APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Pernikahan Kedua

Rahasia Pernikahan Kedua

Viskha Katherin nekat meninggalkan pernikahannya demi menanti Zumar Wiyaksa, kekasih yang ia cintai. Namun, kepulangan Zumar justru bertepatan dengan sebuah kenyataan pahit. Viskha terjebak dalam ikatan pernikahan rahasia dengan seorang pria yang telah memiliki keluarga. Kini, ia harus berjuang menghadapi takdir yang rumit dan penuh dilema. Akankah Viskha berhasil meraih impian yang sempat tertunda, atau justru selamanya terbelenggu oleh rindu yang menyakitkan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Guntoro menyorotkan tatapan penuh kesangsian.

“Rencana?”

Hisyam mengangguk mantap. “Saya yakin ini akan berhasil dan bisa membalikkan keadaan. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Satu berita rekayasa kita sebar, nama baik dua keluarga terselamatkan, Viskha pun akan kembali.”

Guntoro malah tertawa kencang yang syarat dengan sindiran.

“Kelihatannya Anda sangat percaya diri. Kita lihat hasilnya nanti. Tapi jangan harap saya akan menjanjikan sesuatu untuk sesuatu yang tak pasti begitu.”

Nyonya besar Kertajaya turut bicara. “Rencana yang sudah pasti saja bisa berubah sekejap mata karena ulah keluarga mereka, apalagi ini yang hanya bertaruh pada spekulasi belaka! Jangan percaya, Pi. Mereka cuma beralibi dan mengulur waktu!”

Guntoro menyentuh lengan istrinya yang terus berjalan maju ke arah Hisyam dengan netra berkilat marah. Dia menyorotkan tatapan untuk tenang kepada istrinya.

“Tapi, Pi-” Wanita berpakaian glamor itu melayangkan pandangan protes.

“Papi tahu yang harus dilakukan.” Dingin, Guntoro mengucapkannya penuh tekanan.

Dia maju selangkah setelah istrinya menggeser posisi berdiri.

“Baik! Saya akan lihat dulu hasilnya. Tapi, jika dalam seminggu enggak ada hasil. Kalian akan terima akibatnya!” Pria itu melipat tangan depan dada dengan tatapan penuh ancaman.

Mardhan gentar, dia khawatir dengan rencana yang diusulkan sang anak malah menambah rumit keadaan. Parahnya menimbulkan masalah baru.

Sementara Hisyam yang sangat percaya diri. Dia mengabaikan segala tekanan yang tidak diutarakan secara langsung. Meski merasakan, tetapi lebih kuat mempertahankan gagasan yang dicetuskan.

“Kami sepakat!”

Guntoro dan istrinya berbalik pergi, bahkan tanpa mengucapkan kata perpisahan maupun sopan santun seperti biasanya.

“Syam, apa kamu enggak mikir gimana akibatnya nanti? Mereka bukan keluarga sembarangan, Nak. Ayah-”

“Tenang, Yah. Hisyam yakin, inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya. Ayah hanya perlu mendukung Hisyam dan kasih sokongan material. Itu aja. Selebihnya Hisyam yang bakal bertindak.”

Kendati masih diselimuti keraguan, Mardhan berusaha memberikan sedikit kepercayaan. Barangkali memang gagasan jiwa muda anaknya akan berguna menjelma penolong dalam situasi pelik ini.

“Lakukan sebaik mungkin. Semoga berhasil dan bisa memperbaiki semuanya. Ayah sangat mengandalkanmu, Nak.”

Hisyam mengangguk yakin, lantas berjalan ke kamar setelah berpamitan kepada sang ayah.

-¤¤¤-

Jam tiga pagi, Viskha baru tiba di terminal kota tujuan yang lengang nan dingin. Gelap yang diterangi lampu-lampu silau, dia turun dari bus dan menyusuri koridor menuju musala. Dihempaskannya badan yang pegal tak terkira, lantas berbaring menggunakan tas sebagai alas kepala.

Dia menengadah menatap langit-langit tempat ibadah itu, kemudian mengambil gawainya. Mengirim pesan kepada Talita untuk mengabari kedatangannya dan meminta alamat kediaman sang sahabat. Setelahnya, memasukkan benda pipih itu ke saku jaketnya. Dia terpejam hingga terlelap begitu saja saking penatnya.

Dua jam lebih kemudian, dering gawai membangunkan dari tidurnya. Viskha mengucek mata, meraba-raba saku jaket untuk mengambil benda itu. Segera menempelkan ke telinga tanpa melihat nama si penelepon. Dia menguap sebelum menjawab. Suara yang familier baginya seketika menerjang telinga.

“Kamu beneran udah di terminal? Ya ampun, aku seneng banget, Vikachu! Aku segera kirim alamatnya via chat, oke! Btw kok tiba-tiba, sih?” Talita berbicara tanpa rem dengan keras membuat Viskha menjauhkan gawai dari telinga.

“Thanks, ya. Soal itu nanti aku ceritain kalo udah nyampe, ya.” Suara serak khas bangun tidur dan lelah Viskha terdengar.

