APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Self Satisfaction

Self Satisfaction

Dalam momen penuh gairah yang tak terkendali, Luna dan Gian terjebak dalam desakan nafsu yang memuncak. Meski sempat merasa ragu dan takut akan konsekuensi yang mungkin terjadi, Luna akhirnya luluh oleh janji tanggung jawab dari Gian. Di tengah kepasrahan itu, sebuah tindakan berisiko pun dilakukan. Kini, rasa puas tersebut seketika berubah menjadi kegelisahan mendalam bagi Luna. Ia pun terpaksa berpacu dengan waktu untuk mencari cara demi mencegah kehamilan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Nikita memekik kaget. "Aduuh, Mas, maaf, maaf." Dia panik sendiri hingga wajahnya tampak terlihat bodoh

Damar tercengang sejenak melihat kondisi kemejanya basah. Damar mendongak menatap wanita itu tajam. Seketika itu bulu pandangan mereka saling beradu.

Dia terdiam begitu Damar mengangkat wajahnya dan menatapnya tajam. Dan untuk sesaat dia tertegun serta terpesona melihat wajah tampan dengan pinggir rambut si pria dicukur dan bagian atasnya dibiarkan tetap panjang.

Dengan cepat Nikita mengatur ekspresi wajahnya. Damar mendengus kesal, disertai telunjuknya mengarah ke wanita itu.

"Lihat-lihat, dong, kalau jalan!" sentak pria itu marah. Wajah tampannya berubah galak.

Aksi Damar dan sang wanita mengundang perhatian seluruh pengunjung yang ada di kafe itu. Sebagian pengunjung menatap keduanya dengan tatapan terkejut, beberapa lainnya tampak biasa-biasa saja. Ada juga langsung berbisik-bisik buruk tentang mereka.

"Sumpah, Mas, nggak sengaja. Demi Allah, maaf. Biar saya bersihkan." Tangan Nikita hendak menyentuh dada pakaian Damar dengan tisu. Namun, Damar menepisnya dengan kasar, membuatnya meringis pelan.

"Kamu tahu berapa harga kemeja ini?" Sorot mata Damar memandang Nikita dari bawah hingga atas. "Dilihat dari tampangmu saja! Saya yakin, gajimu tidak cukup untuk membeli kemeja ini!" tandas pria itu penuh kesal.

Nikita memainkan lidahnya di dalam mulut. Pria itu sepertinya sedang berniat membuat Nikita merasa menjadi bekas kunyahan permen karet yang disingkirkan dari bawah sol sepatunya.

"Ya, saya kan udah minta maaf, Mas. Bagaimana jika saya cuci baju, Mas-nya. Dijamin bersih kok," kata Nikita sabar.

"Sayang! Ada apa?"

Suara cempreng terdengar dari arah belakang Nikita.

"Kemejaku kotor dan basah gini, yang. Gara-gara wanita barbar ini."

Nikita hendak protes ketika mendengar ucapan si pria. Namun Nikita memilih untuk mengurungkan niatnya. Wanita itu kemudian menoleh. "Kamu…." Keningnya sedikit mengerut. Dia Luna.

"Eh, Niki. Kirain siapa. Kenapa ini?"

"Nggak. Ini… nggak sengaja aku numpahin Ice matcha boba latte ke kemeja Mas ini."

"Yang. Kamu kenal orang ini?"

"Ya, kenal. Dia Nikita, sahabatku ku ceritakan tadi, lho. Yang."

"Bilang sama sahabatmu itu, kalau main hp, jangan di jalan! Lihat baju kerjaku!"

Luna melihat pada dada pakaian Damar yang ketumpahan Ice matcha boba latte sampai kotor ke bagian perut. Luna memalingkan wajah menahan tawanya.

"Ya sudah. Nanti aku beliin kemeja yang semodel. Maafin bestiku ini. Dia nggak sengaja kok," lerai Luna, masih menahan tawa.

Damar mendengus pelan, lantas meninggalkan Luna yang senyum-senyum dan Nikita yang terlihat bingung.

"Kenapa bisa kamu numpahin Ice matcha boba latte ke kemeja dia?" tanya Luna yang masih tertawa geli.

"Nggak sengaja, sumpah. Itu…, itu, tadi Damar-mu? Serius! Calon suamimu?"

