APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami pura-pura

Suami pura-pura

Adinda merasa terdesak saat Alan tiba-tiba mengaku sebagai suaminya demi menyenangkan Nenek Laila. Meski Alan beralasan ingin membalas kebaikan sang nenek, Adinda cemas jika kebohongan mereka terbongkar. Perdebatan sengit pun pecah karena Adinda enggan terjebak dalam sandiwara pernikahan ini. Namun, saat Adinda menyatakan keberatannya, Alan justru memberikan pertanyaan yang mematikan langkahnya: apakah ia ingin menjadi istrinya yang sesungguhnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Esok harinya.

Adinda bangun lebih awal, karena ia harus berangkat ke kantor pagi sekali. Sementara Chika sudah bersiap, mereka akan pergi bersama karena memang lokasi kantor yang satu arah. Seperti biasa Adinda akan mengenakan pakaian milik sahabatnya itu, sebab ia tidak membawa satu potong pakaian pun.

“Kamu sarapan di mana, Din?” tanya Chika sambil mengikat rambutnya yang terurai.

“Aku sarapan di kantor saja. Lagi pula tidak sempat jika pagi ini mampir ke warung makan.”

“Ya sudah kalau gitu. Kita berangkat sekarang saja.”

Adinda setuju dengan itu. Kemudian mereka berdua pergi bersama mengendarai mobil milik Adinda. Mereka berdua menembus dinginnya pagi, ternyata tadi malam telah turun hujan. Terlihat dari jalanan yang basah, dan ada genangan di sepanjang jalan.

**

Di sisi lain.

Seorang pria sedang membetulkan jasnya. Ia terlihat begitu tampan, tetapi sayang sampai saat ini belum menemukan tambatan hati. Bukan karena tidak laku atau tidak ada yang mau, tetapi memang ia belum memikirkan sampai sejauh itu.

Dia – Alan Danar. Seorang direktur muda, dan sukses. Tengah memimpin perusahaan milik keluarga, ia dipercaya untuk mengelolanya. Sebetulnya Alan tidak terlalu menyukai pekerjaannya saat ini. Sebab ia lebih suka kehidupan yang bebas, dan tidak banyak aturan. Karena terpaksa, Alan harus melaksanakan ini semua demi kedua orang tuanya.

“Alan,” panggil seorang pria paruh baya yang sering dipanggil Papa.

“Ada apa, Pa?”

“Kamu sudah tahu ‘kan kalau lusa ada pertemuan dengan klien?”

Alan menganggukkan kepalanya, “Sudah, Pa. Alan sudah mengatur jadwal untuk itu.”

“Bagus kalau begitu.” Toni kembali mengoleskan selai di atas roti yang berada di tangannya.

“Sarapan dulu, Sayang,” ujar Tiwi – mama Alan.

“Nanti saja, Ma. Alan bisa sarapan di kantor.” Alan pergi meninggalkan mereka.

Sebagai direktur utama, membuat dirinya harus tahu segala hal. Yang terkadang membuat kepalanya terasa berdenyut. Saat ini Alan hendak pergi ke kantor, sebab banyak sekali pekerjaan yang menunggunya. Apalagi lusa ia harus menemui klien di hotel, membuatnya harus tidur malam untuk menyiapkan presentasi.

Sampainya di kantor, Alan berjalan masuk. Para karyawan menyambutnya dengan senyuman. Sudah menjadi tradisi jika pagi hari, maka para karyawan wajib menyambut kedatangan Alan. Seperti biasa Alan tersenyum ramah, membuat semuanya merasakan senang memiliki pemimpin yang tidak sombong ataupun kejam.

“Selamat pagi, Pak Alan,” sapa Dino.

“Pagi. Tolong siapkan ruangan untuk pertemuan nanti siang.”

“Baik, Pak.”

Alan pergi berlalu menuju ruangannya. Terlihat ruangan yang rapi nan bersih, Alan tidak menyukai sesuatu yang kotor. Ia kemudian duduk di kursi putar miliknya dan mulai membuka laptop. Tidak lama kemudian, datanglah seorang wanita dengan tergesa-gesa. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, wanita itu masuk begitu saja. Alan yang sadar langsung menoleh, ia mendengus pelan.

“Alan, kamu ke mana saja? Semalam aku coba untuk menghubungi kamu tapi tidak bisa. Terus aku juga sudah kirim pesan tidak kamu balas,” ujar wanita itu.

