APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Penculikan 11 Tahun Silam

Rahasia Penculikan 11 Tahun Silam

Almann terpaksa mendekam di balik jeruji besi akibat tuduhan penculikan yang terjadi sebelas tahun silam. Namun, di balik jeruji itu tersimpan sebuah rahasia besar yang menyakitkan. Ia sebenarnya tidak bersalah dan hanya berusaha memenuhi janji sucinya kepada seorang wanita yang sangat ia cintai. Sayangnya, wanita itu adalah sosok yang tidak akan pernah bisa ia miliki seutuhnya. Almann memilih bungkam demi menjaga komitmen terakhirnya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hinra menggeliatkan badannya. Meregangkan tangan dan kaki. Membuang penat setelah lama tertidur. Sesekali ia mengerjapkan mata, tersugesti untuk menajamkan penglihatan yang terasa masih mengabur. Diliriknya jam dinding. Sudah hampir jam 3 sore.

“Lama juga aku tidur,” pikirnya.

Perlahan ia duduk. Menurunkan kedua kaki di sisi tempat tidur. Menggaruk tengkuknya sambil menguap. Kebanyakan tidur malah terasa capek. Akibat tidak ada kegiatan sama sekali selama tiga hari ini membuatnya gampang mengantuk. Belum lagi kalau malam ia tidak bisa tidur akibat terlalu banyak yang dipikirkan.

“Udah bangun?” suara Handari membuatnya sedikit kaget. ”Pangeran tidur akhirnya tersadar ya,” ejeknya sambil sedikit mengikik.

“Kenapa Kak Ai nggak bangunkan?”

“Biar aja, nggak tega mau bangunin. Lagian nggak ada yang mau dikerjain kan?”

“Bang Amir belum pulang?” Hinra mencari sosok teman sekamarnya itu.

Mereka menyewa dua kamar. Handari sekamar dengan Saliha, sementara Hinra ditemani Amir. Hanya siang saja Handari menemaninya, karena Saliha dan Amir sibuk ke sana-kemari menyelesaikan segala urusan. Dan tadi pagi mereka berdua sudah pergi sejak jam delapan pagi setelah selesai sarapan bersama.

“Tadi udah pulang sebentar sekitar jam satu. Tapi langsung pergi lagi. Katanya mau nyusul Kak Liha di kantor polisi.”

“Oohhh....” Hinra membulatkan bibirnya. Kak Saliha setiap hari memang selalu ke kantor polisi. Hinra sendiri hanya sekali datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan kesaksian. Sementara Bang Amir bolak-balik ke sekolahnya, mungkin mengurus surat pindah. Mereka juga pasti pergi ke kantor desa atau RT atau apalah itu untuk mengurus surat pindah domisili untuknya. Karena itu mereka selalu pergi dari pagi dan pulang saat hari mulai gelap.

“Kamu makan dulu ya. Kelewat jam makan siang dari tadi. Nanti masuk angin. Nasi bungkus punya kamu udah ngembang kayaknya kena kuah.” Handari mengeluarkan sebuah nasi bungkus dari dalam sebuah kantong plastik warna hitam.

Hinra berdiri dan berjalan menuju meja. Langsung duduk di kursi. Perutnya memang sudah lapar. Dia terbangun tadi juga karena bermimpi makan ayam kampung bakar kesukaannya.

Sekarang dia sudah mulai terbiasa memanggil kakak-kakaknya, rasa malu dan canggung mulai berkurang. Terutama dengan Handari. Kakaknya yang satu itu memang lebih lembut, lebih lucu, lebih enak diajak bercanda dibandingkan dengan Saliha.

Sejak malam pertama ia ikut mereka, saat malam itu mereka bicara dan membahas segala sesuatu tentang alasan kenapa sekarang ia berada di sini, Hinra mulai membuka hati untuk menerima kenyataan.

Dari yang ia dengar melalui cerita Saliha, Almann adalah teman kerja kakak sulungnya yang bernama Aily, yang kini sudah tiada. Saat Kak Aily meninggal dunia karena kecelakaan kerja, Bang Almann membawanya lari dari rumah tanpa izin.

Hinra merasa agak emosi saat mendengar cerita dari kakaknya. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia juga sangat merindukan Bang Almann. Tapi ia tidak berani mengutarakan, karena tatapan tajam dan dingin Saliha yang selalu muncul setiap kali ia menanyakan soal Bang Almann.

“Kok malah bengong? Nggak suka?” Handari menegurnya yang terlihat memandang lama nasi bungkus yang telah dibuka. “Kalau ikan kembung kamu bisa makan, kan?” tanyanya.

