APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel REKENING SUAMIKU

REKENING SUAMIKU

Ayah terus menghina Yasa, suamiku, karena dianggap pengangguran yang hanya mengandalkan ketampanan. Beliau tak henti mencaci Yasa yang sering terlihat santai dengan kameranya, tanpa tahu ada perjuangan besar yang sedang disiapkan suamiku untuk masa depan kami. Meski lelah melihat sisa daganganku dilempar sebagai bentuk amarah, aku memilih diam. Aku yakin suatu saat nanti ayah akan menyesal karena telah merendahkan sosok yang sebenarnya sangat gigih ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

#REKENING_SUAMIKU (2)

“Sabar ya, Dek! Maafkan pekerjaan Mas yang tidak keren seperti suaminya Mbak Miranda yang kantoran! Padahal kan pendapatan Mas sekarang saja sudah mulai lebih besar dari pada gaji UMR yang ada! Makanya kamu udah nggak usah jualan sayur lagi! Mending di sini bantuin Mas bikin konten biar lebih menarik lagi,” ujarnya.

“Gak apa, Mas! Biar nanti ketika kita sukses bisa memberikan kejutan yang indah untuk mereka! Biar mereka menganga melihat tukang ngendon dan tukang sayur tapi isi rekeningnya lebih besar dari pada suaminya Mbak Miranda yang pekerja kantoran!” ucapku sambil mencoba tersenyum.

Mas Yasa tersenyum lembut. Dia lelaki yang sangat pengertian sebetulnya. Cuma memang karena waktunya habis di kamar jadi seolah dia lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarga.

Pernah dulu beberapa kali menggantikanku keliling menjual sayur. Kami bertukar posisi. Aku dimintanya untuk membuat konten agar tidak terlalu berat kerjanya. Namun dalam hitungan hari, jam tayang langsung menurun drastis. Beberapa subscriber left juga. Daripada semakin parah, akhirnya kami bertukar posisi semula.

“Nih, Dek, lihat! Ini uang hasil gajian dari youtube bulan ini!” Mas Yasa menunjukkan sms banking pada gawainya di mana sudah ada uang masuk.

“Alhamdulilah, Mas! Ini biar ditabung saja buat beli rumah, Mas! Aku masih akan tetap jualan sayur selama kita belum punya rumah dan usaha sendiri! Kalau ngonten gini ‘kan rame-ramean ya, Mas?” tanyaku sambil menatapnya. Alika kini tengah beralih fokus menonton layar laptop dan menonton film kartun kesukaannya.

“Iya ‘kan semua ada plus minusnya! Kalau kerja kantoran gaji tetap jadi tiap bulan sudah pasti dapet segitu, tapi ya, segitu saja! Kalau kayak Mas gini bebas! Bisa dapet berkali-kali lipat tapi bisa juga nggak dapat!” ujarnya.

“Hmmm … iya, Mas! Nggak apalah … saat ini yang penting kita bisa makan. Sama uangnya jangan diboros-boroskan, Mas! Kita lebih baik perih sekarang asal punya rencana dan tabungan buat masa depan! Aku pengen buka usaha, Mas! Jadi sekarang aku akan bantu kamu semampu yang kubisa!” ujarku.

“Tapi bisa nggak kalau kamu nggak usah keliling jualan sayur lagi, Dek! Mas sakit kalau kamu dihina-hina dan dikatain terus sama Mbak Miranda!” ucapnya lirih.

“Biar aja, Mas! Sudah kenyang juga aku dari dulu! Nanti tiap bulan boleh aku ngasih ibu, Mas? Biar Bapak nggak rewel lagi kalau kita kasih duit! Jadi anggap saja kita ngontrak!” ucapku sambil menatapnya.

“Atau kita ngontrak saja, Dek?” Dia menatap ke arahku. Memberikan ide yang sudah lama terpikir olehku.

