APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Rahasia Sang Bintang

Suami Rahasia Sang Bintang

Kehidupan Anastasia Noire hancur setelah fitnah kejam menjatuhkan karier menyanyinya. Di titik terendah, ia menolong pria yang hampir tewas dan mengakuinya sebagai suami demi perlindungan diri. Publik mencibir pilihannya, tanpa menyadari bahwa pria itu adalah Maximilian Kingsley, miliarder rahasia yang penuh misteri. Di tengah pengkhianatan, Anastasia harus menentukan apakah Maximilian adalah pelindung tulus atau ancaman baru bagi masa depannya yang rapuh.
Bab
Bagikan

Bab 3

***

"Kamu sudah sadar?" tanya Anastasia.

Maximilian mematung melihat wanita asing di depannya. Senyum yang baru ia lihat di dunia, seperti senyuman yang menenangkan.

"Bisa mendengarku kan?" sebuah suara lembut terdengar dari sampingnya.

Maximilian mengalihkan pandangannya dan melihat seorang wanita berdiri di dekatnya, tampak lega melihatnya sadar. Wanita itu mendekat, dan sebelum Maximilian bisa berkata apa-apa, ia merasakan tangan halus menyentuh dahinya, memeriksa suhu tubuhnya. Sentuhan itu membuat Maximilian kaget. Tubuhnya menegang, namun bukan karena sakit.

Sebelum ia sempat menyadari apa yang sedang terjadi, wanita itu menarik tangannya kembali dan meletakkan punggung tangannya di pipinya. "Kamu kelihatan sedikit pucat, apa ada yang sakit?" tanyanya, suaranya lembut namun terdengar penuh kekhawatiran.

Maximilian tertegun. Tangannya seharusnya menepis atau menarik diri dari sentuhan wanita itu, tapi tidak ada reaksi alergi atau rasa tidak nyaman yang biasa ia alami saat disentuh wanita lain. Kulitnya tidak terasa panas atau gatal, seolah sentuhan itu tidak berbahaya sama sekali. Ia bahkan tidak merasa risih, meski wanita itu telah menyentuh wajahnya tanpa permisi.

"Apa yang...?" Maximilian bergumam pelan, mencoba memahami situasi. Kenapa ia tidak bereaksi? Ia menatap wanita itu dengan sorot mata penuh kebingungan.

Wanita itu mengerutkan kening, lalu menggerakkan tangannya ke arah kening Maximilian lagi, seolah berniat memeriksa suhu tubuhnya sekali lagi. Kali ini, sebelum tangannya sampai ke kening pria itu, Maximilian refleks meraih pergelangan tangannya, menghentikan gerakan tersebut. Sentuhan itu menghentikan napasnya sejenak.

"Aku baik-baik saja," ucap Maximilian cepat, suaranya lebih tegas daripada yang ia niatkan. "Kamu yang menolongku? Siapa kamu?"

Wanita itu mengangguk pelan, tatapannya tetap lembut meski matanya menyiratkan sedikit keterkejutan. "Namaku Anastasia Noire. Aku menemukanmu terluka parah dan membawamu ke apartemenku. Kamu butuh istirahat."

Maximilian melepaskan pegangan pada pergelangan tangannya, membiarkan wanita itu menarik tangannya kembali. Ada sesuatu yang aneh di sini, pikirnya. Selama ini, ia selalu memiliki masalah dengan sentuhan fisik dari wanita. Alergi yang aneh dan tak dapat dijelaskan oleh medis membuatnya hampir tidak pernah bersentuhan langsung dengan seorang wanita. Tapi dengan Anastasia, semuanya terasa berbeda. Sentuhan itu seolah-olah tidak membawa efek apa pun pada tubuhnya, selain rasa hangat yang samar.

"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Anastasia. Matanya tetap terpaku pada wanita itu, berusaha mencari jawaban dalam ekspresi wajahnya.

Anastasia tampak ragu sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak tahu pasti. Kamu sudah tergeletak di dekat mobilku, bagaimana tubuhmu? Apa masih sakit? Kamu lebam dan para preman itu mengejar mobilku sampai merusaknya."

