APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sorry For Something

Sorry For Something

Mimpi Mahika Bayuni Kaniha hancur saat hamil di usia muda. Alih-alih bertanggung jawab, Gentala Anggasta Gumilar justru memintanya menggugurkan kandungan demi mengejar karier sebagai artis. Mahika memilih pergi dan berjanji membesarkan anaknya sendirian tanpa bantuan Gentala. Bertahun-tahun kemudian, Gentala yang telah menjadi bintang besar mendadak gundah. Pertemuan tak terduga dengan Mahika dan seorang anak yang sangat mirip dengannya membuat hatinya yang kosong kini mulai terusik.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mahika menatap datar layar televisi yang menampilkan wajah seseorang yang dulu sangat ia benci. Tapi sekarang, ia berusaha bersikap biasa saja, kehidupan mereka sudah berbeda, meski ia membenci tidak akan ada gunanya. Ia hanya harus fokus pada bayi dan ekonominya agar tidak selamanya merepotkan sahabatnya. Kemudian dari sampingnya Noli datang dan mematikan siaran tersebut dan memegang bahunya lembut dan memberinya kekuatan. Mahika tidak bisa lagi menumpahkan air matanya, ia pun ragu apa masih ada yang tersisa di sana atau memang hatinya terlalu mati rasa untuk merasakan semua kesedihannya.

“Kenapa menonton siarannya.”

“Tiba-tiba dia muncul di sana,” ucapnya datar.

“Apa kita buang saja televisinya?” Tanya Noli memastikan.

“Tidak perlu, memangnya semurah itu harganya.” Decak Mahika.

“Harga bukan masalah, apa gunanya jika semua itu membuatmu sedih karena harus melihat wajah si brengsek itu.”

“Sudahlah, aku tidak apa-apa Noli, percaya padaku. Aku sangat kuat meski terkadang suka menangis dan berantakan seperti gelandangan. Lagi pula aku tidak lagi peduli dengan perbuatannya di masa lalu. Biarlah semuanya mengalir apa adanya, sekarang yang penting bayi sama keponakanku sehat.”

Noli tertawa mendengar ucapan sahabatnya. Seharusnya dialah yang menghibur Mahika, bukan malah sebaliknya, tapi terlepas dari apa pun itu, ia mengakui jika Mahika bukan sosok yang lemah seperti wanita dalam sinetron. Ia tumbuh begitu kuat dari luka yang diberikan pria pengecut yang tidak seharusnya bertemu dengannya. Dari hinaan teman yang dulu pernah dekat dengan mereka. Dari penolakan lingkungan yang terkadang terlalu kejam dalam menghakimi.

“Kenapa menatap ku seperti itu?” Tanya Mahika bergidik ngeri.

“Hanya sedang mengangumi sosok monster yang sedang bersemayan dibalik wajah cantikmu.” Kekeh Noli, sesaat kemudian ia tertawa lepas dan berlari ke kamarnya karena ia sudah harus berangkat ke kantor, tempat di mana pria pengecut itu berada. Ia bekerja di label yang sama dengan Gentala sebagai staf. Ingin sekali tangannya menampar, memaki tepat di wajahnya dan mengatakan pada dunia jika dirinya seorang pria brengsek yang berlindung dalam sosok sok baik saat tampil di depan layar kaca. Namun, ia masih menyayangi pekerjaannya.

Mahika mengelus lembut perut yang sudah membuncit sedang. Bayangan teringat pada masa di mana ia dan Gentala masih sepasang kekasih. Ketampanan yang dimilikinya kerap membuat Mahika cemburu karena banyak pasang mata yang memandang lapar. Terkadang ia sampai harus bergelayut manja untuk membuat para wanita menghentikan tatapan kekaguman mereka.

“Membosankan, kenapa juga harus mengingat masa lalu.” Kekehnya.

Terlalu dalam luka yang ia terima membuat Mahika bahkan malas hanya untuk mengutuk Gentala. Biarlah dia bersama kebahagiaannya dan Mahika bersama kebahagiaannya yang sederhana. Bisa hidup bersama sahabat dan calon bayinya saja sudah membuatnya senang. Ia tidak mau menghabiskan waktunya yang berharga hanya untuk mengutuk apalagi membenci Gentala. Ia percaya kalau saat ini, takdir tidak pernah salah tempat. Mungkin beginilah kehidupan yang harus dia jalani di dunia ini.