"Iya. Tadinya malam ini mau kuajak nongkrong sama kamu. Sekalian kamu bawa Ray. Tapi kalau udah kayak gini ceritanya, lain waktu aja deh."

"Nggak apa-apa kok. Thanks, ya tadi. Kalau kamu nggak ada, bisa-bisa beneran dia minta dibeliin kemeja baru yang semodel. Puasa aku sebulan."

Luna tertawa. "Aku ke sana dulu, ya?" Nikita mengangguk.

Luna menyusul Damar yang sudah duduk di meja nomor tujuh. Dari kejauhan terlihat Damar membersihkan sisa Ice matcha boba latte yang melekat di pakaiannya dengan tisu.

"Jadi itu yang namanya Damar, "Raja Songong itu"...? Gila! Ganteng abis. Beruntung si Luna, tapi…, sayang banget cowoknya galak!" batin Nikita, sembari berjalan kembali meja lain.

Beberapa pengunjung pun sontak mendesah kecewa sebab endingnya tidak sesuai dengan ekspetasi. Dan sebagian lainnya hanya menggeleng kepala heran dengan anak muda zaman sekarang.

Di meja nomor tujuh….

Luna tersenyum seraya meraih ponsel. Seseorang menghubunginya "Setengah jam lagi kemeja baru bakal diantar ke sini," ujarnya kemudian.

Damar menoleh terkejut. "Serius kamu? Nggak usah, yang. Batalin aja." Raut wajah menolak. Dia merasa gengsi menerima kenyataan bahwa Luna membelikannya kemeja baru. "Aku bisa kok, hubungi sekretarisku buat beliin kemeja baru," sambungnya.

Luna tersenyum senang. "Nggak apa-apa, yang. Tadi kan sudah kubilang, aku beliin yang baru?" Luna mencium pipi Damar dengan mesra. Damar membelalak kaget, karena Luna tanpa ragu menciumnya di depan umum.

Beberapa menit kemudian. Seorang pelayan berjalan membawa baki berisi es krim pesanan Damar. Sang pelayan menaruh es krim itu dengan ramah. Setelah pelayan tersebut berjalan meninggalkan mereka berdua. Damar mempersilahkan Luna untuk menikmati es krim favoritnya.

Ujung bibir Luna terangkat. "Thank you, yang." Luna menoel hidung mancung Damar dengan gemas. Damar hanya tersenyum kecil, rasa jengkel pada wanita barbar tadi perlahan lenyap.

Dan setengah jam kemudian, pesanan Luna datang. Modelnya sama, tapi warnanya berbeda. Di toilet dalam kafe itu, Damar ganti pakaian. Sangat pas dengan postur tubuh yang tegap dan berisi dengan tinggi badan yang hampir mencapai 183 cm, belum lagi rahang tegas, disertai mata elangnya, dipinggir alis tebal itu terdapat tanda lahir membuat aura karismanya terpancar.

Dengan gaya genit, Luna menyodorkan lengannya untuk digandeng. Damar tersenyum menyusupkan tangan ke pinggang Luna, kemudian bersama mereka melenggang, meninggalkan kafe itu.

*****

Damar benar-benar jengkel dengan Luna. Dalam seminggu ini wanita itu mendadak sibuk. Janji mau mengabari ternyata tidak. Ketika didatangi ke bengkel miliknya, kata karyawannya sedang ke Malang. Ingin meminta Arnol sekretarisnya sendiri meluncur ke tempat Citra seorang fotografer dan tukang cetak undangan profesional yang dulu dikenalkan Luna padanya.

Namun, Damar teringat selera Arnol itu terlalu unik atau lebih ke aneh sih? Lagian dia akan menikah bukan sekretarisnya. Akhirnya dengan perasaan kesal yang terpendam di dalam hati. Siang itu, sekitar jam 12.00-an. Damar terpaksa ke kawasan Airmadidi, distrik memiliki tempat yang indah di atas bukit.

Satu jam kemudian. Damar sampai di toko Citra. Ia disambut Citra dengan ramah dan dipersilakan masuk. Citra mempersilakan Damar duduk di sofa. Damar pun bersandar di kursi, ia meletakkan kedua tangannya di lengan kursi dengan santai. Wanita itu dengan hati-hati ia menyuguhkan minuman yang dibuatnya. Ditaruhnya di meja, kemudian Citra mengambil bantalan kursi, memeluknya sambil bersandar dengan dengan santai. Mereka duduk saling berhadapan.