Maximilian mengerutkan kening, masih bingung dengan apa yang terjadi. "Dan kamu bisa meloloskan dari kejaran para preman itu?"

Anastasia tertawa kecil, "Iya. Mereka kalah dariku. Aku hebat, bukan?" tanyanya dengan percaya diri.

Maximilian menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari kejujuran dalam mata wanita itu. Tidak ada tanda-tanda kebohongan, hanya kepedulian tulus. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Mungkin ini hanya kebetulan. Mungkin tubuhnya sudah cukup terbiasa dengan rasa sakit sehingga tidak bereaksi seperti biasanya.

Namun, di dalam hatinya, Maximilian tahu ini lebih dari sekadar kebetulan. Ada sesuatu tentang Anastasia yang berbeda. Wanita ini, dengan caranya yang sederhana dan sikapnya yang perhatian, entah bagaimana telah menembus pertahanan yang selama ini ia jaga rapat-rapat. Dan itu membuatnya takut, sekaligus penasaran.

"Aku tidak ingat banyak tentang kejadian tadi malam," kata Maximilian, pura-pura mencoba mengalihkan perhatiannya dari pikiran yang mengganggu.

"Tapi tubuhmu sangat kuat karena kamu masih bisa bertahan dengan luka yang seperti ini," balas Anastasia. "Apa perlu aku memanggil dokter? Atau kamu mau aku hubungi keluargamu?"

Maximilian menggelengkan kepalanya, "Aku boleh pinjam ponselmu?"

"Ah, tentu!" balas Anastasia, ia beranjak dari duduknya untuk mengambil ponselnya di kamar, tak lama wanita itu langsung memberikan ponselnya. "Ini pakai saja, ini ponsel yang tidak aku pakai. Tapi nomornya masih aktif dan sebentar lagi aku mau pergi ke luar karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu tunggu di tempatku saja, ya! Aku hanya pergi sebentar."

Maximillian hanya mengangguk datar dan tanpa ekspresi. Ia beranjak dari kursinya dan mencoba mencari tempat aman untuk menghubungi Bryan, asistennya.

***

Anastasia duduk di ruang tunggu studio rekaman, mengayunkan kakinya dengan gelisah. Tangannya yang biasanya tenang kini menggenggam tas kecil di pangkuannya dengan erat. Perasaannya bercampur aduk antara khawatir dan marah. Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu untuk bertemu dengan Rafael Draven, produser rekaman yang dulu dengan antusias mengambilnya di bawah sayapnya, membawa karier musiknya ke puncak popularitas. Namun, kali ini, Rafael memintanya datang dengan nada yang jauh dari antusiasme biasanya.

Pintu studio akhirnya terbuka, dan seorang asisten masuk. "Tuan Draven sudah siap menemui Anda, Nona Noire."

Anastasia mengangguk singkat dan bangkit dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang familiar itu, namun suasananya terasa sangat berbeda dari yang biasanya.

Rafael berdiri di dekat meja besar yang penuh dengan peralatan rekaman, tangan bersedekap di dada. Wajahnya yang biasanya ramah kini tampak serius, bahkan sedikit dingin.

"Anastasia, duduklah," katanya tanpa senyum, menunjuk kursi di depan meja.

Anastasia mengikuti arahannya, duduk dengan punggung tegak dan menatap Rafael dengan penuh tanya. "Ada apa, Rafael? Kenapa kamu memanggilku? Bukannya kita sedang dalam proses rekaman untuk full album kedua? Aku sangat antusias karena album ini semua lagunya adalah hasil ciptaanku."

Rafael menarik napas dalam, seolah-olah sedang mencari kata-kata yang tepat. "Itulah yang ingin aku bicarakan denganmu, Anastasia."

Anastasia merasakan jantungnya semakin cepat. "Apa maksudmu?"

Rafael menatapnya dengan mata yang tajam, tatapannya seperti pedang yang menusuk langsung ke hatinya. "Aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek album kedua ini. Dan lebih dari itu, aku juga akan memutuskan kontrakmu dengan label."

