APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA IBU MERTUAKU

RAHASIA IBU MERTUAKU

Ada misteri kelam yang terselubung di balik keluarga suamiku. Aku selalu dicekam rasa takut yang luar biasa tiap kali harus berhadapan dengan ibu mertuaku sendiri. Tatapan matanya yang liar serta bunyi kecapan aneh dari mulutnya terasa sangat mengerikan. Situasi semakin mencekam saat ia menyadari bahwa hari persalinanku sudah di depan mata. Aku merasa terancam oleh rahasia besar yang ia sembunyikan dariku di saat aku sedang sangat rentan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Na, kamu di sini?" tanya ibu, ikut duduk di sampingku saat aku menunggu mas Harto di teras.

Aku terkejut dengan kehadiran ibu yang mendadak. Entah kapan ibu datang, aku sama sekali tidak mendengar derap langkah ibu. Padahal lantai rumah ini dari kayu. Aku berjalan saja terdengar, masa iya ibu tidak?

"I-iya Bu, lagi nunggu mas Harto," jawabku, sedikit menggeser posisi dudukku.

Melihatku bergeser, tatapan ibu berubah nyalang. Namun hanya sepersekian detik saja. Setelah itu tatapannya kembali normal.

"Oh... Apa Ibu boleh tanya? Kamu hamil Na?" tanya ibu, menatap perutku lekat.

Aku terdiam. Apa ibu tidak mengetahui soal kehamilanku? Perutku memang masih rata, karena usia kandungan baru saja memasuki bulan pertama. Apa mas Harto tidak menceritakan kabar bahagia ini pada ibunya? Secara ini calon cucu pertamanya, masa iya mas Harto main rahasia segala?

Baru saja mulutku terbuka ingin menjawah pertanyaan ibu, mas Harto datang dan buru-buru turun dari motornya menghampiriku.

"Na, kamu di sini? Sedang apa?" tanya mas Harto terlihat panik.

"Aku lagi nunggu kamu Mas," jawabku, menatap mas Harto bingung.

"Har, baru pulang?" tanya ibu, tersenyum manis menatap mas Harto yang baru datang.

"Eh, Ibu? I-iya Bu, baru aja. Ibu tumben di luar. Ada apa Bu?" tanya mas Harto, dari raut wajahnya terlihat gugup dan tidak suka.

"Ibu cuma mau duduk saja. Bapak kamu mana Har?" tanya ibu, mencari keberadaan bapak.

"Lagi di pabrik, mungkin sebentar lagi pulang," jawab mas Harto singkat, padat dan jelas.

Aku hanya diam menyimak perbincangan ibu dan anak di depanku. Suasana hati mas Harto sepertinya sedang tidak baik. Jadi aku memutuskan tidak ikut-ikutan.

Tak lama berselang setelah kepulangan mas Harto, adzan magrib mulai terdengar. Ibu yang tadinya duduk santai di sampingku langsung berdiri, dan lalu berlari masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. Aku dan mas Harto hanya saling tatap melihat keanehan ibu.

"Ibu kenapa Mas?" tanyaku penasaran.

Mas Harto hanya menjawab dengan pundak yang ia naik lalu turunkan. "Ayo masuk! Sudah magrib, tidak boleh duduk di luar rumah!" ajak mas Harto, menggandeng lenganku masuk.

Rumah dalam keadaan sepi. Penerangan juga tidak menyala sama sekali. Sepertinya ibu sudah masuk kembali ke kamarnya tanda menyalakan lampu rumah.

"Mas, nyalain lampunya dulu! Aku takut kalau gelap-gelap begini," pintaku, merapatkan tubuhku.

"Iya sebentar! Kamu masuk ke kamar aja dulu, nanti aku nyusul!" titah mas Harto, mengantarkan sampai ke depan pintu kamar.

Walaupun pencahayaan rumah mulai gelap, tapi aku bisa melihat jelas pintu kamar ibu. Kamar ibu dalam posisi tergembok dari luar. Begitu juga dengan kamar yang kosong itu.

Sesampainya aku di kamar, aku gegas menyalakan lampu. Ruang kamar terang benderang, berbeda jauh dengan keadaan di luar.

"Nin, sedang apa?"

Aku berbalik menatap mas Harto yang berdiri di ambang pintu dengan senyum menyeringai. Bulu kudukku seketika saja meremang. Ada yang aneh dengan senyum mas Harto, tidak seperti biasanya.

"Mas, kamu kenapa?" tanyaku, masih berdiri di dekat saklar lampu tanpa mau mendekat.

Mas Harto mendekat perlahan. Seringai masih terlihat jelas di wajahnya. Merasa ada yang tidak beres, aku segera menghindar.

"Mas, aku mau ke toilet dulu!" pamitku, berjalan cepat melewati mas Harto yang hanya diam.

Beberapa kali aku menengok ke belakang karena takut mas Harto mengikutku. Karena tidak fokus berjalan, aku menabrak sesuatu.

"Aaa...."

"Kenapa kamu Yank?" tanya mas Harto, menatapku heran.

Mas Harto berdiri di depanku. Seketika aku langsunh menoleh ke arah pintu kamar yang masih terbuka.

Kosong...

Di dalam kamar tidak terlihat mas Harto. Padahal aku sangat yakin, jika tadi mas Harto ada di sana. Tapi kenapa mas Harto sekarang ada di depanku? Apa mas Harto juga ikut ke dapur? Tapi kenapa aku tidak melihat dia berjalan mendahuluiku?

Ketakutan kian menjalar. Saat mas Harto di depanku menyentuh pundakku, aku dengan cepat menepisnya dan memundurkan langkahku menjaga jarak.

