APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saat Istriku Memilih Mati

Saat Istriku Memilih Mati

Kepergian mendadak sang istri akibat bunuh diri meninggalkan duka mendalam bagi seorang suami dan ketiga putra kecilnya. Tanpa ada firasat sebelumnya, kebenaran pahit di balik tragedi tersebut mulai terungkap satu demi satu. Pria yang merasa telah menjadi pemimpin keluarga sempurna ini harus menghadapi kenyataan kelam atas sikapnya selama ini. Kini, di tengah ancaman mertua, ia terpaksa merenungi segala kesalahan masa lalu yang tidak mungkin lagi ia perbaiki.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari ini sangat melelahkan, setelah tidak bekerja beberapa hari, balik-balik kerjaan kantor semakin menumpuk. Teman se-tim hanya menyalamiku dan mengucapkan belasungkawa, namun tak ada yang berinisatif untuk menghandle pekerjaanku.

Rekan kerja yang sering kubantu dan lebih luangkan waktu, yang kuanggap lebih penting dari keluargaku kini baru kelihatan boroknya. Tapi siapalah aku, protes juga percuma, mereka bukan siapa-siapa.

Beginikah maksudmu saat mengeluh sakit dan aku tak membantumu beres-beres rumah? Aku dulu tak habis pikir kenapa kau memaksakan diri tetap mengerjakan semuanya jika akhirnya selalu kau barengi dengan ngomel-ngomel.

Mengapa kau tak istirahat saja? Padahal solusinya semudah itu.

“Bunda, sudah istirahat saja lho timbang merepet terus, penging kuping.”

“Kalau bukan aku yang mengerjakan, lalu siapa? Sampean?”

Dih, kena kan. Padahal maksudku bukan itu.

“Ya kalau memang mau dikerjakan, bisa gak tanpa ngomel-ngomel? Hari minggu ayah pengen istirahat, suasana tenang. Lagian, jika mengerjakan sesuatu dengan tidak ikhlas gitu malah ruginya dobel-dobel.”

“Gak bisa Yah, kerjaan ini kalau ditunda bukannya berkurang. Tapi makin menumpuk, dan kepalaku pening gak bisa istirahat kalau rumah berantakan.”

“Ya itu kesalahan bunda karena standarnya ketinggian...”

Dia terdiam sesaat menatapku yang asyik rebahan sembari main Hp, ada nelangsa yang tak dapat dideskripsikan terpancar dari sorot matanya saat kulirik sekilas, karena tak biasanya ada jeda saat kami bicara. 5 menit yang terasa panjang.

Dia terduduk sambil menunduk di pinggir kasur. Aku tak memedulikannya dan kembali sibuk berselancar di sosial media. Sempat kudengar tarikan ingus, lalu dengan lirih ia berkata.

“Iya, ekspektasiku terhadap suami juga ketinggian....”

Lalu setelah itu ia berlalu, aku tak ambil pusing apa yang ia katakan. Jika ia berharap dengan kata-katanya itu aku lalu berubah menjadi suami yang diharapkannya, maka ia salah. Harusnya ia tahu untuk tak berharap pada manusia, aku ya memang begini ini adanya sejak masih membujang. Kenapa baru protes sekarang?

Hari ini aku pulang dari kantor, membuka pintu hanya untuk melihat kekacauan dalam rumah. Sofa terbalik, pot bunga yang terguling dan menghamburkan isinya, mainan yang tersebar di mana-mana. Meja makan yang berantakan, beberapa makanan tumpah hingga ke lantai.

Belum lagi tangisan Ali dari dalam kamar, kudengar Azka berusaha mendiamkan adiknya.

“Sssh... Dek, adek lapar ya? Tunggu ayah pulang sebentar lagi ya? Mas tadi lihat gak ada nasi, habis buat kita sarapan tadi pagi. Mas belum bisa masaknya, maaf ya? Ali sabar sebentar lagi ya?”

Saat aku mengintip ke kamar, kulihat Azka memeluk sembari mengusap kepala adiknya dengan lembut. Hatiku hancur luas biasa melihat pemandangan mereka berdua.

Hari ini, aku meminta Azka untuk tak masuk sekolah lebih dulu, anak laki-lakiku berusia 8 tahun itu kuminta untuk menjaga adik-adiknya sampai aku menemukan tempat untuk menitipkan mereka saat aku bekerja.

Lihatlah, dia yang dipaksa dewasa. Kulihat Rayi tertidur di atas tumpukan bantal dengan posisi tertekuk dan meringis memegang perut.

Aku lupa, selepas sarapan tadi pagi tak membuatkan mereka nasi, bahkan sekedar menyiapkan makanan untuk mereka. Sedang karena kerjaan yang menumpuk membuatku lupa waktu dan baru pulang setelah jam menunjuk angka 10. Itupun karena security kantor yang mengingatkan jika lampu semua akan dimatikan.

Dzalimnya aku, aku berlari memeluk mereka bertiga, mengucapkan maaf yang tak putus-putus.

Inikah yang maksudmu aku tak pernah peka, adinda? Harus dengan ketiadaanmu lah yang dapat membuatku sadar?

