APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Stepbrother, I need You

Stepbrother, I need You

Apa jadinya jika kekasih tercinta mendadak menjadi saudara tiri? Brighid Natanaella terpukul saat pertemuan keluarga mengungkap bahwa ayahnya dan ibu Rheino Devgantara akan menikah. Meski berat, keduanya sepakat mengakhiri asmara demi kebahagiaan orang tua. Namun, melupakan perasaan tidaklah mudah, apalagi mereka menyimpan rahasia besar tentang hubungan terlarang yang telah terjadi. Mampukah mereka benar-benar ikhlas saat harus tinggal dalam satu atap yang sama?
Bab
Bagikan

Bab 2

***

Toko kue milik keluarga Brighid tutup lebih awal hari ini. Bukan karena tanpa alasan tapi wanita paruh baya bernama Lisha Andini itu akan melakukan pertemuan penting dengan Herman Santoso.

Siapa Herman Santoso?

Pria mapan pemilik Santoso Mart itu adalah calon suaminya. Sebagai seorang janda beranak satu, Lisha punya kewajiban memperkenalkam calon suami serta calon papa untuk anaknya, Brighid Natanaella.

Wanita paruh baya berambut sebahu itu tersenyum bahagia ketika mematut dirinya di kaca cermin. Sudah lama ia hidup sendiri, sudah barang tentu ia sangat berbahagia ketika Herman Santoso melamarnya minggu lalu.

"Ma, kau terlihat begitu cantik hari ini. Ada apakah?" tanya Bri di ambang pintu, melongok mamanya yang masih mematut diri dengan gaun merah yang ia tempelkan ke tubuhnya.

Lisha Andini mengembangkan senyum, ia menoleh pada putrinya penuh bahagia. "Bri, coba sini sayang, Mama pengen kamu kasih ulasan soal gaun ini."

Bri tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mamanya. Sedikit menghempaskan diri di ranjang, Bri melihat mamanya terlihat begitu bahagia dengan gaun yang ia pegang.

"Bagaimana dengan gaun merah ini, Bri?" Mama meminta pertimbangan seraya menunjukkan gaun merah sepanjang bawah lutut dengan lengan pendek. Aksesoris payet yang berwarna-warni menambah kesan indah pada gaun tersebut.

Bri tersenyum. "Bagus Ma, gaunnya lebih sopan daripada gaun yang berwarna putih."

"Bagus ya? Baiklah, Mama akan pakai yang ini." Lisha Andini tersenyum puas lalu melepas hanger yang masih melekat di gaun tersebut.

"Mama mau pergi kemana?" tanya Bri penasaran sembari terus mengamati mamanya yang sibuk dengan gaun-gaunnya.

"Bri, hari ini siap-siap ya. Mama pengen bawa kamu ke acara makan malam di Alexandra Resto. Mama pengen kenalin seseorang sama kamu," jawab Mama seraya menatap putrinya lalu tersenyum.

"Seseorang? Siapa?" Bri mash bertanya, dahinya berkerut tak mengerti. "Mungkinkah orang spesial?" imbuhnya.

"Tentu saja. Udah, kamu buruan mandi trus dandan yang cantik ya. Mama sibuk nih," ucap Lisha Andini tanpa menoleh ke arah Brighid.

"Baik Ma." Bri beranjak bangun dari ranjang lalu berjalan keluar dari kamar mamanya. Terus berpikir tentang seseorang yang istimewa, Bri melakukan instruksi mamanya untuk membersihkan diri dan memakai pakaian bagus untuk acara makan malam nanti.

***

Suasana Alexandra Resto terlihat begitu ramai. Beberapa pengunjung makan beberapa hidangan yang mereka pesan. Beberapa yang lainnya tengah asyik menyaksikan opera musik yang disajikan khusus pada setiap akhir pekan di restoran tersebut.

"Mam, apa ini tidak terlalu mewah? Kita tahu 'kan Alexandra Resto adalah restoran terkenal kedua di kota ini," ucap Bri seraya mengecek daftar menu yang tersuguh di meja mereka.

Lisha tersenyum manis. "Kebahagiaan itu mahal harganya bahkan tidak bisa ditandingi dengan banyaknya uang. Gak papa ini rejeki Alexandra karena Mama memang memilih tempat ini untuk acara pertemuan."

Bri tak berkomentar, ia menutup kembali daftar menu dan kembali setia menunggu orang spesial seperti yang mamanya bilang.

Senyum Lisha mengembang, ia melambaikan tangan pada pria yang berjalan mendekati mereka dari kejauhan. Bola mata Bri memutar, ia membelalakkan mata ketika tahu siapa sosok tersebut. Bukan sosok spesial yang mamanya katakan tapi lebih ke sosok pria yang ada dibelakang pria tersebut. Rheino Devgantara. What?