"Kamu kenapa Yank? Ada apa?" tanya mas Harto, mendekat mencoba menyentuh tanganku.

Dalam remangnya pencahayaan, aku meneliti mas Harto dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semuany normal, sama seperti mas Harto biasanya. Tanpa bisa berkata-kata lagi, aku langsung menghambur memeluknya. Air mata tak aku pedulikan lagi. Aku menangis dengan tubuh bergetar dalam pelukan suamiku.

"Sayang, kamu kenapa sih? Kenapa malah menangis? Bukannya tadi aku bilang di kamar aja? Kenapa malah keluar?" Mas Harto memberondongku dengan banyak pertanyaan. Tapi tak ada satu pertanyaan pun yang aku jawab.

"Yasudah, kita ke kamar dulu!" ajak mas Harto, menggandengku ke kamar.

Sesampainya di kamar, kami berdua memilih duduk di atas tempat tidur. Meskipun rumah mertuaku terbuat dari kayu dan bukan bangunan beton. Rumah yang terkesan sederhana ini, nyatanya memiliki perabot yang lengkap di dalamnya. Termasuk kamar yang aku tempati ini. Tempat tidur yang besar, televisi besar, meja rias, sofa empuk dan dua buah lemari besar. Yang aku tafsir harga dari keseluruhan puluhan juta.

"Kamu kenapa? ayo cerita!" ucap mas Harto, berkata lembut sambil memandang wajahku.

Pandangan kami beradu. Meskipun mataku masih dipenuhi air sisa air mata. Aku dapat melihat jelas gurat kekhawatiran mas Harto dari wajahnya.

"Tadi kamu di mana Mas? Kenapa kamu tiba-tiba ada di dapur? Bukannya tadi ada di kamar?" tanyaku, menghentikan tangisku.

Kening mas Harto saling bertaut. Ada keraguan di wajahnya saat mendengar pertanyaanku.

"Dari tadi Mas di dapur. Bukannya tadi kamu minta nyalakan lampu, jadi Mas keliling rumah," bantah mas Harto.

Aku terdiam mencerna semua kata-kata mas Harto. Jika tadi bukan dia, lalu siapa?

"Yank, kenapa diam? kamu kenapa? Memangnya apa yang kamu lihat di kamar?" tanya mas Hardi, menggoyang lenganku pelan.

"Tadi aku lihat kamu di kamar, tapi ternyata kamu ada di dapur. Mungkin aku hanya kelelahan. Lupakan saja Mas!" sahutku, tidak ingin memikirkan yang aneh-aneh.

Lahir dan besar di kota, membuat aku merasa tidak terlalu percaya dengan hal berbau mistis. Apalagi di jaman yang modern seperti ini. Mana mungkin masih ada hal yang seperti itu.

"Mas, tadi ibu tanya ke aku. Kamu tidak bilang kalau aku hamil?" tanyaku, melihat mas Harto diam.

Wajahnya menegang, ia menoleh menatapku dalam. "Ibu tanya itu ke kamu? Terus kamu jawab apa?"

Aku yang bertanya malah mas Harto yang balik bertanya. Lama-lama sikap mas Harto semakin aneh jika membahas soal ibunya.

"Aku tidak jawab apa-apa. Kamu kan tadi keburu datang, jadi aku belum sempat mengiyakan. Memangnya ibu belum tau?" Aku mengulangi pertanyaanku tadi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta
8.3
Hyura Anastasya terobsesi mencari reinkarnasi Fino dari buku kuno kakeknya, namun pencarian itu justru mengancam hubungan dengan sahabat dan cinta sejatinya. Di tengah kemelut, muncul sosok hantu laki-laki yang ternyata memegang kunci atas segala teka-teki hidupnya. Mengandalkan kemampuan telepati unik yang ia miliki, Hyura harus berjuang menuntaskan misteri besar ini. Mampukah ia menyelesaikan masalahnya saat telepati itu terasa tak berguna untuk urusan cinta?
Sampul Novel DIA
9.5
DIA
Kebangkitan sesosok mayat secara misterius memicu gelombang kepanikan luar biasa di tengah masyarakat. Fenomena horor yang melampaui logika ini tidak hanya membawa teror fisik bagi mereka yang menyaksikannya, tetapi juga perlahan menguak sebuah rahasia kelam yang selama ini terkubur rapat. Di balik kehebohan jenazah yang hidup kembali tersebut, tersimpan kebenaran terlarang yang siap mengguncang segalanya dalam balutan misteri yang sangat mencekam.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku
9.2
Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Sampul Novel Kuyang Kalimantan
9.1
Teror mistis menghantui tanah Kalimantan melalui legenda kuno yang haus darah. Fokus utama ancaman gaib ini mengincar para ibu hamil serta mereka yang tengah berjuang dalam proses persalinan. Di tengah suasana mencekam, hukum adat menjadi perlindungan terakhir yang mutlak. Siapa pun, termasuk anggota suku asli, dilarang keras melanggar pantangan suci yang telah ditetapkan secara turun-temurun. Pelanggaran kecil sekalipun dapat berujung pada petaka yang sangat fatal.
Sampul Novel Mr. Reagan
8.2
Reagan Adam dikenal sebagai miliarder rupawan yang dipuja banyak wanita. Namun, di balik pesonanya, ia adalah dalang pembunuhan berantai yang mencekam London. Hidupnya berubah saat bertemu Clara, gadis toko bunga yang ceria. Awalnya Clara adalah target buruan, namun Reagan justru terobsesi memilikinya. Kini, Clara terjebak dalam dekapan monster tampan yang mengklaim seluruh hidupnya. Akankah ia pasrah menjadi milik pria berbahaya yang bisa menghabisinya kapan saja?