APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ranjang Tetangga

Ranjang Tetangga

Nabil mendedikasikan waktunya sebagai mak comblang bagi para tetangga di sekitarnya. Namun, saat tahun hampir berakhir, ia justru menyadari perasaan pribadinya yang mendalam terhadap Regal, pria yang tinggal di sebelah rumahnya sendiri. Kini, Nabil terjebak dalam dilema antara peran profesional dan kata hatinya. Apakah Regal memiliki perasaan yang sama, ataukah cinta Nabil hanya akan berujung pada luka karena bertepuk sebelah tangan tanpa balasan?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Semoga panas hari ini melelehkan lemak di tubuhnya Nabil,"

Adiansyah terkekeh pelan dibuatnya. Bagaimana tidak? Siang terik begini anak gadisnya berjemur di halaman rumahnya. Memakai topi lebar ala di pantai. Kacamata hitam, lalu membuat video layaknya seorang vloger. Mau ketawain takut ngambek anaknya.

"Ikut Bapak aja yuk ke kebun. Hari ini panen lho, siapa tau Nabil mau bantuin,"

Fyi, selain Nabil--anak berharganya. Adiansyah memiliki kebun jagung seluas dua hektar. Sama berharganya dengan Nabil. Adiansyah menyayangi kebun jagungnya sepenuh hati. Tidak membedakan rasa kasih sayang dengan sang anak. Pernah sekali Nabil cemburu dulu pas Adiansyah sibuk di kebun dari pagi sampai adzan maghrib. Waktu itu usia Nabil sembilan tahun. Pulang sekolah lebih awal sebab guru-guru akan rapat dadakan. Sesampai di rumah Nabil tidak menemukan Adiansyah. Mau menyusul pun dia takut melewati rumahnya Edin--pemilik rumah yang memelihara anjing.

Parahnya itu hewan dibiarkan berkeliaran, tidak di rantai oleh si pemilik. Anjing jelek, galak, suka gigit. Nabil takut, dia terpaksa mengunci semua pintu dan tidur nyenyak hingga petang. Berakhir Adiansyah yang terus menggedor-gedor pintu, membangunkan Nabil dari tidur lelapnya.

Nabil kecil marah. Mendiamkan Adiansyah selama seminggu. Mau minta uang jajan sungkan, untung Nabil kecil rajin menabung. So, dia pakai saja dulu uang tabungannya. Nanti sudah baikan Nabil minta uangnya diganti oleh Adiansyah.

"Nabil belum mandi," cewek itu menampakkan deretan giginya yang putih. Mengibaskan wajahnya dengan topi badai miliknya.

Mata Adiansyah awas melihat seseorang di seberang rumahnya. Dia tersenyum penuh arti mengabaikan Nabil sedang asik mencari cacing di dalam tanah.

"Bapak beliin Nabil bakso dua bungkus, mau?"

Ini hari minggu. Regal biasanya berangkat siang ketika hari libur. Deket sih mangkalnya. Membutuhkan waktu lima menit untuk sampai tujuan.

"Tapi ada syaratnya," sangkal Adiansyah ketika Nabil akan bersuara, "Nabil harus ikut ke kebun. Gimana, mau nggak?"

Tawaran yang menarik. Tetapi, di kebun itu lebih panas ketimbang melihat gebetan jadian sama teman sendiri. Sekali lagi, demi bakso buatan Regal yang enaknya pol, Nabil menyetujui permintaan Adiansyah. Tak apa dia bantu-bantu karyawannya Adiansyah. Panen juga seru tau. Walau nanti wajahnya gosong dan belang.

***

"Abang ganteng, Nabil beli bakso dua porsi,"

"Enggak pakai mie ya?"

Regal manut. Nabil dalam mode calm. Tidak menggoda atau membuat Regal kesal. Itu lebih baik sih, daripada gendang telinganya pengang karena suara Nabil yang amat cerewet itu.

"Dua puluh delapan lagi, Nabil. Karyawan Bapak juga kepengin makan bakso. Bukan cuma Nabil doang,"

Nabil mengerucutkan bibir tipisnya, "Dikiranya Nabil doang yang dibeliin baksonya. Taunya karyawan Bapak juga dibeliin,"

Adiansyah mengusap sayang rambut Nabil yang di kepang, "Berbagi itu indah, sayang. Selagi Bapak mampu, kenapa tidak?"

"Bercanda, Pak, serius amat perasaan," kikik Nabil memeluk tubuh kekar Adiansyah.

