APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal Cinta Pilot Angkuh

Skandal Cinta Pilot Angkuh

Lara dikenal ceria, namun senyumnya justru memicu kebencian Ardan Pradipta. Pilot dingin ini merasa terganggu oleh kebahagiaan Lara yang mengingatkannya pada luka lama. Saat insiden memaksa mereka terdampar bersama di pulau terpencil, dinding keangkuhan Ardan mulai runtuh dan berganti menjadi daya tarik kuat. Namun, kepulangan Ardan telah dinanti oleh tunangannya yang setia. Mampukah cinta ini bertahan atau hanya berakhir sebagai skandal tersembunyi?
Bab
Bagikan

Bab 3

Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam yang menusuk. Namun, pagi di pulau itu tidak menawarkan kedamaian apa pun bagi Lara atau Ardan. Ketegangan di antara mereka semakin membara, seperti bara api yang menunggu ditiup angin untuk menjadi kobaran besar.

Lara duduk di bawah pohon kelapa, memandang ke arah Ardan yang sedang berdiri di tepi pantai. Tubuh tegap pria itu memancarkan kekuatan, tapi Lara tahu betul bahwa di balik semua itu, ada luka yang masih berdarah. Luka yang dia sendiri tidak yakin bisa sembuhkan.

"Lara," panggil Nadine, mendekatinya sambil membawa sebotol air yang mereka kumpulkan dari embun pagi. "Kamu terus-terusan memperhatikan dia. Apa kamu pikir dia peduli dengan usahamu?"

Lara menoleh ke arah Nadine. "Ini bukan tentang apakah dia peduli atau tidak. Aku hanya ingin membantunya."

Nadine mendengus kecil. "Pria seperti Ardan tidak mau dibantu. Dia memilih menyimpan semuanya sendiri. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan membuang-buang energi untuk seseorang yang bahkan tidak bisa menghargai usahamu."

"Aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli," balas Lara tegas.

Nadine menggelengkan kepala, menyerah. "Kamu keras kepala, Lara. Tapi hati-hati. Jangan sampai hatimu sendiri yang hancur."

Bayang-Bayang Masa Lalu

Ardan berdiri mematung di tepi pantai, menatap ombak yang datang dan pergi. Hatinya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang tidak bisa dia isi. Lara mengingatkan dia pada Ayesha-wanita yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati. Senyum Lara, cara dia berbicara, bahkan caranya memperjuangkan sesuatu-semua itu seperti bayang-bayang Ayesha yang terus menghantuinya.

"Ardan," suara lembut Lara memecah lamunannya.

Dia menoleh, melihat gadis itu berdiri hanya beberapa langkah darinya. Wajahnya yang polos dan penuh ketulusan membuat dada Ardan sesak.

"Ada apa lagi, Lara?" tanyanya dengan nada dingin, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.

"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," jawab Lara, suaranya penuh perhatian.

Ardan tertawa kecil, tapi tawanya penuh kepahitan. "Kamu pikir aku bisa baik-baik saja dalam situasi seperti ini?"

"Aku tahu ini sulit," kata Lara pelan. "Tapi aku juga tahu kamu lebih kuat dari apa yang kamu tunjukkan."

"Jangan sok tahu," balas Ardan tajam. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku."

Lara menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. "Kenapa kamu selalu berusaha menjauhkan orang-orang, Ardan? Apa kamu takut mereka akan menyakitimu seperti yang terjadi di masa lalu?"

Tatapan Ardan mengeras. "Jangan bawa-bawa masa laluku, Lara. Kamu tidak punya hak."

"Tapi aku peduli padamu!" seru Lara, suaranya gemetar. "Aku tahu kamu tidak ingin orang lain masuk ke dalam duniamu, tapi aku tidak bisa diam saja melihatmu terus menyiksa dirimu sendiri."

Ardan terdiam, matanya menatap Lara dengan intensitas yang sulit dijelaskan. Dia ingin menolak gadis itu, ingin mengusirnya pergi, tapi ada sesuatu dalam diri Lara yang membuatnya tak bisa berpaling.

"Kamu terlalu bodoh untuk mengerti," gumam Ardan akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

"Kalau itu berarti aku peduli, maka aku terima," jawab Lara dengan tegas.

