APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SELAKSA KISAH ANAK MANUSIA

SELAKSA KISAH ANAK MANUSIA

Nikmati deretan cerita pendek pilihan dalam antologi ini yang dirancang khusus untuk menemani waktu senggang Anda. Menghadirkan berbagai kisah romansa modern yang penuh makna, setiap narasinya menawarkan pengalaman membaca yang ringan namun tetap memikat hati. Buku ini merupakan pilihan literatur yang sangat tepat bagi siapa pun yang ingin melepas penat sambil menyelami dinamika hubungan antarmanusia yang dikemas secara apik dan juga menyentuh.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ningsih memandang anaknya dengan sedih. Anaknya pulang sekolah dengan membawa kabar yang menyedihkan."Kalau besok nggak bayar SPP, aku nggak boleh ikut tes, buk," kata Arin sambil terisak.Ningsih menghela nafas panjang. Masalahnya pasti uang lagi. Ningsih memang belum punya cukup uang untuk membayar uang sekolah anaknya, dia mencoba menabung untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Ningsih tidak punya pekerjaan tetap, kadang dia diminta membantu menyetrika, memasak atau membersihkan rumah, tapi kadang juga dia tidak punya pekerjaan sama sekali. Ketika saat itu tiba, Ningsih akan mencari sayuran di kebun belakang musholla, sayur apa saja, yang penting bisa untuk memberi makan dua anaknya.Ningsih menghapus air matanya. Dia bingung akan berhutang kepada siapa lagi. Semua tetangganya sudah dihutanginya. Dia pusing."Buk! Gimana, buk?" tanya Arin lagi, mengagetkan Ningsih.Ningsih tersenyum."Insya Allah nanti ibuk carikan uang, ya, Mbak. Jangan khawatir. Besok Mbak Arin pasti sudah bisa bayar sekolah," kata Ningsih, "Sekarang mbak Arin makan dulu, ya," kata Ningsih lagi.Arin mengangguk dan masuk ke kamarnya. Ningsih menghela napas panjang dan dalam. Dia tidak tahu dari mana dia bisa mendapat uang.****Sore itu cuaca sangat panas. Ningsih baru saja memandikan Adi, anaknya yang masih balita, dan menyuruh Arin menjaga Adi sebentar karena Ningsih juga mau mandi. Ningsih berencana setelah ini dia akan ke rumah pak Kades untuk pinjam uang lagi. Biarlah, yang penting dia berusaha untuk mendapatkan uang.Ningsih berlama-lama di kamar mandi, mandi, keramas dan menangis. Hatinya pilu mengingat semua perjalanan hidupnya.Suaminya meninggal ketika Adi masih berusia dua bulan. Dan Ningsih yang tidak pernah bekerja benar-benar kebingungan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan semua pedih perih luka yang dialaminya, perlahan Ningsih bisa berdiri sendiri mengasuh dan memenuhi semua kebutuhan anaknya.Tok tok tokNingsih tersadar ketika ada suara ketukan di pintu kamar mandinya."Buk, sudah ditunggu, lo!" seru Arin.Hah? Ditunggu?Waduh, jangan-jangan dia ditunggu bank keliling yang akan menagih hutang."Buk! Ayo, sudah ditunggu!" panggil Arin lagi."Iya! Iya! Sebentar ibuk, sedang ganti baju," kata Ningsih, dia segera menyudahi mandinya dan keluar kamar mandi.Dia terkejut dengan selasar depan kamar mandi. Kok beda dengan rumahnya?"Buk! Ayo! Sudah ditunggu bapak! Ibuk, tuh, mandinya lama amat" protes Arin mencebik.Ningsih terheran-heran mendengar perkataan Arin barusan, ditunggu bapak? Ningsih menelan ludah, jangan-jangan Arin sudah menjadi gila."Sih! Ayo! Katanya mau jalan-jalan!"Ningsih melotot tak percaya. Itu, kan, suara Yanto suaminya. Ningsih menoleh. Di belakangnya memang ada Yanto suaminya. Dia berdiri sambil menggendong Adi."Ayo! Katanya mau ke mal!" seru Yanto lagi.Ningsih mencubit tangannya. Benar nggak, sih ini? Pasti ini hanya mimpi, pikir Ningsih. Akhirnya Ningsih mengiyakan ajakan suami dan anaknya. Dia segera berganti baju dan ikut jalan-jalan.Ningsih sangat berbahagia saat itu. Dia ingin waktu berhenti dan dia bisa bersama suaminya untuk selamanya.