“Oke, siap-siap. Kamu pasti lelah banget, ya. Oya, btw aku hari ini ngantor. Nanti ku tambahin informasi letak apartemen beserta sandi pintunya, oke.”

“Sekali lagi makasih banyak, ya.”

“Ish, kamu ini. Jangan gitu, lah. Kayak sama siapa aja. Bosen aku denger ucapan monoton itu. Btw, em .... aku mau siap-siap dulu, oke. Bye, bye. Hati-hati di jalan!” Diakhiri kecupan jauh yang terkesan lebai, tetapi Viskha memakluminya. Talita memang begitu dari dulu.

Telepon pun terputus, Viskha meregangkan tangan dan badan sejenak. Menyimpan gawai ke tempat semula, lantas ke kamar mandi umum. Dia membersihkan diri dan mengambil wudu, lantas melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Setelah usai, barulah menggendong kembali tas dan keluar dari terminal.

Dia berjalan menyusuri jalan, menatap langit yang mulai agak terang seiring mentari yang mulai menampakkan diri. Hingga tiba di warteg sekitar sana, lantas membeli makanan untuk sarapan. Meski terlahir dari keluarga berada, hal itu tidak membuat Viskha gengsi makan di warung pinggir jalan. Bahkan sejak kuliah dulu kerap menjajaki jajanan jalanan yang baginya lebih sedap dicecap ketimbang makanan di restoran mewah yang selalu dikunjungi keluarganya. Hal itu disadarinya sejak mengenal Zumar, pria yang membuatnya jatuh cinta karena kesederhanaan dan tingkah lakunya. Mengingat pria itu, secara otomatis kenangan mereka semasa awal-awal menjalani kisah-kasih pun terbayang.

“Kamu berbeda, dan aku suka,” katanya suatu kali saat Zumar mengajaknya menikmati ketoprak di sekitar kampus untuk kali pertama.

Zumar membalasnya dengan usapan manja di kepala Viskha.

Senyuman terbit di wajah Viskha seiring suara ibu pemilik warteg yang menariknya kembali ke masa sekarang.

“Mbaknya ngelamun?” tanya si ibu warung yang ke sekian kalinya.

“Eh, aduh maaf, Bu.” Viskha gelagapan menyadari kealfaannya. “Ibu tadi bilang apa?” Dia menggaruk belakang kepala yang tak gatal.

“Saya cuma mau kasih teh angetnya. Si mbaknya dari tadi saya liatin senyum-senyum sendiri.” Si ibu mengulum senyum.

Viskha makin jengah sendiri karena tingkahnya.

Ya, Tuhan semoga ibu itu tidak menganggapku kurang waras.

“Oh, iya. Makasih, Bu. Lupakan, Cuma teringat kejadian lucu, Bu.” Dia lekas meneguk teh hangat itu.

“Sama-sama, Mbak. Pantesan aja, yaudah saya pamit kembali melayani pembeli lain, ya, Mbaknya.”

“Eh, tunggu, Bu!” Viskha mencegah sambil merogoh saku jaket sebelah kanan. “Ini uangnya.” Dia memberikan pembayaran selembar berwarna biru.

“Saya ambil dulu kembalian, ya, Mbaknya.” Dia berlalu setelah mengangguk kepada Viskha.

Tak lama kemudian, ibu itu menghampiri Viskha lagi seraya menyerahkan kembalian.

“Terima kasih, ya, sudah makan diwarung ibu, Nak.”

“Sama-sama, Bu. Nasi ramesnya enak.” Viskha memasukkan uang ke saku sambil tersenyum, dia pamit seraya berjalan.

“Wah, Mbaknya bisa aja. Silakan, Mbak!”

Viskha pun keluar dari sana bersamaan dengan pemilik warung yang kembali ke dekat etalase makanan.

Gadis berpakaian sporty itu berjalan ke tempat taksi berjajar, dia menyebutkan alamat apartemen Talita kepada seorang sopir. Masuk setelah sang sopir mengangguk dan mempersilakannya.

“Sudah, Mbak?” tanya sang sopir ketika penumpangnya telah duduk di jok belakang.

Viskha mengangguk setelah mengenakan sabuk pengaman. Selanjutnya, taksi pun melaju dengan kecepatan sedang.

“Sudah sampe, Mbak,” kata sopir ketika taksi tiba depan sebuah gedung bertingkat nan mewah. Viskha menatap sekilas bangunan itu, lantas turun usai memberikan ongkosnya.

“Terima kasih, ya, Pak.” Dia mengangguk melalui kaca taksi depan yang terbuka.

“Sama-sama, Mbak.” Sopir itu mengangguk, lantas lekas memarkir taksinya dan melajukan kembali.

Viskha berjalan masuk setelah disapa sang satpam, lantas naik menggunakan lift hingga tiba di lantai tempat apartemen Talita berada. Berjalan menyusuri koridor sampai menemukan nomor yang tertera di chat dari sahabatnya itu. Dia menatap tombol-tombol di depannya, melirik layar gawai dan mengetikkan sandi yang tertera.

