APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Tanpa Buah Hati

Rumah Tanpa Buah Hati

Alice kerap menatap sendu anak-anak tetangga yang bermain di depan rumahnya. Baginya, keriuhan itu adalah pelipur lara di tengah kerinduan akan hadirnya buah hati. Namun, kebahagiaan sederhana itu sering terusik oleh bayang-bayang sindiran tajam ibu mertuanya. Konflik terus memanas karena sang mertua kerap menolak bertemu jika Alice belum menimang anak. Di tengah kucuran air mata, Alice harus menghadapi tekanan batin akibat tuntutan keluarga yang kian menghimpit.
Bab
Bagikan

Bab 3

Part 3

"Alice … ada apa? Kuperhatikan sejak beberapa minggu ini, kamu berubah. Lebih banyak diam dan melamun. Ada masalah apa? Apakah masih masalah yang sama?" Kania mencecar Alice dengan banyak pertanyaan, semenjak ia melihat Alice berubah sikapnya.

Alice yang posisi duduknya membelakangi Kania, tidak menjawab apapun. Wanita cantik itu masih terdiam seribu bahasa.

Kania yang memperhatikan Alice sejak beberapa minggu terakhir ini, ikut merasakan ada yang tengah dirasakan dan dialami oleh rekan kerjanya tersebut. Alice menjadi lebih banyak menyendiri dan jarang tersenyum seperti dulu.

Senyum manis yang biasa menghiasi bibir tipis Alice, tak lagi nampak terlihat. Beberapa rekan kerja mereka pun bertanya-tanya, namun sungkan untuk menanyakan langsung kepada Alice.

"Lice, kamu baik-baik saja kan?" Kania kembali bertanya. Kali ini nada suaranya setengah berbisik, seraya membelai bahu Alice.

Tiba-tiba Kania terkejut manakala merasakan tubuh Alice berguncang.

Ia pun segera membalikkan tubuh Alice agar menghadap dirinya. Alice awalnya menolak, namun Kania memaksa dengan kuat. Sehingga membuat Alice tak kuasa menolaknya.

Tangis Alice pecah, Kania segera memeluknya erat. Membiarkan rekan kerja yang telah membersamainya selama 10 tahun itu menumpahkan segala sesak di dada.

"Menangislah … jika itu dapat membuat hatimu menjadi lega." Kania berbisik di telinga Alice.

Beruntung ruangan mereka kali ini agak sepi, karena beberapa anak buah mereka tengah melakukan pekerjaan di lapangan.

Kania menunggu Alice hingga 15 menit lama. Tanpa ada pertanyaan apapun yang keluar dari wanita yang baru saja menikah itu.

Setelah Alice melepaskan pelukannya, Kania segera mengambil air minum untuknya.

"Minumlah,"

Alice menerima segelas air putih hangat dari tangan Kania. Wanita cantik itu pun segera meneguknya dengan cepat.

"Bicaralah … jika ingin bicara dan percaya kepadaku. Namun bila diammu adalah yang terbaik saat ini, aku akan menunggu waktu yang tepat untukmu menceritakannya." Kania membelai lembut bahu Alice, kemudian menggenggam erat tangannya.

Alice yang telah menganggap Kania seperti adiknya sendiri itu pun segera menghela nafas panjang. Lalu mencoba tersenyum, meski terpaksa dilakukannya.

"Ada apa?" tanya Kania kembali usai melihat senyum Alice mengembang.

Ia tahu jika sahabatnya itu tidak sedang baik-baik saja. Namun ia sangat mengenal Alice, yang tidak terlalu terbuka untuk masalah rumah tangganya.

"Mas Barana mau dinikahkan, dengan anak sahabat mertuaku, Nia." Suara Alice terdengar lirih, namun cukup terdengar di telinga Kania.

Kania terdiam sesaat, sebelum akhirnya bertanya kepada Alice.

"Kamu tahu darimana? Apa Mas Bara yang bilang kepadamu?"

Alice menggelengkan kepalanya lemah, lalu menjawab, "Ibu mertuaku yang mengatakannya sendiri, Nia. Dia bilang, jika sampai tahun depan aku belum juga hamil, maka ia akan menikahkan mas Bara dengan anak sahabatnya."

"Astaghfirullah …." Kania menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.

"Dan parahnya lagi, Ibu malah marah kepadaku saat ku ceritakan perihal dokter meminta agar kami berdua memeriksakan diri bersama."

