APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Pengantin Tersembunyi Tuan Muda

Rahasia Pengantin Tersembunyi Tuan Muda

Adelia terpaksa menggantikan posisi Helia, kakaknya yang hilang, untuk menikahi Darren Aditya. Darren adalah putra konglomerat yang dikenal dingin, misterius, dan selalu menutupi wajahnya karena cacat fisik. Meski rumor menyebutnya sebagai pria berbahaya dengan amarah yang sulit dikendalikan, Adelia justru menemukan kenyataan berbeda di balik topeng tersebut. Di balik sikap kerasnya, tersimpan luka mendalam dan kerinduan besar yang selama ini Darren sembunyikan dari dunia.
Bab
Bagikan

Bab 2

Adelia terbangun di tengah malam, diselimuti keringat dingin. Suara angin malam yang berbisik di luar jendela terdengar seperti bisikan dari dunia lain, mengingatkannya pada percakapan dengan Darren beberapa jam lalu. Kata-kata pria itu bergema dalam pikirannya, menyatu dengan bayang-bayang di kamar. Ia tak tahu apakah itu pertanda atau sekadar ilusi, tapi yang pasti, ia tidak bisa tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, berusaha mencari ketenangan di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang aman.

Ia mengingat betapa Darren menatapnya, seolah sedang mencoba membaca rahasia di balik ekspresinya. Ada keheningan yang berat, yang tak bisa dipecahkan dengan kata-kata. Adelia tahu bahwa malam itu bukan hanya tentang rahasia dan pengorbanan, tetapi tentang sebuah awal yang penuh dengan kebingungan dan ketakutan. Namun, ada satu hal yang ia tahu pasti-ia tidak akan mundur. Tidak sekarang, tidak pernah.

Sinar bulan yang menembus tirai memberikan cahaya yang lembut di sudut kamar. Adelia berjalan ke jendela, menatap kebun yang luas di bawahnya, tempat bunga-bunga mekar dengan keindahan yang kontras dengan kekosongan yang ia rasakan. Kepingan kenangan masa kecilnya muncul di benaknya, menceritakan kisah yang hampir terlupakan. Ia teringat saat ia dan Helia, kakaknya, bermain di taman ini. Helia selalu memiliki senyuman yang cerah, seolah tak ada yang bisa merusak kebahagiaan di wajahnya. Namun, sejak Helia menghilang, segala sesuatunya berubah.

Adelia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kesedihan yang datang menyerang. Ia tahu bahwa kehadiran Helia tak hanya mengisi rumah dengan keceriaan, tetapi juga membawa rasa aman yang kini hilang. Adelia merasakan kekosongan di hatinya, yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia pernah benar-benar tahu siapa kakaknya. Ketika Helia menghilang, ada sepotong diri Adelia yang turut menghilang bersamanya.

"Aku harus melawan ketakutan ini," katanya pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan masa lalu menahan langkahku."

Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk dengan lembut. Adelia menoleh, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu itu bukan pelayan atau pengurus rumah, karena mereka tidak pernah datang ke kamar di tengah malam. Ia melangkah mendekat, ragu-ragu membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri Darren, dengan penutup wajah hitamnya yang menambah kesan misteri. Matanya, meskipun terhalang oleh kain, menatapnya dengan serius.

"Adelia," suara Darren terasa lebih lembut dari sebelumnya. "Kau terjaga?"

Adelia mengangguk, merasa kaget sekaligus cemas. "Aku tidak bisa tidur," jawabnya, suaranya hampir terdengar seperti bisikan. "Ada terlalu banyak yang harus kupikirkan."

Darren terdiam sejenak, menatap Adelia dengan mata yang sulit ditafsirkan. Ia memasukkan tangan ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sehelai surat. "Aku ingin kau membaca ini. Ini dari ayahku, Arsen Aditya."

Adelia menerima surat itu dengan gemetar. Kertasnya sudah usang, seakan telah berusia bertahun-tahun. Bau tinta dan kertas lama menyatu, mengingatkan Adelia pada buku-buku sejarah di perpustakaan. Ia menatap Darren, yang kini tampak lebih rapuh di balik penutup wajahnya. Ada semacam keraguan dalam sikapnya, seperti sedang mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga.

