APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Stuck On You

Stuck On You

Kim, seorang pria berwibawa dengan suara bariton yang maskulin, memberikan tawaran mengejutkan kepada Sasi. Di depan sekretarisnya yang ikut terperangah, Kim menyatakan ingin memesan Sasi untuk menemaninya di sebuah hotel mewah malam ini. Tanpa rasa bersalah, pria tampan itu memberikan syarat yang sangat berani: Sasi harus menyerahkan tubuhnya demi mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Kini, Sasi terjebak dalam situasi canggung dan godaan yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Saya pesan kamu!” tegas Kim yang mengeluarkan nada suara baritonenya yang sejak dari tadi ditunggu oleh Sasi, bahkan begitu terdengar maskulin oleh telinga Sasi.

Sasi masih tercengang karena tidak mengerti maksud perkataannya.

“Pesan saya, maksudnya?” tanya Sasi tak paham. Tidak hanya Sasi yang tercengang, melainkan sang sekretaris pun menampilkan wajah yang sama seperti Sasi. Win merasa bingung dengan ucapan atasannya itu.

Kim mengubah posisi duduknya menghadap Sasi sekarang. Fokus kepada perempuan itu yang sedang berdiri di hadapannya, membuat Sasi sedikit merasa canggung ketika melihat dengan jelas rupa salah satu pengunjung spesialnya itu yang memang sangat tampan, dan mampu menggoda para perempuan.  

“Iya, saya pesan kamu untuk menemani saya malam ini di sebuah hotel berbintang,” tukasnya sambil tersenyum tampan, seperti tanpa beban bagi Kim mengatakan kalimat itu.

“Saya akan memberikan apapun yang kamu mau, dengan syarat berikan tubuh kamu ke saya, mudah ‘kan.” Kim mengucapkan kalimat tanpa merasa bersalah sedikit pun kepada perempuan yang baru dilihat dan dikenalnya. Bagi Kim, jika dirinya mulai tertarik kepada seorang perempuan, ia akan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Dan hal itu terjadi pada Sasi sekarang, karena wajah Sasi mampun membuat Kim langsung terpana dalam satu kali pandangan.

Sasi langsung membulatkan matanya sekilas, sedangkan mulutnya sedikit menganga. Ucapan dari pria di hadapannya ini begitu keterlaluan dan dirasa telah melecehkannya. Padahal ia baru melihat dengan sosok pria ini. Ingin sekali Sasi mengarahkan kepalan tangannya ke arah wajah pria itu yang sudah berani melecehkannya. Namun, dirinya hanya seorang pelayan yang tak memiliki kuasa lebih untuk melawan pria kaya sepertinya. Bahkan mata para pengunjung yang terus diarahkan kepadanya menjadikan sebagai objek tontonan.

Kekesalan Sasi sudah naik ke ubun-ubun dengan perkataan Kim. “Apa maksud bapak, yah? Bapak pikir saya perempuan murahan yang suka mengobral tubuh saya ke setiap pria!” gertak Sasi dengan nada sedikit tinggi kepada Kim. Gertakan dari Sasi terdengar oleh para pengunjung yang lain, termasuk oleh sang manajer sendiri sampai membuat Keiko menekan-nekan pelipisnya pusing karena mendengar kegaduhan yang dilakukan oleh salah satu pelayannya itu.

“Kamu nggak usah panggil saya dengan sebutan bapak, itu terlalu ketuaan. Kamu panggil saya Kim saja, karena usia saya baru 28 tahun dan saya kira usia kita nggak jauh berbeda,” ungkap Kim yang tidak peduli dengan kekesalan Sasi.

“Masa bodoh,” gertak Sasi cepat.

Tawa Kim meledak seketika mendengar gertakan dari Sasi, bahkan menurut Kim jika dalam keadaan marah pun Sasi masih terlihat cantik dan lucu.

Sasi terus memperhatikan sikap Kim yang terus memberikan senyuman kepadanya, seperti tidak merasa bersalah. Ia pun tak mengerti dengan jalan pikiran tamunya kali ini, bahkan Sasi berpikir jika pria ini tak waras. Belum kenal tapi sudah menginginkan dirinya. 

“Saya sebenarnya nggak melecehkan kamu kok, buktinya saya nggak menyentuh sedikit pun kulit kamu, dari ujung rambut sampai ujung kaki kamu. Saya hanya ingin bermalam dengan kamu dan kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau, daripada bersusah payah bekerja sampai malam, bukankah itu penawaran yang bagus,” ucapnya yang merayu Sasi kembali untuk melancarkan keinginannya.

