APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Semalam Penuh Kejutan dengan CEO Arogan

Semalam Penuh Kejutan dengan CEO Arogan

Emily Johnson adalah sekretaris setia namun ceroboh di W Company, perusahaan milik CEO ambisius Daniel Winston. Saat Emily bergelut dengan kegalauan akibat kekasihnya menghilang tanpa kabar selama dua minggu, Daniel justru membawanya dalam perjalanan dinas mendadak ke Thailand. Di sana, sebuah peristiwa tak terduga terjadi dan mengubah jalan hidup mereka selamanya. Bagaimana nasib hubungan Emily dengan pacarnya saat benih baru mulai tumbuh bersama sang bos?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Baiklah, sudah benar," ucap Daniel singkat dengan nada yang lebih lunak.

Emily merasa lega mendengar kata-kata tersebut. Meskipun dia masih merasakan sedikit kegugupan, dia merasa bangga karena berhasil mengatasi tantangan tersebut.

"Apa saja jadwal saya hari ini?" tanya Daniel.

"Pada pagi ini pukul 10.30, Anda memiliki panggilan konferensi dengan klien besar dari luar negeri. Selanjutnya, pada pukul 12.00 Bapak memiliki jadwal makan siang dengan mitra potensial di restoran XYZ. Setelah itu, pukul 14.00, Bapak memiliki pertemuan dengan tim penjualan untuk membahas strategi peningkatan promosi produk dan layanan di ruang konferensi A.." ucap Emily sambil terus menjelaskan semua detail jadwal Daniel.

"Baik, pastikan semua materi presentasi sudah siap dan tersedia. Juga, pastikan bahwa ruang pertemuan juga sudah disiapkan dengan baik untuk setiap acara yang dijadwalkan"

"Baik, Pak. Saya akan memastikan bahwa semua materi presentasi siap dan ruang pertemuan sudah disiapkan dengan baik sesuai kebutuhan."

"Saya juga butuh semua informasi yang diperlukan sebelum panggilan konferensi dengan klien besar dari luar negeri," ujar Daniel dengan ketegasan.

"Baik, Pak. Saya akan segera menyiapkan semua informasi yang diperlukan untuk panggilan konferensi tersebut." jawab Emily sambil menundukkan kepalanya dengan hormat sebelum melangkah pergi untuk menyelesaikan tugas yang diperintahkan oleh atasannya.

Namun, tiba-tiba Daniel memanggilnya kembali, membuat jantung Emily berdetak kencang. "Tunggu, Emily."

"Saya ingin kamu menemani saya dalam perjalanan menemui mitra bisnis besok di Thailand," perintah Daniel dengan tegas.

"Apa, Pak?" tanya Emily, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Biasanya, Daniel selalu melakukan perjalanan bisnis dengan asisten pribadinya.

"Apa perkataan saya kurang jelas bagimu?" tanya Daniel sambil menghela nafas, terlihat agak malas untuk mengulanginya.

"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu. Maksud saya.. Itu.." ucap Emily terbata-bata saat mencoba menjelaskan.

"Kamu harus menemani saya besok dalam perjalanan untuk menemui mitra bisnis di Thailand. Apa ini sudah jelas?" ucap Daniel perlahan-lahan, berusaha agar tidak perlu mengulang perkataannya kembali.

"B-baik, Pak," jawab Emily tetapi raut ragu sangat terlihat jelas dari wajahnya.

"Kenapa? Apa kamu takut melakukan perjalanan bisnis dengan saya? Apa saya terlihat seperti seseorang yang akan melakukan sesuatu kepadamu?" tanya Daniel.

"Tentu saja tidak, Pak. Saya hanya bingung karena biasa Pak Richard yang menemani Bapak," ucap Emily sedikit gugup.

"Richard tidak bisa menemani saya dalam perjalanan kali ini karena dia harus cuti besok," jelas Daniel.

"Baik, Pak. Saya akan menemani Bapak," ucap Emily sambil masih tetap berdiri di hadapan Daniel karena takut atasannya akan mengatakan sesuatu lagi. Tetapi setelah cukup lama menunggu, nyatanya Daniel malah tidak mengatakan apapun lagi kepadanya.

