APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Shadow Under The Light

Shadow Under The Light

Bagi banyak orang, maut adalah teror, namun bagiku tidak. Pertemuanku dengan Axel, sang pembunuh berparas rupawan, menjadi awal dari nasib yang ironis. Meski hidup dalam ancaman, aku justru terpikat oleh pesonanya. Dia memuji keindahan mataku yang tak menunjukkan rasa takut akan ajal. Di balik kekejaman yang ia tunjukkan, Axel memberiku kasih sayang yang belum pernah kurasakan. Kini aku dihantui tanya, kapan giliranku tiba saat mataku tak lagi memikatnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah kira-kira lima hari tinggal bersamanya, lebih tepat disekap olehnya. Aku mulai tahu kalau Axel tidak sembarangan memilih mangsa.

Mangsa yang ia pilih adalah orang-orang yang mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat.

Seperti pria gemuk itu, yang ternyata sangat suka korupsi.

Axel bercerita tentang bagaimana cara menjerat mangsa, dengan pesona yang dimilikinya dan tutur kata halus, setiap mangsa menjadi lengah tanpa tahu bahwa yang sedang mereka hadapi adalah iblis berwajah malaikat.

Bisa kubayangkan bagaimana wajah sendu Lyra yang menatap Axel penuh harap, terjerat oleh daya pikatnya. Juga iming-iming uang pada pria gemuk mata duitan itu. Hawa nafsu menjadi racun yang membuat mereka menemui ajal.

Seperti laba-laba menjerat mangsanya, sekali terjerat tak akan bisa melepaskan diri. Mungkin ... mungkin saja, perlahan-lahan aku juga mulai terjerat pesonanya.

Kadang aku berharap ia berhenti untuk memuaskan keinginan membunuh. Karena aku tahu, suatu hari nanti ia akan melihat ke dalam mata ini, dan menemukan ketakutan yang mulai tumbuh. Lalu, ia tidak akan menginginkan diriku lagi, Axel akan menyingkirkanku, sama seperti ia menyingkirkan mangsa-mangsanya.

Hari itu Axel duduk dengan tenang di samping tempat tidurku, aku tidak tahu hari apa? Atau jam berapa? Pagi, ataupun malam.

Di sini, aku tidak bisa menghitung waktu dengan tepat, yang menjadi patokan bahwa satu hari telah terlewati adalah saat dia memberiku makan yang ketiga kalinya.

Axel berdiri, membuka ikatan pada tanganku dan membawaku ke kamar mandi. Sementara aku melepas pakaian, pria itu menatap langit-langit plafon. Tubuh tegapnya memblokir jalan keluar. Aku meraih shower dan mulai mengguyur tubuh. Tak seperti biasanya dia menyuruhku mandi sebelum memberi makan.

Aneh, apa yang direncanakan pembunuh ini?

Aku melayangkan pandang mengeja setiap jengkal fitur Axel, kemeja putih menambah ketampanan pria itu. Rambut hitamnya tergerai hampir menyentuh alis, acak-acakan, tetapi terlihat cocok dengan bentuk wajah lonjong Axel.

Axel tampak melamun, kadang menggoyangkan kaki dengan perlahan, beralih menatap ke lantai dengan pandangan kosong. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke arahku dan tersenyum memikat.

"Hei, Manis! Hari ini aku mengajak seorang teman datang, kita akan bermain-main dengannya."

OH! Kau tentu sudah tahu maksudnya. Dia akan beraksi lagi. Akan ada yang dibunuh hari ini.

Sanggupkah aku melihat pembunuhan dengan otakku yang sudah mulai sembuh? Bukan! Yang sudah benar-benar pulih karena penerimaan dan kebaikannya.

Axel melemparkan handuk dan kaus baru panjang yang menampilkan kakiku, tanpa celana.

"Hei, Manis! Kurasa tamu kita sudah datang," ucapnya. Menarik tubuhku ke ranjang, kembali mengikat kedua lenganku.

Benar saja, dentang bel di lantai atas terdengar sesaat kemudian.

Axel tak segera membuka pintu, ia malah mengambil beberapa perlengkapan. Tentu saja kalau kujabarkan akan membuat kalian semua bergidik ketakutan.

Ia meletakkan semua senjatanya di atas sebuah meja di seberang tempat tidurku, kemudian dengan santai menaiki anak tangga menuju lantai atas untuk menemui mangsanya.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara percakapan, karena Axel meninggalkan pintu ruang bawah tanah terbuka sedikit, dan jelas mangsanya adalah seorang wanita.

Suara wanita itu terdengar senang, tawa riangnya menggema hingga di tempatku berada, tanpa tahu bahwa ajal akan menjemputnya sebentar lagi.

Langkah-langkah kaki mulai terdengar menuruni tangga ke ruang bawah tanah, kemudian pintu ruang bawah tanah mulai terkuak.

Axel menarik wanita itu masuk, si wanita cekikikan genit.

Mengalungkan lengan ke pinggang Axel. Ia berhenti tertawa saat melihatku terikat di ranjang, tampak erotis padahal sebenarnya ....

Aku menatapnya dengan iba. Wanita itu berambut ikal panjang berwarna cokelat gelap dengan pakaian sangat minim, yakni rok mini dan blouse crop yang menampilkan perut rampingnya.

"Siapa itu, Sayang?" tanyanya. Wanita itu menatapku tidak senang, api cemburu membakar di bola mata besar ber-eyeliner tebal.

Dandanannya sangat menor. Maskara biru mewarnai kelopak matanya bersama alis melengkung tajam.

Axel hanya tersenyum, kemudian mengedipkan mata. Pria itu menutup pintu ruang bawah tanah dan menguncinya.