“Aku sedang sibuk, sekarang lebih baik kamu keluar.”

Wanita itu adalah Abel, mantan kekasih Alan yang terus saja mengejarnya walau sudah mendapat banyak penolakan. Wanita mana yang akan rela jika kehilangan pria sempurna seperti Alan. Abel berjalan mendekati Alan, lalu ia menepuk pundak pria tersebut sambil tersenyum ke arahnya.

“Abel, aku sudah bilang kalau aku tidak bisa diganggu.”

“Tapi, aku rindu kebersamaan kita, Lan. Aku rindu tentang kita berdua.” Abel mengedipkan sebelah matanya.

Alan memijat pelipisnya dan menghela nafas sejenak, “Apa perlu aku panggilkan satpam agar menunjukkan jalan keluar?”

Abel kini mengerucutkan bibirnya kesal. Begitu kejam Alan mengusir dirinya. Padahal Abel hanya ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Alan. Semua ini memang salah Abel, karena ia telah mengkhianati Alan sehingga membuatnya susah untuk kembali kepelukan pria itu lagi.

“Kamu belum maafkan aku?” tanya Abel sambil memasang mata yang berkaca-kaca.

“Abel. Harus berapa kali aku bilang? Kalau aku tidak ingin menjalin hubungan lagi. Lebih baik sekarang kamu keluar dari ruangan aku, atau satpam yang akan menyeretmu.” Alan tersulut emosi karena jengah dengan perkataan Abel.

Abel tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena kemarin ia sempat dibuat malu oleh Alan di depan semua karyawannya. Kali ini Abel pergi begitu saja, walau dengan perasaan kesal. Alan kembali menatap layar laptopnya. Ia sudah penat dengan semua wanita yang mendekatinya hanya karena harta saja. Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan. Kemudian Alan berteriak dan mempersilahkannya untuk masuk. Ternyata yang datang adalah Dino, ia membawa beberapa berkas yang berada di tangannya.

“Ini yang perlu anda tanda tangani, Pak,” ucap Dino sambil meletakkan berkas itu di atas meja.

“Baiklah. Oiya ruangan untuk pertemuan sudah selesai?”

“Sudah, Pak. Itu sudah selesai semuanya.”

“Oke, kamu memang bisa diandalkan.”

Dino membalas dengan senyuman.

Siang ini Alan akan bertemu dengan perusahaan lain. Lebih tepatnya PT. Abadi Jaya. Hari sudah siang, dan sekarang adalah waktunya Alan untuk meeting. Ia berjalan dengan ditemani oleh Dino, karena dia lah yang selama ini mengurus semua keperluan yanga Alan perlukan.

“Selamat siang, Pak Lukman.” Alan mengulurkan tangannya dan dibalas dengan hangat.

“Siang, Alan. Wah, masih muda sudah menjadi direktur utama,” puji Lukman.

“Terima kasih, Pak. Sekarang kita mulai saja meeting ini.”

Lukman mengangguk setuju. Kali ini mereka akan membicarakan soal perumahan yang akan dibangun di pinggir kota. Tidak terlalu mewah, karena perumahan itu akan dipergunakan oleh masyarakat menengah kebawah yang masih belum memiliki tempat tinggal. Meeting berjalan dengan mulus, selama kurang lebih satu jam. Lukman dan Alan saling berjabat tangan, menyetujui kerjasama antar perusahaan.

**

Sedari tadi Adinda berkutat dengan layar ponselnya, walau sebagai staff biasa tetapi Adinda sering kali diberi tugas yang berat. Dan tidak berada pada bidang yang ia geluti, tetapi Adinda menerima semua itu dengan ikhlas. Sebab, tujuan utama ia bekerja adalah untuk mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orang tuanya.

“Hei! Kau, kerjakan ini,” suara seorang wanita cukup nyaring menusuk sampai gendang telinga Adinda.

“Tapi, Bu, perkerjaan saja masih banyak. Apa tidak sebaiknya yang lain saja?”

“Saya mau kamu yang kerjakan ini, kenapa jadi kamu yang mengatur saya seperti ini?”

Adinda diam saja, karena tidak mungkin ia melawan atasannya yang bernama Lara itu. Memang Lara terkenal dengan kejam, tidak ada ampun bagi karyawan yang melawan perintahnya. Maka dari itu Adinda selalu menuruti apa yang Lara perintahkan. Jika tidak karena uang, Adinda sudah sejak lama keluar dari perkerjaan itu. Lara sudah pergi, dan sekarang tinggal Adinda yang menatap kesal ke arah berkas yang ada di atas meja kerjanya.