"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Daniel, melihat Emily yang masih berdiri di hadapannya.

"Eh? Ma-maaf Pak," ucap Emily, hendak keluar dari ruangan Daniel, namun karena kurang hati-hati, dia tersandung dan terjatuh. Suara Emily yang terjatuh membuat Daniel langsung menoleh ke arahnya.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Daniel dengan wajah kesal.

"Ti-tidak apa-apa, Pak. Maafkan saya," ucap Emily sambil berdiri dan bergegas keluar dari ruangan Daniel.

Daniel menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sekretarisnya dan menghembuskan nafasnya kasar. Setelah itu, ia kembali fokus pada dokumen-dokumen di atas mejanya.

"Auhhh, lutut ku sakit," desis Emily sambil meringis kesakitan dan mengelus lututnya yang terantuk tadi.

"Apa aku harus benar-benar pergi dengannya dalam perjalanan bisnis kali ini? Dia begitu dingin dan menakutkan," gumam Emily.

"Belum lagi dengan sikapnya yang begitu arogan, kenapa aku harus berakhir menjadi sekretarisnya?" gumam Emily pelan, merutuki nasib sialnya.

Emily mengeluarkan ponselnya, kemudian mengetikkan pesan untuk dikirim kepada Ethan.

Setelah kamu selesai dengan acara reunimu, temui aku. Tidak ada alasan.

Jam berlalu dengan cepat, dan akhirnya tiba saatnya bagi Emily untuk pulang ke rumah setelah menyelesaikan semua tugas harian sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Dia menutup komputernya dan bergerak menuju lift. Di sepanjang koridor, Emily melihat bahwa Daniel Winston belum kembali ke ruangannya, mungkin karena jadwal yang padat. Emily kembali melihat ponselnya dan ada notifikasi pesan yang masuk.

Nanti aku akan menemuimu tetapi agak malam, setelah acara reuniku berakhir.

Setelah masuk ke dalam mobilnya, Emily segera memulai mesin dan melaju ke jalanan. Tepat pada saat Emily pergi, Daniel tiba di perusahaan dengan asisten pribadinya. Dia bergegas menuju lift dan menekan nomor lantai di mana kantornya berada.

"Pak, tadi ada pesan bahwa Ketua mengundang Anda untuk makan malam di kediamannya malam ini," ucap asisten pribadi Daniel sambil menyampaikan pesan tersebut.

"Baiklah, aku akan ke sana nanti," ucap Daniel sambil menghela nafasnya.

"Baik, Pak," jawab asisten pribadinya.

Daniel berjalan menuju ruang kantornya setelah lift berhenti tepat di lantai yang ingin dituju.

***

Setelah Emily sampai di rumah, dia melihat ayahnya sudah pulang dari kantor.

"Bagaimana harimu, Em?" tanya ayahnya.

"Buruk, Dad," jawab Emily.

"Siapa yang telah memperlakukan putriku dengan buruk hari ini? Aku akan melawannya untukmu," ucap Fred.

"Apakah kamu akan melawan bosku juga untukku?" tanya Emily sambil tersenyum.

"Tentu saja aku akan melakukannya dengan senang hati untukmu," ucap Fred, membuat Emily tertawa.

"Dad, apakah Dad tidak ingin menikah lagi?" tanya Emily, berharap ayahnya bisa mencari pengganti ibunya.

"Apakah kamu ingin mengusirku dari rumah ini?" tanya Fred kepada putrinya dengan nada bercanda.

"Benar. Aku hendak mengusir Dad dari rumah ini," ucap Emily sambil tertawa.

"Aku tidak akan menikah sebelum mengantarmu di altar menuju calon suamimu di pernikahan nanti. Aku harus melihat putriku bahagia terlebih dahulu," ucap Fred dengan tulus.

Mendengar ucapan Fred, membuat Emily terdiam. Dia merasa terharu dengan kebaikan hati ayahnya yang begitu mencintainya. Sejenak, dia merenung tentang hubungannya dengan Ethan dan merasa bahwa segala rasa cinta yang diberikan Ethan padanya sudah terasa sangat berbeda.

