APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Kehidupan Maya seketika berubah menjadi mimpi buruk setelah insiden fatal di malam pertamanya menghancurkan biduk rumah tangga yang ia bina. Tak hanya kehilangan pernikahan, dunianya pun kian runtuh saat pengkhianatan muncul dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung. Kini, Maya harus menghadapi kenyataan pahit di mana kepercayaan telah sirna dan setiap aspek hidupnya porak-poranda akibat satu malam yang merubah segalanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Arthur menghentikan langkahnya, berdiri dengan ambigu di tengah-tengah kamar yang sudah  sangat berantakan. Dia menyipitkan matanya kala retina kecil itu menangkap pemandangan yang sangat luar biasa untuk di lihat. Secarik potret yang dia tangkap berhasil membuat hatinya membara.

Arthur menatap ke arah Maya yang berada tidak jauh darinya dengan sangat geram. "Ada apa, ini?" tanya Artur yang tidak beralamat pada siapa dia bertanya.

"Aku juga gak tahu," jawab Sella menaikkan pundaknya. Berharap Arthur akan menghina, dan mencaci Maya.

Sella bersorak ria, melihat situasi yang terjadi saat ini. Dia merasa momen ini adalah sebuah momen yang tepat untuk membalaskan sakit hatinya kepada Maya. Dengan begini, Sella sangat yakin, Arthur akan menceraikan, dan mencampakan Maya. Peluang untuk dia mendapatkan Arthur saat ini sangat besar. Apalagi, Arthur telah meniduri, dan mengambil mahkotanya. Dengan begitu, Sella bisa berada di posisi yang kuat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Akhirnya, aku bisa melihat kehancuran Maya," batin Sella. Dia menarik sebelah ujung bibirnya ke atas. Menyeringai, melirik ke arah Maya.

Arthur melirik ke arah Daffin yang sedang bertelanjang bulat seperti bayi besar yang duduk dengan kepala menunduk. Tangan Arthur mengepal dengan rahang mengeras. Sebagai seorang suami, sudah pasti emosinya akan mendidih saat mendapati istrinya bersama pria dewasa lain. Apalagi mereka di ruangan yang sama, dengan kondisi tubuh yang sama-sama telanjang.

"Apa yang terjadi?" tanya Arthur sekali lagi dengan nada suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Daffin hanya diam di tempat. Sedangkan Maya, dia terus menangis tanpa henti. Kondisinya sekarang tidak ubahnya dari orang gila. Tubuh yang polos tanpa ditutupi oleh sehelai benang pun, dan rambutnya yang sudah gimbal. Hati Arthur begitu sakit kala retina matanya terus menangkap potret-potret di hadapannya dengan sangat jelas. Apalagi tidak ada di antara mereka yang menjawab pertanyaan Arthur.

"Kenapa pada diam? Kalian gak punya kuping, dan tidak punya suara untuk menjawab pertanyaanku?" teriak Arthur semakin geram.

Sella melangkahkan kakinya mendekati Arthur yang berdiri di tengah-tengah kamar. "Jangan berteriak seperti ini, Ar! kendalikan dirimu!" ucap Sella memegang lengan Arthur yang terasa gemetar menahan emosinya.

"Kasihan mereka. Apalagi Maya. Mungkin dia sudah tidur dengan Daffin semenjak tadi malam. Se-," Arthur yang mendengar ucapan Sella semakin geram. Dia menarik tangannya dengan kasar dari Sella. Sehingga ucapan Sella terputus karena kaget.

Sella kembali memegang lengan Arthur, dan kembali memulai aktingnya untuk menutupi akal busuk yang dia miliki. "Biarkan mereka menyelesaikannya dulu, Ar! mungkin mereka harus punya waktu berdua untuk menyelesaikan permasalahan mereka yang sudah terjadi." Dengan wajah bertopengnya, Sella berbicara sok bijak di hadapan Arthur.

"Sepertinya, di antara mereka berdua telah terjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Bisa jadi, mereka telah melakukan hubungan sebagaimana yang dilakukan oleh perempuan dewasa dengan pria dewasa. Apalagi saat ini mereka sama-sama tidak pakai pakaian di dalam ruangan yang sama." Sella berusaha semakin memanasi Arthur yang sudah terbakar api amarah.

