APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Tak Ada Akhlak

Suami Tak Ada Akhlak

Memiliki suami perhatian yang rajin membantu urusan rumah tangga adalah impian setiap istri. Namun, kebahagiaan itu justru menjadi tabir gelap bagi Hadi untuk menyembunyikan rahasia besar dari pasangannya. Di balik sikap manisnya, Hadi ternyata menjalin hubungan terlarang dengan wanita lain di luar sana. Kehadiran sosok pelakor kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka, menyimpan bom waktu yang siap menghancurkan segalanya jika kebenaran terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 3

Formalitas

***

"Rio, Sayang," panggil seseorang saat Matun

mengajak anak bungsunya bermain di depan rumah.

"Main apa, Sayang? Hem?"

"Main mobil-mobilan, Tante." Sugi. Kakak ipar

Matun datang dengan anak perempuannya.

Dalam keluarga Makijan, semua rumah anaknya baris dan saling

berdempetan. Dari arah selatan adalah rumahnya, ke utara di sampingnya rumah

sang kakak yang bernama Tami, sebelahnya lagi rumah Niswa.

Ketiga bangunan itu saling berdempetan. Sebelah utara rumah

Niswa ada gang kecil sebagai akses ke belakang di mana orang tua mereka

tinggal.

Sebelah utara gang kecil itu adalah rumah kakak laki-laki

Matun yang bernama Fidun, anak kedua dari Makijan dan suami dari sugi.

Matun masih mempunyai kakak perempuan lain, namanya Maria

yang kini tinggal bersama suaminya di desa sebelah. Ia juga masih mempunyai adik

laki-laki yang bernama Eko—belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua

mereka.

Sugi memandang ke arah rumah Matun. "Sepi amat, Tun.

Pada ke mana?"

"Pendi ikut Pak ke sawah tadi. Katanya mau cari yuyu.

Kalau Bang Hadi ke rumah temennya."

Sugi hanya mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O.

"Tun. Ikut, yuk!"

Matun menatap bingung. "Ke mana?"

"Kita makan bakso. Gimana?"

Matun terkekeh. "Mas Fidun baru gajian, ya?"

Memang. Kakak dan kakak iparnya yang satu ini sering sekali mengajak dia atau

Pendi makan di luar kalau baru saja gajian. Dan semua itu dibayari.

Terkadang, jika tidak sempat keluar maka Pendi akan diberi

uang saku.

Sugi mengibaskan tangan di depan wajah. "Ah, enggak.

Lagi pengen aja. Gimana? Kamu ajak Rio, aku ajak Ratna. Pandi ikut Pak ke

sawah, kan?"

Matun tampak menimang. "Udah, ayok."

"Ya udah. Aku ganti pakai celana dulu sama ambil

gendongan Rio, Mbak."

"Iya."

"Titip Rio dulu." Matun memasuki rumah, ia

mengganti daster lusuhnya dengan celana bahan agar mudah saat berjalan.

"Yuk, Mbak."

"Cepet banget."

"Timbang ganti ini." Matun menggendong Rio dan

Sugi menggandeng putrinya. Mereka berjalan ke arah jalan besar untuk makan

bakso langganannya.

Memang. Di desa ini belum banyak yang memiliki motor.

Sebagian besar pun masih sejenis motor Supri untuk para suami bekerja. Jadi,

berjalan adalah kebiasaan para istri di sini untuk bepergian.

"Capek nggak, Tun gendong Rio yang segede ini?"

Matun tersenyum. "Capek pasti, Mbak. Tapi mau bagaimana

lagi?"

"Gantian sini kalau capek."

"Eh, nggak usah, Mbak. Nanti aja."

"Bener?" Matun mengangguk. Keduanya kini berjalan

di samping pabrik keramik. Di sinilah suami Matun Hadi bekerja.

Pabrik ini termasuk besar dengan bayaran yang lumayan. Belum

lagi kalau tanggal merah tetap masuk, maka gajinya sama saja dua hari kerja.

Kadang, Matun bingung dengan keadaan. Suaminya yang bekerja

di pabrik keramik besar kenapa hidupnya masih begini-begini saja. Masih mending

kakak-kakaknya yang hanya bekerja di pabrik lain.

Fidun. Kakaknya yang kedua hanya bekerja di pabrik roti

biasa. Lalu suami dari kakak ketiga—hanya bekerja di pabrik karton kecil.

Ah, kalau kakaknya Niswa, kan memang suami istri bekerja

semua. Tidak heran. Akan tetapi, kakaknya Fidun. Hanya sang suami yang bekerja

tetapi kehidupannya terlihat mapan.

Matun melirik kakak iparnya itu. "Mbak,"

panggilnya. Sugi hanya menoleh dengan gumaman.

"Maaf, ya. Matun mau tanya."

"Tanya apa?" Kening Sugi terlipat.

"Sebelumnya Matun mau minta maaf. Kalau dilihat-lihat,

Mbak sama Mas Fidun tuh mapan. Bisa beliin anak ini itu. Mbak kerja juga?"