Ketegangan yang Membara

Hari-hari di pulau itu semakin berat. Makanan yang tersedia mulai menipis, sementara cuaca menjadi semakin tidak menentu. Ketegangan di antara penumpang dan kru mulai meningkat, membuat suasana semakin kacau.

Lara mencoba yang terbaik untuk menjaga semuanya tetap terkendali. Dia berbicara dengan para penumpang, memberikan semangat, dan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi sebisa mungkin. Namun, di tengah semua itu, pikirannya terus kembali pada Ardan.

Pria itu semakin menjauh, menghindari semua orang, termasuk Lara. Tapi Lara tidak menyerah. Dia tahu ada sesuatu yang harus dia lakukan-sesuatu yang hanya dia yang bisa melakukannya.

Malam itu, setelah semua orang tertidur, Lara pergi mencari Ardan. Dia menemukannya duduk sendirian di tepi pantai, memandang ke arah laut yang gelap.

"Kenapa kamu selalu menyendiri?" tanya Lara, duduk di sampingnya tanpa meminta izin.

Ardan tidak menjawab. Dia hanya menatap laut dengan mata kosong, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

"Aku tidak akan pergi sampai kamu berbicara denganku," lanjut Lara.

"Apa yang kamu harapkan dariku, Lara?" tanya Ardan akhirnya, suaranya rendah dan penuh kelelahan. "Aku bukan pahlawan. Aku bukan seseorang yang bisa kamu selamatkan."

"Aku tidak mencoba menyelamatkanmu, Ardan," jawab Lara. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian."

Ardan menoleh, menatap Lara dengan mata yang dipenuhi emosi. "Kenapa kamu peduli padaku? Aku sudah memperlakukanmu dengan buruk sejak awal. Aku tidak pantas mendapatkan perhatianmu."

"Karena aku melihat sesuatu dalam dirimu," kata Lara dengan suara lembut. "Aku melihat seseorang yang hancur, tapi masih mencoba berdiri. Aku melihat seseorang yang butuh diberi kesempatan kedua."

Ardan menelan ludah, merasa hatinya mulai retak di bawah kata-kata Lara. Tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya jatuh. Tidak lagi.

"Lara," katanya pelan, tapi tegas. "Aku tidak bisa memberikan apa pun padamu. Aku sudah kehilangan segalanya."

"Kalau begitu, biarkan aku ada di sini untukmu," jawab Lara. "Aku tidak butuh apa-apa darimu, Ardan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian."

Kata-kata itu menusuk Ardan, membuatnya merasa lebih telanjang daripada sebelumnya. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya, tanpa meminta apa pun sebagai balasan.

Dan untuk pertama kalinya, Ardan membiarkan dirinya menangis.

Lara meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kamu tidak perlu menjadi kuat sepanjang waktu, Ardan. Kadang, kita perlu membiarkan diri kita lemah."

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, mereka menemukan satu sama lain. Lara tahu bahwa ini bukan akhir dari perjalanan mereka-ini hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dan penuh tantangan. Tapi untuk saat ini, mereka berdua membiarkan diri mereka larut dalam kehangatan yang mereka temukan di tengah dinginnya malam.

(Bersambung)

Bab ini memperdalam ketegangan emosional antara Lara dan Ardan, memperlihatkan perjuangan Ardan melawan luka batinnya dan bagaimana Lara mencoba mendekat meski dihadang dinding keangkuhan. Apakah ini sudah cukup sesuai, atau ada hal yang ingin ditambahkan?**Bab 3: Luka yang Terbuka**

Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam yang menusuk. Namun, pagi di pulau itu tidak menawarkan kedamaian apa pun bagi Lara atau Ardan. Ketegangan di antara mereka semakin membara, seperti bara api yang menunggu ditiup angin untuk menjadi kobaran besar.

Lara duduk di bawah pohon kelapa, memandang ke arah Ardan yang sedang berdiri di tepi pantai. Tubuh tegap pria itu memancarkan kekuatan, tapi Lara tahu betul bahwa di balik semua itu, ada luka yang masih berdarah. Luka yang dia sendiri tidak yakin bisa sembuhkan.

"Lara," panggil Nadine, mendekatinya sambil membawa sebotol air yang mereka kumpulkan dari embun pagi. "Kamu terus-terusan memperhatikan dia. Apa kamu pikir dia peduli dengan usahamu?"

Lara menoleh ke arah Nadine. "Ini bukan tentang apakah dia peduli atau tidak. Aku hanya ingin membantunya."

