APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Setelah Dihianati Adik Kandumh

Setelah Dihianati Adik Kandumh

Arini pulang dari luar negeri setelah delapan tahun bekerja keras sebagai TKW demi keluarga. Namun, kejutan pahit menantinya saat mengetahui sang adik, Alma, telah mengkhianati dirinya dengan menikahi Aksa, kekasih Arini sendiri. Di tengah luka mendalam akibat pengkhianatan ini, muncul sosok pria baru yang tulus mencintai Arini. Kini, Arini terjebak dalam pilihan sulit antara masa lalunya yang menyakitkan atau membuka hati untuk cinta baru yang lebih nyata.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Memangnya kalo sakit hati karena kalian nikah diam-diam aku harus nangis? Nggak dong, aku bahagia terlepas dari orang jahat yang...."

Deru mesin mobil berhenti di depan rumah Ranti membuat beberapa tetangga keluar. Mereka ingin tahu siapa yang datang malam-malam begini. Alma sudah lama memberikan kabar jika sang kakak bekerja tidak benar. Atau, cara memperoleh uangnya dengan menjual tubuh.

"Lihat itu, siapa yang jemput Arini? Pasti itu penyalurnya," kata salah satu tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah milik Ranti.

"Iya, pantas saja, dia bisa renovasi rumah Pak Wahyono dan nguliahin kedua adiknya. Ya, selamat itu si Aksa. Nggak dapat bekas orang." Ucapan negatif dan menyakiti hati Arini membuat wanita itu hanya bisa mengembuskan napas kasar.

Arini tidak mau menanggapi ucapan mereka semua. Mereka hanya akan menambah beban masalah saja. Di depan sana, Arini juga belum tahu, setahun itu sebentar. Arini tidak mungkin akan berada di Taiwan terus setelah ini.

"Rin, kamu mau ke mana?" tanya Sri yang terkejut saat melihat anak sulungnya menarik dua koper yang sama seperti saat pulang kemarin.

"Maaf, Bu. Cuti saya sudah habis. Saya harus kerja," jawab Arini tanpa basa-basi.

"Tapi, kita perlu bicara, Rin. Biar bagaimana pun, Ibu tidak ingin kamu dan adikmu bertengkar. Bapak dan Ibu sudah tua," kata Sri memohon agar Arini tidak pergi.

"Bu, Pak, kami tidak pernah bertengkar. Aku juga tidak pernah memusuhi Alma. Saya ikhlas ketika Alma menikah," kata Arini tanpa mau menyebut nama Aksa lagi.

Aksa yang mendengar ucapan Arini merasa sangat sakit. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya saat. Ucapan Arini seolah menggambarkan jika hubungan mereka selama ini tidak ada artinya. Jelas bukan salah Arini, Aksa-lah yang memutuskan bermain api di belakang Arini.

"Rin... kami semua ingin mengajak berbicara kamu sebagai keluarga," kata Aksa menyela obrolan ibu dan anak itu.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya pamit semuanya."Arini mengatakan setelah selesai memasukkan dua koper ke dalam bagasi mobil travel yang dipesannya. "Oh, ya, ini agen travel. Bisa dibaca, ya. Jadi bukan agen yang dipakai pesan wanita untuk hidung belang. Agen ini besar dan yang menuduh jika agen ini khusus memesan perempuan untuk laki-laki hidung belang pasti akan dilaporkan," kata Arini sambil tersenyum saat melihat wajah syok para tetangga.

Mereka semua langsung tegang. Arini tersenyum puas. Ia bersikap tenang bukan karena tidak sedih. Akan tetapi, menangis bukan solusi.

"Lho? Siapa yang ngomong gitu, Mbak?" tanya sopir travel paruh baya itu.

Arini tidak menjawab, tetapi langsung menunjuk satu per satu wajah tetangganya. Mereka jelas syok dan takut. Orang kampung pasti akan takut jika mendengar akan dipolisikan. Mereka kurang pengetahuan.

"Maaf, ya, Pak. Mereka suka bikin gosip. Belum pernah masuk penjara karena pencemaran sebuah CV, Pak. Makanya mereka ingin mencoba," kata Arini sengaja mengompori sopir travel itu.