"Em, ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sedih seperti itu? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena hari ini adalah hari ulang tahunmu?" tanya Fred dengan kekhawatiran.

"Entahlah, Dad," jawab Emily dengan suara lemah.

"Apakah kamu tidak memiliki acara apa pun dengan Ethan hari ini?" tanya Fred dengan rasa ingin tahu.

"Mungkin agak malam," jawab Emily.

Akhirnya, sesuai dengan janji Ethan, dia pun datang menemui Emily agak malam setelah acara reuni dengan teman-temannya berakhir.

"Halo, Ethan. Apa kabar?" tanya Fred.

"Baik, Uncle. Saya mau menjemput Emily" ucap Ethan meminta izin kepada Fred.

Setelah meminta izin, mereka pun langsung pergi dari rumah.

"Aku pergi dulu ya, Dad." ucap Emily.

"Hati-hati di jalan ya?"

"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Uncle," ucap Ethan yang hanya dijawab senyuman oleh Fred.

Ketika masuk ke dalam mobil Ethan, Emily tampak lebih banyak terdiam. Dia masih sangat kesal dengan Ethan.

Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di sebuah restoran. Emily dan Ethan duduk di restoran, suasana tegang terasa di antara mereka.

"Apa kamu masih marah padaku?" tanya Ethan dengan hati-hati memulai percakapan.

"Tentu saja," jawab Emily dengan nada ketus. Rasa sakit dan kekecewaan terlihat jelas di matanya.

Ethan menghela nafas, mencoba mencari cara untuk menjelaskan dirinya. "Em.." ucapnya pelan, membuat Emily menoleh padanya.

"Aku kecewa padamu karena kamu seperti tidak menganggapku sebagai kekasihmu. Selama dua minggu ini, aku menunggu kabar darimu. Aku khawatir sekali karena kamu menghilang begitu saja. Bahkan di hari ulang tahunku hari ini, kamu juga melupakannya," ucap Emily dengan ekspresi kesal.

Ethan terdiam, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Apa kita harus bertengkar hanya karena hal kecil seperti ini?" tanyanya.

"Hal kecil? Kamu menghilang tanpa kabar selama dua minggu dan itu merupakan hal kecil untukmu? Sementara aku sudah sangat khawatir padamu," Emily menatap Ethan dengan ekspresi tidak percaya.

"Tolong jujur padaku, apakah kamu pernah mencintaiku? Mengapa aku merasa seperti aku adalah satu-satunya yang berharap kehadiranmu, sedangkan kamu tidak," ucap Emily dengan suara yang tercekat. Air matanya mulai mengalir di pipinya. Dia merasa marah dan kesal dengan sikap acuh Ethan terhadapnya selama ini.

Ethan terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia melihat ke meja mereka, di mana seorang pelayan baru saja menghidangkan minuman mereka. Suasana menjadi hening, tidak ada sepatah kata pun yang terucap.

"Kenapa kamu diam? Apakah kamu pernah mencintaiku?" tanya Emily mengulang pertanyaannya.

"Aku tahu aku yang mencintaimu untuk pertama kalinya. Aku yang memberanikan diri menyatakan perasaan padamu. Tapi selama ini, aku pikir perasaanku dibalas olehmu karena kamu terlihat seperti mulai mencintaiku. Tapi, apakah aku salah dalam penafsiran itu? Apakah kamu tidak pernah mencintaiku?" tanya Emily.

"Sudahlah, kamu terlalu banyak memikirkan yang tidak-tidak," ucap Ethan terlihat masa bodoh dan mulai menyeruput minuman di hadapannya.

Emily menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengungkapkan perasaannya dengan tegas, "Aku terlalu lelah dengan hubungan ini. Bisakah kamu memberikan aku kejelasan tentang hubungan kita? Aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang hatinya tidak pernah berdebar untukku," ucapnya dengan suara yang bergetar.

"Kejelasan apa lagi yang kamu inginkan, Em? Kamu tahu aku bukan orang yang pandai merangkai kata indah. Hanya dengan kebersamaan kita selama beberapa tahun, seharusnya sudah cukup menjelaskan keseriusanku padamu," ucap Ethan dengan nada yang tegas.