Kata-kata yang keluar dari mulut Sella seakan menjadi pupuk untuk kemarahan di dalam diri Arthur. Rencana Sella untuk membuat Arthur semakin emosi berjalan dengan sangat mulus. Arthur kembali menarik lepas tangannya dari Sella. Emosi di hatinya semakin membuncah setelah mendengar penuturan Sella. Usaha Sella untuk memanasi Arthur ternyata tidak sia-sia. Arthur termakan hasutan-hasutan yang terlontar dari mulut Sella. Dengan kata-kata sok bijaknya, Sella menyisipkan getah yang mampu semakin memperkeruh suasana di dalam kamar yang sudah berantakan itu.

Mata Arthur yang sudah memerah, melotot ke arah Daffin. Sedangkan Daffin hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Sekarang, dia telah tertangkap basah oleh Arthur. Sebenarnya, memang kondisi seperti inilah yang di inginkan oleh Daffin. Supaya rencananya untuk memisahkan Maya dengan Arthur berjalan sesuai target yang telah dia buat sendiri. Daffin sangat yakin, dengan melihat kejadian ini, Arthur akan terbawa emosi, dan menceraikan Maya. Setelah itu Dia akan menjadikan Maya miliknya.

Daffin berusaha memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa, tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di dalam kamar yang sama dengan dirinya.

"Lihatlah sampai matamu keluar, dan emosimu tidak tertahankan! ceraikan Maya! dia adalah milikku," ucap Daffin dalam hati. Dia menyeringai sinis menatap punggung Arthur yang telah berbalik arah membelakanginya.

"Setelah bercerai dengan Arthur, kamu tidak ada pilihan lain, selain menikah denganku, May!" batin Daffin yang kini berbalik menatap ke arah Maya yang sedang menangis sesegukan.

"Impianku selama ini akhirnya tercapai juga," Sorak riang Daffin dalam hati. Daffin yang bodoh tidak memikirkan akibat dari perbuatannya.

Sella mendekati Maya yang berada di pojok kamar sedang meratapi nasibnya. Dengan topeng kucingnya, Sella meraih tubuh perempuan telanjang yang sedang meratapi kejadian yang baru saja menimpa dirinya.

Maya berdiri, dan menghambur kedalam pelukan orang yang selama ini dia anggap sebagai sahabat baiknya. Orang yang sangat dia percaya sudah dari lama. "Kamu yang sabar ya, May!" Sella Mengelus-elus pelan punggung Maya. Sama seperti sahabat-sahabat lainnya yang sedang menenangkan Seorang sahabatnya yang sedang bersedih. Sella juga melakukannya, tapi itu semua dia lakukan hanya untuk mempermulus topeng yang dia pakai selama ini.

"Apa yang terjadi padamu? Ceritakan semuanya padaku, agar kamu merasa lega," bujuknya dengan sedikit mengeraskan suara agar Arthur mendengarnya.

"A-aku …." Maya tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dia kembali menangis sesegukan.

"Apa kamu sudah tidur bersama Daffin?" tanya Sella langsung ke inti ceritanya. Sella sangat berharap Maya menjawab dengan sejujurnya, agar Arthur bisa mendengar semuanya dari mulut Maya.

Maya menggelengkan kepalanya pelan. Air matanya mengalir deras. Ingatannya kembali ke waktu tadi malam. Dimana pada saat itu dia menerima sentuhan-demi sentuhan dari Daffin dengan hati yang sangat bahagia. Bahkan, Maya juga ikut membalas belaian Daffin terhadapnya. Permainan mereka imbang. Maya, dan Daffin sama-sama agresif. Tidak ada di antara mereka yang sangat mendominan satu sama lain. Mereka adalah pasangan yang sama-sama kuat dalam bertarung di atas kasur. Ingatan, dan bayangan kejadian itu berhasil mengunci mulut Maya. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Sella.

"Jangan menangis lagi! aku kan sudah bilang sama kamu, ceritakan semuanya yang telah terjadi kepadaku supaya hatimu merasa lega," ucap Sella yang berusaha mengulik apa saja yang sudah di lakukan Maya bersama Daffin.

