APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Semangkuk Soto Dari Ibu Mertua

Semangkuk Soto Dari Ibu Mertua

Kehidupan rumah tangga Jihan Yuniar penuh cobaan karena Inggar Larasati, sang ibu mertua, kerap merampas uang bulanannya demi gaya hidup sosialita yang dipaksakan. Rizal Aditama sebagai suami justru tidak tegas dan membiarkan ibunya bertindak semena-mena. Demi bertahan hidup, Jihan terpaksa berjualan seblak dan telur gulung di teras rumah. Mampukah Jihan menemukan kebahagiaan sejati bersama Fadil, putranya, di tengah konflik keluarga yang kian mencekik ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Jihan dengan sengaja mengeraskan suaranya hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung toko emas tersebut. Beberapa ibu-ibu berbisik sembari memandang negatif ke arah Bu Inggar dan putri sulungnya.

"Kurang ajar ya kamu, Jihan. Sengaja kamu mau mempermalukan kami?" bisik Bu Inggar dengan mata melotot.

Jihan tersenyum kecut, bukan maksudnya untuk bersikap kurang ajar pada ipar dan ibu mertuanya. Namun, rasa hatinya sudah benar-benar lelah. Untuk apa menghormati mertua dan ipar yang selalu menindas, bahkan tega mengambil hak nafkahnya.

"Ibu malu? Kenapa? Apa Ibu memang merasa sudah merebut hakku dan anakku," balas Jihan kian sengit, membuat kedua wanita itu memilih untuk segera pergi sebelum bertambah malu.

Jihan menatap punggung dua wanita yang kian menjauh dari pandangan mata, kemudian memutar badan untuk kembali pada tujuan utamanya. Namun, satu pemikiran terlintas di benaknya.

"Ibu dan Mbak Rindi pasti akan bilang ke Mas Rizal kalau aku jual cincin nikah, jadi sebaiknya memang aku jual saja sekalian cincin ini biar dia nggak curiga," batin Jihan dalam hati, wanita itu memutuskan untuk menjual gelang dan juga cincin nikahnya.

Langkah kaki Jihan terayun menuju salah satu karyawan yang tampak sedang tak melayani pembeli.

"Permisi, Mbak. Saya mau jual perhiasan," ucap Jihan pada karyawan toko itu.

"Ada surat-suratnya?" Jihan mengangguk, mengeluarkan perhiasan beserta surat-suratnya dari dalam tas.

Karyawan toko tersebut segera memeriksa dengan seksama gelang dan cincin yang hendak dijual oleh Jihan.

"Semua totalnya lima juta rupiah, Mbak," cetus karyawan toko tersebut setelah selesai memeriksa dan menghitung harga emas milik Jihan.

"Baiklah, Mbak."

Jihan segera menghitung uang yang diberikan oleh karyawan toko tadi dan bergegas pergi setelah memastikan jika jumlah uang ditangannya sudah sesuai.

Wanita itu kembali memacu sepeda motornya menuju ke rumah. Jihan memutuskan untuk menyimpan terlebih dahulu uang hasil penjualan gelang tersebut ke dalam laci rahasianya dan hanya menyisakan uang satu juta hasil dari penjualan cincin nikahnya di dalam dompet. Hal tersebut sengaja ia lakukan agar Rizal tak mengambil semua uang miliknya dengan dalih Bu Inggar dan Rindi sedang membutuhkan uang.

Jam di dinding kamar Jihan telah menunjukan pukul setengah dua belas siang, pertanda ia harus segera menjemput Fadil di sekolah. Wanita itu sengaja membawa dua helm karena akan mengajak putranya untuk makan di luar. Jihan mulai melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, dari kejauhan nampak sang putra yang sudah menunggu kedatangannya di depan gerbang.

"Halo, Sayang. Maaf ya kalau Bunda sedikit terlambat," sapa Jihan pada putra tunggalnya dan dibalas dengan sebuah senyuman oleh bocah berusia delapan tahun itu.

"Tidak apa-apa, Bun. Fadil juga baru saja keluar kelas."

Jihan segera memakaikan helm di kepala Fadil dan kembali melajukan sepeda motor maticnya menuju sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota itu. Awalnya Fadil hanya menurut. Namun, wajahnya langsung berbinar kala sepeda motor sang Bunda telah berhenti di parkiran mall tersebut. Apalagi di lantai satu jelas terlihat sebuah restoran cepat saji yang sangat diimpikan oleh Fadil.