Sasi bergidik ngeri, walaupun pria di hadapannya ini memang begitu tampan. Namun, Sasi bukanlah perempuan murahan yang ditawari bermalam dengan seorang pria mau saja. Bahkan dengan tegas Sasi menolak ajakan dari pria aneh itu.

Sasi menyiratkan senyuman aneh ke arahnya. “Nggak!” tegasnya menolak. “Pak Kim memang nggak menyentuh saya seujung kuku pun, tapi ucapan dari Pak Kim yang sudah melecehkan saya dan itu termasuk pelecehan verbal. Pak Kim nggak usah mengada-ngada  deh, kalau mau mencari perempuan penghibur yang mau memberikan tubuhnya demi uang, bukan di sini tempatnya. Tapi di sana di tempat hiburan malam. Ini restoran bukan bordil! Dan ingat yah, Pak .... ” Sasi dengan berani mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah Kim. Membuat Win, sang manajer, para tamu dan pelayan yang lain tercengang dengan sikap berani Sasi kepada Kim.

“Ingat yah, Pak. Saya perempuan baik-baik, jadi Pak Kim nggak bisa seenaknya melecehkan saya dengan ucapan dari Pak Kim itu. Mana mungkin saya mau memberikan harta yang paling berharga saya kepada orang yang nggak dikenal seperti Pak Kim ini!” seru Sasi yang masih mengarahkan jari telunjuknya di hadapan wajah Kim. “Dan harta yang saya punya khusus untuk suami saya kelak, bukan untuk pria kurang aja seperti bapak ini!” tegas Sasi dengan berani.

Sudut bibir Kim sedikit melengkung, ada rasa ketidakpercayaan dengan yang diucapkan oleh Sasi terhadapnya, bahkan dengan jari telunjuk perempuan itu  yang masih mengarah ke wajahnya.

 “Apa sikap seperti itu sopan dilayangkan kepada seorang tamu spesial seperti saya ini,” ucap Kim dengan tersenyum simpul.

Sang manajer langsung menghempaskan telunjuk Sasi dari wajah tamunya. Karena sikap salah satu karyawannya ini memang sudah keterlaluan menurutnya.

“Apa yang telah kamu lakukan, Sasi!” gertak Keiko yang begitu kesal kepada Sasi, bahkan ia ingin mengacak-acak wajah Sasi karena sudah membuat malu di depan Pak Kim dan di depan umum, tapi ia berusaha menahannya.

Sasi langsung terdiam dan menundukkan wajahnya dalam, karena apa yang dilakukannya memang salah, tapi ia melakukannya karena merasa jika harga dirinya sebagai perempuan direndahkan begitu saja oleh pria ini. Jadi wajar jika dirinya melawan pria yang sudah kurang ajar kepadanya.

“Maafkan sikap salah satu karyawan saya, Pak,” ucap sang manajer yang meminta maaf sembari menundukkan wajahnya menahan malu akibat kelakukan Sasi.

“No problem,” jawab Kim yang tidak mempermasalahkannya.

Sasi mengangkat wajahnya ke arah sang manajer. “Loh, kenapa Pak Kei yang meminta maaf sih. Seharusnya ‘kan dia yang meminta maaf ke saya karena telah melecehkan saya dengan ucapannya itu, bukan Pak Kei yang meminta maaf,” gertak Sasi yang langsung mencerocos karena ingin membela diri. Emosinya benar-benar sudah naik ke ubun-ubun.

“Sasi diamlah!” seru Keiko memerintah.  

“Sampai kapanpun lo nggak bakalan menang melawan orang berduit dan punya kuasa. Sedangkan lo sendiri hanya seorang pelayan biasa. Mana mungkin dibela atas kesalahan orang lain,” gerutu Sasi dalam hati yang mencengkeram kuat ujung celemek yang dikenakannya.

“Pak Kim, saya benar-benar meminta maaf atas sikap tidak sopan karyawan saya kepada anda. Tolong maafkan saya yang telah membuat Pak Kim merasa malu, karena dilihat oleh para pengunjung di sini. ”

Kim menyandarkan tubuhnya di kepala kursi dan terlihat santai dengan kejadian yang terjadi malam ini, bahkan menurut Kim kejadian ini bukanlah masalah besar.

“Saya udah bilang nggak apa-apa kok, toh karena saya suka sama dia,” papar Kim yang melebarkan bibirnya seketika. Membuat orang-orang seisi restoran tercengang, bahkan tidak terima jika pangeran impiannya malah menyukai seorang pelayan biasa seperti Sasi.

“Bagaimana Nona Sasi, apa kamu mau bermalam dengan saya?” tanya Kim kembali yang masih menanyakan tentang itu. Padahal sudah beberapa kali Sasi menolak.