Nadine mendengus kecil. "Pria seperti Ardan tidak mau dibantu. Dia memilih menyimpan semuanya sendiri. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan membuang-buang energi untuk seseorang yang bahkan tidak bisa menghargai usahamu."

"Aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli," balas Lara tegas.

Nadine menggelengkan kepala, menyerah. "Kamu keras kepala, Lara. Tapi hati-hati. Jangan sampai hatimu sendiri yang hancur."

---

**Bayang-Bayang Masa Lalu**

Ardan berdiri mematung di tepi pantai, menatap ombak yang datang dan pergi. Hatinya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang tidak bisa dia isi. Lara mengingatkan dia pada Ayesha-wanita yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati. Senyum Lara, cara dia berbicara, bahkan caranya memperjuangkan sesuatu-semua itu seperti bayang-bayang Ayesha yang terus menghantuinya.

"Ardan," suara lembut Lara memecah lamunannya.

Dia menoleh, melihat gadis itu berdiri hanya beberapa langkah darinya. Wajahnya yang polos dan penuh ketulusan membuat dada Ardan sesak.

"Ada apa lagi, Lara?" tanyanya dengan nada dingin, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.

"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," jawab Lara, suaranya penuh perhatian.

Ardan tertawa kecil, tapi tawanya penuh kepahitan. "Kamu pikir aku bisa baik-baik saja dalam situasi seperti ini?"

"Aku tahu ini sulit," kata Lara pelan. "Tapi aku juga tahu kamu lebih kuat dari apa yang kamu tunjukkan."

"Jangan sok tahu," balas Ardan tajam. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku."

Lara menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. "Kenapa kamu selalu berusaha menjauhkan orang-orang, Ardan? Apa kamu takut mereka akan menyakitimu seperti yang terjadi di masa lalu?"

Tatapan Ardan mengeras. "Jangan bawa-bawa masa laluku, Lara. Kamu tidak punya hak."

"Tapi aku peduli padamu!" seru Lara, suaranya gemetar. "Aku tahu kamu tidak ingin orang lain masuk ke dalam duniamu, tapi aku tidak bisa diam saja melihatmu terus menyiksa dirimu sendiri."

Ardan terdiam, matanya menatap Lara dengan intensitas yang sulit dijelaskan. Dia ingin menolak gadis itu, ingin mengusirnya pergi, tapi ada sesuatu dalam diri Lara yang membuatnya tak bisa berpaling.

"Kamu terlalu bodoh untuk mengerti," gumam Ardan akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

"Kalau itu berarti aku peduli, maka aku terima," jawab Lara dengan tegas.

---

**Ketegangan yang Membara**

Hari-hari di pulau itu semakin berat. Makanan yang tersedia mulai menipis, sementara cuaca menjadi semakin tidak menentu. Ketegangan di antara penumpang dan kru mulai meningkat, membuat suasana semakin kacau.

Lara mencoba yang terbaik untuk menjaga semuanya tetap terkendali. Dia berbicara dengan para penumpang, memberikan semangat, dan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi sebisa mungkin. Namun, di tengah semua itu, pikirannya terus kembali pada Ardan.

Pria itu semakin menjauh, menghindari semua orang, termasuk Lara. Tapi Lara tidak menyerah. Dia tahu ada sesuatu yang harus dia lakukan-sesuatu yang hanya dia yang bisa melakukannya.

Malam itu, setelah semua orang tertidur, Lara pergi mencari Ardan. Dia menemukannya duduk sendirian di tepi pantai, memandang ke arah laut yang gelap.

"Kenapa kamu selalu menyendiri?" tanya Lara, duduk di sampingnya tanpa meminta izin.

Ardan tidak menjawab. Dia hanya menatap laut dengan mata kosong, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

"Aku tidak akan pergi sampai kamu berbicara denganku," lanjut Lara.

"Apa yang kamu harapkan dariku, Lara?" tanya Ardan akhirnya, suaranya rendah dan penuh kelelahan. "Aku bukan pahlawan. Aku bukan seseorang yang bisa kamu selamatkan."

"Aku tidak mencoba menyelamatkanmu, Ardan," jawab Lara. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian."

Ardan menoleh, menatap Lara dengan mata yang dipenuhi emosi. "Kenapa kamu peduli padaku? Aku sudah memperlakukanmu dengan buruk sejak awal. Aku tidak pantas mendapatkan perhatianmu."