"Kau keberatan kalau ada yang lain? Jangan khawatir, dia hanya pelengkap saja, Kaulah yang paling utama." Senyum Axel melunakkan tatapannya padaku.

"Well ... biarkan saja dia, aku tidak keberatan," ucapnya. Si wanita menilik seisi ruangan, mengernyit sejenak saat melihat noda kehitaman pada lantai. Ia melepas sepasang heels berwarna hitam mengilap dengan pantulan kerlipan berlian di depan pintu. Sejenak, si wanita mengendus udara, tetapi saat melihat Axel mendekatinya, wanita itu mengabaikan bau ruangan ini.

Axel membelai wajah si wanita, menatap intens penuh cinta, sungguh! Aktingnya bahkan membuat mulutku menganga lebar. Jemari Axel menyelipkan untaian rambut ikal ke belakang telinga wanita itu.

“Kau sangat cantik,” puji Axel, membuat wanita itu tersipu malu-malu.

Telunjuk wanita itu menyentuh wajah Axel, bergerak dari tulang hidung mancung dan berhenti di bibir merah Axel. Pandangannya tak bisa beralih. Jemari si wanita mengelus bibir Axel berulang kali. Betapa ia ingin segera menanamkan ciuman di sana.

“Sudah makan?” Suara berat Axel terdengar merdu, senyum si wanita tak bisa meninggalkan bibirnya.

“Belum, aku ingin menikmatimu terlebih dahulu.”

Ia mendorong Axel perlahan ke dinding. Mengimpit tubuh pemuda itu dengan tubuh sintalnya. Lalu bibir merah ranum si wanita mulai menciumi wajah Axel.

Mula-mula di pipi dan leher, kemudian naik ke bibir Axel. Menanamkan kecupan birahi ke bilah merona Axel.

Kulihat Axel mengernyit jijik, tetapi membiarkan wanita itu terus melakukan aksinya.

“Sabar.” Axel menghindar main-main. Memeluk pinggang si wanita sambil sebelah tangan membelai punggungnya mesra.

“Kau sangat tampan, bagaimana aku bisa sabar, waktuku tak banyak, Sayang.”

Jemari wanita itu mulai menelusuri tubuh tegap Axel dan mencoba untuk membuka kancing baju pria itu, barulah Axel menghentikan tangan si wanita.

Wanita itu menatapnya bingung. Penolakan Axel melukai harga dirinya.

“Kenapa?” tanyanya heran.

"Pejamkan matamu," pinta Axel, "aku punya kejutan." Axel berbisik ke telinga wanita itu, sengaja menghela napas perlahan seolah menahan nafsu, sangat erotis, sampai aku merinding mendengarnya.

"Oh, ya?" Wanita itu tertawa nakal.

"Tapi jangan mengintip ya." Axel mencolek hidungnya main-main.

"OK!" Wanita itu terkekeh, kemudian menuruti perintah Axel, memejamkan kedua matanya.

"Sudah belum?" tanyanya sambil memasang gaya seksi. Tangannya bergerak untuk melepas kancing blouse-nya sendiri.

Dia pasti sangat berharap Axel akan tergoda dan menerkam tubuhnya.

Ingin sekali aku menyuruhnya untuk membuka mata dan melihat Axel yang sedang meraih sebuah pemecah es.

Wanita bodoh! Buka matamu, Lihat! Malaikat maut sedang melangkah ke arahmu.

Wanita itu sama sekali tidak menyadarinya, sekarang ia malah sudah melepaskan baju atasannya dan membuangnya ke lantai. Ia menyilangkan kedua kaki, sementara tangannya mengelus tubuh sendiri.

"Datanglah sayang," desahnya, menggigit bibir bawah bersama erangan menggoda.

"Seperti harapanmu!" Axel tertawa sinis sambil menghunjamkan pemecah es itu ke ulu hati si wanita.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIA
9.5
DIA
Kebangkitan sesosok mayat secara misterius memicu gelombang kepanikan luar biasa di tengah masyarakat. Fenomena horor yang melampaui logika ini tidak hanya membawa teror fisik bagi mereka yang menyaksikannya, tetapi juga perlahan menguak sebuah rahasia kelam yang selama ini terkubur rapat. Di balik kehebohan jenazah yang hidup kembali tersebut, tersimpan kebenaran terlarang yang siap mengguncang segalanya dalam balutan misteri yang sangat mencekam.
Sampul Novel Escape
8.1
Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Persahabatan Adrian dan Wandi retak akibat kehadiran Hesta, gadis misterius yang mempesona Adrian namun tampak mengerikan bagi Wandi. Wandi berusaha keras menyadarkan Adrian bahwa pujaan hatinya adalah makhluk astral, sementara serangkaian kejadian buruk mulai menghantui sejak mereka mendatangi sebuah pohon beringin tua. Di tengah belenggu misteri dan bahaya, mampukah Adrian melihat kebenaran? Akankah cinta beda dunia ini bersatu atau justru membawa petaka bagi mereka?
Sampul Novel Kutukan Selingkuhan
9.5
Rhino mengakhiri perselingkuhannya dengan Risa demi kembali ke pelukan sang istri. Namun, Risa yang murka melontarkan kutukan agar Rhino tewas dalam penderitaan. Tak lama, Rhino terserang berbagai penyakit misterius, mulai dari gangguan lambung hingga impotensi yang mengerikan. Di tengah keputusasaan, Rena sang istri mencoba menyelidiki latar belakang Risa. Ia justru menemukan fakta mengejutkan tentang sosok Risa yang sebenarnya jauh di luar nalar.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.