APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Single Mom

Single Mom

Kisah ini menyoroti kehidupan seorang ibu tunggal yang menyimpan duka mendalam dan rahasia kelam dari masa lalunya. Di tengah tuduhan sebagai wanita parasit, sebuah misteri besar mengancam untuk menjungkirbalikkan kenyataan. Puncaknya, ia harus menghadapi konfrontasi tajam tentang asal-usul anaknya. Apakah ia benar-benar menggoda ayah seseorang demi uang jutaan rupiah dan menghancurkan keluarga lain? Kebenaran tersembunyi siap terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mas, aku sudah tidak apa-apa kok, hehe," tutur Jihan sembari tersenyum manis, dia berusaha turun dari ranjang pemeriksaan. Namun, Raihan menahannya. Laki-laki itu tidak akan membiarkan telapak kaki calon istrinya menyentuh lantai yang dingin sedikitpun.

"Eh-eh tidak boleh turun dulu, Mas yang akan menggendongmu. Wanitaku tidak boleh lecet." Raihan mengangkat tubuh Jihan dan didudukkan di atas kursi roda.

"Mas. Maaf, telah merepotkanmu tengah malam begini ...," lirihnya karena merasa bersalah.

Raihan mencium puncak kepala Jihan dan diusapnya lembut. "Tidak, Jihanku tidak merepotkan, lain kali jangan memakan samyang dengan bubuk cabe yang banyak, ya. Apa kau rela tiap malam ke rumah sakit dan merusak ususmu?"

Jihan menggeleng sebagai jawaban. "Tidak lagi, sudah cukup kok," jawab Jihan sambil mengerucutkan bibir bawahnya, membuat Raihan mencubit pipinya karena gemas. Iya, Jihan memakan samyang di tengah malam. Hampir mendekati pukul satu dia menelpon Raihan karena perutnya sakit dan menjadi keram, berakhir pria itu membawanya ke IGD.

Saat Raihan mendorong kursi roda Jihan untuk keluar dari ruangan, dari sisi yang berlawanan dia mendapati sosok Rania. Rania berlarian dengan menggendong Vano, diikuti David di belakangnya sambil membawa tas kecil Rania di tubuhnya.

Wanita itu terlihat panik sekali dan seringkali sesenggukan. Penampilannya pun bahkan sangat berantakan. Bermodalkan baju kaos biasa, dibaluti dengan celana trening yang dimana bagian celana satunya terangkat sebelah, menampilkan betis mulusnya. Bahkan, rambutnya juga diikat acak.

Raihan berdecak kesal. "Cih," decaknya saat melihat Rania hanya memakai sandal satu bagian. Kaki yang satunya tidak memakai sandal dan sekarang kaki itu lecet dan terdapat noda darah karena tidak diberi alas kaki.

Vano kecil tidak sadarkan diri dengan tangan kiri yang memegangi dada sebelah kirinya. Melihatnya tertidur di atas brankar seperti itu, membuat sedikit rasa iba pada hati Raihan. Pasalnya, tadi siang Raihan memarahi anak kecil itu dan ibunya, bahkan mengatainya dengan anak sialan. Tapi, terlepas dari itu, Raihan Atmadja adalah putra Haru Atmadja, tidak akan mau hanya sekedar membungkukkan kepalanya kepada orang yang berderajat rendah seperti Rania.

"Mas, aku akan masuk dulu untuk menemui dokterku. Mas tunggu disini saja, ya," ucap Jihan yang tahu bahwa Raihan memperhatikan Vano kecil yang sekarang sudah didorong masuk ke dalam ruang IGD.

"Eo-eoh, y-ya. Mas akan tunggu disini."

Perawat mendorong kursi roda Jihan dan menyisakan Raihan yang diluar sendirian.

Rania mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali ia merasa lelah bertahan. Namun, dia teringat wajah David dan Vano ketika kedua putranya itu sedang tertidur lelap. Hanya Rania yang mereka miliki saat ini.

"Bunaaa ...," lirih David pelan dan bergerak menyentuh lengan ibunya secara hati-hati.

"Tidak apa-apa ...." Rania memeluk putra sulungnya dengan erat. "Ano anak yang kuat, dia hanya sedikit kelelahan. Buna yakin itu ...," ucap Rania yang berpikir bahwa David akan menangisi adiknya.

"Kaki B-buna ...."

Rania melepaskan pelukan pada David, dirinya menatap ke bawah dan mendapati kaki kanannya tanpa sandal dan penuh lecet. "Oh ... ini, tadi putus talinya, Buna tinggalkan saja di jalan. Buna tidak apa-apa kok." Rania menarik tangan David lagi untuk duduk di bangku panjang di depan ruangan IGD tersebut.

Anak laki-laki itu memeluk ibunya dengan erat. "Maafkan David Buna .... David selalu membuat Buna susah. Padahal, Buna juga sangat kesusahan mengurusku dan Ano. David bukan anak yang baik, Buna ...."