Tring. Tring. Tring.

Suara notifikasi masuk secara beruntun di ponsel istriku saat baru kunyalakan. Sudah beberapa hari aku lelah mencari ponsel ini ke seluruh penjuru rumah, yang akhirnya kutemukan saat telah putus asa dan bertanya pada Ali, anakku yang masih belum bicara.

Aku merebahkan diri di sampingnya yang sedang sibuk bermain mobil-mobilan di karpet ruang tengah. Padahal niatku hanya bertanya sekenanya untuk menyuarakan pikiran yang suntuk, tak berharap ia akan mengerti.

“Huft, ponsel bunda kemana ya Ali? Ayah cari kemana-mana gak ketemu. Ditelepon juga gak nyambung.”

Selepasnya aku berkeluh kesah, ia lalu berdiri. Alisku mengernyit mengikuti langkah-langkah kecilnya, mau kemana dia? Apakah dia tahu di mana ponsel sang bunda berada?

Tak urung aku bangkit dan mengikutinya menuju kamar kecil di sudut belakang rumah yang disulap menjadi ruang setrika.

“Aaa! Aaa!” Tangan kecilnya menunjuk-nunjuk kabinet kecil tempat sang bunda biasa menaruh obat-obatan.

Hmm? Masak sih di sini? Sekelebatan pikiranku yang langsung terjawab tatkala kutemukan ponselmu di sana. Girangnya bukan main seperti perompak yang menemukan peti harta karun.

Kuusap-usap kepala Ali dengan senang, ini adalah pencapaian kita berdua. Diapun juga bertepuk tangan melihatku senang.

Benar katamu adinda, saat aku mulai belajar memahaminya, ia justru menjelma menjadi guru yang memberikanku pelajaran. Bukan sebaliknya, anak kecil yang belum bisa berbicara ini, justru lebih mengerti ayahnya yang merasa dewasa.

Kini setelah menyalakan kembali ponselmu, aku membiarkan seluruh pesan masuk hingga selesai. Dengan demikian ponsel usang keluaran lawasmu ini tak ngambek dan nge-hang.

Tatapanku tertuju pada penggalan obrolan antara kau dan ibuku, ada pesan yang belum sempat kau buka dari beliau, dan dari percakapannya tampak beliau sedang marah.

Apa yang terjadi antara kau dan ibuku, adinda?

Setelah seluruh notifikasi masuk, aku pertama kali membuka percakapan kalian.

[Gimana Mega? Amri pasti sudah gajian bulan ini, ingat janjimu melunasi hutang ibu yang 17 juta itu. Bagaimanapun juga, Amri itu masih harus berbakti pada ibunya, dan tugasmu lah sebagai istri untuk mendukung Amri untuk tetap menjalankan perintah agama.]

Hatiku tercekat membaca pesan dari ibu, hutang? Hingga 17 juta? Seingatku, tiap bulan aku sudah mengirimkan 5 juta sendiri untuk membantu kebutuhan rumah. Karena bapak sudah tidak bekerja, dan kakak perempuanku yang tinggal serumah bersama suami dan anak-anaknya kudengar juga selalu memberi jatah bulanan.

Lalu untuk apa uang 17 juta itu? Itu bukan jumlah yang sedikit. Untuk kebutuhan kami di sini aku memberi Mega 5 juta, belum dipotong cicilan tanah kami di kampungku. Kami kontrak di sini, dan untuk kelangsungan kontrakan mengandalkan dari bonusanku tiap akhir tahun. Jadi, bulanan kami benar-benar ngepas, bahkan kurang, seperti laporannya padaku.

[Iya Bu, tapi Mega hanya bisa mengirim 1 juta dulu. Karena kebutuhan lagi banyak, maaf ya bu belum bisa bantu banyak.]

[Mana cukup Mega, itu hanya untuk menutup bunganya saja. Jangan kau sembunyikan sendiri uang suamimu jika tak ingin disebut sebagai menantu durhaka.]

Sakit hatiku membaca pesan ibu untuk Mega. Selama ini, tak ada sedikitpun ia mengecilkan ibuku. Mega memang tak pernah tahu jika aku mengirim sendiri pada kedua orang tuaku. Yang Mega tahu, uang gaji dariku seluruhnya kuserahkan padanya. Ia sering cerita tak enak hati pada orang tuaku karena tak bisa memberi.

Kututupi dari Mega karena untuk mengurangi rasa iri hatinya, waktu itu aku hanya menimpali untuk tak terlalu mempermasalahkan kedua orang tuaku, kebutuhan kita dicukupi dulu.

Padahal diam-diam karena aku sudah lebih dulu memenuhi kebutuhan kedua orang tuaku itu.

Pikirku, karena ibu dan bapak sudah tak ada lagi tanggungan anak sekolah, jadi uang 5 juta untuk ukuran hidup di kampung sudah berlebih. Mengapa masih kurang hingga memiliki hutang belasan juta itu?

Ibu juga tahu aku menyembunyikan kirimanku padanya dari Mega, bukannya maklum ini malah memanfaatkan keadaan untuk meminta lebih. Kuamati percakapan mereka berdua sebelum-sebelumnya yang semakin membuat hatiku berdegup kencang.