Jantung Bri bergetar begitupun dengan Rheino. Wajah keduanya mendadak pucat ketika mereka bertemu di satu meja yang sama.

Senyum Lisha bertemu dengan senyum pria tersebut, mereka terlihat begitu akrab dan bahagia. Membuat Bri dan juga Rheino tak habis pikir.

"Sudah lama, Dek?" tanyanya dengan lembut pada Lisha Andini. Wanita paruh baya itu menggeleng cepat dan menebar senyum.

"Belum Mas," jawabnya dengan nada sabar.

Belum puas dengan hati yang bertanya-tanya, Bri dan Rheino kembali dikejutkan dengan pernyataan mereka.

"Bri, kenalin ini Om Herman, calon suami Mama." Wanita paruh baya dengan dandanan natural itu tersenyum pada Brighid.

Brighid terdiam, wajahnya terpaku dan terlihat begitu shock. Om Herman tersenyum padanya namun gadis berambut panjang itu tak menanggapinya dengan hangat.

"Hello, Brighid cantik, Mamamu sudah banyak cerita soal kamu ke Om. Aku harap Bri juga bisa terima Om apa adanya." Om Herman bertutur dengan lembut, sesekali pria berparas lumayan tampan itu menatap ke arah mama dengan tatapan penuh kasih.

Bri masih terdiam, ia benar-benar terguncang. Bagaimana ia tidak terguncang jika pria di hadapannya ini adalah papa dari pacarnya sendiri?!

"Oh ya, kenalkan juga ini putra kesayangan Om," lanjut Om Herman seraya menoleh ke arah pria muda berparas tak kalah tampan di sampingnya. "Ini Rheino Devgantara. Sepertinya usia kalian sebaya, ya." Om Herman tergelak tertawa, tak menyadari sorot wajah canggung diantara Bri dan juga Rheino.

"Mas, lebih tuaan Rheino setahun jadi Bri bisa panggil Rheino kakak," ralat mama tak mau ketinggalan.

"Oh ya, tentu saja. Sedari kecil Rheino selalu pengen punya adek perempuan." Akhirnya mereka kembali tertawa, menyisakan rasa aneh dalam diri Bri maupun Rheino.

Melihat kedua orangtua mereka yang begitu berbahagia, sepasang kekasih itu sama sekali tak berdaya.

"Bri, Rheino, kami minta ijin sama kalian. Kami ingin menikah dan merajut kehidupan kembali. Seperti yang kalian tahu, selama ini kami selalu sendiri. Kami lelah. Maka dari itu, apakah kalian berkenan jika kami menikah dan menjalani hidup yang baru?"

Wajah mereka menatap putra-putrinya penuh harap. Sebagai orangtua, mereka berharap jika anak-anak mereka bisa memberi ijin agar mereka bisa melangkah ke jenjang selanjutnya.

Tak ada suara dari Bri, namun suara Rheino benar-benar menambah shock hati Bri kala itu.

"Apakah kalian sudah merasa cocok? Apakah kalian sudah pikirkan hal ini masak-masak?" tanya Rheino dengan suara datar, membuat wajah Bri tercengang luar biasa.

Herman dan Lisha saling pandang lalu menatap Rheino dengan serius. "Tentu saja kamu sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Pernikahan bukanlah hal untuk main-main. Semua ini bukan hanya menyangkut tentang kami tapi juga menyangkut tentang kalian."

Rheino terdiam sesaat, ia tertunduk dan tangannya meremas kuat. "Baiklah jika itu mau kalian. Aku turut mendukung keputusan kalian."

"Ehm, maaf, aku mau ke toilet sebentar." Bri menyela, ia beranjak bangun lalu secepat kilat melenggang pergi meninggalkan bangku meja makan mereka.

"Bri ...," panggil Lisha pada putrinya dengan mimik khawatir.

"Mas, aku takut Bri nggak merestui kita," desah Lisha dengan wajah resah. Herman merangkul wanita itu dan menepuk bahunya guna menenangkan.

"Biar aku yang bicara dengannya," sahut Rheino lalu beranjak bangun dari kursi yang ia duduki.

"Rheino, tolong bantu kami ya." Lisha menatap Rheino penuh harap. Pria muda itu mengangguk lalu pergi menyusul kemana Bri pergi.

***

"Tunggu! Aku tahu kamu cuma menghindar," ucap Rheino di belakang Bri. Gadis itu menghentikan langkah, ia belum juga berbalik hingga akhirnya Rheino menarik tangan Bri dan menyeret gadis itu untuk menepi ke taman resto yang terletak di sebelah kiri restoran.