****Ningsih bangun pagi buta dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi dan keramas. Tadi malam dia menghabiskan malam yang begitu indah dengan suaminya. Entah mimpi, entah tidak, yang pasti dia sangat terlena. Ningsih tersenyum mengingatnya, seandainya ini memang mimpi, berarti ini adalah mimpi yang paling indah baginya.Ningsih keluar dari kamar mandi dengan ceria. Dia akan segera menyiapkan sarapan untuk keluarganya.Tapi belum lagi di keluar kamar mandi, langkahnya terhenti.Ke mana rumahnya?Kenapa di luar kamar mandinya adalah semak belukar dan kebun kosong? Ningsih mengintip dari balik pintu. Gelap menyergapnya. Di mana dia? Tanya Ningsih. Dia mulai panik. Ke mana rumahnya?Dia memberanikan diri membuka pintu kamar mandi, dan melihat ke luar. Di depannya ada sebuah sumur dan di samping sumur terdapat tumpukan piring kotor."Sih! Lama amat mandinya! Ayo cuci piring dulu!" teriak seseorang.Ningsih terkejut. Hancur sudah mimpinya dengan Yanto suaminya. Ningsih menelan ludah. Dia berjalam perlahan menuju ke samping sumur dan kemudian mulai mencuci piring. Ningsih bertekad, apapun mimpinya kali ini akan dijalaninya dengan berani.Setelah mencuci piring Ningsih membawa masuk piring itu ke dalam sebuah gubug yang ada di depan sumur. Seorang wanita paruh baya sedang memasak di dapur.Ningsih terkesiap. Itu, kan ibu mertuanya, yang sudah lama meninggal."Ngliwet, Sih! Engko Yanto mulih wis mateng segane! (Masak nasi, Sih! Nanti Yanto pulang sudah matang nasinya!)" perintah ibu mertuanya. Ningsih mengangguk. Dia segera menyalakan pawon atau tungku berbahan bakar kayu. Dia menyiapkan beras dan mencucinya di luar. Semua dikerjakan dengan tenang dan tanpa mengeluh, karena mimpi ini sama dengan masa lalunya.Ningsih mengusap matanya yang pedih terkena asap. Dia meniup api di dalam tungku agar semakin besar dan meletakkan panci berisi beras yang telah dicucinya.Ningsih segera mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, dia hafal watak mertuanya yang akan marah dan tidak terima kalau dia hanya diam saja. Ningsih membantu ibu mertuanya memasak sayur lodeh dan menggoreng tempe.Entah kenapa ada sekelumit rasa bahagia dalam hati Ningsih. Dia senang mengulang kehidupannya dari awal lagi. Dia tidak keberatan tinggal di desa kecil seperti ini, asalkan dia bersama dengan suaminya, Yanto. Ningsih tersenyum, membayangkan suaminya pulang nanti."Disiapke ning ngarepan kabeh, Sih! Saiki ibuk sing arep adus! (Disiapkan di depan semua, Sih! Sekarang ibuk yang mau mandi!)" seru ibu mertuanya. Ningsih mengangguk. Dia segera menata makan malam di sebuah dipan kecil di ruang tamu. Hatinya berbunga-bunga karena sebentar lagi suaminya akan pulang.Menjelang magrib, Yanto pulang. Ningsih sangat senang ketika melihat suaminya membawa buah-buahan dan beberapa butir kelapa muda. Malam itu mereka makan sayur lodeh, tempe goreng, sambal bawang dan minum air kelapa muda. Rasanya mewah sekali. Ningsih hampir menangis saking bahagianya. Dia tidak peduli dengan rentetan omelan ibu mertuanya, yang penting dia hidup bahagia dengan suaminya.Paginya Ningsih harus buru-buru mandi lagi, karena dia harus segera menyiapkan sarapan untuk ibu mertua dan suaminya. Dia mandi dan keramas dengan cepat, karena tidak ingin mendapat omelan dari ibu mertuanya.****Ningsih membuka pintu kamar mandi.Dia terkejut dan langsung masuk lagi ke dalam kamar mandi.Kejadian lagi! Dia selalu berada di tempat lain setiap habis mandi keramas. Dan tempat yang dilihatnya barusan sama sekali tidak dikenalinya.Di mana lagi dia?Di kehidupan yang mana lagi dia?Ningsih enggan berspekulasi. Dia tidak ingin mengulangi masa-masa susahnya lagi. Dia ingin selalu bersama Yanto suaminya. Dia tidak ingin sendiri.Ningsih berada di dalam kamar mandi cukup lama. Sampai seseorang mengetuk pintu kamar mandinya."Mbak! Sudah mandinya, yuk, keluar!" seru seseorang. Nampaknya suaranya lembut dan tidak galak.Ningsih membuka pintu kamar mandi dengan takut-takut. Dia mengintip keluar. Seorang wanita cantik di luar kamar mandi tersenyum kecil."Yuuk keluar! Nanti masuk angin, lo!" ajak wanita itu. Ningsih mengangguk. Dia menurut diajak keluar, karena menurutnya wanita itu baik.Wanita itu menuntun Ningsih menuju sebuah kamar besar berisi sebuah tempat tidur besar."Makan, yuk, habis itu minum obat, ya?”Ningsih mengangguk. Dia melaksanakan semua perintah wanita itu dengan patuh. Ningsih tersenyum ketika sang wanita menyuruhnya tidur, dia akan menjalani semua mimpinya, apapun itu dengan tabah dan bahagia.