"Kenapa kau memberiku ini?" Adelia bertanya, matanya tertuju pada surat di tangannya.

"Karena ini adalah bagian dari kebenaran yang harus kau tahu," Darren menjawab, suara yang berat dan penuh tekanan. "Ini adalah awal dari semua yang akan datang, dan aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendiri dalam ini."

Adelia menghela napas dan membuka surat itu. Tinta yang tergores di atas kertas sudah mulai memudar, namun kata-katanya masih terbaca jelas.

Untuk putraku, Darren,

Jika surat ini jatuh ke tanganmu, maka waktu telah tiba untuk mengungkapkan segalanya. Aku tahu, pilihan ini mungkin akan mengubah segalanya, tetapi aku tidak bisa lagi menyimpan rahasia ini. Ada sebuah pengkhianatan yang telah menghancurkan segalanya, dan aku ingin kau tahu bahwa tidak ada satu pun dari kita yang bebas dari dosa.

Jangan biarkan rasa sakit menguasaimu. Jangan biarkan kebencian merusak hatimu. Jika kau ingin memahami semua ini, maka kau harus siap untuk menghadapi kenyataan. Kau mungkin telah dibesarkan dengan bayangan kebohongan, tapi ingatlah, kau tetaplah putraku, Darren Aditya, dan kau berhak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya.

Adelia terkejut. Kata-kata itu seolah membawa cahaya baru ke dalam kegelapan yang meliputi hidupnya. Ia memandang Darren, yang kini berdiri di sana, dengan ekspresi yang lebih lemah dari sebelumnya. Ia tahu bahwa surat itu bukan hanya sekadar kertas tua, tetapi sebuah kunci untuk membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.

"Apa maksudnya, Darren? Apa yang harus aku pahami?" Adelia bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Darren memejamkan mata, seolah mencoba mengumpulkan keberanian. "Ayahku berbicara tentang pengkhianatan, Adelia. Sebuah pengkhianatan yang menghubungkan kita berdua. Dan ada satu orang yang memiliki kunci untuk membuka semua ini. Orang itu adalah kakakmu, Helia."

Adelia merasakan darahnya berhenti mengalir. "Helia?" bisiknya, suaranya terdengar seperti sebuah keheningan yang mencekam. "Apa yang terjadi dengan Helia? Apakah... apakah dia masih hidup?"

Darren menatapnya, matanya yang tertutup kain seolah mengungkapkan sebuah kesedihan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Itulah yang harus kau cari tahu, Adelia. Rahasia ini lebih besar dari yang kau kira, dan Helia adalah bagian dari kunci itu. Tapi hati-hati, karena ada pihak-pihak yang akan melakukan apa saja untuk menjaga kebenaran tetap tersembunyi."

Adelia merasa jantungnya berdegup kencang, seakan ingin meledak. Seluruh dunia seakan berputar di sekitarnya, membuatnya merasa terjebak di dalam badai perasaan yang membingungkan. Ada rasa takut, harapan, dan kebingungan yang bercampur aduk, seperti tinta yang mengalir di atas kertas.

"Darren, aku harus tahu. Aku harus tahu kebenarannya," ucapnya dengan suara yang lebih kuat, menahan air mata yang ingin keluar. "Apapun yang terjadi, aku akan mencarimu, Helia. Aku berjanji."

Darren mendekat, menatap Adelia dengan tatapan yang penuh emosi. "Adelia, jika kau benar-benar ingin melangkah ke jalan ini, kau harus siap untuk kehilangan segala-galanya. Tidak ada jaminan, tidak ada kepastian. Tapi jika kau berani, maka aku akan berada di sisimu, menghadapi kegelapan ini bersama-sama."

Adelia memandangnya, matanya berkaca-kaca namun dipenuhi dengan tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tak ada lagi yang bisa membuatku takut. Aku akan mencari kebenaran, bahkan jika itu berarti harus menghadapi kegelapan terburuk."

