APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sister-in-law Charm

Sister-in-law Charm

Pertemuan di bandara saat menjemput adik iparnya menjadi awal mula perasaan tak terduga bagi Kaliendra Walker. Ketertarikan yang muncul seketika itu berkembang menjadi obsesi yang sulit dibendung. Meski terhalang oleh status kekeluargaan yang rumit, Kaliendra tidak berniat mundur sedikit pun. Ia bertekad melakukan segala cara untuk menaklukkan hati gadis itu dan memilikinya seutuhnya, tanpa peduli pada norma yang ada di hadapannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

[ Rara Aprillya ]

Anjir gara-gara tadi siang aku mencaci makinya kini aku menjadi sangat malu.

Sumpah adakah hal yang lebih memalukan dari ini?

Aku menganggap kakak iparku sendiri supir. Astaga! Tadi siang aku sudah sangat kurang ajar padanya, sampai saat ini pun aku tidak berani menatap wajahnya karena malu dan juga takut sebenarnya.

Bagaimana kalau dia memecatku menjadi adik iparnya? Astaga! Itu tidak boleh terjadi.

Astaga, apa aku sudah berlebihan dan Astaga sudah berapa kali aku mengucapkan kata 'astaga'?

Itu tidak penting Rara!

Aku terus mondar mandir di dalam kamarku, aku tidak berani keluar untuk makan malam. Aku takut nanti akan bertemu kakak iparku, bukan. Bukan takut tetapi lebih ke malu.

Ya si bodoh Aprillya sudah keluar dan membuat Rara malu.

Pintu kamar di ketuk oleh seseorang membuatku deg degan setengah mampus.

"Aprillya,"

Ternyata kakakku yang mengetuk pintu.

"Ya kak ada apa?" balasku.

"Kenapa pintunya di kunci? Cepat turun ya ... kita makan malam bersama kakak iparmu sedang menunggumu di bawah." ajak kakakku.

Aku menelan ludah dengan susah payah, sudah seperti sedang menelan pil pahit saja.

"Kalian makan duluan saja kak, nanti aku bisa sendiri."

"Tidak bisa Aprillya, kakak ipar dan juga keponakanmu ingin melihatmu ... Kau tidak keluar kamar sejak kau masuk."

Mati aku.

Aku tidak mau makan malam bersama kakak ipar, aku tidak punya wajah di depannya.

Aduh bagaimana ini?

Aku tahu kakak ipar pasti akan mengejekku di depan kakakku nanti.

"Aprillya, apa terjadi sesuatu?" tanya kakakku dan sepertinya ia sedang berusaha membuka pintu kamarku.

"Ah tidak kak. Hmm aku akan turun sebentar lagi, kakak turun saja duluan."

"Baiklah jangan buat kami terlalu lama menunggu ya." pesan kakakku dan melangkah pergi.

Aku menyandarkan badanku di pintu kamar. Menghela nafas panjang lewat hidung lalu keluarkan lewat mulut seperti itu terus berkali - kali sampai aku bisa tenang.

"Tenang ... Tenanglah Rara kau harus turun sekarang."

Dengan perlahan aku mulai membuka pintu dan keluar dari kamar, melangkah pelan untuk turun dan menuju meja makan.

"Malam semua." sapaku dengan wajah menunduk. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya-kakak iparku.

"Tante kenapa menunduk?" tanya seorang anak kecil yang duduk di sampingku, tentu saja dia anak kakakku.

"Ya kenapa kau menunduk?"

Itu bukan suara kakakku namun itu adalah suara kakak ipar.

"Apa ada yang salah Aprillya?" tanya kakakku.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. "Tidak ada kak."

"Lalu kenapa kau menunduk dan menggunakan kaca mata?" tanya kakak ipar.

"Uhm ... Ak-aku hanya sedang sakit mata jadi aku tidak mau jika nanti sakitku menular pada kalian semua ..." alibiku.

"Sakit mata? Bukankah kemarin kau baik - baik saja?" tanya kakakku mulai cemas.

"Sudahlah sayang ... Lebih baik kita makan saja, aku sudah sangat lapar karena menunggu adikmu yang ngaret ini." kata kakak ipar dengan menekan kata ngaret.