“Sebenarnya apa sih yang dia mau dari gue. Udah ngomongnya ngelantur gak jelas dan sekarang malah bilang suka sama gue,” gerutunya dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya erat. Sasi hanya menganggap biasa ungkapan suka dari Kim kepadanya, karena hal itu tidak akan pernah terjadi.

Sekian menit Sasi terdiam, dan wajah sang manajer yang terus diarahkan kepadanya, menunggu jawaban dari Sasi.

Secara pelan Sasi mengangkat wajahnya ke arah Kim, walaupun begitu malas baginya harus berhadapan dengan pria aneh sepertinya.

“Kalau Pak Kim menginginkan tubuh saya, Pak Kim nikahi saya terlebih dahulu. Baru saya akan memberikan apapun yang Pak Kim inginkan termasuk ... tubuh saya ini kepada Pak Kim. Saya nggak mau memberikan cuma-cuma sebelum menikah, karena kedua orang tua saya nggak pernah mengajarkan hal seperti itu kepada saya.” Tegas Sasi menjawab.

To be continued...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin adalah CEO sukses di Jakarta yang terus menghindar dari desakan menikah keluarganya. Namun, hidupnya berubah total saat ia tertangkap basah berada di satu kamar dengan gadis asing. Terjepit situasi memalukan ini, ia terpaksa menikahi wanita yang sangat disukai keluarganya itu. Kini, sang istri harus berjuang memenangkan hati Erlan yang dingin. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, atau ia hanya akan menjadi sosok yang terabaikan?
Sampul Novel Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
9.6
Nayara adalah staf administrasi cantik yang tetap rendah hati meski tampil modis di sebuah perusahaan besar Jakarta. Kehidupannya bersinggungan dengan Leonardo Arvandre, miliarder muda keturunan Prancis-Indonesia sekaligus pewaris tunggal Arvandre Global Corporation. Sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun lalu, keduanya terjerat dalam hubungan yang rumit. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta, harga diri, dan rahasia besar yang masih tersimpan rapat.
Sampul Novel Miss Black Puteri CEO Yang Terbuang
9.4
Rose tumbuh menderita sebagai yatim piatu hingga Denzel mengungkap identitasnya sebagai putri CEO Louis Brown. Demi keamanan, ia menyamar menjadi Rose Carter, mahasiswi berprestasi sekaligus violinis rahasia bernama Miss Black. Konflik memuncak saat Luke, putra angkat ayahnya, memaksa Rose menikah demi harta. Di tengah teror Peter dan Hendrick yang mengincar nyawanya, benci berubah menjadi cinta. Rose harus berjuang melawan pengkhianatan demi kebahagiaan bersama Luke.
Sampul Novel OPEN BO
7.9
Hidup Laras hancur setelah dijebak oleh Frans hingga terjerumus menjadi wanita panggilan. Rahasia kelam ini ia simpan rapat dari suaminya, Bagas. Padahal, Bagas rela melepas kemewahan keluarga dan bekerja kasar sebagai kuli demi menafkahi Laras. Tanpa disadari Bagas, istrinya kerap melayani klien di hotel. Namun, segalanya terancam terbongkar saat Bagas memergoki Laras pergi dengan pria asing di mobil mewah. Akankah kedok Laras akhirnya terungkap?
Sampul Novel Pesona Presdir Posesif
8.3
Dunia Adira hancur saat kekasihnya memilih menikahi sahabatnya sendiri. Dalam keputusasaan, ia menghabiskan malam dengan Kian, pria misterius yang mengaku sebagai gigolo. Namun, Adira terkejut saat mengetahui identitas asli Kian adalah seorang Presdir berkuasa sekaligus orang tua mahasiswanya. Kian menjebak Adira dalam sandiwara rumit yang sulit ditolak. Terperangkap dalam kebohongan, mampukah Adira melawan pesona posesif sang miliarder yang kian menjeratnya?
Sampul Novel Pria Dingin Itu Suamiku
9.4
Nadia, putri tunggal kaya raya, mendadak jatuh miskin setelah ayahnya wafat akibat serangan jantung. Di tengah keterpurukan, ia teringat wasiat terakhir sang ayah untuk menikahi putra rekan bisnisnya sebagai bentuk balas budi masa lalu. Meski awalnya menolak keras, himpitan ekonomi dan rasa hormat pada almarhum ayahnya memaksa Nadia mencari tahu sosok pria dingin tersebut. Kini, hidupnya berubah total saat ia harus menjalani takdir bersama sang pewaris perusahaan ternama.