Darren mengangguk pelan, seolah menerima takdir yang tak bisa dihindari. Ia mengulurkan tangannya, dan Adelia menerimanya dengan gemetar. Di malam itu, di antara ketakutan dan harapan, mereka berdua tahu bahwa jalan di depan akan penuh dengan ujian. Tapi untuk pertama kalinya, Adelia merasa ada alasan untuk melawan, ada alasan untuk berjuang. Karena di dunia yang penuh dengan rahasia dan kebohongan ini, hanya mereka berdua yang bisa mengungkap kebenaran yang terpendam.**Bab 2: Jejak Kenangan yang Terlupakan**

Adelia terbangun di tengah malam, diselimuti keringat dingin. Suara angin malam yang berbisik di luar jendela terdengar seperti bisikan dari dunia lain, mengingatkannya pada percakapan dengan Darren beberapa jam lalu. Kata-kata pria itu bergema dalam pikirannya, menyatu dengan bayang-bayang di kamar. Ia tak tahu apakah itu pertanda atau sekadar ilusi, tapi yang pasti, ia tidak bisa tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, berusaha mencari ketenangan di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang aman.

Ia mengingat betapa Darren menatapnya, seolah sedang mencoba membaca rahasia di balik ekspresinya. Ada keheningan yang berat, yang tak bisa dipecahkan dengan kata-kata. Adelia tahu bahwa malam itu bukan hanya tentang rahasia dan pengorbanan, tetapi tentang sebuah awal yang penuh dengan kebingungan dan ketakutan. Namun, ada satu hal yang ia tahu pasti-ia tidak akan mundur. Tidak sekarang, tidak pernah.

Sinar bulan yang menembus tirai memberikan cahaya yang lembut di sudut kamar. Adelia berjalan ke jendela, menatap kebun yang luas di bawahnya, tempat bunga-bunga mekar dengan keindahan yang kontras dengan kekosongan yang ia rasakan. Kepingan kenangan masa kecilnya muncul di benaknya, menceritakan kisah yang hampir terlupakan. Ia teringat saat ia dan Helia, kakaknya, bermain di taman ini. Helia selalu memiliki senyuman yang cerah, seolah tak ada yang bisa merusak kebahagiaan di wajahnya. Namun, sejak Helia menghilang, segala sesuatunya berubah.

Adelia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kesedihan yang datang menyerang. Ia tahu bahwa kehadiran Helia tak hanya mengisi rumah dengan keceriaan, tetapi juga membawa rasa aman yang kini hilang. Adelia merasakan kekosongan di hatinya, yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia pernah benar-benar tahu siapa kakaknya. Ketika Helia menghilang, ada sepotong diri Adelia yang turut menghilang bersamanya.

"Aku harus melawan ketakutan ini," katanya pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan masa lalu menahan langkahku."

Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk dengan lembut. Adelia menoleh, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu itu bukan pelayan atau pengurus rumah, karena mereka tidak pernah datang ke kamar di tengah malam. Ia melangkah mendekat, ragu-ragu membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri Darren, dengan penutup wajah hitamnya yang menambah kesan misteri. Matanya, meskipun terhalang oleh kain, menatapnya dengan serius.

"Adelia," suara Darren terasa lebih lembut dari sebelumnya. "Kau terjaga?"

Adelia mengangguk, merasa kaget sekaligus cemas. "Aku tidak bisa tidur," jawabnya, suaranya hampir terdengar seperti bisikan. "Ada terlalu banyak yang harus kupikirkan."

Darren terdiam sejenak, menatap Adelia dengan mata yang sulit ditafsirkan. Ia memasukkan tangan ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sehelai surat. "Aku ingin kau membaca ini. Ini dari ayahku, Arsen Aditya."

Adelia menerima surat itu dengan gemetar. Kertasnya sudah usang, seakan telah berusia bertahun-tahun. Bau tinta dan kertas lama menyatu, mengingatkan Adelia pada buku-buku sejarah di perpustakaan. Ia menatap Darren, yang kini tampak lebih rapuh di balik penutup wajahnya. Ada semacam keraguan dalam sikapnya, seperti sedang mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga.