Aku tahu bahkan sangat tau bila kakak ipar sedang menyindirku bahkan kakak ipar juga menggunakan kata kataku tadi siang 'ngaret'.

"Baiklah. Jangan lupa nanti habis makan langsung di kasih obat ya, jika tidak punya obatnya aku punya obat tetes."

Terima kasih kak, kau masih sama sepertu dulu selalu khawatir jika aku sedang sakit.

"Tidak perlu kak ... Maksudku aku sudah punya obat mataku sendiri." jawabku kemudian.

"Mom kapan kita makan, aku sudah sangat lapar." Rio si anak imut itu berucap dengan cemberut.

Dia sangat imut, aku sangat suka sekali kalau di suruh mencubit pipi tembamnya itu.

Rio sangat pintar, umurnya baru dua tahun tapi Rio sangat pandai dalam berbicara.

Setelah acara makan malam selesai aku pun segera kembali ke kamar dengan beralasan akan memberi obat pada mataku.

Menghempaskan diri di ranjang dan terus memikirkan soal tadi siang. Kakakku tidak tahu akan hal itu dan jika ia tahu pasti akan marah karena aku sudah mengangap suaminya supir bahkan aku mencaci dan membentaknya. Kakak hanya tahu jika aku hanya salah paham dan hanya menganggap suaminya supir.

Sepertinya besok aku harus meminta maaf pada kakak ipar dan meminta agar ia tidak memberitahu jika aku sudah berbuat tidak sopan padanya.

Baiklah, aku akan minta maaf besok pagi.

Sekarang mari kita tidur dan semoga aku bermimpi jika akan ada pangeran berkuda putih yang datang menjemputku dan kami akan hidup bahagia selamanya bersama mempunyai anak anak yang lucu dan menggemaskan.

Amin ...

***

Pagi harinya aku sengaja turun agak siang agar tidak bertemu kakak ipar, entah kapan aku akan minta maaf padanya.

Aku masih terlalu malu untuk menatap wajah kakak ipar, jadi aku putuskan untuk lain kali saja aku minta maafnya.

"Kau sudah bangun?"

"Belum kak, Dara masih tidur." jawabku dan ikut duduk di sofa.

Kakakku hanya tersenyum. "Kalau mau saparan minta saja sama pelayan, atau kau bisa membuatnya sendiri jika bisa."

"Memangnya kau mau ke mana?" tanyaku saat melihat nya yang memang sudah berpakaian rapi. "Kalau aku tidak bisa membuat sarapan sendiri bagaimana aku bisa hidup saat kuliah di london kak!" lanjutku agak kesal.

Kakakku malah tertawa. "Haha maaf maaf, kakak mau mengantar Rio sekolah." jawabnya.

Aku mengeryitkan dahiku bingung. Rio sekolah? Yang benar saja, maksudku-Rio baru berumur dua tahun? Memangnya sekarang bocah umur 2 tahun sudah sekolah ya?

"Rio sekolah?"

"Ya dia sudah masuk PAUD." balas kakakku.

"PAUD." ulangku masih heran.

"Iya ... Pendidikan Anak Usia Dini." kakakku menjelaskan.

Aku mendengus sebal mendengar jawaban itu, aku juga tahu kali arti PAUD.

"Bukan itu kak, maksudku bukankah Rio baru berumur dua tahun dan yang aku tahu anak akan mulai ikut PAUD saat usianya minimal di atas tiga tahun?" tanyaku panjang lebar mengeluarkan rasa penasaranku.

Kakakku malah tersenyum lalu menepuk bahuku pelan. "Tidak juga buktinya Rio sudah bisa masuk PAUD kan." jawabnya berlalu dari hadapanku.

Ada yang aneh dengan semua ini atau hanya aku yang ketinggalan jaman, sepertinya tidak mungkin bila aku ketinggalan jaman?

Ahh sudahlah memikirkan hal yang tak seharusnya aku pikirkan hanya akan membuatku pusing, lebih baik aku mencari sarapan saja dari pada memikirkannya.

Berjalan menuju ruang makan dan aku pun langsung duduk di kursi. Kemudian aku mengambil roti tawar dan selai coklat, mengoleskan selai coklat menggunakan pisau ke roti tawar dan memakannya.