Setiap bulan, di tanggal yang sama aku gajian ibu tak pernah absen menanyakan uang ke Mega, meminta bagian. Percakapan mereka tak pernah sedikitpun menyinggung tentang cucu, sekedar berbasa basi menanyakan kabar merekapun tidak. Isinya hanya uang, uang dan uang.

“Astagifirullahaladziiim...” gumamku dengan darah berdesir sembari mengusap wajah kasar.

Inikah yang harus dilalui istriku selama ini? Pantas dia begitu tak kenal lelah menerima pesanan donat hingga ratusan biji setiap hari, kupikir karena dia suka dengan uang yang akan didapatkannya, tapi karena terpaksa untuk menutupi kebutuhan yang kurang.

Malu sekali rasanya, ditutupinya aib suami bahkan dari keluarganya sendiri walau ia bersusah-susah sembari mengurusi ketiga anak kami yang sedang aktif-aktifnya...

Tak cukup sampai di situ, masih ada lagi percakapannya dengan bapakku yang setali tiga uang dengan ibu, meminta uang rokok 500 ribu, setiap bulan. Di tanggal yang sama juga dengan aku gajian, aku semakin geleng-geleng kepala. Ini menantunya, sudah seperti sapi perah saja oleh mereka.

Apakah ini yang membuatmu lelah dan memilih pergi, adinda? Mengapa engkau tak pernah cerita?

Tak tahu malunya aku, padahal aku yang tak pernah ada saat kau hendak buka suara.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel About Alana's life
7.8
Alana Septiani Putri, gadis 18 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang membencinya. Sebagai anak kedua, ia selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang dipuja karena prestasi akademik. Meski sebenarnya lebih cerdas, kemampuan Alana sengaja diredam oleh saudaranya sendiri. Di balik penderitaannya, Alana hanya mendambakan satu hal yang tak pernah ia rasakan: kasih sayang tulus. Akankah ia mendapatkan kehangatan keluarga itu sebelum dunianya benar-benar terhenti?
Sampul Novel Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
8.9
Sepuluh tahun mengabdi dalam bayang-bayang, pengorbanan istri Daffa Prawirodirdjo hancur saat melihat suaminya pamer kebahagiaan dengan Leni, cinta lamanya. Puncaknya, Daffa tega menelantarkan Bintang yang terluka di hari ulang tahunnya demi membela putri Leni. Muak dengan pengkhianatan itu, sang istri membawa Bintang pergi dan memulai hidup baru sebagai seniman sukses. Saat Daffa kembali memohon ampun tiga tahun kemudian, pintu maaf telah tertutup selamanya.
Sampul Novel Bukan Salesman Biasa
9.0
Hidup Ardhan Aji Pradiptio berubah total setelah menolong kakek misterius dan menerima benda ajaib sebagai imbalan. Sebelumnya, ia selalu dirundung malang, mulai dari karier yang mandek, hinaan atasan, hingga batalnya pernikahan. Kini, ia memiliki kemampuan unik untuk melihat kadar kebaikan atau kejahatan seseorang melalui matanya. Namun, sebuah pertemuan dengan pria bermata ganjil membuatnya bimbang. Mampukah Ardhan mengungkap identitas sosok misterius tersebut?
Sampul Novel Hasrat Kakak Tiri
9.6
Bryan Alexander, CEO playboy yang berkuasa, telah menghabiskan dua belas tahun di New York demi melupakan Deanisa Melody, adik tirinya yang menjadi obsesi terbesarnya. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali saat Nisa ditunjuk menjadi asisten pribadinya. Bryan yang masih terjerat perasaan mendalam kini memperingatkan Nisa untuk menjaga sikap di kantor. Di tengah batasan profesional, mampukah Bryan menahan hasratnya pada gadis yang tetap menjadi candu baginya?
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Presdir Tampan
8.4
Kehidupan Niana Fradella berubah drastis setelah pertemuan tak terduga dengan pria yang menjadi jodoh sejatinya. Awalnya ia hanya berniat melarikan diri dari perjodohan paksa orang tuanya, namun takdir justru mempertemukannya dengan sosok yang jauh lebih sempurna. Meski kini ia menemukan cinta yang luar biasa, kebahagiaan Niana terancam sirna. Penyakit yang kian parah menggerogoti fisiknya, membuatnya ragu apakah ia mampu bertahan hidup lebih lama lagi.
Sampul Novel Istri Tomboy
8.8
Roy adalah mahasiswa populer yang dikagumi banyak wanita. Namun, takdirnya berubah drastis setelah ia kalah taruhan dari sahabatnya, Bram. Akibat kekalahan konyol tersebut, Roy terpaksa menikahi Gea, seorang gadis tomboy yang sangat disegani di lingkungannya. Kehidupan pernikahan yang tak terduga ini pun dimulai. Apakah perbedaan karakter yang kontras di antara keduanya akan memicu konflik abadi, atau justru menumbuhkan benih cinta yang tulus seiring berjalannya waktu?