"Jumlahnya tiga puluh porsi ya, Gal. Dua puluh delapan lengkap pakai mie, dua porsi lagi cuma bakso sama sayurannya saja,"

"Siap, Om," Regal mengangguk paham. Dia segera membuatkan pesanan tanpa berlama-lama lagi.

"Tiga puluh satu, Bang. Bapak belum kehitung," bisik Nabil tepat di samping tubuh tinggi Regal. Sangat dekat, sampai ruang gerak lelaki itu terhalang oleh tubuh mungilnya Nabil.

Nabil berdecak sebab Regal tidak merespon ucapannya, "Abang jawab dong. Kasih respon kek, diem aja kayak manequin,"

Oke, cerewetnya Nabil sudah beroperasi kembali, Regal membatin sesekali mencuri pandang Adiansyah tengah sibuk dengan ponsel pintarnya.

"Nabil do'akan jodoh Abang cerewet. Biar mulut Abang berfungsi dengan benar," dumel Nabil menjaga jarak dari Regal, "persis Nabil aja kalau bisa. Cerewet, ceroboh, baperan-- "

Nabil segera mengatupkan bibirnya cepat ketika Regal membuka kemasan saus begitu brutal seperti pshycopat. Ngeri, Nabil takut pisaunya melayang ke arah wajahnya. Terus ya, Regal mengambil matanya lalu dijual dan dicampur dengan adonan bakso? Idih, makin ngaco saja pikiran negative thinkingnya.

"Berisik," tandas Regal fokus kembali meracik bumbu baksonya.

"Sensi amat, Bang? Efek galauin ka Rika nih ya yang mau nikah sama pacar barunya?" Nabil jadi ikutan sad. Regal yang diputusin, Nabil pun ikutan sedih juga.

"Bang? Lih, malah melamun. Awas itu kuahnya kena tangan Abang. Panas lho, macem liat ka Rika nikah sama yang lain,"

Tahan, Regal berusaha mengontrol emosinya. Sudah bertahun-tahun menjadi tetangganya Nabil, Regal sudah tahan banting alias kebal. Dengan kecerewetannya, tingkah kecerobohannya. Regal sudah terbiasa. Namun, sekarang ini dia sedang tidak mood.

Persoalan Rika, apa yang Nabil katakan barusan emang benar adanya. Mantan kekasihnya mau menikah dengan orang kota. Dia ketus bukan karena Rika, melainkan tik-tik shop tempat penjualan cookies buatan Nanta resmi ditutup. Regal sudah melarang Nanta untuk tidak berjualan keliling tetapi Nanta tetap memaksa. Beliau mengatakan dirinya pun ingin membantu soal perekonomian keluarga.

Ya maaf-maaf saja Nabil terkena imbasnya atas kemarahan Regal. Hasil perdebatan semalam dengan Nanta, Regal lupa belum membuat adonan bakso serta mencetaknya. Alhasil jam dua belas malam, dirinya baru selesai. Regal tidur tiga jam, dirinya sehabis solat subuh langsung memperbaiki gerobak. Lumayan rusak serta mengganti bagian atap gerobaknya.

"Nabil?" si empu duduk di undakan tangga, mendongakan kepalanya. Dirinya merasa pusing namun, dia berusaha menyembunyikannya. Tidak mau membuat Adiansyah khawatir, Nabil tersenyum dan beranjak mendekati beliau.

"Bapak pergi dulu ke pak RT, ada urusan. Nanti baksonya sudah siap semua, Nabil yang antarkan ke kebun bagaimana? Pakai motor saja, Bapak pakai sepeda punya Nabil dulu boleh?"

Motor matic Adiansyah beli dari masa kuliah. Dimulai masa pacaran bersama almarhumah istrinya, sampai menikah dan tetap terawat hingga detik ini. Memori tidak terlupakan dalam benak Adiansyah.

Nabil menggeleng pelan, "Bapak perginya naik motor aja. Biar Nabil yang jalan kaki,"

"Enggak takut dicegat Hero?"

Hero yang dimaksud Adiansyah ialah orang gila setelah Entin di desa ini. Suka sekali Hero mengganggu terutama kaum hawa. Dia tidak segan menyentuh tubuh terpenting kita. Makanya Nabil kalau kemana-mana pasti menggunakan motor. Ya itu alasannya. Takut Hero berbuat macam-macam 'kan bahaya. Kenapa tidak bawa pergi aja Hero dari desa? Jawabannya sudah, tapi balik lagi. Pak RW saja pernah kena lempar batu besar saat mau membawa Hero ke luar kota.

