APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sayap-sayap Patah

Sayap-sayap Patah

Inara Subrata pindah ke New York demi menyembuhkan luka masa lalu dan mencari lembaran baru. Namun, pertemuannya dengan Fabio, CEO sukses di Brooklyn, justru mengungkit trauma lama yang hampir sirna. Kini Ara terjepit dilema hebat: terjebak dalam hubungan tanpa status yang menyakitkan atau membiarkan bisnis kakaknya hancur total. Di tengah perjuangan pahit ini, mampukah Ara menemukan ketulusan dan kebahagiaan sejati yang selama ini ia impikan di tanah asing?
Bab
Bagikan

Bab 1

Semburat cahaya mentari sore menelisik masuk melalui kisi-kisi jendela kamar yang terbuka. Seorang gadis berwajah murung yang dipenuhi kesedihan sedang terduduk menatap jauh ke lautan lepas tepat di depan jendela kamarnya.

Ara, nama gadis itu Inara Subrata. Ia sama sekali tidak berniat beranjak dari duduknya kalau saja, Bi Nani, asisten rumah tangga disana tidak menyadarkannya dari lamunan.

"Coklat panasnya sudah dingin, Non...", ucap Bi Nani singkat.

Ara menoleh. Bi Nani benar, ia sudah melupakan coklat panasnya (yang kini sudah menjadi dingin) sedari tadi.

"Oh, Ara lupa bi..", gadis itu segera meminum coklatnya. Coklat selalu memperbaiki suasana hatinya.

"Bi, Ara akan keluar jam 4 nanti. Ada janji sama temen dari Jakarta. Apa bibi mau nitip sesuatu? Nanti sekalian Ara belikan...", Bi Nani tersenyum dan menggeleng.

"Tidak ada, Non. Buat bibi, Non sudah mau berkumpul lagi dengan teman-teman Non saja, Bibi sudah senang. Apa Non akan pulang untuk makan malam?"

"Ara tidak tau, Bi. Tapi bibi siapkan saja", Bi Nani mengangguk lalu meninggalkan gadis itu.

Enam bulan yang lalu, Ara sangat hancur karena kehilangan kedua orangtuanya akibat kecelakaan pesawat. Sampai saat ini, Ara bahkan tidak tahu kondisi dan keberadaan jenazah keduanya. Sejak saat itu, Ara benar-benar menutup diri. Menenggelamkan hidupnya di dalam kesedihan yang sangat dalam.

Ara tidak pernah lagi keluar rumah, bahkan untuk melihat pekaranganpun sangat jarang. Ia menolak semua ajakan teman-teman dan sahabatnya untuk sekedar berkumpul di cafe atau club. Ia juga mengabaikan undangan para rekan, colega, dan teman-teman sekolahnya dulu.

Ara sempurna bersedih dan menyendiri. Bi Nani sudah berulang kali memintanya untuk keluar rumah, mencari udara segar. Namun gadis itu menolaknya dengan alasan apapun.

Hari itu, Ara memutuskan untuk menemui sahabatnya. Semoga merupakan awal yang baik, pikirnya dalam hati.

"Bi, Ara pergi ya...", Bi Nani mengangguk dan tersenyum.

"Hati-hati, Non...", Ara mengucapkan salam lalu segera masuk kedalam chevrolete putihnya.

Ara segera menuju cafe di Jimbaran. Sesaat setelah Ara keluar dari mobilnya, seseorang melambai dari kejauhan. Ara tersenyum dan segera menghampiri gadis itu.

"My Ara. Im glad to see you here, my darling. Soo miss you", keduanya berpelukan lama. Ara tersenyum.

"Kamu udah lama nunggunya, Nggun?", gadis itu menggeleng.

Anggun Dwimora, sahabat Ara sejak ia SMP. Keduanya berpisah justru saat Ara mendapatkan kabar kematian orangtuanya. Saat itu Anggun harus pergi ke London, meneruskan kuliahnya.

"Aku turut berduka ya, Ra. Maafkan aku yang ga bisa dampingin kamu...", Anggun memegang tangan sahabatnya itu. Ara mengangguk dan mencoba tersenyum.

Ara sebenarnya tidak suka saat seseorang mengungkit kembali kenangan buruk itu. Tapi Anggun nampak tulus mengucapkan itu. Sehingga Ara tidak ingin larut dalam kesedihan itu lagi. Wajahnya langsung berubah ceria.

"Kamu ngapain di Bali, Nggun. Ayo menginap kerumahku...", Anggun menyadari bahwa Ara ingin mengalihkan pembicaraan. Ia kemudian tersenyum.

"Cuma sampe besok, Ra. Ada tugas kampus, jadi harus bertemu teman untuk mengurus penelitian kecilku", Ara mengangguk, "Oh ya, kenapa kita ga jalan-jalan dipantai? Udah mau sunset sebentar lagi. Hayok...", Ara tertawa lalu mengangguk.