Sebab yang Handari tahu Hinra hanya tidak suka memakan ayam broiler. Kemarin saat lauk ayam broiler digoreng, Hinra bilang ia tidak bisa memakannya. Hinra hanya mau makan ayam kampung atau ayam merah. Sementara tidak ada menu itu di warung makan kecil. Hanya ada ikan kembung yang di panggang.

“Eehhh... Anu Kak... Kalau aku makan ikan, Bang Almann selalu memisahkan tulangnya. Dulu aku pernah ketulangan ikan. Jadi aku takut makan ikan langsung, kecuali ikan yang berdaging tebal.” Hinra menjawab dengan tidak enak hati.

Handari tercenung sesaat. Sejurus kemudian ia mendekat dan dengan telaten memisahkan tulang dari daging ikan kembung bakar yang tadi dibelinya.

“Makasih Kak.”

Handari mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Jadi tiap mau makan ikan, Bang Almann selalu pisahkan tulangnya untuk kamu?”

“He-em....” Hinra mengangguk sambil menjawab dengan bergumam. Mulutnya sudah penuh dengan nasi.

Handari merasa terenyuh dengan pengakuan Hinra. Sungguh Bang Almann benar-benar memperlakukan Hinra dengan sangat baik. Seperti yang dulu ia lihat saat Kak Aily masih ada bersama mereka.

“Tapi kamu kan udah besar. Masa’ nggak bisa misahin sendiri tulang ikannya.”

“Eemmm... Bang Almann bilang kalau aku misahin tulang ikan sendiri nanti tangan aku yang tercucuk tulang. Jadi sampai sekarang aku nggak berani.” Hinra menjawab dengan malu. Sementara Handari hanya menghela napas perlahan.

“Oh iya... Tadi pas Bang Amir pulang ada bawa surat sama kantong plastik. Katanya titipan dari teman sekolahmu. Perempuan, cantik lagi...”

Hinra menghentikan suapan. Dia tahu pasti siapa teman yang dimaksud. Mia... Hanya dia yang akrab dengannya, karena mereka bertetangga sejak ia dan Bang Almann baru pindah di desa kecil ini.

“Bang Amir tadi ke sekolahku lagi?”

“Iya, katanya semua udah beres. Besok kita ke sekolah buat ambil surat pindah, sekalian pamit sama Guru dan teman-temanmu, setelah itu kita langsung pulang ke kota.”

Kalimat terakhir dari Handari membuat selera makan Hinra mendadak hilang. Suatu desir dingin tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Terasa ada suatu luka menganga yang membuat perih. Mata dan hidungnya terasa mengembang. Meski tangan tetap menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya, semua terasa hambar tanpa rasa. Untuk menyudahi santapannya Hinra merasa tidak enak dengan Handari.

“Mana Kak, titipan temanku?”

“Habisin dulu makanannya, nanti Kakak berikan.” Handari menjawab tegas. Mau tidak mau Hinra melanjutkan makan.

***

Hinra membuka surat bersampul polos yang tadi Handari berikan. Sekarang kakaknya itu sedang berada di kamar sebelah. Sebuah toples plastik kecil yang juga dititipkan tadi ia letakkan di atas meja. Benar dugaannya, surat ini dari Mia. Terlihat tulisan rapi nan indah khas milik Mia begitu Hinra membuka lipatan surat itu.

“Hai Hinra.....

Apa Kabar? Kamu sekarang ada di mana? Kenapa udah dua hari kamu nggak ada kabar lagi? Nggak datang ke sekolah lagi?

Hinra, aku dengar selentingan kabar katanya kamu mau pindah sekolah. Benarkah? Apa pindah juga dari kampung kita?

Aku juga nggak pernah lagi liat Bang Almann di rumahmu. Rumahmu selalu gelap sejak waktu itu kamu pulang sekolah lebih awal.

Hinra jangan pindah ya... Aku sedih... Nanti aku nangis... Aku janji kalau kamu nggak jadi pindah aku akan baik sama kamu... Nggak marah-marah lagi. Aku nggak akan ngomel kalau bantu kamu ngerjain PR.

Hinra, aku titip emping melinjo kesukaan kamu. Aku nggak tahu siapa Abang ini, yang jelas aku melihat dia yang kemarin jemput kamu ke sekolah pakai mobil, dan udah dua hari ini dia bolak-balik ke sekolah kita.

Hinra cepat pulang, ya......

MIA.......”

Hinra menggoyang toples plastik kecil berisi emping yang dititipkan Mia. Hatinya sedih membaca surat dari teman sejak kecilnya itu. Bisa ia rasakan kesedihan Mia saat menulis surat yang sedang dibacanya kini.