“Tidak baik kalau terlalu fokus dengan kebencian pada seseorang,” bisiknya menguatkan hatinya. Seolah kalimat tersebut sudah menjadi sebuah mantra untuknya.

Siang perlahan menjelma menjadi malam, ia melihat ponselnya yang berbunyi nyaring. Ia tersenyum melihat nama pemanggil dan segera menjawab panggilan tersebut.

“Halo, Noli.”

“Hari ini? Jam berapa?” tanyanya sambil melirik jam tangan yang melingkar cantik di dinding.

“Oke, aku tunggu kamu di sana aja, nggak usah jemput aku.”

Di tempat lain, Gentala sedang makan malam bersama sahabatnya. Ia sengaja memesan tempat yang lebih pojok agar pandangan orang bisa terhalang oleh susunan bunga dekorasi yang disediakan oleh restoran tersebut.

“Apa kamu benar-benar menjalin hubungan dengan Elia?” Tanya Bara serius.

“Itu hanya gosip murahan, tidak masuk akal. Hanya karena kami pernah makan bersama.” Dengkusnya.

“Wajar saja, kau sekarang seorang artis papan atas, siapa pun yang dekat denganmu akan kena gosip yang kau anggap murahan itu.” Kekehnya.

“Kau benar, sekarang aku dikenal banyak orang, tapi entah kenapa ada sesuatu yang terasa kurang.”

“Mahika!” teriak seseorang dari arah belakang kursinya.

Jantung Gentala perlahan berdetak menggila. Ia perlahan memutar badannya dan melirik pada seseorang yang baru saja datang dan duduk di depannya, hanya dipisahkan oleh dua meja saja. Ia memperhatikan dengan lekat dan ternyata itu bukan seseorang yang dia kenal. Gentala menghela napas dan kembali menghadap Bara.

“Kenapa?” tanyanya sambil ikut celingak celinguk.

“Bukan apa-apa,” ujarnya singkat dan kembali melanjutkan makannya.

“Noli, aku sudah berada di depan restoran.” Beritahunya melalui telpon.

“Masuklah lebih dulu, tunggu aku di sana, aku segera sampai.”

“Baiklah.”

Mahika masuk dan mengambil tempat duduk sedikit masuk ke dalam. Ia tidak suka menjadi pusat jika harus duduk di sisi depan. Mahika sibuk memainkan ponselnya, sesekali ia mengelus perutnya saat merasakan sebuah tendangan kecil.

“Hai good baby, Bunda mau makan sama Tante Noli, jangan diganggu ya,” ucapnya kecil.

“Mahika!” panggil Noli dan segera menghampirinya.

Lagi-lagi Gentala mendengar nama seseorang dari masa lalunya disebut. Ia hendak berbalik tapi menurunkan niatnya saat sebuah panggilan masuk menganggunya.

“Dari siapa?”

“Ratu lebah.”

“Angkat dulu panggilannya, ratu lebah kalau marah bisa berabe.” Kekeh Bara yang sudah tahu betul tabiat ibu dari Gentala.

“Kenapa, Ma?” Tanya Gentala tanpa basa basi.

“Minggu ini pulang ke rumah.”

“Minggu ini Gentala belum bisa kembali ke rumah, jadwal Genta padat, Ma.”

“Mama nggak mau tau, kamu harus pulang! Ada yang mau Mama beritahu.”

Gentala menghela napas mendengar titah mematikan dari ibunya. Ia pun menyetujui dan mematikan panggilan. Matanya tanpa sengaja melihat ke arah wanita yang sedang duduk selang beberapa meja darinya. Gadis itu tampak sedang membelakanginya. Entah kenapa, tubuh itu bagai memiliki sebuah magnet, ia bahkan enggan untuk berpaling dari sana.

“Makan yang banyak, biar keponakanku tumbuh besar.”

“Aku yang tidak kuat kalau harus melahirkan bayi besar.” Protes Mahika.

“Kenapa kamu selalu menggemaskan, andai aku laki-laki, pasti sudah menjadikan pajangan di rumah karena terlalu menggemaskan.” Kekeh Noli sambil menguyel pipi Mahika gemas.

“Dan aku akan membuatmu menjadi patung lilin!”

Mendengar itu, Noli bergidik ngeri dan keduanya tertawa. Tawa yang membuat Gentala semakin enggan mengalihkan tatapannya dari sana. Pelan-pelan ia melihat wajah gadis yang membelakanginya .

“Kau kenapa?” Tanya Bara saat melihat arah pandangan Gentala yang sedang memperhatikan dua orang gadis. “Kau naksir salah satunya?”