"Tidak, sayang. David anak Buna yang baik, Buna mengerti perasaanmu. Buna bangga padamu, sayang." Rania mencium dahi anaknya dan membawa David kedekapannya. "Buna sangat menyayangi David. David adalah anak pemberani dan abang yang penyayang untuk Ano."

David melepaskan sandalnya untuk Rania. "Buna pakai sandalku, kaki Buna lecet."

Rania tersenyum sendu melihat kebaikan hati putra sulungnya. "Kaki David lebih Buna sayangi dari pada kaki Buna sendiri."

"Bunaaaaa, jangan seperti itu. David sedih jika begini ...."

"Ahahaha, mana muat Buna pakai sandal David, nanti Buna beli sandal di kantin rumah sakit ini. David tenang saja, ya."

"Euhm, baiklah." David kembali memeluk ibunya. Dia sangat sayang pada Rania dan tidak ingin dipisahkan dengan alasan apapun.

Tak lama, Raihan menghampiri Rania dan David. Anak laki-laki itu pun berbisik pada bunanya. "Buna, ada bos Buna ...."

Rania menoleh ke samping dan mendapati Raihan yang tersenyum remeh kepadanya.

"Kau mendapatkan karmamu karena pernah merusak rumah tangga orang lain. Harusnya kau sadar, anakmu mendapatkan kesengsaraan berkat kelakuan bejatmu dulu." Sungguh, ucapan Raihan sangat menyayat hati seorang ibu seperti Rania. Rasanya, dirinya adalah sosok ibu yang buruk dan tidak becus menjaga sang buah hati. Andai ia bisa berteriak, maka ia akan memilih memekik di telinga Raihan dan berharap agar lelaki itu diam dan tidak perlu mencampuri urusannya. Namun, sayang, pria itu adalah atasannya di kantor.

"Buna ...," lirih David kembali. Dia khawatir dan merasa sakit sama seperti bunanya. Rania berusaha untuk tetap tersenyum dan menampakkan wajah yang teduh agar David tidak perlu khawatir lagi.

Mendengar kalimat menyakitkan itu, membuat hati Rania tertusuk tajam. Perkataan yang sangat membuat Rania tertekan dan kian merasa bersalah.

"Buna, mulutnya sangat julid sekali, David tidak suka dengan bos Buna satu itu."

Rania menatap putranya dengan seulas senyum yang penuh makna. "Tidak apa-apa, Buna sudah kebal." Lalu, Rania kembali menatap Raihan dengan sopan. "Terima kasih sudah membuatku sadar. Aku minta maaf jika pernah merusak rumah tangga ayah dan ibumu," ucap Rania, kepala dan badannya membungkuk dengan rasa hormat. Bagi Rania, biar saja. Toh, jika terus melawan ucapan Raihan akan membuat laki-laki itu merembet ke masalah yang lain.

"Bunaaa ...."

Rania menggelengkan kepalanya pada David.

"Cih, aku tidak akan lupa bagaimana kau membuat hati ibuku terluka dan membuatnya tertekan selama ini." Selanjutnya, Raihan pergi begitu saja meninggalkan Rania dan David yang masih setia duduk di bangku panjang tersebut.

***

Malam berganti fajar dan Vano sudah siuman. Anak laki-laki itu tengah menonton film spongebob di ruangan rawat inapnya. Rania sesekali mengecup punggung tangan Vano?

"Jangan seperti ini lagi Vano, Buna sangat sakit melihatmu menjadi lemah seperti ini ...," lirihnya pelan. Vano hanya fokus pada layar tv.

David keluar dari toilet, laki-laki itu menarik tali celananya untuk mengunci pinggangnya. "Buna, David hari ini tidak ke sekolah, ya. David ingin menjaga Ano juga."

"Tidak. David harus sekolah. Tidak ada kata bolos," jawab Rania dengan tegas.

"Bunaaaa ...."

"Tidak ya, David." Berakhir David yang mengerucutkan bibir bawahnya.

"Sekarang, kita pulang ke rumah, Buna akan menitipkan Ano pada perawat disini." Rania mencium pipi putra bungsunya. "Anak Buna berani, kan? Buna akan mengambil baju-bajumu di rumah."

Vano mengangguk kecil, tentu saja dia anak pemberani seperti super hero yang sering ditontonnya.

***

"Tuan Renan, tadi pagi aku mendapatkan telepon dari Rania."

Renan memutar tubuhnya cepat saat mendengar kalimat yang menyebut Rania. "Ya? Apa katanya? Kenapa batang hidungnya tidak ada sampai saat ini di hadapanku? Aku sudah frustasi belum melihat wajahnya pagi ini."

Yang ditanyai menahan senyum, bosnya ini budak cinta atau bagaimana, sih?

"Dia izin tidak masuk hari ini, Vano dirawat di rumah sakit, malam tadi Rania membawanya ke IGD."

"APA!!!"

"Iya, Tuan."

"Ck, kenapa dia tidak mengabariku, sih? Ya sudah, terima kasih infonya. Aku akan menghubunginya secara pribadi kalau begitu."Renan berlalu begitu saja. Pria itu langsung menelepon Rania dengan terburu-buru dan sambungan telepon terhubung.