"Kenapa kau memberiku ini?" Adelia bertanya, matanya tertuju pada surat di tangannya.

"Karena ini adalah bagian dari kebenaran yang harus kau tahu," Darren menjawab, suara yang berat dan penuh tekanan. "Ini adalah awal dari semua yang akan datang, dan aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendiri dalam ini."

Adelia menghela napas dan membuka surat itu. Tinta yang tergores di atas kertas sudah mulai memudar, namun kata-katanya masih terbaca jelas.

*Untuk putraku, Darren,*

*Jika surat ini jatuh ke tanganmu, maka waktu telah tiba untuk mengungkapkan segalanya. Aku tahu, pilihan ini mungkin akan mengubah segalanya, tetapi aku tidak bisa lagi menyimpan rahasia ini. Ada sebuah pengkhianatan yang telah menghancurkan segalanya, dan aku ingin kau tahu bahwa tidak ada satu pun dari kita yang bebas dari dosa.*

*Jangan biarkan rasa sakit menguasaimu. Jangan biarkan kebencian merusak hatimu. Jika kau ingin memahami semua ini, maka kau harus siap untuk menghadapi kenyataan. Kau mungkin telah dibesarkan dengan bayangan kebohongan, tapi ingatlah, kau tetaplah putraku, Darren Aditya, dan kau berhak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya.*

Adelia terkejut. Kata-kata itu seolah membawa cahaya baru ke dalam kegelapan yang meliputi hidupnya. Ia memandang Darren, yang kini berdiri di sana, dengan ekspresi yang lebih lemah dari sebelumnya. Ia tahu bahwa surat itu bukan hanya sekadar kertas tua, tetapi sebuah kunci untuk membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.

"Apa maksudnya, Darren? Apa yang harus aku pahami?" Adelia bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Darren memejamkan mata, seolah mencoba mengumpulkan keberanian. "Ayahku berbicara tentang pengkhianatan, Adelia. Sebuah pengkhianatan yang menghubungkan kita berdua. Dan ada satu orang yang memiliki kunci untuk membuka semua ini. Orang itu adalah kakakmu, Helia."

Adelia merasakan darahnya berhenti mengalir. "Helia?" bisiknya, suaranya terdengar seperti sebuah keheningan yang mencekam. "Apa yang terjadi dengan Helia? Apakah... apakah dia masih hidup?"

Darren menatapnya, matanya yang tertutup kain seolah mengungkapkan sebuah kesedihan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Itulah yang harus kau cari tahu, Adelia. Rahasia ini lebih besar dari yang kau kira, dan Helia adalah bagian dari kunci itu. Tapi hati-hati, karena ada pihak-pihak yang akan melakukan apa saja untuk menjaga kebenaran tetap tersembunyi."

Adelia merasa jantungnya berdegup kencang, seakan ingin meledak. Seluruh dunia seakan berputar di sekitarnya, membuatnya merasa terjebak di dalam badai perasaan yang membingungkan. Ada rasa takut, harapan, dan kebingungan yang bercampur aduk, seperti tinta yang mengalir di atas kertas.

"Darren, aku harus tahu. Aku harus tahu kebenarannya," ucapnya dengan suara yang lebih kuat, menahan air mata yang ingin keluar. "Apapun yang terjadi, aku akan mencarimu, Helia. Aku berjanji."

Darren mendekat, menatap Adelia dengan tatapan yang penuh emosi. "Adelia, jika kau benar-benar ingin melangkah ke jalan ini, kau harus siap untuk kehilangan segala-galanya. Tidak ada jaminan, tidak ada kepastian. Tapi jika kau berani, maka aku akan berada di sisimu, menghadapi kegelapan ini bersama-sama."

Adelia memandangnya, matanya berkaca-kaca namun dipenuhi dengan tekad. "Aku tidak takut, Darren. Tak ada lagi yang bisa membuatku takut. Aku akan mencari kebenaran, bahkan jika itu berarti harus menghadapi kegelapan terburuk."