"Lho, kok kita pergi ke sini, Bun?" tanya bocah kecil itu dengan wajah polos.

Jihan tersenyum tipis kemudian menekuk lututnya untuk mensejajarkan tinggi mereka berdua. Tangan wanita itu terulur. Menangkup kedua pipi Fadil dan menatap wajah polos yang sangat ia sayangi. Karena bagi Jihan, sang putra adalah harta paling berharga yang paling ia miliki.

"Kan kemarin Bunda sudah janji mau ajak Fadil makan di KFC. Jadi sekarang Bunda mau menepati janji dong, ayo kita makan," ajak Jihan pada putranya, bocah kecil itu tak bergeming. Seolah tak percaya jika keinginannya bisa diwujudkan oleh sang Bunda.

Sepasang ibu dan anak itu saling bergandeng tangan, masuk ke sebuah restoran cepat saji dan memesan dua nasi ayam crispy lengkap dengan minuman dan kentang goreng. Jihan menatap sendu wajah sang putra yang tengah menikmati makan siangnya dengan begitu lahap. Sebersit kesedihan kembali terasa menyayat hati. Mengingat sang suami yang seolah tak peduli pada putranya sendiri dan lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan keponakannya.

"Terima kasih ya, Bunda. Fadil sayang banget sama Bunda," ucap bocah kecil itu setelah menghabiskan seluruh isi piringnya.

Jihan teringat kembali dengan perkataan Rindi tentang rekreasi. Berniat menanyakan hal itu pada sang anak yang sama sekali tak membicarakan masalah rekreasi sekolah pada dirinya.

"Nak, Bunda mau tanya sesuatu boleh? Tapi jawab yang jujur ya." Jihan mulai memamcing pembicaraan serius antara ibu dan anak. Tentu saja Fadil langsung mengangguk karena selama ini anak itu memang tak pernah berbohong.

"Apa di sekolah Fadil ada acara rekreasi minggu depan?" tanya Jihan dengan sangat hati-hati karena tak ingin melukai perasaan putranya.

Hening.

Bocah kelas dua SD itu tak menjawab, hanya menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Tentu saja Jihan langsung tahu jika putranya itu sedang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu. Namun, wanita itu tak putus asa, tanganya menggenggam lembut jemari sang anak. Matanya menatap teduh ke arah dua bola mata sendu bocah kecil itu.

"Kok Fadil diam saja, ayo katakan, Nak. Bunda hanya sekedar ingin tahu saja." Jihan kembali membujuk agar putranya mau bercerita.

"I- iya, Bun. Sebenarnya minggu depan ada acara rekreasi sekolah naik kereta kelinci."

"Lalu, kenapa Fadil nggak bilang sama Bunda?"

"Kata Putri, Bunda nggak mungkin punya uang untuk bayar uang rekreasi itu. Jadi, Fadil nggak bilang karena nggak mau Bunda bingung cari uang," ucap bocah polos itu kemudian kembali menunduk.

Deg.

Hati Jihan benar-benar sakit mendengar penjelasan sang anak. Serendah itukah ia di mata keluarga sang suami. Bahkan, Putri yang notabene masih anak kecil pun bisa ikut menghina Jihan dan putranya.

Jihan segera merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mengecupi puncak kepala putranya berkali-kali dengan penuh kasih sayang.

"Nak, Bunda punya uang kok. Ini buktinya Bunda bisa belikan kamu ayam KFC, besok Bunda kasih uang untuk bayar rekreasinya ya. Kita ikut," ucap Jihan seraya menghapus air mata yang tanpa sadar telah membasahi pipinya.

"Ya Bunda, Fadil mau. Biar si Putri itu nggak ngejekin Fadil terus."

Lagi-lagi Jihan harus menelan kepahitan. Dari cara bicara putranya barusan, terlihat jelas jika anak itu selalu mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari kakak sepupunya.

"Ya sudah, kita pesan lagi KFCnya untuk dibawa pulang ya. Buat malan malam nanti," ucap Jihan kemudian beranjak dari kursinya.

Hari sudah beranjak sore saat Jihan sampai ke rumahnya. Namun, sang suami juga belum pulang. Wanita itu hanya bisa tersenyum kecut mengingat sang suami akan pulang terlambat karena lebih dulu mampir ke rumah ibu mertuanya untuk makan enak.

