. Ia ikut mengambil cup miliknya dan mulai menyantap dengan perlahan. Rasa yang nikmat. Teringat akan makanan mewah yang ia nikmati selama ini. Tidak sesedap yang disajikan malam ini.

Keduanya selesai melahap dan kedua cup kosong. Siti tertawa renyah menatap ke arah tamunya itu. Kemudian, ia meminta izin membersihkan meja dan keluar sembari membuang sampah bekas makanan. Ia mengucapkan terima kasih mendalam, ia berharap tamunya tidak mengajukan komplain atas pelayanan sajian yang diberikan. 

Pria itu tersenyum mengiyakan. Ia hendak memberikan tip kepada Siti namun Siti bergegas pergi tanpa berniat untuk berlama-lama lagi. Ia sangat berharap tamunya tidak mengajukan komplain, itu saja!

Pagi ini, penyambutan tamu yang terkesan sangat meriah tampak membosankan. Sudah berlalu satu jam lebih, tetapi orang yang ditunggu belum datang juga. Para staf tampak mulai gusar. Mereka lelah berdiri lama dan beberapa ada yang menepi ke pintu masuk dan tangga. 

Rudi gusar dan berkali-kali melihat ke arah jam tangannya. Ia menerima pesan masuk. Ia terlihat tambah kesal setelah membaca pesan. Ia berteriak dan memerintahkan para staf untuk mengecek kamar hotel.

“Bos baru kita menginap di hotel semalam. Kenapa kalian tidak memberitahuku?!” teriak Rudi keras. Para staf keheranan. Beberapa dari mereka berlarian ke dalam dan berencana mengecek nama dalam daftar tamu. Tetapi, mereka tidak menemukan nama Reza Managung!

Siti masuk ke dalam dan duduk di sofa lobi. Ia merasa hendak pitam. Ia bergegas meraih gula sachet di saku jasnya. Ia mengulum pelan. Hipoglikemi muncul di saat seperti ini. Ia menundukkan kepala merasakan setiap saraf perlahan mengendur. Kepalanya mulai tenang.

Siti mengangkat kepalanya dan melihat kerumunan di teras hotel. Sepertinya bos besar sudah tiba! Bos baru diangkat itu memang belum pernah diketahui siapapun. Siti berdiri perlahan, melangkahkan kaki ke tempat barisan penyambutan. 

Namun, belum tiba ia di teras sana, di pintu luar hotel ia berhenti lagi karena matanya terasa buram dan kepala agak berkunang. Genggaman tangannya menahan rasa sakit. Bekas gula sachet di tangannya teremas dengan kuat. 

Dion, sekuriti hotel, yang bertugas di depan pintu pagi itu menghampirinya dan berusaha untuk memapahnya. Siti menahan tubuh berdiri dengan bantuan Dion. Ia menghela napas pelan dan kembali mengulum gula pocket yang kedua. Biasanya satu sachet cukup, mungkin ini sudah sangat parah. 

Siti melepas tangan sekuriti perlahan. Ia merapikan rambut dan jasnya sebelum mengucapkan terima kasih atas bantuan Dion dan melangkah ke teras hotel. 

Tampak Rudi tersenyum, tertawa, bicara sambil tertawa lagi, menggoyang-goyangkan tangan bos besar, lalu mempersilakan rombongan melangkah ke dalam. 

Siti tidak sadar berjalan menghadap rombongan yang sedang berjalan ke arah pintu masuk hotel. Di atas karpet yang sama, Siti berjalan dengan mata yang semakin buram. Rudi dan para staf berseru keras, tetapi tampak Siti tidak mendengar. Ia tengah sibuk memapah diri sendiri.

Bos besar berdiri tepat di hadapan Siti. Siti yang masih meraba langkah dan menyadari kakinya di atas karpet, berhenti. Ia menatap sepasang sepatu pria di depannya. Ia terkesiap! Segera ia mengangkat kepala.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjerat dalam kontrak rumit yang memaksa dirinya menjadi mata-mata untuk mengawasi seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tidak terduga justru mengubah segalanya dan membuat nasib Alexa kini terjepit di antara dominasi dua CEO sekaligus. Terperangkap dalam situasi yang penuh risiko, ia harus menghadapi kendali dua pria berkuasa tersebut sembari menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya dan penuh dengan tekanan emosional.
Sampul Novel Cinta di Jalur Cepat
7.8
Dahulu Deddy menyelamatkan Nayla, hingga saat Deddy koma, Nayla membalas budi dengan menikahinya dan menyembuhkannya. Namun, kembalinya cinta pertama Deddy memicu perceraian. Meski diremehkan, Nayla ternyata peretas jenius, pembalap, dan dokter ahli. Saat Deddy memohon untuk kembali karena menyesal, seorang CEO tampan muncul mengklaim Nayla sebagai istrinya. Nayla pun terkejut menghadapi situasi tak terduga ini di tengah pembuktian jati dirinya.
Sampul Novel Dalam Genggaman Sang Penguasa
7.9
Jonathan Smith berhasil mengubah nasibnya dari kemiskinan menjadi orang terkaya di kota Rivera berkat kecerdasan dan kerja kerasnya. Meski banyak rival bisnis dan musuh berusaha menjatuhkannya, ia tetap tak tergoyahkan di puncak kekuasaan. Kerajaan bisnisnya justru kian perkasa dan tak tersentuh setelah ia resmi menjabat sebagai Perdana Menteri. Kini, Jonathan berdiri angkuh mengendalikan segalanya dari kursi kepemimpinan tertingginya.
Sampul Novel Dikira Miskin Oleh Keluarga
9.6
Penampilan sederhana Gunawan sering kali membuat orang tuanya salah paham hingga mereka menganggapnya hidup dalam kemiskinan. Namun, di balik kesederhanaan yang ia tunjukkan sehari-hari, tersimpan sebuah rahasia besar mengenai status finansialnya yang sesungguhnya. Siapa sangka bahwa pria yang dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri ini sebenarnya adalah seorang miliarder sukses dengan kekayaan yang sangat luar biasa melimpah.
Sampul Novel Kau Bukan Sahabatku-Kau Perusak Rumah Tanggaku
9.5
Putri Wijaya mengira empat tahun pernikahannya dengan Dimas Satria, seorang CEO sukses, adalah kebahagiaan yang sempurna. Namun, dunia wanita cerdas dan lembut ini runtuh seketika saat sebuah video membongkar pengkhianatan suaminya. Dimas ternyata telah menikah lagi secara diam-diam dengan Rina, sahabat yang sudah dianggap Putri seperti adik sendiri. Di tengah hancurnya kepercayaan, Putri harus menghadapi kenyataan pahit bahwa orang terdekatnya adalah perusak rumah tangganya.
Sampul Novel KEKASIH HALALKU
9.3
Seorang wanita muda yang terbiasa hidup manja sebagai putri pengusaha kaya harus menghadapi garis takdir yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia terpaksa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya untuk menjadi seorang istri muda. Menikah dengan pria yang memiliki perbedaan usia sangat jauh membuat dunianya berubah drastis. Kini, ia harus berjuang menjalani peran barunya dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia harapkan terjadi di hidupnya.