Ara langsung membuka sepatu dan menentengnya sambil terus berjalan dipinggiran pantai.

"Oh ya, kenapa kamu ga datang bareng Niko? Bukannya dia sedang ada disini??", Deggg. Ara tiba-tiba terdiam. Niko ada di Bali?

"Bareng Niko? Maksudnya, Nggun?", Anggun menatap Ara bingung.

"Kemarin aku menelponnya, karena aku mendapatkan kabar bahwa kamu tidak lagi tinggal di Jakarta. Dia bilang kalian sudah tinggal di Bali sekarang. Makanya ku pikir, kalian akan datang bersama...", Ara nampak gusar. Ia sangat tidak nyaman ketika mendengar nama itu.

"Hai, Nggun...", sebuah suara mengagetkan Ara dan Anggun. Tubuh Ara membeku. Ia mengenali suara berintonasi tenang itu. Anggun menoleh.

"Oh, hai, Nik. Kita baru aja ngomongin kamu...", Niko tersenyum. Ia melihat kearah Ara yang sama sekali tidak menoleh kepadanya, "Ra, ini ada Niko...", Anggun menoleh lagi kepada Ara. Gadis itu sama sekali tidak berniat menatap laki-laki dibelakangnya, "Ara, kalian t...idak sedang b...ertengkar, kan??", tanya Anggun dengan hati-hati. Namun Ara segera menatapnya.

"Nggun, aku rasa aku harus pulang sekarang. Aku ada janji makan malam bersama saudaraku. Kamu berkunjunglah kerumahku jika ada waktu, okey?", Ara segera memeluk sahabatnya itu cepat. Lalu pergi meninggalkannya.

Anggun hendak memanggil Ara namun gadis itu sudah berlalu dengan buru-buru.

"Ara, tunggu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan...", Ara mengenali suara itu. Niko mengejarnya, namun Ara tidak berniat sedikitpun untuk berhenti, "Ara...", langkah kaki Ara terhenti. Bukan karena ia yang meminta, tapi karena seseorang mencekal tangannya, "Aku mohon dengarkan aku sebentar saja...", Ara berbalik cepat.

"Lepaskan tanganku, Bang", Ara berusaha melepaskan cengkeraman tangan Niko, "Aww, sakit. Kamu menyakitiku...", Ara meringis karena nyeri dilengannya. Niko buru-buru melapaskan tangan gadis itu.

"Maaf, Ara, maafkan aku. Aku tidak berniat...", Niko menyesali perbuatannya mencengkram tangan gadis itu. Niko hanya tak ingin Ara pergi, karena itu tangannya tanpa sadar mencengkram lebih kuat.

"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, bang. Semua sudah selesai...", ucap Ara dingin.

"Ara, aku mohon. Tolong dengarkan sedikit saja penjelasanku...", Ara tertawa hambar.

"Penjelasan apa, Bang? Abang ingin menjelaskan apa? Semua sudah jelas, abang ingin pergi dari kehidupanku. Dan sekarang aku sudah merelakannya...", Niko menggeleng.

"Tidak Ara, kamu salah paham. Abang...", ucapan Niko terhenti karena Ara tiba-tiba mengangkat tangannya.

"Tidak ada yang salah paham, bang. Aku sudah mengerti. Dan tidak perlu ada penjelasan lagi...", Niko ingin berbicara lagi namun Ara menggeleng keras. Menolak penjelasan Niko, "Dulu, sewaktu abang ingin pergi, kemana penjelasan abang? Bahkan saat Ara datang ke bandara meminta penjelasan abang dan memohon abang untuk tidak pergi, apa abang berniat sedikit saja bicara kepada Ara????", dua bulir air mata mengembang di kelopak mata Ara.

"Ara, aku...", Niko sangat terluka melihat gadis itu menangis.

"Saat Ara benar-benar membutuhkan kehadiran abang, Abang justru pergi tanpa penjelasan. Abang bahkan tidak perduli, sedikit saja mengerti, bahwa Ara membutuhkan penjelasan. Kenapa abang tidak mau bicara dulu? Jika abang menjelaskan alasan abang pergi saat itu, mungkin Ara akan mengerti. Sekalipun abang pergi karena ada gadis lain, jika abang bicara dengan jelas padaku, itu lebih baik daripada meninggalkan Ara tanpa alasan sedikitpun..."

Gadis lain?? Tidak!! Itu tidak ada! Batin Niko protes. Ia sangat mencintai Ara dan kepergiannya saat itu bukan karena gadis lain.

"Selama enam bulan, Ara merangkai sendiri, menerka-nerka alasan abang meninggalkanku. Terus tenggelam sendiri, dan meyakinkan diri bahwa Tuhan sangat tidak adil pada hidupku", air mata Ara sudah membanjiri pipinya sedari tadi.

