APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SEBUAH PENGAKUAN

SEBUAH PENGAKUAN

Bagas memuja citra ayahnya melalui cerita sang ibu. Sejak kecil, ia hanya mengenal sosok pria hebat yang konon telah tiada namun tetap dicintai ibunya dengan tulus. Namun, fantasi Bagas hancur saat kenyataan pahit terungkap. Ayahnya ternyata masih hidup, tetapi bukan pria gagah seperti di bayangannya. Pria itu kini telah bertransformasi menjadi seorang transgender. Akankah Bagas tetap merasa bangga saat mendapati identitas asli ayahnya yang sangat kontras?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sosok yang mengaku sebagai ayahku itu mengambil sebungkus rokok filter yang tergeletak diatas meja. Sebelum mengambil ia menawarkannya padaku namun aku segera menolak. Ia mengangkat kedua bahunya lalu menyalakan rokok yang terselip ditangannya dan menghisapnya perlahan.

"Aku sungguh tak menyangka kita akhirnya bisa bertemu," ucapnya membuka percakapan seraya menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dalam sekejap asapnya memenuhi ruangan.

Aku menatap sosok feminin dihadapanku, mencoba mencari jejak kemaskulinan disana. Aku tak mendapati sedikitpun sisa kejantanan dari sosoknya, sosok yang telah membuat aku hadir ke dunia.

Ia kembali menghisap rokoknya, asapnya menguar ke seluruh penjuru ruangan luas yang dipenuhi kemewahan ini

"Kenapa kamu terus menatapku?" tanyanya resah dan mulai gugup.

Aku semakin jengah dengan situasi ini.

"Tentu kamu mengerti apa yang sedang aku pikirkan," tungkasku tajam.

Sosok yang mempunyai bulu mata lentik itu termangu sesaat namun kemudian tersenyum sinis.

"Aku tahu kamu kecewa dan aku harap kamu bisa memahami pilihanku ini."

"Apa kamu bilang, memahami?" 

Ganti aku yang tersenyum sinis padanya.

"Kemarin aku masih menganggap bahwa ayahku adalah sosok sempurna, lelaki yang sebenarnya lelaki. Tapi kini apa yang kudapati, sangat bertentangan dengan semua cerita yang selama ini kudengar dari ibu. Iya aku kecewa sangat kecewa malah."

Sosok cantik itu kemudian bangkit dari sofa menuju bar mini untuk mengambil sebotol brandy lalu ia tuangkan ke dalam gelas. Ia menawarkan gelas itu padaku, tentu saja aku menolak minuman haram itu. Tapi kemudian ia menyesap sendiri brandynya.

"Selama ini ibu selalu mengatakan bahwa ayahku adalah sosok lelaki sholih yang selalu menjalankan syariat secara benar," sindirku padanya.

Ia kembali tersenyum masam.

"Kamu harus membiasakan diri dengan keadaanku ini."

Aku semakin jatuh dalam jurang kekecewaan saat mendengar pernyataannya. Dadaku semakin sesak oleh hantaman kesedihan. Aku semakin teringat pada ibuku, wanita mulia yang telah mengajarkan nilai-nilai moral dan agama, sangat berbeda jauh dengan sosok ada dihadapanku saat ini.

"Kamu tahu ini lelucon paling tidak lucu yang pernah aku dengar. Bagaimana mungkin dengan mudah kamu mengatakan aku harus membiasakan diri? Selama ini aku dibesarkan dengan kisah-kisah hebat tentang ayahku, tentang ayahku yang penyayang, ayahku yang sholih juga ayahku seorang yang bertanggung jawab......"

"Aku masih bertanggung jawab, sampai saat inipun aku masih mengirimi kalian uang!"

"Ibu tak pernah menyentuhnya sama sekali. Selama ini ibu membesarkan aku dengan jerih payahnya sendiri, ibu adalah sosok sederhana yang tak membutuhkan sedikitpun kekayaan darimu!" tungkasku sengit.

Sosok feminim itu langsung terdiam, matanya nampak mulai memerah.

"Aku kini mengerti kenapa selama ini ibu mengatakan bahwa ayahku telah tiada, karena memang kenyataannya seperti itu," imbuhku sembari menatapnya tajam.

"Kalau memang seperti itu lalu kenapa kamu mencariku, jika kamu menganggap aku telah mati?"

Aku enggan untuk menjawabnya, perdebatan ini sungguh menguras emosiku. Sisi batinku yang lain tak membenarkan sikap kerasku padanya. Bagaimanapun keadaannya kini, ia tetap ayahku meski sekarang aku tak tahu harus memanggilnya apa.