Citra mempersilakan Damar meminum jus lemon yang baru saja disuguhkan. Damar hanya mengiyakan, lalu mulai masuk pada inti pembicaraan.

"Jadi begini, Mbak. Saya mau bahan kertasnya yang glossy, ya? Buat seperti buku kecil gitu. Untuk hiasan foto-fotonya nanti saja kalau aku sama Luna sudah foto prewed," ujar Damar gamblang.

Citra mengangguk-angguk menanggapi seraya mencatat pesanan Damar di buku khususnya. "Kira-kira segini, Tuan." Citra menunjukkan hasil estimasinya. "Itu pun masih perkiraan lho. Soalnya kalau ada hiasan tambahan di kartu undangannya, pasti nambah lagi biayanya. Apalagi kalau pake tinta emas timbul gitu."

Damar berpikir-pikir sejenak lalu menjawab."Buat seindah mungkin. Kalau bisa warna marun dan gold itu. Usahakan sebulan sebelum resepsi digelar cetakan undangan sudah di tanganku. Oke?"

"Siap, Tuan."

Damar pun pamit. Tapi baru sampai pintu, ia dibuat kesal karena seorang wanita berpakaian office girl (OB) tak sengaja menyenggolnya, membuat ponsel mahalnya yang sedang dipegang jatuh. Untung dilapis casing karet! Gimana nggak coba? Bisa-bisa mengalami kerusakan ponsel mahalnya itu.

Bersambung....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kaka Iparku Brengsek
8.7
Nadia Pamungkas tidak menyangka keputusan tinggal di rumah kakaknya, Tasya, di Jakarta akan berakhir menjadi bencana besar. Tasya yang sibuk bekerja memiliki suami blasteran bernama Aldo. Meski awalnya terlihat baik, perhatian Aldo kepada Nadia perlahan berubah menjadi ketertarikan yang tidak wajar. Hubungan terlarang pun tak terelakkan hingga mereka melakukan kesalahan fatal yang mengancam keutuhan keluarga. Akankah rahasia gelap ini terungkap dan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Kubongkar Perselingkuhan Suami Pilotku
8.1
Rumah tangga Nazeea Athaya dan Raga jauh dari kata sempurna. Meski sang suami berulang kali mengkhianati komitmen pernikahan mereka demi wanita lain, Nazeea memilih bertahan hanya karena memikirkan masa depan buah hatinya. Namun, kesabaran itu mencapai batasnya saat sang selingkuhan melontarkan hinaan yang menyadarkan posisinya. Kini, Nazeea tak lagi tinggal diam dan siap membongkar kebusukan suaminya yang berprofesi sebagai pilot tersebut.
Sampul Novel Larisa
9.5
Pasca kecelakaan maut merenggut orang tuanya, Larisa diasuh oleh kerabat lama mereka. Meski tumbuh di lingkungan penuh kasih, ia harus menghadapi sikap dingin dari putra keluarga tersebut yang sering mengabaikannya. Takdir mengejutkan memaksa Larisa terikat dalam pernikahan dengan pria kaku itu. Mampukah Larisa bertahan dan menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang penuh jarak? Ikuti perjuangan Larisa menghadapi dinamika tak terduga bersama suami barunya.
Sampul Novel Love Escape
8.4
Harapan Ghena untuk dilamar saat anniversary hancur ketika Bastian justru memutuskan hubungan 15 tahun mereka demi perjodohan orang tua. Berusaha bangkit, Ghena pindah ke Singapura untuk bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun kemudian Bastian muncul kembali bersama tunangannya dan mengaku masih mencintai Ghena. Kini Ghena terjebak dalam dilema besar: tetap tegar menolak atau menyerah pada perasaan lama dan menjadi orang ketiga.
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kehidupan harmonis Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam bahaya besar. Ibu serta kakaknya datang membawa dendam membara untuk menghancurkan kebahagiaan tersebut. Sebagai mantan putri terbuang yang pernah diabaikan keluarganya, Dara menyimpan rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang sekuat tenaga melindungi istana cintanya dari serangan kerabatnya sendiri. Sanggupkah Dara bertahan menghadapi teror itu?