Sugi terkekeh. "Mbak mah ibu rumah tangga biasa. Yang

kerja cuma masmu saja." Matun mengangguk.

"Tapi kenapa Matun bisa beda sama Mbak, ya?"

tanyanya lirih.

"Beda gimana?"

Matun menghela napas. "Lihat Matun, Mbak. Baju kucel,

kalau Pendi minta uang jajan Matun sering nggak bisa kasih."

Mereka berhenti dengan Matun yang menatap Sugi dalam.

"Bagaimana sih, Mbak mengelola uang?"

Sugi tersenyum. "Ya dikelola. Beli sesuatu yang diperlukan,

yang bener-bener butuh. Untungnya masmu itu makannya nggak rewel, apa aja

masuk. Makan seadanya aja. Ya ... sesekali beli ayam atau daging buat nyenengin

anak-anak," ucapnya menatap Ratna yang Sugi gandeng.

"Beli ayam nggak setiap hari, Mbak?"

Lagi-lagi Sugi tertawa kecil. "Iya enggaklah. Makan

ayam setiap hari mau jadi apa. Nggak punya tabungan bisa-bisa. Ya seenggaknya

seminggu sekali lah. Kalau beli daging aja nggak barang mesti sebulan

sekali."

Matun mengerjap. Sesuatu menyadarinya. Selama ini mereka

kalau makan selalu menu yang bisa dikatakan mewah. Jika bukan ayam, maka segala

jenis ikan menjadi santapannya.

Itu pun bukan hanya dua atau tiga potong tiap hari. Lebih

dari lima potong karena sekali makan suaminya itu menghabiskan satu ikan utuh.

"Makan yang adanya itu bagaimana, Mbak."

"Ya seadanya aja. Masmu paling suka sambel-sambelan.

Daun ketela, singkong, lembayung, krai, kecipir. Itu paling suka masmu.

Anak-anak biasanya aku sediain telur. Kita mah yang orang tua ngalah aja,"

jelas Sugi.

Matun merenung. Makanan seperti itu, Hadi pasti akan

mengomel. Katanya, sedari kecil udah makan yang beginian, masak pas gede

setelah kerja sendiri makannya masih beginian. Matun menghela napas sangat

dalam.

"Sudah ah, ayok. Nggak makan bakso ini nanti."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Sebuah warung bakso di pinggir jalan besar yang terkenal

enak menjadi tujuannya. Sayangnya, karena terkenal akan rasa yang enak mereka

harus mengantre terlebih dahulu.

"Pesen minumnya tiga, Mas." Mereka memilih tempat

duduk di bagian sudut warung. Tempat ini hanya ditutupi banner besar

untuk menghalangi pandangan dari orang yang lalu lalang di jalan raya.

Alhasil, masih bisa mereka lihat yang berseliweran di jalan.

"Lek Hadi," ucap Ratna. Hal itu mengejutkan kedua

orang dewasa di sana.

"Lek Hadi?" tanya Sugi pada anaknya.

Gadis kecil itu menoleh pada sang ibu, mengangguk lalu

menunjuk ke arah jalan Raya. Sugi dan Matun mengikuti arah pandang yang ditunjuk

Ratna.

Di seberang jalan, terlihat Hadi bersama seorang perempuan

berpakaian minim tengah mengobrol. "Itu, kan suamimu Hadi, Tun?"

Matun mengangguk. "Sama siapa dia, Tun?" tanya

Sugi.

Matun menggeleng. "Enggak tahu, Mbak."

Sesaat kemudian mata Matun membola karena terkejut.

Bagaimana tidak, sekarang dua orang itu berboncengan dengan mesra. Perempuan

itu memeluk Hadi erat ketika berada di boncengan, lalu keduanya pergi sebelum

Matun sempat memanggil suaminya.

"Mbak. Kok perempuan tadi mesra banget sama Bang Hadi.

Dia siapa, Mbak?"

"Mbak juga nggak tahu. Coba nanti tanya sama

suamimu." Perasaan Matun menjadi gelisah. Melihat suaminya tadi mereka

seperti pasangan saja.

"Mbak. Kita pulang saja, ya. Matun udah nggak selera

makan," ucap Matun tidak enak hati.

Sugi menimang. Ia pun mengangguk mengerti perasaan adik

iparnya. "Kita bungkus saja, ya?" Tidak ada bantahan dari Matun.

Pikirannya hanya tertuju pada sang suami dan perempuan berpakaian minim yang

dibonceng suaminya.

***

Matun-mondar mandir di depan rumah menunggu suaminya pulang.

Rio dan Pendi saat ini berada di rumah kakaknya Fidun. Entah kenapa tadi sang

kakak mengajak kedua anaknya, seperti tahu akan ada sesuatu.

"Ke mana Bang Hadi? Kok nggak pulang-pulang, sih?"

gerutunya. Berjalan ke utara lalu balik lagi ke selatan.

Suara motor yang ia kenali membuat Matun mengalihkan

pandangan, ia melihat suaminya yang baru saja datang.