Kata-kata Rafael menghantam Anastasia seperti palu godam. Tubuhnya membeku di tempat. "Apa?" ucapnya dengan suara bergetar. "Kamu... kamu tidak mau memproduseri albumnya? Dan memutus kontrak? Tapi kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Kamu bilang kontraku seumur hidup, kan?"

Rafael tidak segera menjawab. Ia berjalan ke arah jendela besar di ruangan itu, menatap ke luar dengan wajah yang tegang. "Bukan soal kamu melakukan kesalahan, Anastasia," jawabnya dengan suara yang lebih rendah. "Ini soal masa depan. Industri ini berubah dengan cepat, dan aku harus membuat keputusan yang terbaik untuk label dan karierku."

Anastasia mengerutkan kening, merasa semakin bingung dan marah. "Apa maksudmu? Aku adalah artis dengan penjualan album terbaik di label ini! Bahkan albumku terjual jutaan copy. Kamu yang selalu bilang kalau aku memiliki potensi besar, bahwa aku adalah masa depan industri ini!"

Rafael menoleh, matanya bertemu dengan mata Anastasia, kali ini tanpa emosi. "Benar, tapi itu dulu. Sekarang aku punya penyanyi baru, yang aku yakin akan jauh lebih bersinar daripada kamu."

Kemarahan mendidih di dalam dada Anastasia. Ia bangkit dari kursinya, tatapannya penuh dengan kemarahan dan rasa sakit. "Penyanyi baru? Siapa penyanyi itu yang menurutmu bisa menggantikan aku?"

Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka lagi. Anastasia menoleh dengan cepat, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya berhenti mengalir.

Elora Viviana masuk ke dalam ruangan, menggandeng tangan Leon Hale dengan senyum penuh kemenangan di bibirnya. Rambutnya yang panjang dan bergelombang tergerai indah, seolah-olah ia baru saja keluar dari pemotretan. Matanya yang bersinar penuh dengan keangkuhan saat ia melihat langsung ke arah Anastasia.

"Aku adalah penyanyi itu," kata Elora dengan suara manis yang penuh kepalsuan. "Aku yang akan menggantikanmu, Anastasia."

Anastasia merasakan duniannya runtuh seketika. "Elora...?" Ia hampir tidak bisa berkata-kata. "Leon? Apa yang kalian lakukan di sini?"

Leon tersenyum miring, matanya menyiratkan kepuasan yang mengerikan. "Ini adalah dunia nyata, sayang. Dan di dunia ini, yang kuatlah yang bertahan. Elora memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi bintang, dan aku ada di sini untuk memastikan dia mendapatkan apa yang dia inginkan."

Kemarahan dan kekecewaan menyatu menjadi satu di dalam diri Anastasia. "Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Aku percaya padamu, Leon!"

Elora tertawa kecil, suaranya terdengar seperti lonceng yang memekakkan telinga. "Oh, Anastasia, kamu terlalu naif. Dunia ini tidak berputar di sekelilingmu. Kamu hanyalah wanita yang Leon manfaatkan untuk menaikkan namanya di industri hiburan ini."

Rafael berdiri di tempatnya, memperhatikan pertengkaran itu dengan ekspresi tak terbaca. Anastasia menoleh padanya, berharap ada sedikit simpati dari pria yang dulu begitu memujanya. Namun, yang ia lihat hanyalah wajah yang dingin, seolah-olah ia sudah lama memutuskan dan tak ada lagi yang bisa dikatakan.

"Kamu tahu, Rafael, aku tidak pernah menyangka kamu bisa sekejam ini," kata Anastasia, suaranya bergetar dengan amarah yang ditahan. "Aku pikir kita adalah tim."

Rafael hanya mengangkat bahu. "Ini bukan soal kekejaman, Anastasia. Ini soal bisnis."

Anastasia menatapnya tajam, sebelum akhirnya berbalik dan menatap Elora serta Leon. "Kalian tidak akan bertahan lama dengan cara seperti ini," katanya dengan suara penuh kepastian. "Karma akan datang, dan ketika itu terjadi, aku akan ada di sana untuk melihat kalian jatuh."