Sopir travel itu menggeleng lalu mengembuskan napas kasar. Laki-laki paruh baya itu tidak tahu menahu perihal masalah yang sedang terjadi. Arini hanyalah korban dari kelicikan anggota keluarga yang tidak amanah. Rasa iri dan dengki Alma-lah yang membuat semua menjadi kacau. Andai Alma sadar, hal ini tidak perlu terjadi.

Pagi datang dengan cepat, kedua orang tua Aksa hendak menemui Arini pagi ini di rumah Ranti. Namun, mantan calon menantunya itu sudah pergi. Hanya ada Ranti dan Rasman yang pagi ini baru selesai sarapan. Tatapan Rasman sudah penuh kebencian pada dua orang pensiunan PNS itu.

"Kalo memang niat mau bicara sama Arini, harusnya sejak kemarin. Dia sudah pergi karena cutinya tidak lama." Rasman mengatakan dengan nada sinis saat kedua tamunya baru saja duduk di kursi ruang tamu. "Lagi pula Arini sudah ikhlas mereka menikah, jadi tidak usah diperpanjang lagi. Satu hal, keponakan saya adalah salah satu bukti jika korban kelicikan orang terdekat itu ada," kata Rasman lagi membuat Bu Tuti kesulitan menelan saliva.

Bu Tuti dan Pak Yanto, kedua orang tua Aksa kali ini mendadak kikuk. Mereka terpojok dan ucapan Rasman tidak bisa dibantah. Mereka lebih setuju jika Aksa menikah dengan Alma yang seorang sarjana dan PNS. Mereka lupa, Alma bisa mendapatkan dua hal karena jerih payah Arini.

"Bukan begitu, Pak Rasman. Saya dan istri kemarin belum sempat bertemu karena banyak tamu yang datang ke rumah. Mereka tidak sempat datang ke rumah Pak Wahyono." Alasan Pak Yanto tidak cukup kuat untuk menjawab ucapan paman Arini itu.

"Benarkah? Atau kalian sedang menyusun rencana yang lebih jahat lagi?" Rasman mengepulkan asap rokok saat ini. "Bu Tuti, berapa banyak tas branded seharga gaji kalian satu bulan yang dikirimkan oleh Arini? Ah, ya, Bu Tuti bisa pamer tas itu saat masih kerja, 'kan?" Sindir Rasman membuat kedua besan Wahyono itu salah tingkah.

"Pak Rasman, saya...."

"Saya? Kenapa, Bu? Mau menjelaskan apa lagi pada saya? Saya sudah tahu. Ibu, yang sengaja membuat semua ini terjadi. Tanpa kalian memikirkan bagaimana perasaan Arini. Arini ada salah apa dengan kalian? Dia memang bukan seorang sarjana seperti Aksa dan Alma, tetapi dia lebih beradap dibanding kalian semua," kata Rasman sambil menahan amarah yang kapan saja bisa meledak.

"Paklek, nggak gitu juga," kata Alma menyela obrolan dua orang tua itu.

"Oh, gimana harusnya? Kamu sudah hamil dulu, 'kan sama Aksa? Benar-benar murah. Lebih murah dari harga Yupi. Alma, kamu tidak bisa menekan setiap orang untuk bisa ikut dengan semua keinginanmu. Ingat, karma itu pasti ada." Ucapan Rasman membuat nyali Alma ciut saat ini. "Mungkin dalam Al-Qur'an karma tidak ada. Tapi, hukum tabur tuai itu pasti ada. Kalian semua akan memetiknya," lanjut Rasman dengan wajah sangar.

Mereka semua diam, Alma yang biasa banyak bicara kali ini tidak. Menjawab ucapan sang paman sama saja dengan bunuh diri. Alma tidak mau hal itu terjadi. Rasman bahkan pernah memergoki Alma dan Aksa saat berhubungan intim di kamar milik Arini.