"Kenapa tidak bilang padaku malam tadi kalau Vano sakit?" tanya Renan khawatir. Dirinya meraih kunci mobil di atas mejanya.

"Masa aku harus membangunkanmu yang sedang istirahat."

"Ck. Rania."

"Iya, maafkan aku. Vano sudah enakan kok, cuma masih lesu. Nih, sekarang lagi nonton Doraemon," jawab Rania yang sudah kembali lagi ke rumah sakit.

"Jadi, kau tidak masuk?" Renan berjalan ke arah pintu ruangannya dan hendak pergi.

"Tidak. Aku izin ya, Bos."

"Kau tidak lupa, kan? Ini hari rabu, potongan gaji hari rabu sangat besar jika kau tidak masuk. Apa kau siap?"

"Iya aku tahu. Tidak apalah ...."

Renan tersenyum tipis. "Yakin? Gajimu itu loh."

"Iya, aku sangat yakin. Anakku lebih penting."

Deg! Hati Renan berdebar dan menghangat. Ya, pilihannya memang tepat. Tidak salah kan jika ia memilih Rania untuk dijadikan istrinya kelak? Hehe.

"Ya sudah, aku tutup."

"Baik," jawab Rania singkat.

Sambungan telepon terputus.

Renan pergi meninggalkan kantor, ia melajukan mobil bmw-nya dan pergi menyusul Rania ke rumah sakit. Baginya, Vano juga putranya dan segala-galanya bagi Renan. Sebelum benar-benar pergi, laki-laki itu mampir ke pusat perbelanjaan untuk membelikan putra Rania buah-buahan dan mainan untuk dibawa ke rumah sakit.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Days
9.4
Saat pengkhianatan suami terungkap, April tidak memilih jalan cerai seperti wanita pada umumnya. Ia justru bertekad memperjuangkan keutuhan rumah tangganya yang retak. Sebuah tantangan besar ia tetapkan bagi dirinya sendiri: menaklukkan kembali hati sang suami dalam kurun waktu 180 hari. Di tengah luka hati, April harus berjuang melawan waktu demi mengembalikan cinta yang hilang. Mampukah ia memenangkan kembali suaminya sebelum batas waktu itu berakhir?
Sampul Novel Affair With My Boyfriend's Lover
9.0
Trauma ditinggal nikah membuat Jessica menutup hati hingga ia bertemu Jason, kekasih sahabatnya sendiri, Evelyn. Meski merasa bersalah, Jessica terjerat dalam perselingkuhan panas dan memberikan segalanya kepada Jason. Konflik memuncak saat Evelyn mengumumkan rencana pernikahan mereka. Kini Jessica terjebak dalam pilihan sulit: merelakan Jason demi persahabatan, atau merebutnya setelah pengorbanan yang ia berikan sebagai wanita simpanan.
Sampul Novel Aku Mengandung Setelah Diusir Mamamu
9.1
Adelia baru menjalani tiga bulan nikah kontrak dengan CEO Arsenio Arfandra saat ibunda sang suami mengusirnya akibat kebohongan yang terungkap. Sebulan kemudian, Adelia hamil anak Arsenio, namun pria itu justru menolaknya mentah-mentah. Meski Arsenio akhirnya menyesal dan ingin kembali, Adelia justru muncul sebagai mempelai manajer bernama Vino. Kini Arsenio harus menghadapi kenyataan pahit saat Adelia merahasiakan identitas ayah kandung Giovanni.
Sampul Novel Cool vs Cold
8.4
Kehadiran Jay yang tak terduga membawa perubahan besar dalam kehidupan Avril, membangkitkan kembali perasaan yang telah lama terkubur. Melalui perhatian tulus dan kasih sayang yang nyata, Jay perlahan berhasil meruntuhkan dinding es yang menyelimuti hati Avril. Kini, Avril menyadari bahwa cinta sejati memang membutuhkan keberanian besar untuk melangkah maju. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehangatan mampu meluluhkan hati yang selama ini membeku rapat.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren berdiri di tepi atap rumah sakit dengan lengan berdarah dan hati hancur. Saat nyaris melompat, ia melihat suaminya datang bersama wanita lain. Jenna sadar bahwa kematiannya hanya akan memberi mereka kebahagiaan. Setelah menderita hingga keguguran, ia bangkit untuk membalas dendam. Jenna membatalkan niat bunuh diri dan mendatangi Tuan Besar Kim. Sambil berlutut, ia memohon kekuasaan demi menghancurkan orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel His First Love
9.2
Davira, seorang mantan putri, tak gentar dicap buruk demi membalas pengkhianatan suaminya, Zhepyr. Skandal Zhepyr dengan cinta pertamanya memicu amarah Davira yang sadar akan harga dirinya. Di hadapan ksatria setianya, ia bersumpah tak akan menangis dan justru akan membuat mereka berlutut. Kini, Davira harus memilih antara memberi maaf atau melangkah pergi memulai hidup baru tanpa belas kasih. Akankah dendam ini berakhir dengan sebuah perpisahan?