APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SEXY KILLER MACHINE

SEXY KILLER MACHINE

Karlen Maria Gerarda adalah perpaduan kecantikan dan maut. Sebagai putri mantan anggota KGB, ia dihantui memori pembantaian keluarganya yang menyisakan dirinya hanya karena warna matanya yang unik. Kini, Maria menyusup ke dunia hiburan kelas atas demi membalas dendam pada Sang Jenderal. Dengan identitas rahasia, ia memperluas pengaruh dan mencari sekutu. Siapa pun yang berani menyentuhnya harus membayar dengan nyawa dalam misi pembalasan berdarah ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

DORRRR!!!!

Rentetan serta desingan proyektil meluluhlantakkan bangunan tak terlalu besar di sebuah daerah bernama Minsk. Rumah yang dihuni oleh satu keluarga itu kini dihancurkan dengan timah panas yang datang dari berbagai penjuru rumah tersebut. Adalah Joseph Stalin Gerarda, sang kepala keluarga Gerarda yang harus melindungi istri serta dua orang putrinya yang berusia 10 serta 15 tahun yang sedang ketakutan dan bersembunyi di ruang bawah tanah milik mereka.

"Mommy, aku takut." Ucap Sabrina, gadis cilik berusia 10 tahun itu menutup kedua telinganya sambil memegang boneka teddy bear miliknya dengan wajah ketakutan.

"Jangan khawatir, Sayang. Papa pasti akan menyelamatkan kita. Maria, apa kau tak apa-apa, Sayang?" tanya sang Mama melihat dua putri tercintanya dipanda ketakutan dan kecemasan.

"Papa ... aku khawatir dengan papa, Mommy." Ucap Maria menangis dalam dekapan sang mama.

"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Jangan takut, Tuhan bersama kita." Mama berusaha menenangkan dua putrinya.

****

"Di mana benda itu?" seorang pria dengan potongan layaknya serdadu asing dengan rambut warna pirang berdiri tegak serta tubuh kekar berotot dibalut pakaian hijau army tengah menodongkan laras panjang jenis AK 45 semi-otomatis di pelipis seorang pria dengan posisi berlutut sambil mengangakat kedua tangannya ke atas.

"Kutanya sekali lagi, Tuan Joseph Stalin Gerarda, di mana Anda simpan chip itu? Bekerjasamalah dan kujamin, kau beserta istri dan dua putri cantikmu masih bisa melihat matahari terbit esok hari." Ujar pria itu menyeringai.

"Chip-nya tak ada padaku! Percuma saja kalian datang ke tempat ini karena memang tak ada padaku." Sahut pria bernama Joseph Stalin Gerarda itu tanpa takut sedikit pun.

"Hahahha, benar-benar tipikal seorang agen sejati rupanya. Apa kau tak takut jika istri dan anak-anakmu tahu apa pekerjaan ayah mereka?" Senyum seringai tersungging dengan jelas di bibir pria pirang itu.

"Kau tak akan berani mengatakannya," sahut Joseph.

BUAGH!!

Sebuah pukulan kencang dengan memakai gagang senapan milik pria pirang itu membuat Joseph langsung tersungkur seketika dengan kucuran darah segar di pelipis dan tepi mulutnya .

"Siapa sebenarnya kalian? Mengapa kalian menghancurkan rumahku? Apa salahku pada kalian?"

"Anda tak perlu tahu siapa kami! Tapi kami tahu siapa Anda, pekerjaan, istri, serta anak-anak Anda. Kenapa? Karena kami lebih pintar dari Anda!" balasnya tertawa puas.

"CIH, jika kalian memang sepintar itu, kenapa belum juga menemukan apa yang kalian inginkan? Atau kepintaran kalian itu hanya omong kosong belaka?" Joseph membalas dengan tawa sekeras-kerasnya hingga terdengar ke ruang bawah tanah di mana istri serta kedua anaknya bersembunyi.

