APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skenario Palsu

Skenario Palsu

Victoria Calloway, pengacara tangguh di New York, harus berhadapan dengan Damian Whitmore, hakim federal yang dingin dan tak kenal kompromi. Konflik memuncak saat Victoria menangani kasus keluarga elit Manhattan di hadapan Damian. Di tengah perdebatan sengit ruang sidang, mereka menemukan rahasia kelam yang saling terhubung. Batas profesionalisme pun memudar menjadi ketegangan personal. Mampukah mereka menghadapi kebenaran pahit saat skenario besar mulai terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 2

Victoria Calloway berdiri di depan gedung pengadilan, matanya menatap langit senja Manhattan yang berubah warna keemasan. Udara sore terasa dingin, tapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Sidang hari ini telah berakhir, namun pikirannya masih tertinggal di dalam ruang sidang, bersama Damian Whitmore.

Untuk pertama kalinya, pria itu menunjukkan sedikit celah-sebuah kilatan emosi yang hampir tidak terlihat di balik ekspresinya yang selalu terkendali. Itu cukup untuk membuat Victoria yakin bahwa ada sesuatu yang lebih dalam antara mereka.

Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Namun, sebelum ia bisa beranjak, suara familiar menyapanya.

"Masih berpikir tentang persidangan, Calloway?"

Victoria menoleh dan menemukan Theodore Hayes, pengacara lawan, berdiri beberapa langkah darinya. Pria tua itu mengenakan setelan mahalnya dengan sempurna, sikapnya santai seolah kemenangan sudah berada di tangannya.

"Apa pun yang kau rencanakan, Hayes, itu tidak akan berhasil," jawab Victoria dingin.

Theodore tersenyum kecil, matanya menyipit penuh perhitungan. "Aku hanya ingin memperingatkanmu. Keluarga Holloway tidak akan membiarkanmu menang begitu saja. Mereka punya koneksi, Calloway. Bahkan Whitmore pun tahu batasannya."

Victoria menegang. Ada sesuatu dalam nada bicara Theodore yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Kau pikir aku takut?"

Theodore tertawa pelan. "Bukan soal takut, tapi soal cerdas. Aku menyarankan kau mundur selagi bisa. Kalau tidak, mungkin kau akan menemukan dirimu dalam posisi yang tidak menyenangkan."

Victoria mengangkat dagunya, menatapnya tanpa gentar. "Aku tidak mundur dari pertarungan."

Theodore hanya tersenyum sebelum melangkah pergi, meninggalkan Victoria dengan pikirannya yang semakin dipenuhi tanda tanya.

Jika bahkan seseorang seperti Theodore menyebut nama Damian seolah hakim itu memiliki keterbatasan, berarti ada sesuatu yang lebih besar terjadi di balik layar.

Dan Victoria berniat untuk mencari tahu apa itu.

Malam itu

Victoria duduk di kantornya, dikelilingi tumpukan dokumen yang harus ditelaah untuk persidangan besok. Tapi pikirannya terus berkelana ke arah lain-ke arah Damian Whitmore.

Lima tahun lalu, pertemuan mereka tidak berlangsung di ruang sidang seperti hari ini. Tidak ada palu keadilan atau aturan hukum yang membatasi mereka.

Hanya ada malam yang gelap, angin musim gugur yang dingin, dan dua orang yang tidak seharusnya bertemu.

Victoria menggigit bibirnya, mencoba menyingkirkan kenangan itu dari pikirannya. Tidak ada gunanya mengingat masa lalu. Damian Whitmore sekarang bukanlah pria yang ia temui kala itu. Dia adalah hakim yang bisa menghancurkan kasus ini dengan satu ketukan palu.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama di layar membuatnya terkejut.

Damian Whitmore.

Tangannya sedikit ragu sebelum akhirnya menekan tombol jawab.

"Whitmore," sapanya singkat.

"Aku ingin bicara," suara Damian terdengar rendah dan tegas di seberang telepon.

Victoria menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kita sudah bicara banyak di ruang sidang tadi. Apa lagi yang ingin kau katakan?"

Hening sesaat.

"Lima tahun lalu," kata Damian akhirnya.

Jantung Victoria berdegup lebih cepat.

"Kita tidak membicarakan itu," katanya tajam.

"Tapi aku tahu kau mengingatnya."

Victoria menutup matanya, mencoba mengendalikan emosinya. "Apa yang terjadi malam itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini, Damian. Aku adalah jaksa, dan kau adalah hakim. Itu saja."

Damian tidak langsung menjawab. Tapi ketika dia berbicara lagi, suaranya lebih lembut, hampir seperti bisikan.

"Kau yakin?"

Victoria membuka matanya, tatapannya dingin. "Ya. Aku yakin."

"Kalau begitu, aku akan melihatmu di ruang sidang besok," katanya sebelum menutup telepon.

Victoria menatap layar ponselnya, perasaan bercampur aduk menguasainya.

Damian Whitmore bukan pria yang mudah digoyahkan. Jika dia mulai mengungkit masa lalu mereka, berarti ada sesuatu yang sedang terjadi.

Dan Victoria harus memastikan dia tetap mengendalikan permainan ini.

Keesokan Harinya - Ruang Sidang

Persidangan hari ini berjalan lebih tegang dari sebelumnya. Victoria mengajukan lebih banyak bukti, membangun kasusnya dengan setiap pernyataan saksi dan dokumen yang disajikan.

Namun, semakin ia melangkah maju, semakin banyak pula rintangan yang muncul.