Elora hanya tersenyum angkuh, tidak terpengaruh oleh ancaman itu. "Kami tidak perlu takut pada karma, Anastasia. Kami memiliki semua yang kami butuhkan untuk menang. Dan kamu? Kamu hanyalah sampah yang akan dibuang dan aku adalah bintang yang sesungguhnya."

Dengan hati yang hancur, Anastasia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menolak untuk menangis di depan mereka. "Kalian boleh mengambil apa yang kalian inginkan sekarang, tapi ingat ini: aku akan kembali, dan saat itu terjadi, kalian akan menyesal pernah meremehkanku."

Anastasia pergi dengan langkah yang anggun, hatinya patah. Semua yang ia raih hancur dalam sekejap.

"Aku akan membuat kalian hancur!"

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang tak pernah menyentuh dapur, terpaksa menyamar menjadi Cia. Demi jet pribadi impian, ia menjalankan misi sang ayah menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald frustrasi menghadapi ketidakbecusan Cia yang bahkan hampir membakar dapur saat memasak air. Meski dicap gila karena kepolosan dan sifat borosnya, interaksi unik antara majikan arogan dan maid amatir ini justru memicu benih asmara.
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha sering dikhianati karena kondisi genophobia miliknya. Demi kesembuhannya, sahabat Zeline mendaftarkannya ke situs kencan internasional. Di sana, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang muak dengan wanita pemburu harta. Meski terpisah jarak Indonesia-New York, kepribadian Zeline yang unik justru memikat Ricardo. Kini, mereka harus berjuang melawan trauma dan jarak demi membuktikan apakah takdir akan menyatukan cinta mereka.
Sampul Novel GAIRAH LIAR PLAYBOY TAJIR
8.0
Leon Indrajaya, pewaris tunggal kerajaan properti yang kaya raya, dikenal sebagai playboy penakluk wanita. Di balik pesonanya, trauma masa kecil membuatnya menjadi sosok temperamental dan dingin. Saat dipaksa ayahnya menjalani terapi, ia bertemu psikiater cantik, Evita Caroline. Meski Eve telah bertunangan dengan CEO Young Entertainment, Belvin Alexander, Leon justru terobsesi padanya. Akankah Leon nekat merebut Eve dan memicu konflik besar antar konglomerat?
Sampul Novel PRESDIR LUMPUH & GADIS MISKIN
9.2
Alex adalah presdir kaya raya sekaligus dosen yang hidup dengan kelumpuhan akibat polio. Meski bergelimang harta, ia berhati dingin karena benci dikasihani. Hidupnya berubah saat bertemu Claire, mahasiswi dari latar belakang kelam yang sedang berjuang keras. Kehadiran Claire membawa kehangatan baru bagi Alex hingga ia rela berkorban segalanya. Namun, saat cinta mulai bersemi, Claire memilih mengejar mimpinya dan membiarkan Alex menanti. Akankah hubungan mereka bertahan?
Sampul Novel Random Wife
9.7
Fabian Gabrilio, seorang atasan sukses yang dikenal sangat kikir, akhirnya merasa jenuh dengan kesendiriannya. Ia mendesak sekretaris pribadinya untuk segera mencarikan calon istri yang tepat bagi dirinya. Ancaman serius pun diberikan; jika sang sekretaris gagal menemukan pendamping hidup untuknya, maka Fabian tidak akan ragu untuk menikahi bawahannya tersebut. Kini, sang sekretaris terjebak dalam tuntutan konyol bosnya yang penuh tekanan.
Sampul Novel Suara Hati Sang CEO
8.3
Raihana Calistya Zianisa memiliki anugerah sekaligus kutukan berupa kemampuan membaca pikiran lewat tatapan mata. Kekuatan ini membuatnya sulit menemukan cinta tulus karena pria hanya mengincar kariernya. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu pria sederhana berhati bersih. Tak disangka, sosok itu adalah CEO di kantornya yang menyamar demi mencari ketulusan hidup. Mampukah pertemuan dua jiwa yang lelah dengan kepalsuan ini menumbuhkan benih cinta sejati?