"Pak Rasman, apa boleh saya meminta nomor ponsel Arini?" Bu Tuti sudah tidak nyaman berada di rumah ini. "Saya akan minta alamat Arini. Saya akan menemuinya di Jakarta. Arini pasti belum langsung akan berangkat ke Taiwan," kata Bu Tuti penuh percaya diri.

"Nomor ponsel Arini masih sama seperti yang dulu. Dia perempuan yang setia. Bahkan nomor ponsel saja tidak ganti." Rasman sengaja menyindir Alma dan Aksa yang saat ini ada di rumahnya.

Mereka semua terdiam. Semalam, mereka merencanakan hendak menemui Arini untuk berbicara. Sayang, kedua orang tua Aksa tidak menghubungi putra mereka terlebih dahulu. Mereka tidak tahu jika Arini berangkat ke Jakarta.

"Alma... ingat satu hal, kamu mungkin bisa merebut Aksa dari Arini. Tapi, kamu harus tahu, siapa yang dicintai Aksa sebenarnya," kata Rasman sengaja memberikan provokasi pada Alma.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Ruela sangat menjunjung tinggi kesetiaan, namun dikhianati oleh Frans, suaminya, yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih terpuruk, Ruela bangkit untuk membalas dendam. Tak disangka, takdir membawanya pada Felix, pemuda yang menghabiskan malam penuh gairah bersamanya. Di tengah kemelut hati dan ambisi untuk menghancurkan para pengkhianat, mampukah Ruela menuntaskan dendamnya? Sebuah kisah tentang luka, pembalasan, dan pertemuan yang tak terduga.
Sampul Novel Di Jodohkan Dengan Om Galak
8.2
Nessa, mahasiswi cantik berkepribadian bebas, terpaksa menerima perjodohan dengan Arga, CEO dingin yang pernah ia temui dalam situasi buruk. Meski Arga masih dibayangi masa lalu, keduanya sepakat menjalani pernikahan kontrak selama setahun tanpa sepengetahuan orang tua. Namun, dinamika di antara mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu. Akankah cinta tumbuh di tengah rahasia ini, ataukah kembalinya masa lalu Arga akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dusta dan Kenikmatan
8.5
Seorang gadis lugu terjebak dalam dilema karena merasa belum siap menjadi ibu. Namun, kekasihnya terus melancarkan bujuk rayu manis hingga sang gadis akhirnya menyerahkan kesuciannya untuk pertama kali. Malang tak dapat ditolak, setelah berhasil merenggut kehormatan gadis itu, sang pria justru menghilang tanpa jejak. Kini, ia hanya bisa meratapi nasibnya yang malang dan merasakan kepedihan mendalam akibat pengkhianatan kekasih bajingannya tersebut.
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Marlina kehilangan segalanya demi ambisi pendidikan, termasuk kehormatan dan status sosialnya. Terbuang dari masyarakat, ia terjerumus ke dunia gelap narkoba di kota besar sebagai pengedar cantik yang diperebutkan para bandar. Meski berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival mengirimnya ke penjara. Setelah mendalami agama di balik jeruji, Marlina justru kembali menghadapi penolakan keras saat bebas. Kini ia harus memilih: kembali ke jalan haram atau teguh berhijrah.
Sampul Novel Jalan Hidup Kita
8.4
Setiap individu layak bahagia, namun jalan menuju ke sana tidaklah mudah. Mia Malva Elard adalah wanita yang lelah berjuang demi kedamaian batin. Rentetan kehilangan yang menyakitkan membuatnya sinis terhadap cinta. Di tengah keputusasaan, Grayson Adelard hadir membawa tawaran pernikahan yang tak terduga. Mampukah dua jiwa yang sama-sama terluka ini menemukan kebahagiaan sejati? Mia kini harus menempuh perjalanan untuk menemukan jawaban dalam ikatan tersebut.
Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, suamiku yang politisi, aku kehilangan kaki dan karier balet. Namun, pengorbanannya sia-sia saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan terapisku, Selvia. Mereka tega menertawakan kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban keluarga. Meski Yudha memujiku di depan publik untuk citra politiknya, kenyataan pahit ini memicu dendam. Tanpa air mata lagi, aku bertekad menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.