Theodore Hayes terus mencoba menggiring opini seolah kasus ini hanyalah upaya jaksa untuk mencari perhatian. Beberapa saksi yang seharusnya bersaksi untuk Victoria tiba-tiba menarik diri, memberikan alasan yang mencurigakan.

Dan yang paling mengganggunya adalah Damian.

Pria itu tetap netral, seperti seharusnya seorang hakim. Tapi Victoria bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Seolah ada ketegangan tersembunyi dalam setiap keputusan yang diambilnya.

Hingga akhirnya, di tengah persidangan, sesuatu terjadi.

"Yang Mulia," kata Theodore, berdiri dari kursinya dengan ekspresi puas. "Kami memiliki bukti baru yang harus dipertimbangkan dalam kasus ini."

Victoria mengernyit. Ini tidak ada dalam rencana.

"Bukti apa?" tanya Damian, ekspresinya tetap netral.

Theodore menyerahkan sebuah dokumen kepada panitera, yang kemudian diberikan kepada Damian.

Saat Damian membaca isi dokumen itu, ekspresinya tetap terkendali-tetapi Victoria melihat rahangnya mengeras.

"Apa maksudnya ini?" tanya Damian, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.

Theodore tersenyum tipis. "Dokumen ini membuktikan bahwa Jaksa Calloway memiliki hubungan pribadi dengan seseorang yang terlibat dalam kasus ini lima tahun lalu. Dengan kata lain, ada kemungkinan besar terjadi konflik kepentingan."

Jantung Victoria seketika berhenti berdetak.

Dia tahu apa yang Theodore maksud.

Dia sedang membicarakan malam itu.

Di dalam ruang sidang yang penuh sesak itu, Damian perlahan mengangkat pandangannya dan menatap langsung ke arah Victoria.

Untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai, ada sesuatu yang nyata dalam ekspresinya.

Bukan hanya keterkejutan.

Bukan hanya kemarahan.

Tapi juga rasa kecewa.

Dan saat itu juga, Victoria menyadari satu hal.

Pertarungan ini baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anna : Liontin Karma
8.0
Anna, model cantik berdarah Perancis, nekat menikahi pria pilihannya meski terhalang perbedaan iman. Demi cinta, ia rela mengorbankan segalanya, termasuk berpindah keyakinan menjadi mualaf. Namun, pengorbanan itu justru membawanya pada penderitaan mental dan hidup yang hancur. Di tengah kepedihan, Anna mulai meragukan keputusan besarnya memeluk Islam. Mampukah ia bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang tertelan duka?
Sampul Novel Benih Cinta Romantis di IKN
9.1
Aiden, arsitek ambisius di proyek IKN, bertemu Clara, aktivis lingkungan yang gigih. Meski awalnya berselisih paham, kerja sama dalam pembangunan hijau justru menumbuhkan perasaan di antara mereka. Konflik prinsip sempat menguji hubungan ini, namun mereka belajar saling menghargai. Saat tawaran karier di luar kota dan luar negeri muncul, keduanya harus memilih. Akhirnya, mereka tetap di IKN demi cinta dan visi lingkungan, membangun masa depan bersama di ibu kota baru.
Sampul Novel BUKAN CINTA LOKASI
8.1
Naomi Clara, seorang aktris menawan, terjebak dalam perasaan mendalam saat terlibat proyek film bersama Azka Dananjaya. Meski sempat menepis perasaannya, kepedulian Azka yang tulus akhirnya meruntuhkan pertahanan Clara. Namun, ikatan mereka diuji oleh restu keluarga Azka yang menentang status Clara karena bukan berasal dari kalangan ningrat. Azka berjanji akan terus mencintai Clara apa adanya, meskipun rintangan perbedaan kasta mengancam hubungan mereka.
Sampul Novel Buy One Get You
8.4
Audia terpaksa membatalkan niat resign setelah ayahnya, Pak Sapto, tertipu rekan bisnis. Demi melunasi utang, sang ayah menjual rumah beserta isinya kepada Ibu Sosro seharga 1,5 miliar. Sialnya, Audia yang tertidur di dalam ikut terjual sebagai aset. Sang bos, Affangga, yang masih patah hati dan membenci Audia karena mirip mantan tunangannya, tak punya pilihan. Ibu Sosro langsung memanfaatkan momen ini untuk menyeret mereka berdua ke pelaminan.
Sampul Novel Duet Maut Janda dan CEO Badass
8.2
Vina Pryanika, janda berusia 29 tahun, terdesak secara ekonomi pasca perceraian. Dalam kondisi mabuk, ia tak sengaja menampar Eros Gaharu, CEO teknologi yang dikenal kejam dan tempramental. Eros pun meniduri Vina yang tak berdaya sebagai balasan. Di sisi lain, Vina berambisi menghancurkan keluarga mantan suaminya. Keduanya akhirnya menjalin kolaborasi maut demi membalas dendam masing-masing. Namun, akankah kerja sama ini berubah menjadi sesuatu yang tak terduga?
Sampul Novel Karma sang pelakor
8.2
Keluarga Christian bersaudara menyimpan amarah besar setelah mengetahui suami mereka mengkhianati komitmen demi gadis muda. Dendam ini memicu rencana pembunuhan gelap yang mengguncang segalanya. Namun, aksi tersebut justru memancing kecurigaan Nathan bersaudara. Mereka kini bertekad menelusuri jejak misterius demi mengungkap penyebab sebenarnya di balik kematian tragis adik bungsu mereka. Konflik antar keluarga pun pecah dalam balutan aksi dan misteri.