"Karena aku melihat sesuatu dalam dirimu," kata Lara dengan suara lembut. "Aku melihat seseorang yang hancur, tapi masih mencoba berdiri. Aku melihat seseorang yang butuh diberi kesempatan kedua."

Ardan menelan ludah, merasa hatinya mulai retak di bawah kata-kata Lara. Tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya jatuh. Tidak lagi.

"Lara," katanya pelan, tapi tegas. "Aku tidak bisa memberikan apa pun padamu. Aku sudah kehilangan segalanya."

"Kalau begitu, biarkan aku ada di sini untukmu," jawab Lara. "Aku tidak butuh apa-apa darimu, Ardan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian."

Kata-kata itu menusuk Ardan, membuatnya merasa lebih telanjang daripada sebelumnya. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya, tanpa meminta apa pun sebagai balasan.

Dan untuk pertama kalinya, Ardan membiarkan dirinya menangis.

Lara meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kamu tidak perlu menjadi kuat sepanjang waktu, Ardan. Kadang, kita perlu membiarkan diri kita lemah."

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, mereka menemukan satu sama lain. Lara tahu bahwa ini bukan akhir dari perjalanan mereka-ini hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dan penuh tantangan. Tapi untuk saat ini, mereka berdua membiarkan diri mereka larut dalam kehangatan yang mereka temukan di tengah dinginnya malam.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Supir Biasa
8.5
Mengambil latar keindahan Pulau Dewata, kisah ini mengikuti perjalanan hidup seorang pria perantau yang mengadu nasib sebagai pengemudi. Di tengah hiruk pikuk Bali, ia berjuang menghadapi realita hidup yang penuh liku demi bertahan di tanah orang. Diangkat dari kisah nyata seorang kawan di perantauan, narasi ini menyuguhkan sisi lain kehidupan driver yang jarang diketahui, dibalut nuansa romansa modern yang menyentuh hati dan terasa sangat nyata.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel DANGEROUS MAN
9.8
Athur Paker adalah CEO ternama sekaligus mahasiswa dengan sisi gelap yang haus darah. Hidupnya yang dingin berubah saat ia terobsesi pada Shena, gadis ceria yang berani menolak ajakannya. Meski ditolak, Athur menggunakan paksaan demi mengklaim Shena sebagai miliknya. Kini, hidup tenang Shena hancur dalam jeratan sang psikopat yang tak bisa ia hindari. Namun, rahasia masa kecil mulai terungkap. Akankah identitas asli Athur membawa petaka baru bagi Shena?
Sampul Novel GADIS PENCURI VS TUAN MUDA
9.3
Seorang pencuri wanita lihai menjadi buronan elit dengan imbalan jutaan Dollar bagi siapa pun yang melenyapkannya. Di tengah kepungan maut, Martin Jakovsky, tuan muda kaya raya yang menderita alergi aneh terhadap sentuhan wanita, justru mengerahkan segala kekuatannya demi melindungi sang gadis dari kejaran penguasa. Mengapa Martin rela mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya meski ia sendiri tak bisa bersentuhan dengan lawan jenis? Simak kisahnya.
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui dan sahabatnya bertekad membebaskan arwah penasaran yang terjebak di sekolah. Namun, kenyataan pahit menghantam saat Yui menyadari melalui mimpi bahwa korban pertama adalah teman dekatnya sendiri. Penyelidikan mereka mengungkap fakta kelam bahwa dalang di balik teror ini merupakan anggota keluarga mereka yang mencari keadilan atas masa lalu. Di tengah tekanan batin dan misteri yang mencekam, mampukah mereka mengakhiri kutukan ini selamanya?
Sampul Novel Istri Tetanggaku Kuntilanak
8.1
Alif kembali ke Kampung Menyan dan langsung terjebak di antara Lisa dan Ning. Namun, desa itu dicekam teror hilangnya bayi serta janin secara misterius. Perhatian Alif teralihkan oleh Kumara, istri tetangga yang cantik namun dituduh sebagai kuntilanak karena tabiat anehnya. Kumara mengaku memiliki masa lalu dengan Alif yang telah ia lupakan. Di tengah misteri dan pesona mistis tersebut, Alif harus mengungkap kebenaran di balik sosok Kumara dan anomali di desanya.