****Sang perawat tersenyum lega melihat Ningsih tertidur."Alhamdulillah bu Ningsih ketemu, ya Bu," kata seseorang di samping sang perawat. Sang perawat itu mengangguk."Ya, dia selalu kembali ke bekas rumahnya yang dulu dan mandi di sumur tua di rumahnya. Kasihan dia, ya, Mbak.""Iya, Bu. Padahal mbak Arin sudah menutup sumur itu, Bu.""Mungkin memang seharusnya Arin menghancurkan sumur itu saja. Sumur itu, kan, yang dulu digunakan untuk membuang jasad suami dan ibu mertua bu Ningsih!" desah sang perawat."Apa benar yang membunuh suami dan ibu mertuanya itu bu Ningsih sendiri, Bu?"Sang perawat tersenyum."Katanya seperti itu. Entahlah! Yang penting kita bertugas menjaga bu Ningsih agar jangan kembali ke bekas rumahnya itu lagi."Mereka berdua berpandangan. Hanya terselip rasa sedih dan trenyuh dalam hati mereka. Mereka hanya bisa membantu dengan doa dan berharap semoga Ningsih tidak melarikan diri lagi.***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Abang Duda Kesayangan
9.5
Dilara Aysila Airene mengalami pertemuan tak terduga dengan seorang duda menawan usai menolong seorang nenek di jalanan. Terpikat oleh ketampanan pria tersebut, Dilara pun jatuh hati dan bertekad memenangkan hatinya. Berbagai upaya rayuan hingga aksi-aksi konyol mulai ia lancarkan demi menarik perhatian sang pria idaman. Akankah misi cinta Dilara ini membuahkan hasil manis, atau justru menemui hambatan? Simak perjuangan uniknya dalam mengejar sang duda.
Sampul Novel DEAR RANIA
9.1
Dua minggu jelang pernikahan, kecelakaan tragis merenggut penglihatan Rania. Di tengah keputusasaan, tunangannya justru membatalkan rencana pernikahan mereka tanpa alasan. Saat terpuruk dalam kegelapan, muncul Rakha, seorang pengajar pesantren yang asing. Secara mengejutkan, Rakha datang membawa keluarganya untuk melamar Rania. Meski niat tulus disampaikan, Rania yang hancur menolak mentah-mentah kehadiran pria yang tak dikenalnya itu dan memintanya pergi.
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas
8.9
Queena Bulan Latief terjebak dalam pernikahan hasil perjodohan klasik yang menyakitkan. Usai ijab kabul, ia mendapati fakta pahit bahwa suaminya telah memiliki istri lain. Meski secara hukum Bulan merupakan istri sah yang pertama, realitanya ia hanyalah sosok kedua di hati suaminya. Harapan Bulan untuk menjadi satu-satunya pun hancur seketika. Kini, ia harus berjuang menghadapi takdir rumit dan bertahan dalam dilema berbagi kasih dengan madunya.
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Vivian datang ke kantor Darren untuk meminta tanda tangan kontrak penting. Sebagai kekasih yang biasa mengabaikan formalitas, ia sempat ragu sebelum akhirnya mengetuk pintu. Namun, pemandangan di dalam menghancurkan hatinya. Ia mendapati Darren sedang bermesraan dengan Khloe yang tengah merapikan dasinya di bawah sinar matahari. Suasana intim itu membuat kata-kata Vivian tercekat saat Darren dan Khloe menoleh, menyadari kehadirannya yang tiba-tiba.
Sampul Novel Mengejar Cinta Mantan Istriku
8.1
Pasca terbangun dari koma panjang, Sean mendapati kenyataan pahit bahwa pernikahannya dengan Inara telah berakhir. Merasa ada rahasia besar yang disembunyikan sang mantan istri selama ia tak sadarkan diri, Sean menolak untuk menyerah begitu saja. Ia pun memulai misi besar demi memenangkan kembali hati Inara yang telah menjauh. Akankah kegigihan Sean sanggup meluluhkan keraguan Inara dan menyatukan kembali cinta mereka yang telah retak?
Sampul Novel Perumahan Bejo 23 The Series
8.4
Kehidupan manusia penuh dengan kejutan, mulai dari keberuntungan hingga kemalangan yang datang tiba-tiba. Melalui antologi kisah para penghuni Perumahan Bejo 23, pembaca diajak menyaksikan perjuangan tokoh-tokohnya dalam menghadapi konflik tanpa menyerah. Setiap cerita mengandung pesan moral tentang kegigihan dan keyakinan bahwa setiap ujian pasti ada jalan keluarnya. Temukan hikmah positif di balik dinamika sosial dan romansa modern dalam karya penuh inspirasi ini.