“Kalau kita ngontrak, Alika sama siapa kalau aku jualan sayur, Mas? ‘Kan kalau lagi rewel dia malah gangguin kamu terus jadi nggak bisa buat ngonten waktunya! Nanti malah makin lama kita bisa beli rumah, Mas!” ucapku sambil melirik ke arah putri kecil kami.

Memang selama di sini, dengan keberadaan ibu, aku tidak khawatir ketika meninggalkan Alika. Kadang Mas Yasa juga nggak bisa full jagain dia.

“Mel! Mela!” Kudengar ibu memanggil dari luar disertai ketukan pada daun pintu. Bahasan kami berhenti sebentar. Lalu aku berjalan menghampirinya.

“Ada apa, Bu?” tanyaku.

“Dipanggil bapak, katanya ada yang mau diobrolkan dengan Yasa!” ujarnya.

Aku mengerutkan dahi. Tumben sekali bapak mau mengobrol dengan Mas Yasa. Padahal selama ini jika bertemu pun jarang bertegur sapa.

“Tumben, Bu? Ada apa?” tanyaku akhirnya.

“Ibu juga nggak tahu, temuin saja! Ibu mau nganter dulu kue dari Bu RT ke rumah Miranda! Buat kalian ada di meja makan, ya!” ujar Ibu. Wanita yang tidak pernah berucap kasar maupun menyakiti hati kami selama di sini.

Akhirnya aku menggendong Alika dan mengikuti Mas Yasa yang berjalan ke depan menemui bapak. Wajahnya tampak suram ditekuk ketika menatap ke arah menantu yang memang selama ini sangat tidak disukainya.

“Bapak manggil saya?” tanya Mas Yasa sopan.

Kami duduk pada kursi bambu yang berhadapan dengan tempat Bapak duduk. Dia menatap tajam pada Mas Yasa.

“Iya, bapak mau bicara serius sama kamu!” ucapnya.

“Mau bicara apa, Pak?” tanya Mas Yasa pelan.

“Kemarin Juragan Amir datang ke sini! Dia sedang mencarikan calon istri untuk anaknya yang duda! Si Amran itu, sudah dari dulu juga suka sama si Mela!” ujarnya menjeda. Perasaanku sudah tidak enak dibuatnya.

“Lalu apa hubungannya dengan saya, Pak?” Mas Yasa mengerutkan dahi.

“Saya menginginkan menantu dengan pekerjaan yang jelas! Anak saya harus memiliki orang yang bisa membahagiakannya! Menafkahinya secara lahiriah juga!” ucapnya menjeda. Dipadamkannya rokok yang masih setengah dihisapnya.

Aku dan Mas Yasa masih berdiam menunggu kalimat bapak berikutnya.

“Selama dua tahun ini, saya lihat kamu hanya berleha-leha dan nggak ada kemauan sama sekali. Malah si Mela yang wara-wiri ke sana ke mari mencari rezeki! Hari ini sudah saya putuskan, bapak ingin agar kamu menceraikan Mela!”

“Bapak mau menjodohkan Mela dengan Amran yang sudah jelas-jelas memiliki pekerjaan meski hanya seorang supir di pabrik! Tapi jelas-jelas dia punya masa depan!” ujarnya pelan, tegas dan penuh penekanan.

“Mela nggak mau, Pak!” Aku langsung menyambar kalimat Bapak. Dia pikir aku itu apa? Semudah itu menentukan hidup dan masa depan hanya karena melihat semuanya dari cangkang.

“Mela, dengerin Bapak! Semua ini demi kebaikan kamu! Sekarang Kamu pilih, mau tetap menganggap bapak sebagai orang tua kamu dan mengikuti keinginan bapak? Atau tetap memilih lelaki pengangguran ini sebagai suami kamu dan anggap saja bapakmu ini sudah mati!” teriaknya.