“Aahh... Mia.... Kenapa harus ada kejadian seperti ini?” batinnya pilu. ”Masih banyak yang belum aku katakan padamu... Masih banyak yang belum kulakukan untukmu... Apakah ada kesempatan untuk kita di masa depan? Apakah aku harus mulai merelakanmu mulai dari sekarang?” Hinra menutup kedua belah mata dengan telapak tangan kanannya. Berharap tetesan bening itu tidak akan jatuh. Tapi gagal.

Lemah ia berdiri dan melangkah menuju tempat tidurnya. Dengan berbaring, kembali ia baca surat dari Mia, berulang kali. Sesekali pandangannya tertuju pada emping melinjo kesukaannya. Saat ini tidak ada selera untuk sekedar mencicipi camilan favoritnya itu.

Dipeluknya surat dari gadis kesayangannya, dan diingatnya kembali semua hal yang telah ia lewati bersama Mia. Hal yang tidak akan mungkin terulang lagi dalam hidupnya kelak.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Pengganti Pengasuh Anakmu
8.6
Lima tahun menikah tanpa anak, Salma harus menelan pil pahit saat Rifky memilih berpoligami demi keturunan. Padahal, mereka telah berjuang keras menjalani pengobatan bersama hingga akhirnya Rifky dinyatakan sembuh. Ironisnya, pria itu justru menikahi wanita pilihan ibunya, bukan bertahan dengan Salma. Kini, Salma terjebak dalam dilema besar: bertahan dalam pernikahan yang terbagi atau memilih bercerai demi harga diri dan prinsip hidupnya.
Sampul Novel Dendam Putri Liar Sang CEO
9.3
Dijual oleh ayahnya sendiri kepada Fahreza Murni, seorang CEO dingin, sang putri liar mengira ia dicintai hingga pengkhianatan menyakitkan terjadi. Fahreza justru memberikan pusaka ibunya kepada Elok, wanita manipulatif yang ia bela meski telah menghina warisan tersebut. Setelah diseret ke rehabilitasi, cinta berubah menjadi dendam membara. Saat Fahreza kembali memohon maaf, ia menerimanya hanya untuk menghancurkan Murni Group dari dalam sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel Istri Penebus Hutang
9.8
Elara, gadis penuh harapan di tengah kemiskinan, harus menghadapi kenyataan pahit akibat ulah ayahnya, Hasan. Demi melunasi utang keluarga yang menumpuk, Hasan memaksa Elara menikahi Raka, konglomerat misterius yang menguasai dunia bisnis namun tak pernah muncul di publik. Meski hatinya hancur dan air mata tertahan, Elara tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan sang ayah. Kini, nasibnya terikat pada sosok pria berkuasa yang tidak ia kenal.
Sampul Novel Jatuh Dalam Pesona Playboy
8.0
Claire Wilson ingin mengejar karier setelah lulus kuliah, namun sang ayah justru menjodohkannya dengan anak rekan bisnis. Menolak rencana itu, Claire bertemu Jayden Kim, model tampan asal Korea yang dikenal sebagai playboy kelas kakap. Mereka pun menjalin hubungan tanpa status yang singkat namun mendalam bagi Claire. Saat kontrak kerja Jayden di New York berakhir, ia memilih pergi demi prinsipnya yang anti cinta. Mampukah Claire meluluhkan hati pria yang alergi komitmen itu?
Sampul Novel Ketika Istriku Tidak Meminta Jatah Lagi
8.8
Habib merasa jenuh dengan Sheila, istrinya yang agresif namun tak kunjung hamil dalam pernikahan hambar mereka. Terbutakan nafsu, Habib memilih bercerai dan menikah lagi dengan wanita lain. Namun, tepat saat ia pergi, Sheila justru mengandung buah cinta yang selama ini mereka nantikan. Nasi telah menjadi bubur, Habib kini terjerat dalam penyesalan mendalam saat mengetahui rahasia kehamilan mantan istrinya. Akankah ia berusaha kembali pada Sheila?
Sampul Novel La Tahzan, Miss Lemot
8.6
Vinessa adalah gadis cantik nan ceria yang harus menelan pahitnya kenyataan hidup. Meski memiliki hati yang baik, kehadirannya tak pernah diharapkan dan selalu dipandang rendah oleh orang-orang di sekitarnya. Alih-alih menaruh dendam atas segala perlakuan buruk keluarganya, ia justru menerima hinaan tersebut dengan lapang dada sebagai bagian dari nasibnya. Simaklah perjuangan menyentuh hati Vinessa dalam menghadapi kerasnya dunia yang tidak memihaknya.