Pintu pun terbuka, dia masuk ke ruangan berfurnitur modern dan minimalis itu. Mengedarkan pandangan setelah pintu tertutup. Bagian ruang tamu yang terlihat cukup rapi meski tidak terlalu. Beberapa majalah terbuka dan bekas kaleng minuman masih bertengger di meja begitu saja.

“Khas gaya Talita,” gumamnya seraya menutup majalah-majalah itu, lantas mengambil kaleng bekas dan membuangnya ke tempat sampah. “Ya ampun, aku lupa ngabarin orang baik ini.” Segera merogoh saku dan mengambil gawainya. Dia mengetikkan pesan.

Viskha: Aku udh nyampe, Ta.

Tanpa menunggu lama balasan pun datang.

Talita: Yuhu, slmt dtg di ibu kta. Slmt dtg jg di apartemenku, yg .... saaangat-saaangat rapi itu! 😅😁 ✌ Btw, kalo lpr tinggal msk mknan aja, ya. Kamu jago msk, kan, tuh. Bhn2nya ada di kulkas, oke. Anggap aja rumah sendiri. See you my beloved bestfriend, Vikachu.”

Viskha geleng-geleng membaca isi pesan itu. Sungguh, sahabatnya itu tidak berubah dari dulu. Dia meletakkan gawai di meja. Melepas tas dan meletakkan di sofa. Dia lekas berjalan menuju dapur yang tampak sama berantakannya.

“Ya Tuhan ....” Dia tersenyum segera mencuci piring dan membereskannya. Lanjut menyapu dan mengepelnya. Meski lelah dan belum cukup tidur, dia mawas diri akan tinggal menumpang meski sementara.

Setelah selesai dan puas dengan pekerjaannya, Viskha berjalan ke kulkas. Mencari minuman untuk meredakan dahaga. Baru saja akan membukanya, melihat sepucuk surat tergeletak di atasnya. Di sana tertulis ‘Teruntuk sahabatku, Viskha Vikachu! Vikachu, panggilan khas Talita kepada Viskha. Gadis itu pun mengambilnya, lantas membuka lipatan. Tepat saat hendak membacanya, bel apartemen milik sahabatnya terdengar. Buru-buru melangkah ke arah sumber suara, lantas membukanya.

“Kejutan!” teriak pria di depan pintu setelah terbuka. Dia menampakkan wajah terkejut seiring senyum yang menyusut.

Sama herannya seperti Viskha yang kini mengerutkan dahi dengan tatapan penuh tanya.

-¤¤¤-

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama
8.7
Malam pertama yang seharusnya menjadi momen istimewa bersama suami justru berubah menjadi kejutan tak terduga. Aku melewati malam penuh gairah dan kepuasan intens dengan sosok pria perkasa yang identitasnya bukan pasanganku. Saat fajar menyingsing, drama kehidupan yang rumit pun dimulai. Pengalaman intim yang memabukkan itu seketika membalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Sampul Novel Find Me In Your Memory
8.6
Sessil dan Andrew sempat menjalin hubungan singkat yang penuh gairah di sebuah resort, sebelum Andrew menghilang tanpa jejak. Setahun kemudian, Andrew muncul kembali sebagai tunangan kakak sepupu Sessil dan bersikap seolah tidak mengenalnya. Namun, sebuah tragedi kematian mengubah segalanya. Andrew justru memilih Sessil untuk menjadi istrinya secara mendadak. Mampukah Sessil menjalani pernikahan paksa ini dengan pria yang pernah meninggalkannya begitu saja?
Sampul Novel Janda Laila
9.4
Lima tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati membuat Laila berada di posisi sulit. Suami dan ibu mertuanya memberikan pilihan pahit yang tak terelakkan: rela dipoligami atau mengakhiri pernikahan dengan perceraian. Di tengah tekanan batin yang hebat, Laila harus segera menentukan masa depannya. Akankah ia bertahan dalam bayang-bayang madu, atau berani melangkah sendirian dan menyandang status sebagai Janda Laila?
Sampul Novel Kupu-kupu Sang Miliarder
9.2
Niela tinggal di pesisir Jakarta yang penuh gemerlap malam. Meski sering dipandang rendah, ia selalu menjaga kehormatannya hingga desakan sang ibu memaksanya terjun ke dunia terlarang. Langkah ini mempertemukannya dengan Darren Alvaro Prayudha, seorang miliarder ternama. Darren menawan Niela demi menyangkal perasaan cintanya yang muncul seketika. Hubungan rumit ini justru menyingkap jati diri Niela yang misterius. Akankah Darren berani jujur pada hatinya?
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?
Sampul Novel Mertua Hiperseks
8.1
Dua tahun menikah, Winda Anita Sari harus pindah ke rumah orang tua Andre karena ibu mertuanya terserang stroke. Namun, kepindahan ini menjadi awal petaka saat ia menyadari ayah mertuanya, Wijaya, mengidap hiperseks. Anita menemukan fakta kelam bahwa adik iparnya, Lola, telah menjadi korban pelecehan sang ayah. Kini, Anita hidup dalam ketakutan karena Wijaya terus mengincarnya dengan tatapan nafsu dan nekat masuk ke kamarnya. Sanggupkah ia bertahan tanpa menjadi korban berikutnya?