Bri tak menjawab, ia tertunduk di hadapan Rheino. Bibirnya bergetar, ia tak sanggup mengatakan apa yang sedang bergejolak dalam hatinya sekarang.

"Papa aku butuh seseorang dan mama kamu juga sama. Mereka bertemu dan itu adalah bagian dari takdir jadi ...,"

"Tapi kenapa harus mamaku? Kenapa harus juga papamu?" gumam Bri pelan. Gadis itu akhirnya hanya bisa menangis sambil tertunduk menatap rerumputan taman yang indah.

Rheino tak sanggup menjawab, ia menarik tubuh Bri dan menyadarkan kepalanya di dadanya yang bidang. Pria itu mengelus rambut Bri dengan pelan. "Saat ini kebahagiaan mereka lebih penting dari segalanya. Papa aku sangat mencintai mamamu, begitupun sebaliknya. Kita tidak bisa egois karena kita tidak mau dianggap durhaka. Kita tidak tahu berapa panjang umur mereka maka biarkan mereka bahagia sekali lagi. Bri, sebagai seorang anak kita harus mengerti. Kita sudah sama-sama dewasa, aku harap Bri juga bisa lebih bijak menyikapi hal ini."

"Lalu, bagaimana dengan kita? Hubungan kita yang ...," Bri tak sanggup melanjutkan ucapannya ketika terlintas di benaknya betapa liarnya hubungan mereka saat ini.

Rheino menghela napas, ia tak menjawab cukup lama. "Aku tidak ingin menghindar dengan apa yang sudah aku lakukan tapi ..., mereka jauh lebih berharga dari apapun. Maafkan aku Bri, maaf."

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku
8.5
Maya selalu setia mendampingi Reza meski terus diabaikan dan tak diakui. Namun, kesabarannya hancur saat ia terpaksa melahirkan sendirian hingga kehilangan bayinya. Tragedi maut itu memadamkan cinta Maya dan membuatnya ingin pergi. Di sisi lain, Reza baru menyadari besarnya rasa sayangnya setelah segalanya terlambat. Saat Reza berusaha mengejar kembali hati sang istri, ia menghadapi kenyataan bahwa Maya telah berubah menjadi sosok dingin yang tak lagi membutuhkannya.
Sampul Novel Ayahmu Tidak Setuju Karena Aku Miskin
9.3
Aisyah hanyalah gadis sederhana yang menjalin kasih dengan Krisna, seorang pria dari kalangan bangsawan. Namun, hubungan mereka terhalang restu ayah Krisna karena perbedaan keyakinan serta status sosial yang sangat kontras. Demi mempertahankan cintanya, Krisna nekat melawan kehendak sang ayah dan memilih pergi menjauh bersama Aisyah. Apakah perjuangan mereka mampu meluluhkan hati sang ayah hingga restu akhirnya diberikan bagi masa depan mereka berdua?
Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel Dinikahi Guru Bk
7.8
Anggun, siswi yang kerap berurusan dengan ruang BK, mencoba menggoda Arjuna, sang guru BK yang dikenal sangat disiplin. Saat Anggun menyindir sikap galak Arjuna, sang guru justru memberikan jawaban mengejutkan bahwa ia telah memiliki calon istri. Meski awalnya Anggun merasa sangsi dan menganggap hal itu hanya gurauan untuk mengalihkan pembicaraan, Arjuna justru memberikan isyarat bahwa sosok calon istrinya adalah siswi yang paling sering ia hukum di sekolah.
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Vivian datang ke kantor Darren untuk meminta tanda tangan kontrak penting. Sebagai kekasih yang biasa mengabaikan formalitas, ia sempat ragu sebelum akhirnya mengetuk pintu. Namun, pemandangan di dalam menghancurkan hatinya. Ia mendapati Darren sedang bermesraan dengan Khloe yang tengah merapikan dasinya di bawah sinar matahari. Suasana intim itu membuat kata-kata Vivian tercekat saat Darren dan Khloe menoleh, menyadari kehadirannya yang tiba-tiba.
Sampul Novel Membalas Perselingkuhan Suamiku
7.8
Dikhianati karena perubahan fisik dan masalah keturunan, Leona hancur saat memergoki perselingkuhan Mark. Di tengah keputusasaan, West Taylor hadir menawarkan bantuan untuk membalas dendam. Melalui transformasi fisik drastis dan identitas baru sebagai Tatiana Clark, Leona memulai rencana matang untuk menjatuhkan suaminya. Mark tak menyadari bahwa wanita mempesona di hadapannya adalah istri yang ia campakkan demi perempuan lain. Akankah pembalasan ini tuntas?