Darren mengangguk pelan, seolah menerima takdir yang tak bisa dihindari. Ia mengulurkan tangannya, dan Adelia menerimanya dengan gemetar. Di malam itu, di antara ketakutan dan harapan, mereka berdua tahu bahwa jalan di depan akan penuh dengan ujian. Tapi untuk pertama kalinya, Adelia merasa ada alasan untuk melawan, ada alasan untuk berjuang. Karena di dunia yang penuh dengan rahasia dan kebohongan ini, hanya mereka berdua yang bisa mengungkap kebenaran yang terpendam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Cinta Semalam dengan CEO
9.7
Pasca mutasi ke kantor pusat, Jeanne terjerat skandal satu malam dengan CEO barunya tepat saat ia masih terikat hubungan asmara. Nasib malang kian memuncak ketika terungkap bahwa bos tersebut adalah Alan Rasya Purnama, sepupu dari mantan kekasihnya sendiri. Kini, Jeanne terjebak dalam situasi pelik karena Alan mendadak sangat terobsesi untuk menguasai seluruh aspek hidupnya, mulai dari raga hingga jiwanya, tanpa memberikan celah untuk Jeanne melarikan diri.
Sampul Novel Istri ku tengil
8.8
Alexa memiliki paras menawan namun perilaku nakalnya sering memicu emosi. Meski hidup bergelimang harta, ia merasa kesepian akibat kurangnya kasih sayang dari orang tua yang gila kerja. Demi mencari perhatian, Alexa kerap berbuat onar hingga akhirnya ia dipaksa masuk ke dalam jerat perjodohan. Akankah pernikahan dengan pria misterius ini mengubah sikap iblisnya menjadi manis, atau justru ia akan semakin membuat kekacauan dalam kehidupan rumah tangga barunya?
Sampul Novel KECELAKAAN SEMPURNA
8.9
Demi biaya pengobatan kanker ibunya, Qarletta Averly yang berusia 21 tahun mencoba peruntungan di Heston Corporation. Ia berharap posisi fotografer di perusahaan raksasa itu menjadi solusi finansialnya. Namun, impian indahnya hancur saat bertemu sang CEO, Carl Heston. Alih-alih karier cemerlang, sebuah kesalahan fatal justru menjerat Arlett dalam skandal besar yang dirancang Carl. Kini, Arlett terjebak dalam situasi rumit dengan pria berkuasa yang mengubah hidupnya.
Sampul Novel Mendapatkan Kembali Yang Kumiliki
9.8
Valerie mendekam lima tahun di penjara akibat cinta buta, hanya untuk menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan saudari tirinya saat bebas. Kembali ke masa lalu secara misterius, ia kini bertekad menuntut balas tanpa belas kasihan. Menggunakan strategi cerdas, Valerie menghancurkan kerajaan bisnis mereka dan bangkit sebagai pemimpin tangguh. Di tengah kejayaannya, seorang pria masa lalu datang membawa lamaran, membuka babak baru dalam hidupnya yang kini penuh kuasa.
Sampul Novel NODA DALAM RUMAH TANGGA
9.2
Alka menyerahkan kartu berisi saldo yang akan terus bertambah setiap hari kepada Mira. Setelah memberikan kode akses 222222, ia menginstruksikan istrinya untuk menggunakan uang tersebut sesuka hati. Meski sempat ragu saat memegang gagang pintu, Alka hanya mengucapkan selamat malam dengan kaku sebelum akhirnya melangkah pergi. Mira pun terpaksa menghabiskan malam pertama mereka dalam kesendirian setelah sang suami memilih untuk meninggalkannya.
Sampul Novel Skandal Calon Adik Ipar
8.8
Rafael, tunangan Dhea, tak sengaja bertemu Arin di Bangkok saat perjalanan bisnis. Bantuan Rafa mengurus paspor Arin yang hilang justru menumbuhkan perasaan terlarang di antara mereka. Meski Rafa mulai meragukan komitmennya pada Dhea, Arin berusaha memendam cintanya demi menjaga perasaan sang kakak. Konflik memuncak saat Rafa nekat membatalkan pertunangan demi Arin. Hal ini memicu kebencian di hati Arin, meski ia tak mampu membohongi rasa cintanya yang mendalam.