Matun turun dari teras, menghampiri Hadi yang menstandarkan

motornya. "Bang. Abang dari mana?"

Bukannya menjawab Hadi malah mengulurkan tangannya.

"Suami pulang bukannya cium tangan malah dikasih pertanyaan," ucap

Hadi.

Lagi-lagi Matun segera mencium punggung tangan suaminya.

Cepat-cepat karena ia tidak ingin membuang waktu. "Abang tadi dari

mana?"

"Kan tadi pas pergi udah bilang mau ke rumah

temen." Hadi berjalan memasuki rumah.

"Bang. Tadi Adek melihat Abang boncengan sama

perempuan. Pakaiannya seksi. Kalian boncengan dengan mesra." Hadi sempat

mematung mendengar ucapan istrinya.

"Dia adik temennya Abang. Tadi minta tolong anterin ke

suatu tempat," ucapnya memberi alasan. Hadi meraih minuman untuk ia teguk

guna menghilangkan rasa gugup yang dirasa.

"Kenapa nggak minta anter sama kakaknya saja? Temen

Abang itu."

Hadi menghela napas dalam, memutar otak mencari jawaban.

"Istrinya teman Abang hamil besar. Nggak mungkinlah ditinggal."

Alasan Hadi masuk akal. Akan tetapi, Matun masih saja merasa

gelisah. "Tapi, Bang. Abang sama perempuan tadi kelihatan mesra

sekali."

"Dek," panggil Hadi dengan nada yang sedikit

keras. "Abang tidak suka, ya ditanya-tanya kayak gini. Abang ini baru

pulang, capek. Kamu malah bikin Abang pusing?"

"Matun, kan hanya tanya, Bang. Kok Abang marah?"

tanya Marun dengan suara lirih.

"Ah sudahlah. Abang mau mandi," ucap Hadi sembari meninggalkan

Matun.

Matun hanya bisa membanting tubuhnya pada kursi. Menarik

napas dalam untuk melepaskan rasa bingung karena belum mendapat jawaban pasti.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Rahasia Milyader
9.2
Ivy Anderson terjebak dalam nasib buruk setelah melakukan kesalahan kecil di hadapan Ben Clayton, CEO berkuasa di New York. Ben yang terobsesi mulai menggunakan taktik licik untuk menjerat Ivy, termasuk mendekati anak kembarnya, Terra dan Terry. Demi keselamatan buah hatinya, Ivy dipaksa tunduk pada ancaman Ben yang kejam. Akankah Ivy mampu meloloskan diri dari cengkeraman pria berbahaya ini, atau justru terperangkap selamanya dalam dominasi Ben yang gelap?
Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
9.3
Sepuluh tahun mencintai waliku, Bima Wijaya, berakhir tragis saat aku menyatakan perasaan di usia delapan belas. Alih-alih balasan cinta, dia justru murka dan merobek lukisan berhargaku. Keadaan kian perih ketika dia membawa Clara, tunangannya, ke rumah. Bima yang dulu melindungi kini menjadi sumber luka terdalam. Demi menyembuhkan hati yang hancur, aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama Ayah dan memulai hidup baru di Universitas Indonesia.
Sampul Novel DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
9.6
Alvino Rakha Satyawidjaya, putra tunggal konglomerat properti Asia, memilih mandiri sebagai guru meski bergelimang harta. Di sisi lain, Rachelia Amora Dirgantara adalah primadona SMA Cakrawala yang menjalin kasih dengan Leonel Grestavio. Hubungan harmonis mereka seketika hancur saat Rachel mengetahui rencana perjodohan dirinya. Tak disangka, sosok calon suaminya adalah gurunya sendiri di sekolah. Konflik pun bermula saat cinta dan kewajiban mulai berbenturan.
Sampul Novel Hamil Saat Bercerai
8.3
Lima tahun membina rumah tangga, Tiara harus menelan pil pahit saat Bayu menceraikannya demi wanita lain. Alasan utamanya adalah keinginan Bayu untuk segera mendapatkan keturunan. Namun, sebuah fakta mengejutkan terungkap saat Tiara kembali ke rumah orang tuanya; ia ternyata sedang mengandung anak Bayu. Kini Tiara terjebak dalam dilema besar: akankah ia memberi tahu mantan suaminya, atau tetap bungkam setelah dikhianati begitu saja?
Sampul Novel Istri Yang Diacuhkan
8.3
Arvin berniat menceraikan Gina meski mereka memiliki putri bernama Darcy. Pernikahan ini awalnya hanyalah alat balas dendam Arvin terhadap mantan kekasihnya, Felysia. Tragisnya, Felysia ternyata adalah kakak kandung Gina sendiri. Meski Gina telah berkorban demi keutuhan keluarga, perselingkuhan Arvin dan Felysia yang terjalin di belakangnya menghancurkan segalanya. Kini, mereka sepakat berpisah saat Darcy menginjak usia tiga tahun demi menutupi luka tersebut.