"Papa! Aku ingin ke papa, Mommy. Aku ingin melihat papa!" Maria terus mendesak sang mama agar mengizinkannya menemui sang papa.

"Tidak! Tidak! Tidak Maria! Kau dan adikmu tetap di sini, biar Mommy yang melihat keadaan papa."

"Tapi, Mom ...," Maria memegang lengan sang mama dengan kuat.

"Ini perintah!"

Tanpa pikir panjang, sang mama membuka pintu ruang bawah tanah, mengamati gerak-gerik musuh yang masih berada di rumah mereka. "Doakan Mommy agar berhasil." Senyum sang mama pada kedua putirnya yang saling berpelukan.

"Mommy janji Mommy harus kembali! Harus kembali," ucap Sabrina menangis tak henti-hentinya sambil dipeluk Maria.

"Maria, jaga adikmu. Jika Mommy tak kembali ...,"

"Mommy harus kembali! Maria tak ingin dengar alasan apa pun! Harus kembali bersama papa!" tegas Maria menahan air matanya.

"Kalian memang anak hebat!" Sang Mama mengecup kening keduanya sambil menitikkan air mata. "Mama pergi dulu."

Maria dan sang adik, Sabrina saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain, sementara mama mereka menjemput sang papa.

****

Dengan mengendap-endap, sang mama berusaha mencari yahu keberadaan sang suami yang sedang ditawan oleh sekelompok orang tak dikenal. Dengan hati-hati ia menyusuri tiap kamar dan ruangan di rumah besar itu, hingga ....

AKHHHHH!!

Seseorang dari belakang menarik paksa rambut sang istri dan menyeretnya ke tempat di mana suami berada.

"OUCH!!" rintihnya

"Sayang!" Sang suami langsung meraih tubuh sang istri dan memeluknya. "Kau tak apa-apa?" tanya Joseph.

sang istri mengangguk, "Aku tak apa-apa."

"Anak-anak bagaimana? Apa mereka aman?' bisik Joseph.

"Mereka aman, Sayang. Mereka sedang menunggumu."

"HEI! KENAPA KALIAN MALAH BICARA BERDUA, HAH!"

BUAGHH!!

"Akhhhh, Papaaaa ...," teriak Mama melihat sang suami dipukuli lagi dengan gagang senjata api.3

"Cukup! Cukup! Hentikan, apa yang kalian inginkan?" Mama memeluk sang suami yang telah bersimbah darah dan tertelungkup.

"Chip!"

"Chip? Chip apa maksud kalian? bingung Mama.

"Tuan Joseph, bagaimana? Perlukah kami memberitahu istri Anda apa pekerjaan Anda sebenarnya?" tanya pria pirang itu lagi.

"Pekerjaan se--benarnya? Tuan, siapa kalian ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba masuk rumah kami dan melukai suami saya?"

"Hah!! Cukup basa-basinya. Biar kuberitahu, Nyonya Joseph Stalin Gerarda, suami Anda adalah seorang ...,"

KREK ... KREK!!

Tanpa disangka, Joseph mengambil senapan kecil dari tempat selongsong senjata api kecil milik pria itu. Dengan mengokang (menarik pelocok senjata api) dia mengarahkan pada pria pirang itu. Beberapa anak buah sang pria bertubuh tegap-besar itu sontak mengarahkan laras panjang mereka ke arahnya.

"Hahaha, kau mau menembakku? Silakan,.tapi jangan harap kedua putrimu akan selamat! Bawa mereka ke sini!" teriaknya.

Tanpa diduga, Maria dan sang adik, Sabrina berhasil ditangkap oleh orang-orang tak dikenal itu dan membuat mereka harus bertekuk lutut di hadapan pria pirang itu.

"Jangan sakiti mereka, aku mohon ...," sang Mama menangis mengatupkan kedua tangannya.

"Jadi bagaimana, Tuan Joseph? Masih mau bermain-main denganku?" Seringai pria itu.

Tangan gemetar, wajah penuh darah di sebagian pelipisnya, membuat Joseph mau tak mau menyerah dan membuang senjata api sedikit menjauh darinya.