"Jika kamu bingung mau memulai cerita kejadian ini dari mana, aku saranin kamu ingat lagi, gimana bisa Daffin, dan kamu tidak pakai pakaian? Apakah Daffin memaksamu, atau kamu membuka pakaianmu bersama Daffin dengan suka rela," Sella kembali memancing Maya agar bersuara menjelaskan kejadian yang sudah berlalu dalam kehidupan Maya.

Maya kembali menggelengkan kepalanya yang terasa berat. "A-aku, dan Daffin …." Maya menahan tangisnya. Dia sudah menguatkan hatinya untuk memulai menceritakan semua yang telah terjadi kepada dirinya bersama Daffin semenjak tadi malam.

"Malam tadi … Aku, dan Daffin te-," Arthur menarik tubuh polos Maya yang tidak memakai apapun dari pelukan Sella. Sehingga ucapan Maya terpotong karena kaget ada yang menariknya secara kasar. "May, bajumu kemana?" ucap Arthur yang sudah dikuasai amarah. Tindakan Arthur yang langsung menarik tubuh Maya membuat kalimat Maya yang akan menjelaskan apa yang telah dia lakukan bersama Daffin menjadi terputus.

"Rasain!" batin Sella saat Arthur mencekal lengan Maya, dan menariknya dengan kasar.

"Ini belum seberapa sahabatku tercinta," batin Sella angkuh.

"Sebentar lagi, kamu akan merasakan lebih sakit lagi dari ini," ucap Sella dalam hati dengan tatapan sinis yang di utarakan khusus untuk Maya.

"Aku yakin, Arthur akan mencampakkan kamu. Dan menggantikan posisimu di hatinya dengan kehadiran aku." batin Sella yang sudah percaya diri akan menggantikan Maya sebagai istri Arthur.

Maya terus menangis sesegukan tanpa menjawab pertanyaan Arthur yang mempertanyakan dimana bajunya.

"Jawab, aku!" Arthur mencengkram lengan Maya dengan sangat erat hingga cekalan itu meninggalkan bekas merah di kulit Maya.

"Aku tidak butuh tangisan! yang aku butuhkan itu jawaban, bukan tangisan hina seperti ini," bentak Arthur yang sudah menduga-duga apa yang telah terjadi antara Maya, dengan Arthur. Maya hanya menggeleng pelan dengan tangis semakin terisak menahan sakit, dan perih di hatinya. ditambah lagi dengan rasa sakit dari cekalan suaminya. Tangisan Maya begitu pilu untuk didengar oleh hati yang mempunyai rasa empati. Namun, sayangnya tidak ada satupun diantara mereka yang ada disana merasakan kepiluan itu.

"Apakah kamu telah menyerahkan dirimu kepada, dia?" tunjuk Arthur pada Daffin dengan tangan sebelah yang masih mencengkram lengan Maya.

"Jawab!" bentak Arthur.

"Kamu jahat!" Maya memukul dada Arthur dengan tangis yang semakin menjadi.

Arthur menatap dalam orang yang ada dalam cekalannya. "Jahat?" Dengan Mata menyipit, kening yang mengkerut, dan kedua alis yang menyatu. Arthur menatap Maya dengan tajam. "Apa maksud kamu, hem? Apa?!" Bentak Arthur kembali, membuat Jantung Maya terasa mau copot mendengar bentakan dari orang yang sangat dia cintai.

Maya tidak mempunyai nyali untuk menjawab pertanyaan Arthur yang menggelegar di telinganya. Dia hanya menggeleng tidak berdaya dengan air mata yang terurai saat Arthur membentaknya. Dia tidak pernah membayangkan pernikahan yang selama ini sangat diharapkan nya, malah hancur, dan membuat dirinya terasa sangat hina.