“Kenapa harus aku? Bukan bagianku juga,” gerutu Adinda.

Setiap harinya Adinda melakukan pekerjaan yang menguras tenaga. Tanpa sadar sekarang perutnya sudah berbunyi. Ia baru sadar kalau sedari tadi belum makan apa pun. Adinda menutup layar laptopnya, ia memutuskan untuk pergi mencari makan. Kebetulan jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Adinda akan pergi ke sebuah warung makan langganannya, bukan café ataupun resto. Tapi sebuah warung makan biasa, yang tidak ada kemewahan di sana. Tapi Adinda nyaman makan di sana, sebab penjualnya yang ramah dan selalu membantu Adinda.

Sampainya di sana, Adinda langsung saja memesan makanan dan minuman. Perutnya sudah tidak sabar untuk menerima makanan agar tidak berbunyi lagi. Tempat itu memang selalu ramai oleh pekerja yang memutuskan untuk mengisi perut mereka.

“Tumben tadi pagi tidak mampir dulu, Neng,” ujar Ibu Penjual.

“Iya, Bu, tadi terburu-buru jadi tidak sempat mampir.”

Ibu Penjual menjawab dengan anggukan kepala.

**

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Another Choice Mr. Wijaya
8.5
Kisah ini menelusuri masa muda Wijaya jauh sebelum pertemuannya dengan Tania. Terikat dalam perjodohan tanpa cinta, Wijaya harus menjalani pernikahan yang hanya berlandaskan komitmen sebagai sahabat hidup. Berbagai peristiwa tak terduga mulai menguji hubungan mereka, membawa dampak besar bagi masa depan yang tidak pernah mereka bayangkan. Inilah perjalanan panjang Wijaya dalam mencari makna hubungan hingga akhirnya ia menemukan belahan jiwa sejatinya.
Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Iris diadopsi keluarga Stewart sejak kecil dan berakhir menjadi kekasih rahasia Vincent, pamannya sendiri. Di balik citra playboy sang CEO, Iris merasakan sisi dingin pria itu secara langsung. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak mentah-mentah oleh Vincent yang lebih memilih pertunangan bisnis. Demi mengakhiri penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun, saat hari pernikahan tiba, Vincent justru datang bersimpuh memohon agar Iris tidak pergi darinya.
Sampul Novel Maaf, Kami Pernah Berzina
8.5
Demi tanggung jawab sebagai kakak angkat, aku terpaksa menikahi Niken yang hamil oleh adikku, Nara. Hal ini terjadi karena Nara telah terikat pernikahan paksa dengan Nada. Konflik memuncak saat aku diminta melakukan perbuatan nista dengan Nada agar dia mengandung, sebab Nara bersumpah tak akan menyentuh istrinya demi kesetiaan pada Niken. Di tengah dilema moral ini, sanggupkah aku merusak kehormatan Nada yang merupakan wanita baik-baik?
Sampul Novel Madu Cinta Sang Ceo
8.9
Raja Adiwijaya, CEO dingin, terpaksa menikahi Putri Cantika yang culun demi melunasi utang nyawa pada mendiang ayah gadis itu. Saat benih cinta mulai tumbuh, Tiara sang cinta pertama muncul kembali. Terbuai masa lalu, Raja nekat ingin menjadikan Tiara istri kedua meski Putri menolak keras. Terjepit antara janji setia dan obsesi lama, Raja menuntut Putri tetap bertahan di sisinya. Akankah Putri menerima kehadiran madu dalam rumah tangga mereka demi janji tersebut?
Sampul Novel Pernikahanku, Bukan Denganmu
9.5
Demi nyawa tunanganku, aku rela kehilangan penglihatan di Puncak lima tahun silam. Namun, pengorbananku justru dianggap drama murahan. Ia lebih mementingkan sahabatnya, Amara, hingga tega mengubah lokasi pernikahan dan membelikannya gaun mewah. Di hari sakral kami, ia malah pergi menemani Amara dan membiarkanku menunggu di altar. Ia pikir aku akan selalu patuh, tapi dia salah besar. Saat ia mencariku di Bali yang kosong, aku sudah berada di gunung untuk menikah dengan pria lain.