"Tapi kini semua sudah berlalu. Bagi Ara, semua yang terjadi sudah menjadi masa lalu yang harus Ara lupakan. Ara tidak ingin mendengar alasan atau penjelasan apapun dari abang, bahkan dari Tuhan. Ara akan melanjutkan semuanya. Dan kenangan kita, Ara kubur bersama dengan kepergian ayah dan bunda. Semua sudah berakhir, bang. Tidak perlu ada penjelasan lagi...", Ara menghela nafas. Ia menyeka air matanya dan bersiap pergi.

"Tapi, Ra. Abang inginkan Ara...", Niko berkata dengan penuh pemohonan. Ara menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk jantungnya. Ara kembali menoleh.

"Tidak, Bang. Semua sudah terlambat. Lupakan Ara, karna Arapun akan melakukan hal yang sama. Dan satu lagi, Ara mohon. Jangan pernah muncul lagi dikehidupanku, bang. Aku mohon...", Ara segera berlari meninggalkan Niko. Ia buru-buru masuk kedalam mobilnya dan melajukannya cepat meninggalkan halaman cafe.

Hati Ara sangat terluka. Kehadiran Niko sama saja membuka luka lama. Ia kembali merasakan hancurnya kekuatannya saat Niko meninggalkannya dulu. Laki-laki itu pergi justru saat ia sangat membutuhkan kehadirannya. Ara sangat kesepian dan bersedih, namun Niko justru meninggalkannya tanpa penjelasan apapun. Bahkan saat Ara memohon padanya, berlutut agar laki-laki itu tidak pergi, Niko tetap bergeming.

Tidak. Ara tidak akan pernah mau menemuinya lagi. Kehadiran Niko hanya membawa sesak di dadanya dan mengembalikan kenangan buruk kepergian orangtuanya.

Ara segera berlari menemui Bi Nani sesampainya dirumah. Gadis itu langsung memeluk dan menangis dipelukan Bi Nani.

"Non, ada apa?", tanya Bi Nani keheranan karena melihat Ara menangis.

"Bi, Ara tidak tahan disini. Ara ingin pergi..."

Bi Nani terkejut. Ia tahu, Ara pasti bertemu dengan Niko. Ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat gadis itu memutuskan untuk PERGI...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jauh di Luar Jangkauanmu
9.5
Sepuluh tahun pengabdian Delia pada mantan suaminya berakhir sia-sia hingga ia memutuskan bercerai. Tiga bulan berlalu, ia muncul kembali sebagai sosok luar biasa: CEO merek ternama, desainer kondang, dan juragan tambang sukses. Saat keluarga mantan suaminya memohon kembali, Delia yang kini dicintai Caius yang berkuasa hanya memandang mereka rendah. Baginya, mereka tak lagi selevel karena kini ia telah berada jauh di luar jangkauan mereka semua.
Sampul Novel Balas Dendam : Kembalinya Sang Miliarder
8.0
Di sebuah rumah sakit elit Chicago, Presiden Nelson Gonzales justru menyambut kelahiran putra kandungnya dengan kebencian mendalam. Alih-alih bahagia, ia malah menghina Florence dan menolak mengakui bayi itu. Saat Florence berjuang melindungi buah hatinya, Nelson mengancam akan membuang bayi tersebut. Dalam keputusasaan, Florence mencoba menyusui anaknya agar tenang, namun tindakan itu justru memicu tuduhan keji dari Nelson bahwa ia sedang berusaha merayunya.
Sampul Novel Dimanjakan oleh Suami Misterius
9.7
Demi warisan ibunya, Erina harus menikahi seorang programmer tampan yang sederhana. Namun, rahasia masa lalu mulai terkuak setelah tiga tahun ia kehilangan dua dari bayi kembarnya. Meski tak pernah bersama pria lain, Erina tiba-tiba hamil dan menemukan fakta bahwa anak-anaknya yang lain ternyata masih hidup. Siapakah sosok suami misteriusnya ini sebenarnya? Mengapa pria miskin itu sangat mirip dengan miliarder yang sering muncul di layar televisi?
Sampul Novel Gairah Nakal Sang Billionaire
8.5
Raisa Aquila Nazara, wanita cantik berusia 25 tahun, terjerat dalam skema jahat Helena, ibu dari kekasihnya sendiri. Jebakan itu membawanya berakhir di satu kamar dengan Raka Mirza Bramantyo, CEO tampan berumur 27 tahun yang dikenal sebagai seorang player. Setelah malam tak terduga itu terjadi, Raisa harus menghadapi kenyataan pahit atas apa yang mereka lakukan. Akankah insiden memalukan ini menjadi akhir segalanya atau justru awal hubungan baru bagi mereka?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Lara terpaksa menceraikan Elara akibat tekanan sang ibu mertua yang memandang rendah statusnya sebagai putri sopir. Elara yang dulu hangat berubah menjadi dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam tak terduga yang dianggap Elara sebagai momen bersama Elena, ia resmi bertunangan dengan wanita itu. Lara yang patah hati memilih mengasingkan diri ke desa untuk membuat sabun organik, tanpa menyadari bahwa dirinya tengah mengandung pewaris suaminya.