Setelah sarapan aku berniat melihat-lihat isi rumah ini, ternyata rumah ini selain sangat besar juga sangat indah.

Setengah jam aku mengelingi rumah ini.

Ternyata bosan juga ya tidak ada kerjaan, hah sepertinya aku harus cepat cepat mencari pekerjaan agar aku juga tidak terlalu merepotkan kakakku.

"Nona mau ke mana?" tanya seorang satpam saat aku ingin membuka pagar.

"Mau jalan jalan sebentar pak, aku bosan dirumah." balasku dengan senyum sopan.

"Tapi--"

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Derai Kasih Syafana
9.1
Syafana Azzahra, wanita cantik berusia 33 tahun, harus menelan pil pahit setelah dua kali gagal menikah. Harapannya kini tertuju pada Arman Alatas, pria pilihan sahabatnya. Namun, tiga hari menjelang hari bahagia, Syafana justru memergoki Arman berselingkuh. Meski hatinya hancur dan terluka dalam akibat pengkhianatan tersebut, ia tetap memberi kesempatan kedua hingga mereka resmi menikah. Mampukah Syafana bertahan dalam rumah tangga yang diawali dengan dusta?
Sampul Novel Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
9.6
Elyse terkejut saat melihat pria berkuasa di televisi yang sangat mirip dengan Adrian, suami yang ia nikahi lewat perjanjian satu tahun. Meski awalnya berencana cerai, kedekatan harian membuat Adrian meminta pernikahan mereka menjadi nyata. Namun, segalanya berubah saat identitas asli Adrian sebagai taipan terungkap. Konflik memuncak ketika rahasia tentang anak mereka terbongkar, memicu konfrontasi besar tentang kejujuran dan masa depan cinta mereka.
Sampul Novel Melawan Suamiku & Selingkuhannya
9.7
Clara hancur saat memergoki Reno berselingkuh dengan Nadia. Di tengah luka mendalam, ia bertekad menghancurkan mereka dengan bantuan Damar, pria penuh kuasa yang selama ini ia hindari. Meski setiap langkah pembalasan terasa menyakitkan, Clara tak peduli demi melihat para pengkhianat menderita. Namun, rencananya terancam kacau saat perasaan lama pada Reno kembali mengusik. Mampukah Clara menuntaskan dendamnya di tengah gejolak batin yang menyiksa?
Sampul Novel Membebaskan Diri: Cinta CEO yang Hilang
8.8
Miley bertahan dalam pernikahan dingin dengan Harold meski sang suami mencintai wanita lain. Saat semua orang menanti kehancurannya karena kembalinya cinta sejati Harold, Miley justru memilih pergi dan menandatangani surat cerai. Harold yang murka menuntut penjelasan, namun Miley dengan tenang mengumumkan rencana pernikahan barunya. Ternyata, selama ini Miley tidak benar-benar mencintai Harold; ada sosok lain yang selama ini diam-diam ia dambakan dalam hatinya.
Sampul Novel Menikahi Suami Sahabatku
8.0
Azriya Aurora terpaksa menikahi Gavriel Erlando demi memenuhi wasiat Kartika, sahabatnya yang telah tiada. Selain mengasuh dua putra sambung yang membencinya karena tuduhan pembunuhan, ia harus menghadapi mertua yang licik. Setelah terusir akibat fitnah kejam, Azriya menyadari adanya keterlibatan kakak iparnya dalam konspirasi ini. Di tengah misteri gelap Keluarga Erlando, mampukah Azriya bertahan, ataukah ia akan menyerah pada nasib rumah tangganya?
Sampul Novel Menikahinya Mudah, Kehilangannya Adalah Neraka
8.8
Stella hancur saat Marc berkhianat tepat di depan matanya. Setelah membalas dengan tamparan keras, ia memilih lenyap untuk misi rahasia dan memalsukan kematiannya. Di hari kepergian Stella, kerajaan bisnis Marc runtuh seketika. Penyesalan menghantui Marc hingga mereka bertemu kembali di sebuah gala mewah. Marc memohon kesempatan kedua, namun Stella yang kini bersinar di samping pria sukses hanya tersenyum sinis dan menegaskan bahwa Marc tak lagi pantas untuknya.