Sepasang Ibu dan anak itu segera masuk ke dalam rumah kemudian bergantian untuk membersihkan diri.

Selepas maghribh, keduanya kembali duduk di meja makan untuk menyantap makan malam dengan menu ayam KFC yang mereka beli tadi siang. Sengaja Jihan membeli cukup banyak agar bisa dipanaskan untuk sarapan putranya besok pagi.

Saat tengah asyik mengunyah, sayup-sayup terdengar suara sepeda motor Rizal yang memasuki pekarangan. Sejurus kemudian, lelaki itu telah masuk ke dalam rumah. Mata Rizal melotot melihat menu makan malam yang sedang disantap oleh istri dan anaknya.

"Apa-apaan ini Jihan?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bingkai Suami, Keadilan Sengit Istri
9.7
Baskara Aditama, jaksa ternama yang kupikir penyelamat, nyatanya dalang yang menjebloskanku ke penjara demi melindungi Valerie. Usai tiga tahun menderita di Lapas Cipinang, aku bebas hanya untuk dipermalukan di pesta mereka hingga nyaris tewas akibat pendarahan internal. Baskara justru memalsukan medisku demi menutupi kekejamannya. Kini, harapanku telah sirna, berganti ambisi balas dendam. Aku akan menghancurkan karier, reputasi, dan segala yang ia cintai tanpa sisa.
Sampul Novel Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan
9.5
Demi membalas penderitaan keluarganya, Layla berpura-pura mencintai seseorang dalam sebuah rencana balas dendam yang matang. Namun, ambisinya terancam saat perasaan tulus mulai tumbuh di tengah misinya. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang tak terduga. Akankah Layla tetap pada tujuannya, atau justru melepaskan segalanya demi perasaan itu? Ikuti kisah penuh intrik dalam Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan.
Sampul Novel Hasrat liar ayah tiri
8.1
Kehadiran ayah tiri awalnya dianggap sebagai pelindung bagi gadis remaja ini. Namun, tragedi berdarah mengubah segalanya hingga ia terpaksa tinggal bersama pria itu. Di balik wajah malaikatnya, sang ayah tiri justru menjerat kepolosan putri tirinya lewat rayuan dan sentuhan nakal. Masa SMA yang lugu dimanfaatkan secara perlahan untuk mengurung sang gadis dalam cengkeraman obsesi. Hubungan keluarga pun berubah menjadi skandal terlarang yang disembunyikan dari dunia.
Sampul Novel Hot Mama And Could Daddy
8.6
Ditinggalkan Elena membuat Rio dan putra tirinya, Zain, harus bertahan dalam kesendirian. Meski tanpa ikatan darah, Rio belajar menjadi ayah seutuhnya bagi bocah misterius yang memiliki kemampuan meramal tersebut. Rahasia kelam Elena sebagai pelacur mulai terkuak saat Zain memperingatkan Rio tentang rencana jahat ibunya dan Sarah. Mereka berniat menjebak Rio dengan obat-obatan dan godaan malam ini. Rio kini terjebak dalam dilema antara rasa terancam dan kebahagiaan Zain.
Sampul Novel Janda Dua Anak Untuk Arjuna
9.6
Diceraikan Ricky saat hamil, Raisa berjuang membesarkan anak kembarnya hingga menjadi sekretaris Samuel Tirta. Meski awalnya ditolak, kepolosan Raisa meluluhkan hati Samuel sebelum pria itu kembali ke pelukan Lidya, wanita yang menghancurkan rumah tangga Raisa. Takdir membawanya menjadi sekretaris Arjuna, adik Samuel. Saat Arjuna melamarnya, Raisa bimbang karena harus berhadapan lagi dengan Lidya. Akhirnya, ia memilih menikah dengan Arjuna Desta Mahendra Tirta.
Sampul Novel Menantu Tak Diharapkan
7.9
Cakra, seorang yatim piatu, tumbuh besar di bawah asuhan paman dan bibinya yang penuh tekanan. Nasibnya berubah drastis saat sang paman terjerat utang besar kepada keluarga kaya raya. Sebagai jaminan pelunasan, Cakra terpaksa menikahi salah satu putri dari keluarga tersebut. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan baru. Karena perbedaan kasta yang mencolok, ia harus menghadapi sikap dingin serta penolakan keras dari mertua yang membencinya.