Arthur memindai tubuh Maya, sejumlah bekas merah dari permainan Maya malam tadi begitu jelas terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Leher, dan ke dua daging kembar yang bergelantung di dada Maya pun menjadi pusat perhatian Arthur. Karena, kedua tempat itulah yang paling banyak mengoleksi bekas tanda kemerahan tersebut. Melihat bekas-bekas merah di tubuh istrinya bertebaran di mana-mana, emosi Arthur semakin membara. Dia sangat tahu betul, itu tanda terbuat karena apa. Dia memang mencumbu Maya setelah ijab kabul, dan acara resepsinya. Akan tetapi, Arthur tidak membuat tanda merah di tubuh Maya sebanyak itu.

Arthur mengeratkan cekalannya. Dia tidak peduli, tangan Maya sakit karena cekalannya, atau tidak "Apa yang telah kamu lakukan?" Dia menggoyangkan tubuh Maya dengan suara yang menggelegar.

"Hebat! Baru satu hari jadi istriku, kamu sudah membuat ulah," ucap Arthur yang sudah sangat kecewa dengan apa yang di lihatnya di tubuh wanita yang baru dia nikahi beberapa jam yang lalu itu.

"Ayo, Ar. Ceraikan dia!" Sella berharap di dalam hatinya, Arthur langsung menceraikan, dan menalak Maya saat itu juga.

Selama Arthur mencekal lengan Maya, dan selalu membentak Maya karena kecewa dengan apa yang dilihatnya, Sella terus tersenyum bahagia. Hatinya bersorak riang melihat penderitaan Maya yang dia anggap selalu mengambil apa yang dia inginkan.

Sekarang, Arthur melepaskan cekalannya di tangan Maya, dan beranjak mendekati Daffin yang masih setia berada di kamar itu menunggu Maya di ceraikan oleh Arthur. Daffin, dan Sella sama-sama berdoa agar Arthur menceraikan, dan menalak Maya secepatnya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel Gadis Perawan Untuk CEO
8.6
Devanka hampir kehilangan kesuciannya akibat ulah tetangganya, sebuah tragedi yang bisa mendatangkan kutukan karma bagi keluarganya. Di tengah kemelut itu, ia bertemu CEO arogan yang sedang mencari istri perawan. Pria kaya tersebut harus memenuhi wasiat sang kakek di ulang tahun ke-80. Bagi keluarga besar Hamzah yang berkuasa, menikahi gadis yang masih suci adalah kehormatan mutlak. Kini, nasib Devanka terikat pada ambisi keluarga konglomerat tersebut.
Sampul Novel Istri Tawanan Tuan Muda
8.4
Demi membalas dendam atas pengkhianatan Sonny Wilson terhadap ayahnya, Evan Halbert, seorang miliarder arogan, memilih menikahi Caitlyn Wilson. Evan menjadikan putri musuhnya itu sebagai tawanan dan terus menyiksanya dengan perlakuan buruk. Namun, di balik kebencian yang membara, Evan justru mulai jatuh cinta pada Caitlyn. Kini ia terjebak dalam dilema besar. Akankah perasaan cintanya mampu menghapus dendam masa lalu yang selama ini ia genggam?
Sampul Novel Look At Me
8.7
Dunia Maya Rehana runtuh saat mendapati dirinya hamil di bangku SMA. Alih-alih bertanggung jawab, Jordan sang kekasih justru menuduhnya selingkuh dan memutuskan hubungan. Di tengah keputusasaan antara rasa takut mengecewakan orang tua dan enggan menggugurkan janinnya, muncul Raka Pratama. Sahabat sekaligus adik kelasnya itu menawarkan diri menjadi ayah bagi sang bayi. Kini Maya terjebak dilema: menerima ketulusan Raka atau terus menanti Jordan.
Sampul Novel My Absurd CEO
8.8
Enzo Delwyn, seorang CEO berusia 28 tahun, secara mengejutkan mengejar Aylin, siswi kelas XI SMA. Berbeda dari pemimpin perusahaan pada umumnya, penampilan Enzo sangat tidak lazim. Di balik sikap uniknya, Enzo dan kakaknya menyimpan misi rahasia untuk menuntut balas pada Aylin atas kejadian di masa lalu. Kini, ia terjebak dalam dilema antara menuntaskan ambisi dendamnya atau mengikuti perasaan. Akankah Enzo tetap menjalankan rencana awalnya terhadap Aylin?