Emily merasakan kekecewaan yang semakin dalam di hatinya. Dia ingin mendengar kata-kata cinta dari Ethan, bukan hanya penjelasan yang datar. "Aku menginginkan jawaban atas pertanyaanku tadi, Et! Apakah kamu mencintaiku?" tanya Emily bersikeras ingin mendengar jawaban yang tulus dari Ethan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI
7.8
Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipertemukan oleh pengkhianatan menyakitkan dari pasangan masing-masing. Terikat nasib serupa, Regan mengajak Nayana menjalin kerja sama demi membalas dendam kepada para mantan kekasih. Namun, rencana tersebut justru memicu benih asmara yang tak terduga di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, keduanya terjebak dalam rasa cinta dan ketergantungan. Akankah hubungan mereka berakhir bahagia atau justru luka baru?
Sampul Novel Tidak Pernah Melihat Kembali: Hati Menginginkan Apa yang Diinginkannya
8.0
Lorenzo dianggap mencintai Gracie hingga ia tega memberikan donor jantung putri mereka kepada wanita lain. Kecewa berat, Gracie menggugat cerai dan bersekutu dengan Waylon, paman Lorenzo, untuk membalas dendam. Rencana itu sukses menghancurkan hidup Lorenzo hingga ia memohon ampun dalam penyesalan. Namun, saat Gracie mengira urusannya selesai, Waylon justru menolak melepaskannya. Kini ia terjerat dalam dominasi pria yang membantunya bangkit tersebut.
Sampul Novel KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO
8.4
Lamaran Aditya ditolak mentah-mentah oleh Yuni karena hanya sanggup memberi hantaran lima puluh juta. Tak hanya dihina, Belinda sang kekasih pun ikut merendahkannya. Dalam kemarahan, Aditya justru melamar Dahlia, asisten rumah tangga Belinda, dengan cincin berlian mewah. Tak ada yang tahu bahwa staf administrasi biasa ini sebenarnya adalah putra mahkota pemilik perusahaan. Saat identitas aslinya sebagai CEO terungkap, mampukah Aditya dan Dahlia merajut cinta tulus dari awal yang penuh emosi ini?
Sampul Novel Menyukai Bos Pengusaha
8.4
Maya baru saja memulai perjalanannya sebagai asisten eksekutif di sebuah perusahaan besar. Sebagai wanita muda yang penuh talenta dan dedikasi, ia melihat posisi ini sebagai peluang emas demi membuktikan keahlian profesionalnya. Meski harus menghadapi ritme kerja yang sangat padat dan sempat didera rasa cemas di awal, Maya tetap teguh pada pendiriannya. Ia bertekad memberikan performa terbaik dalam menjalankan setiap tugas demi meraih kesuksesan di lingkungan baru.
Sampul Novel My Possessive Husband Book 1
9.7
Aleina Xavinzo merasa terganggu oleh obsesi mantan kekasihnya, Richard, yang terus mengejar. Di tengah rasa frustrasi, sebuah insiden mabuk di kelab malam membawanya ke pelukan pria asing bernama Adrianus James Verona. Hubungan satu malam itu berujung kejutan besar saat mereka bertemu kembali sebulan kemudian sebagai pasangan tunangan pilihan orang tua. Kini, Aleina harus menghadapi babak baru dalam pernikahan kontrak yang penuh dengan teka-teki cinta.
Sampul Novel Obat Posesif Untuk Ratu Es
8.4
Dikenal sebagai Ratu Es, aku menyembunyikan rahasia kelainan PGAD yang menyiksa. Saat gathering di Puncak, aku terjebak di kamar sempit bersama bosku yang kaku, Dhimas Pakpahan, tanpa obat penekan hormon. Saat gairahku tak terkendali, Dhimas turun tangan memberikan sentuhan intim. Ia bahkan menghajar rekan mesum yang mencoba melecehkanku. Kini, ketakutan baruku muncul saat Dhimas mengklaim secara posesif bahwa hanya dia satu-satunya obat bagi tubuhku.