Aku sampai mengelus dada. Kupeluk Alika erat-erat. Menyesal tidak membiarkannya ikut ibu ke rumah Mbak Miranda saja. Kini, anakku harus menyaksikan perbuatan tidak menyenangkan seperti ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asmara Cinta Dan Benci
9.3
Hubungan Adelia dan Edwin terancam runtuh akibat campur tangan sang ayah yang ingin memisahkan mereka. Di tengah perjuangan tersebut, pengkhianatan dan salah paham besar mengubah kasih sayang menjadi kebencian mendalam. Edwin yang sempat dikira tewas tiba-tiba muncul kembali sebagai pria asing yang hanya didorong oleh dendam. Kini, Adelia harus menghadapi kenyataan pahit saat sosok yang ia cintai berbalik menjadi musuh yang ingin menghancurkannya.
Sampul Novel Be My Husband
8.1
Bagi Kiran Naomi Tanaka, misi hidupnya hanyalah satu: menjadikan Evan Davaro Saga sebagai suaminya. Sejak pertemuan pertama mereka, Kiran bertekad menaklukkan hati pria dingin yang merupakan anak sahabat ayahnya itu. Namun, Evan yang gila kerja terus bersikap acuh, bahkan menyuruh Kiran fokus belajar matematika daripada membicarakan pernikahan. Di tengah perbedaan usia yang kontras, mampukah kegigihan Kiran meluluhkan Evan, ataukah ia hanya akan berakhir patah hati?
Sampul Novel Godaan Mas Duda Posesif
8.1
Kaluna, mahasiswi tingkat akhir yang terdesak kebutuhan finansial, mendapat tawaran mengejutkan dari seorang duda kaya bernama Liam. Ia dijanjikan upah lima puluh juta per bulan hanya untuk menjadi ibu susu bagi anak pria itu. Kaluna yang pernah melahirkan di luar nikah pun menyanggupinya. Namun, pekerjaan yang awalnya ia kira sederhana justru membawanya terjebak dalam pesona dan sikap posesif Liam yang sulit untuk ia hindari di kehidupannya.
Sampul Novel Hasrat Cahaya Bulan: Lamaran Sang CEO yang Berani
8.7
Bertha melakukan kesalahan fatal dengan meminta kiriman video dewasa kepada CEO-nya di tengah malam. Alih-alih mendapatkan apa yang ia inginkan, sang bos justru menawarkan demonstrasi nyata secara langsung. Usai menghabiskan malam penuh gairah yang tak terduga, Bertha pasrah akan nasib kariernya. Namun, kejutan besar datang saat Justin justru melamarnya untuk menikah. Di tengah kebingungan, Bertha pun mempertanyakan apakah bosnya itu sedang bercanda.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang PILOT
9.6
Kapten Adrian adalah pilot tampan berusia 35 tahun yang telah memiliki satu anak. Di tengah kesibukan dunia penerbangan, ia dikelilingi banyak pramugari cantik yang memicu ambisi liarnya. Didorong oleh hawa nafsu, Adrian berusaha menyalurkan hasrat terpendamnya kepada rekan-rekan kerjanya di maskapai. Namun, apakah Dewi selaku istrinya akan tinggal diam melihat pengkhianatan ini? Ikuti lika-liku kehidupan rumah tangga mereka yang penuh gejolak panas.
Sampul Novel Hati yang Kau Sakiti
9.5
Kebahagiaan Kiran saat mengetahui kehamilannya seketika sirna oleh kenyataan pahit. Arka, suami yang ia percayai, ternyata telah lama mengkhianatinya bahkan memiliki anak dengan wanita lain. Hati Kiran hancur berkeping-keping di tengah runtuhnya rumah tangga yang selama ini ia jaga. Kini, ia harus berjuang menghadapi perihnya pengkhianatan tersebut. Mampukah Kiran bangkit dari keterpurukan ini ataukah rasa cintanya pada Arka telah benar-benar mati selamanya?