"Lepaskan putriku! Mereka tak ada hubungannya dengan ini!" ujar Joseph.

"Siapa bilang tak ada? Bukankah mereka adalah darah dagingmu? Apa kau lupa perumpamaan 'darah lebih kental dari air?'. Jika ingin mereka selamat, katakan padaku!""

Dengan menjentikkan jarinya, salah satu putri mereka Sabrina diseret dan ditodong senjata laras panjang miliknya.

"SABRINA!!!" Maria dan sang mama berteriak.

"Bagaimana Tuan Joseph? Apa kini Anda mengerti apa maksud ucapanku?"

"Tapi aku memang tak tahu di mana chip itu berada! Kenapa kalian tak percaya juga."

Tak lama, salah satu anak buah pria pirang itu menghampiri dan berbisik padanya.

"Baiklah, Tuan Joseph. Ternyata Anda tak berbohong. Chip itu memang tak ada pada Anda,"

Joseph, sang istri dan dua putrinya menghirup napas seakan telah terbebas dari bahaya. "Oleh karena itu, aku juga akan membebaskan kau dan seluruh keluargamu!"

"A--apa maksudmu?" Joseph langsung keringat dingin, dan ....

Dor ...

Dor ...

Dor ...

"Papa! Mama! Sabrina ...,"

Satu per satu, nyawa keluarga Gerarda harus berakhir secara tragis. Sementara itu, Maria yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keluarganya dibunuh berusaha melawan mereka, namun tentu saja, fisik yang jauh berbeda serta emosi yang tak stabil, membuat Maria dengan mudah dijatuhkan.

"Hmm, wajahmu cukup lumayan! Jika aku membawamu dan bertemu dengan Tuan, mungkin tak akan ada ruginya. Bawa dia!" perintah pria pirang itu.

"Lepas! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Maria berusaha melawan dan tiba-tiba salah satu dari mereka memukul tengkuk Maria dengan gagang senjata api miliknya hingga ia pingsan.

"Tuan, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?" tanya deorang pria pada pria pirang yang tengah berdiri di depan kediaman Gerarda.

"Seperti biasa! Killing clearly and burn it!" ucapnya meninggalkan tempat itu sambil tertawa penuh kemenangan.

Di saat langkahnya belum jauh dari kediaman Gerarda, tiba-tiba sebuah bunyi ledakan cukup kencang dan keras ditimbulkan di sekitar tempat kejadian. Rupanya kediaman keluarga Gerarda telah dihancurkan oleh anak buah pria pirang guna menghilangkan barang bukti dan jejak mereka.

"Misi selesai, Tuan. Tapi sayangnya, chip itu tak ada di sana.," ucap sang pria berambut pirang di ponsel yang ia pegang dan segera beranjak meninggalkan kediaman Gerarda.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Meri terpaksa melakoni profesi pembunuh bayaran demi uang karena sulit mencari kerja. Mike adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kelam ini. Meski Meri mencintai sahabatnya itu, ia memilih memendam rasa demi menjaga pertemanan, apalagi Mike sudah memiliki kekasih seorang model cantik. Namun, pertemuan tak terduga dengan seorang dokter tampan di rumah sakit mulai menggoyahkan hatinya. Siapakah sebenarnya belahan jiwa yang ditakdirkan untuk Meri?
Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Dinodai Kakak Angkat
8.9
Dalam kondisi tak terkendali, Yugo melakukan tindakan keji terhadap Maheswari, adik angkatnya sendiri. Saat mengetahui Maheswari mengandung darah dagingnya, pria yang sangat mementingkan harga diri itu justru melarikan diri dari tanggung jawab. Kejamnya lagi, Yugo malah menjebak Junior sebagai kambing hitam atas perbuatannya. Kini, Maheswari terjebak dalam dilema besar mengenai masa depannya bersama Junior di tengah situasi penuh kekerasan dan ancaman yang menghimpit.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?