"Bagaimana kabar ibumu?" tanyanya sedikit melunak seraya kembali duduk dihadapanku.

"Apa kamu masih peduli?" sergahku sinis.

Sosok cantik itu mendesah resah. Raut mukanya berubah sendu.

"Apa kamu percaya jika aku pernah begitu mencintai ibumu? Jadi apakah aku salah jika sampai kini aku tetap peduli pada wanita yang pernah menjadi istriku?"

Aku mengusap wajah kusutku dengan kedua tangan, mencoba melerai gelisah dan ketidak berdayaan dalam menghadapi kenyataan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Situasi ini sungguh membingungkan.

"Ibu mulai sakit-sakitan sekarang. Mungkin ia sudah terlalu lelah berjuang sendirian, sampai saat ini aku adalah hidup ibu."

Aku lantas menatapnya tegas.

"Jika kamu memang mencintai ibu lalu kenapa kamu pergi?"

Ia kembali membisu dan menatapku nanar.

"Apa kamu akan percaya kalau aku bilang bahwa ibumulah yang memintaku untuk pergi?"

Aku tersenyum menyeringai mendengarnya.

"Kamu ingin aku untuk mempercayaimu?"

"Keputusannya waktu itulah yang membuat aku mengambil pilihan untuk menjadi seperti ini."

Aku mengira ia mencoba mencari pembenaran atas keadaannya saat ini.

"Lantas kamu pergi dan melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang suami juga seorang ayah?"

Aku menyorotnya dengan tatapan penuh amarah.

"Waktu itu kami masih sangat membutuhkanmu. Seorang diri ibu berjuang, dihadapanku beliau tak pernah mengeluh ia adukan segalanya dalam sujud panjangnya dipenghujung malam. Sedangkan kamu malah memilih menjadi seperti ini. Apakah kamu pantas menjadi seorang ayah? Oh....tidak tak mungkin aku memanggilmu ayah dengan keadaanmu yang seperti ini."

Aku menatapnya sinis dan ia membalasku dengan gamang.

"Panggil saja namaku, Patricia, kamu boleh memanggilku Pat," ucapnya datar sembari ia sesap lagi brandynya yang telah dua kali ia tuang dalam gelas kristal.

Aku tersenyum masam padanya, perasaanku dipenuhi kemuraman.

Sosok yang kini mengaku bernama Patricia itu menghisap rokoknya dalam-dalam dengan jemari yang nampak gemetar sebelum kemudian menekannya kasar diatas asbak kaca. Ia lalu menghembuskan nafasnya membuat asap kembali menguar ke seluruh ruangan.

"Kalau kamu tak bisa menganggap aku ayah, anggaplah aku sebagai seorang sahabat. Kali ini aku berjanji aku akan menjadi seorang sahabat yang baik," tawar Patricia seperti seseorang yang mengajukan gencatan senjata pada pihak musuh.

Aku membisu tak menjawab, membiarkan ia sejenak dalam prasangkanya. Namun sejurus kemudian kebisuan kami diusik oleh kedatangan seorang lelaki muda keturunan hispanik yang dengan santai memasuki apartemen Patricia dengan membawa seikat bunga juga sebotol sampanye.

Patricia nampak gugup dengan kedatangannya apalagi saat pria itu mendekatinya dan mendaratkan kecupan di kedua pipinya.

Aku memandang mereka dengan muak. Patricia menjadi resah saat melihat tatapanku. Aku tahu ia malu padaku namun aku mencoba untuk tak peduli.

"Oh baby, sepertinya kamu kedatangan tamu!" seru lelaki yang memakai pakaian menyolok itu.

"Dia Bagas, anakku dari Indonesia," ucap Patricia sembari menatapku gelisah.

"Hai Bagas, kenalkan aku Xavier," ucapnya seraya mengulurkan tangannya padaku.

Aku hanya memandangnya dingin, suasana hatiku yang buruk membuatku enggan untuk sekedar berbasa basi. Aku memilih bangkit dari dudukku dan mulai melangkah menuju pintu. Patricia bergegas mengikutiku.

"Kamu menginap dimana?"

Aku tak menjawab malah menatapnya beku.

"Kita masih harus melanjutkan perbincangan ini, kumohon temui aku disini," pintanya sembari menyerahkan selembar kartu nama dari balik saku bajunya.