"Takut sih, mau gimana lagi?" pakai sepeda pula susah di mana Nabil menaruhnya. Di setang? Emang aman? Gak takut tali kreseknya putus lalu semua baksonya jatuh ke atas tanah, 'kan mubazir.

"Regal yang anterin Nabil, Om. Pakai motor satu lagi. Nganggur kok. Udah lama juga enggak di pakai,"

Regal mempunyai motor dua. Satu motornya senantiasa menemani Regal berjualan bakso. Satu lagi yaitu motor besar yang memiliki jok super irit.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta CEO dalam Jebakan
8.5
Gabriella, gadis yatim piatu yang malang, kehilangan rumah warisannya akibat penggusuran paksa oleh Perusahaan Quebracha. Saat menuntut keadilan pada sang CEO, Max Evans, sebuah insiden tragis justru merampas kehormatannya. Alih-alih merasa bersalah, Max menuduh Gabriella sebagai wanita bayaran yang sengaja menjebaknya demi uang. Di tengah kebencian dan tuduhan palsu, mampukah keduanya menyadari bahwa ada dalang yang sedang mengadu domba mereka?
Sampul Novel Cinta dan Dosa
9.5
Bisma, putra CEO kaya, terperosok dalam gaya hidup kelam dan gemar mempermainkan wanita. Namun, hidupnya berubah saat ia terobsesi pada Melati, kekasih sahabatnya sendiri. Tindakan Bisma justru membawa penderitaan bagi gadis yang ia harap mampu mengubahnya menjadi pria lebih baik. Kini, ia dihantui peringatan masa lalu bahwa kebahagiaan takkan pernah ia raih. Apakah ini kutukan atas segala dosanya? Bisma harus memilih antara melepaskan atau terus mengejar cinta.
Sampul Novel Godaan Bini Orang
8.7
Masa lalu kelam Rhido kini membayangi pernikahan bahagianya dengan Lisda. Saat Lisda hamil, gangguan mistis misterius membuatnya kesakitan tiap kali berhubungan intim. Rhido yang berusaha setia terpaksa menahan diri hingga tugas kerja membawanya ke pedalaman Jawa dan Kalimantan. Di sana, godaan nafsu terus menguji imannya. Mampukah sang mantan bajingan ini menjaga kesetiaan, ataukah teror gaib masa lalunya akan menghancurkan nasib istri dan bayinya?
Sampul Novel LELAKI YANG TERKHIANATI
9.6
Lima tahun merantau ke luar negeri, Tarno pulang membawa kalung inisial khusus demi memberi kejutan manis bagi istrinya, Susanti. Namun, kepulangannya yang tanpa kabar justru mengungkap kenyataan pahit. Di atas ranjangnya sendiri, ia memergoki Susanti sedang bersama Joko, sahabat yang selama ini ia percayai untuk menjaga istrinya. Hancur oleh pengkhianatan dua orang terdekatnya, bagaimanakah langkah Tarno menjalani hidup setelah rahasia kelam ini terbongkar?
Sampul Novel Lover in Law (Ketika Dua Pengacara Saling Jatuh Cinta)
9.4
Milly merasa hidupnya dipenuhi kesialan sejak harus dimentori oleh Zayn, seorang pengacara senior yang sangat angkuh. Zayn pun membenci Milly yang dianggapnya ceroboh dan keras kepala. Meski awalnya saling muak, kedua pengacara cerdas ini justru terjebak dalam perasaan cinta yang tidak terduga di tengah persaingan profesional mereka. Apakah takdir akan menyatukan dua hati yang keras ini, ataukah ego masing-masing akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Perpisahan Terakhir, Jejak Abadi
9.2
Selama enam bulan, aku menahan derita penyakit misterius demi mendukung Baskara, suami arsitekku. Namun, pengabdianku dibalas pengkhianatan saat ia memilih asistennya yang sedang hamil. Bahkan ibuku sendiri justru membelanya dan mengabaikan rasa sakitku. Kini, diagnosis kanker otak stadium akhir memastikan hidupku tak lama lagi. Tanpa dukungan keluarga, aku berhenti menjadi korban. Aku akan menghabiskan sisa usiaku demi diri sendiri dan membiarkan Baskara memikul penyesalan abadi.