Gentala menggeleng dan memutuskan duduk, ia memegang jantungnya yang berdecak kencang, padahal ia tidak tahu siapa gadis yang sedang membelakanginya.

“Kita sudah menghabiskan tiga puluh menit di sini, haruskah kita pulang?” Tanya Bara sambil merogoh ponselnya.

Gentala menganguk dan segera pergi dari sana. Saat ia bangun, Mahika juga bangun dari kursinya. Mereka berdua saling bertatapan dan seketika tubuh Mahika menegang di tempat. Tapi hanya untuk sesaat, karena setelahnya ia mengabaikan kehadiran Gentala dan berlalu dari sana. Tentu saja Gentala yang melihat hal tersebut dibuat mati kutu. Ia hendak memanggil Mahika saat Bara menepuk punggungnya. Dia pun berlalu dari sana dengan perasaan yang mengganjal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BLIND HEART
9.7
Silvana, mahasiswi tingkat akhir yang terdesak biaya wisuda, terpaksa mencari pekerjaan sampingan demi membantu ayahnya. Alih-alih menjaga anak kecil, ia justru harus mengasuh Max Elgort, miliarder buta yang sangat temperamental. Di tengah bentakan Max, benih cinta mulai tumbuh di hati Silvana. Namun, Max masih terbelenggu bayang-bayang mendiang kekasihnya yang tewas dalam kecelakaan pemicu kebutaannya. Akankah Silvana bertahan saat Max masih setia pada janji masa lalunya?
Sampul Novel Jerat Cinta Tuan Mafia Salvatore
8.4
Felix Salvatore dilingkupi dendam membara terhadap Veronica Reager, putri musuh yang ia tuduh sebagai penyebab kematian ibunya. Felix memberikan pilihan kejam pada Veronica: menikah dengannya atau menghadapi maut. Namun, niat menyiksa sang istri perlahan goyah saat benih cinta mulai tumbuh di tengah konflik. Akankah Felix tersadar bahwa ada kesalahpahaman besar di balik tragedi masa lalunya sebelum dendam menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Kau Layak Menderita
8.1
Hidup Selina hancur setelah dijebak Rafael Donovan dalam pernikahan paksa. Saat Rafael lumpuh akibat kecelakaan, Selina menganggapnya karma dan memilih bertahan hanya untuk membalas dendam serta menguasai hartanya. Namun, di tengah kebencian itu, ia justru menemukan sisi rapuh dan penyesalan mendalam pada suaminya. Kini Selina terjebak dalam dilema antara misi balas dendam atau perasaan asing yang mulai tumbuh di hatinya bagi pria yang seharusnya ia benci.
Sampul Novel Makasih Patah Hati
9.5
Amelia, wanita berusia 25 tahun, telah memilih untuk melajang selama empat tahun karena jengah dengan pria yang hanya ingin main-main. Baginya, kesendirian adalah perlindungan terbaik hingga ia bertemu Fred. Pria berusia 27 tahun itu merupakan seorang CEO muda kaya raya dengan kekuasaan besar. Ketertarikan Fred yang mendalam membawanya pada sebuah tawaran yang tak terduga. Ia meminta Amelia menjadi istrinya. Kini, Amelia harus menentukan pilihan hidupnya.
Sampul Novel Marriage Express
8.6
Indira Aubrey terpaksa menjalani pernikahan dini dengan Liam Ogawa, pria keturunan Jepang yang dianggapnya mesum. Meski orang lain merasa ia beruntung masuk ke keluarga Ogawa, Indira justru merasa tertekan harus tinggal satu atap dengan Liam. Ia bersumpah akan terus membenci dan merahasiakan statusnya dari teman-teman. Namun, saat Liam mulai menyerah dan mengabaikannya, benarkah rasa benci itu berubah menjadi penyesalan? Akankah cinta datang saat semuanya terlambat?
Sampul Novel Om Om Kaya
8.9
Erin Tiathe, gadis berusia 19 tahun, terpaksa mengambil langkah drastis demi menyelamatkan nyawa neneknya yang kritis. Terhimpit beban biaya rumah sakit yang besar, ia mendatangi Madam Egeline untuk menjual kesuciannya di sebuah kelab malam. Meski Madam Egeline sempat ragu, Erin tetap teguh pada keputusannya. Kini, Erin harus bersiap menggunakan tubuhnya untuk pertama kali demi mendapatkan uang yang ia butuhkan dalam situasi yang sangat mendesak ini.