Dengan enggan aku mengambil kartu itu tetap tanpa suara. Aku bergegas membalikkan badan saat teman-teman Patricia yang lain datang. Mereka dengan dandanannya yang seronok menyapaku dan mengajakku untuk bergabung dalam pesta itu. Aku semakin mempercepat langkahku tak menghiraukan seruan mereka. Aku terlalu muak dengan semuanya.

*****

Aku melangkah perlahan ditengah Central Park yang beku. Sampai kemudian rasa ingin tahuku membuat aku membalikkan badan ke belakang  sambil mengarahkan pandangan ke atas pada apartemen Patricia yang terlihat semarak dengan warna warni lampu disko. Dari kejauhan aku melihat siluet orang-orang bergerak dan menari memeriahkan pesta. Hatiku remuk redam menyaksikan semua itu. Gigiku bergemelatuk bukan hanya menahan dingin namun juga kekecewaan. Hingga aku tak dapat menahan diri lagi, air mataku, aku biarkan tumpah. Iya aku kini menangis, menangisi takdir yang masih sulit untuk kumengerti.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Seorang fotografer alam liar melakukan ekspedisi mendalam ke jantung hutan Amazon yang misterius. Di sana, ia bertemu dengan pemandu lokal tangguh yang memicu ketertarikan kuat sejak awal. Di balik pesona hutan hujan yang eksotis, mereka harus menghadapi berbagai rintangan berbahaya yang mengancam nyawa. Di sela ketegangan dan ancaman alam tersebut, tumbuh gairah membara yang menyatukan keduanya dalam sebuah petualangan cinta yang penuh dengan risiko dan aksi.
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, koki ternama, mendadak jadi buronan setelah masakannya tak sengaja menewaskan perdana menteri. Saat pelarian, jiwanya berpindah ke tubuh seorang wanita yang tenggelam di lokasi berbeda. Dalam raga barunya, Max justru jatuh cinta pada Wulan, sahabat dari Nadia. Begitu berhasil kembali ke tubuh aslinya, Max bertekad mencari dan menikahi Wulan. Namun, meyakinkan wanita itu bukanlah perkara mudah. Akankah cinta sang koki berakhir manis?
Sampul Novel Marriage Life 2
8.9
Vante Adinan mendapatkan peluang kedua dari Andara Jeo untuk memulihkan pernikahan mereka yang hancur. Namun, tantangan baru muncul saat kepribadian Andara berubah drastis, termasuk permintaan anehnya saat mengidam. Situasi kian rumit ketika Jaren Adiyaksa menuduh Vante menjemput wanita hamil lain. Meski Vante bersikeras dirinya tidak berselingkuh, ia harus berjuang keras menghadapi segala ujian kesetiaan dan perubahan sikap istrinya demi menjaga rumah tangga mereka.
Sampul Novel Mute Husband
9.7
Beban berat menghimpit Jihan sebagai anak angkat di keluarga Park. Puncaknya, ia dipaksa menggantikan posisi Jira untuk menikahi seorang pria misterius yang penuh rahasia. Jihan sangat terkejut saat menyadari bahwa suaminya memiliki keterbatasan fisik dan tidak mampu berbicara. Terjebak dalam pernikahan dengan pria bisu tersebut, Jihan kini harus menghadapi realitas hidup yang tak pernah ia duga sebelumnya. Mampukah ia bertahan dalam ikatan tanpa suara ini?
Sampul Novel Obat Omega Tak Dikehendaki Sang Alpha
9.7
Tiga tahun menjadi penyembuh kutukan Alpha Kaelan berakhir tragis. Meski menjanjikan komitmen, Kaelan justru memilih Lila dan mencampakkan aku tepat di hari ulang tahunku. Di bawah pengaruh licik Lila, Kaelan berubah menjadi penyiksa kejam yang tega menyakiti keluargaku demi fitnah. Saat ia mencoba memaksaku kembali, aku memilih memutus ikatan. Kini, aku berpaling ke kawanan lawan demi pasangan takdir sejatiku yang baru saja bangkit dari koma panjang.
Sampul Novel Pernikahan Berliku & Perceraian
9.8
Terbangun sebagai tokoh antagonis dalam sebuah cerita, Sienna bertekad mengubah nasib tragisnya demi hidup mewah. Ia memilih menikahi Darren, pria kaya yang cemburu karena Sienna gemar menggoda orang lain. Meski pernikahan mereka didasari kehamilan, Sienna yakin Darren akan menceraikannya demi sang pahlawan wanita. Namun, saat ia terus menanti perpisahan itu, Darren justru menolak melepaskannya dan marah setiap kali topik perceraian muncul di antara mereka.