"Ya Allah … ibu mertuamu memang sangat kelewatan ya. Aku tidak habis pikir, dengan apa yang telah ia ucapkan kepadamu. Bahkan selama ini pun, aku selalu tak pernah habis pikir atas perbuatannya kepadamu." Kania menggelengkan kepalanya, sambil terus menggenggam erat tangan Alice.

"Aku tak tahu harus berbuat apa. Terlebih sejak ucapan ibu mertuaku hari itu, sikap mas Bara menjadi sedikit aneh." Alice menatap wajah Alice dengan penuh khawatir.

"Maksudmu?"

"Mas Bara jadi lebih senang, menghabiskan waktu di rumah ibunya. Bahkan di saat pulang kerja pun, dia rela langsung menuju rumah ibu ketimbang menjemputku." Alice mulai menghapus buliran air mata, yang sejak tadi membasahi pipinya.

"Sudah Lice, kamu tenangkan diri dulu. Makanya kalau ada masalah jangan dipikul sendiri. Berbagilah dengan orang yang kamu percaya. Meski ia tidak dapat memberi solusi, minimal ia menjadi pendengar yang baik untukmu." Kania kembali memeluk tubuh Alice dan membelai punggungnya dengan lembut.

Bagi Kania, yang dibutuhkan Alice saat ini hanyalah pelukan dan telinga untuk didengar semua kisahnya.

"Ni … tolong bantu aku carikan dokter yang terbaik ya." Alice melepas pelukan Kania, dan langsung menggenggam tangan sahabatnya itu.

Wajahnya terlihat sangat lusuh. Terlihat jelas di sana, jika ia sangat tersiksa dengan keadaannya selama ini.

"Pasti! Aku pasti akan melakukannya." Kania tersenyum dan memeluk tubuh Alice kembali.

"Sekarang segera bersihkan wajahmu. Anak buah kita sudah kembali dari lapangan. Jangan sampai mereka melihat si Mrs. Smile terlihat kusut dan bersedih."

Alice tersenyum saat mendengar ucapan Kania barusan. Ia pun segera menuju kamar mandi dan membersihkan wajahnya. Setidaknya untuk saat ini hatinya sedikit lega, karena sudah menceritakan semua yang selama ini ia pendam.

**

"Halo Mas, pulang jam berapa hari ini?" tanya Alice pada suaminya manakala melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Aku menginap di rumah ibu." Barana menjawab singkat, namun cukup membuat hati Alice terluka.

Tanpa banyak bertanya lagi, ia pun segera menutup teleponnya dan langsung menangis. Sebenarnya ini bukanlah kali pertama Barana menginap di rumah sang ibu.

Akan tetapi, karena hal ini terjadi usai Mariam mengatakan hal itu, Alice pun langsung berpikiran yang buruk.

Ia pun segera mengambil jaketnya dan memanaskan motor. Usai mengunci pintu rumah, Alice pun segera meluncur menuju rumah sang ibu mertua.

Jarak antara rumahnya dengan sang ibu mertua hanya berkisar satu jam. Jalanan yang cukup padat, tidak membuatnya memperlambat laju motor yang dikemudikannya.

Alice menghela nafas panjang, sebelum memasuki halaman rumah sang ibu mertua. Matanya nanar mengitari sekeliling rumah, berharap menemukan sesuatu yang selama ini ia curigai.

"Gak masuk, Lice?" tanya salah seorang tetangga yang melihat kedatangannya.

"Eh Bu Urip … iya nih baru mau masuk ke dalam. Kebetulan saya baru saja tiba." Alice tersenyum dan turun dari motornya.

"Sepertinya mereka semua sedang pergi, Lice. Belum lama, kok! Sekitar 15 menit yang lalu." Tetangga yang bernama bu Urip itu berkata sambil mendekati Alice.

"Oooh …." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Alice, namun sudah mampu menggambarkan kekecewaan dalam hatinya.

"Alice memangnya gak diajak? Udah hubungi Bara belum?" Bu Urip bertanya sambil melihat ke sekeliling rumah.

Alice hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Membuat hati bu Urip menjadi terenyuh. Ia pun mengajak Alice untuk mampir ke rumahnya, mengingat jarak yang cukup jauh dan tidak mungkin bagi Alice langsung kembali pulang ke rumah saat ini.

"Minumlah, tenangkan dulu dirimu." Bu Urip menyodorkan secangkir teh hangat untuk Alice.

"Terima kasih, Bu." Alice pun segera meminum teh hangat itu segera, dan menikmati kehangatan yang merasuki dirinya.

"Maaf ya Lice, kalau boleh tahu kondisi kamu sekarang bagaimana?" Bu Urip kembali bertanya. Kali ini dengan sedikit berhati-hati.

"Kondisi? Kondisi apa ya Bu?"

"Maaf … maksud saya kondisi rumah tanggamu saat ini,"

"Oh itu, Alhamdulilah baik-baik saja Bu. Ada apa ya, Bu?" tanya Alice dengan wajah yang penuh tanda tanya.

"Ibu dengar Bara ingin dinikahkan dengan putri sahabat mertuamu. Apa kamu sudah tahu akan hal itu?" selidik bu Urip perlahan.

Alice hanya menganggukkan kepalanya perlahan lalu kembali meminum teh hangat buatan bu Urip.

"Wanita itu tadi ke sini. Sekarang mereka pergi bersama-sama."

Alice pun terkejut dan langsung menyemburkan air teh yang telah berada di mulutnya.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO
8.8
Dahulu Adnan dicampakkan oleh kekasihnya karena kemiskinan yang ia derita. Wanita itu memilih pergi demi mengejar pria kaya. Sepuluh tahun berlalu, Adnan kembali dengan kekayaan melimpah untuk membalas rasa sakit hatinya. Namun, ia terkejut saat menemukan sang mantan kini justru menjadi wanita panggilan demi menyambung hidup. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi? Akankah Adnan tetap menjalankan dendamnya saat melihat kondisi tragis wanita itu?
Sampul Novel Bidadari di dalam Rumahku
7.9
Kehidupan harmonis Kinan sebagai wanita karier sekaligus ibu seketika hancur saat sang suami meminta izin untuk poligami. Alasan yang diberikan sangat menyayat hati; suaminya mendambakan sosok istri salehah yang mampu membimbingnya secara spiritual, sebuah sindiran tajam bagi Kinan. Terjebak dalam rasa tidak percaya dan luka mendalam, Kinan kini harus menghadapi kenyataan pahit berbagi kasih. Mampukah ia bertahan menjalani hari bersama madu di rumahnya sendiri?
Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Kehidupan sering kali melenceng dari rencana awal dan menyajikan beragam pilihan sulit bagi setiap orang. Meski sebuah jalan terlihat menjanjikan, tiap keputusan pasti membawa konsekuensi tertentu. Sebagai manusia, kita dituntut bijak dalam menilai situasi demi masa depan. Terkadang, berdiam diri dan mengikuti arus pun tetap memiliki risiko tersendiri. Renungkanlah setiap langkah dengan matang agar tidak ada penyesalan mendalam akibat salah mengambil keputusan di kemudian hari.
Sampul Novel Cinta Palsu, Dendam Sejati Telah Dimulai
9.6
Vano, tunanganku, tega mendorongku ke kolam meski tahu aku trauma air. Saat aku sekarat, ia justru bermesraan dengan selingkuhannya, Melodi. Setelah selamat, ia berbohong bahwa aku terpeleset demi reputasinya. Kebencianku memuncak; aku memutuskan berpura-pura amnesia untuk menghancurkannya. Aku mengaku sebagai kekasih Bahar Adijaya, musuh bebuyutannya. Melihat wajah Vano yang pucat pasi, aku tahu misi balas dendamku yang mematikan baru saja dimulai.
Sampul Novel Istri Dadakan CEO Tampan!
8.9
Aska Pradipta adalah CEO tampan yang menjadi incaran banyak wanita. Kehidupannya berubah drastis saat ia menemukan bayi hasil hubungan masa lalunya ditinggalkan di depan rumah. Di tengah kepanikan, ia meminta Naura, sekretarisnya, untuk membantu merawat sang anak. Namun, kesalahpahaman muncul saat ibu Aska memergoki mereka. Terpaksa demi menutupi situasi, Aska menawarkan pernikahan kontrak kepada Naura dengan imbalan fantastis. Akankah kesepakatan ini berakhir cinta?
Sampul Novel persahabatan
8.6
Dalam ranah sastra modern, cerpen hadir sebagai bentuk prosa unik yang merangkum berbagai narasi fiktif penuh makna. Karya ini menyajikan jalinan cerita rekaan yang mendalam namun ringkas, sesuai dengan karakteristik utamanya sebagai cerita pendek. Melalui pendekatan naratif yang padat, pembaca diajak menyelami dunia imajinasi yang dirancang khusus untuk menyampaikan pesan emosional serta dinamika hubungan manusia dalam format tulisan yang sangat efisien.