APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Karakter Game

Suamiku Karakter Game

Arabella adalah gadis dua puluh tahun yang belum pernah merasakan cinta selain dari simulasi gim. Kehidupannya yang membosankan berubah total saat karakter pria favoritnya tiba-tiba muncul di dunia nyata dengan fisik sempurna. Ara terkejut ketika pria itu memanggilnya istri. Ia bimbang apakah ini halusinasi akibat kesepian atau keajaiban. Kini, ia hanya berharap sosok tersebut tetap tinggal dan tidak meninggalkannya kembali ke dunia fiksi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ara, yang tidak ingin menjadi bagian dari "perkumpulan Zombie penggigit leher manusia," langsung berbalik arah dan berlari sekuat tenaga. Kakinya bergerak cepat, sementara napasnya memburu. Angin dingin yang menusuk seolah tidak cukup untuk meredakan ketegangan di tubuhnya.

Di belakang, Zombie itu tidak tinggal diam. Dengan langkah pincang tapi penuh kekuatan, ia mengejar sambil terus mengeluarkan suara mengerikan, "Rrraww! Rrraww! Rrraaaaww!" Suara itu menggema, membuat setiap helai rambut di tubuh Ara berdiri.

Setelah berlari tanpa henti, Ara akhirnya sampai di depan rumahnya. Dengan gerakan tergesa, ia membuka pintu dan masuk. Begitu tubuhnya melewati ambang pintu, ia langsung menguncinya rapat.

"Huft... Aku selamat," gumam Ara pelan, mencoba mengatur napas yang tersengal-sengal. Punggungnya bersandar di pintu, tubuhnya yang lelah perlahan merosot hingga ia terduduk di lantai. Kakinya terasa lemah, seperti tak mampu menahan tubuhnya lebih lama.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.

"Rrraaawww!"

Suara itu kembali terdengar, kali ini dari dalam rumahnya. Ara tersentak, pandangannya terangkat ke arah ruang tengah. Jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya gemetar saat ia melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan.

Ibu dan kedua adiknya berjalan ke arahnya dengan langkah yang pincang dan kaku. Mata mereka kosong, kulit mereka mulai pucat kehijauan. Darah kering menghiasi bibir mereka. Gerakan mereka sama persis seperti Zombie yang mengejarnya tadi.

"A-apa yang terjadi pada kalian?" tanya Ara dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca, penuh kesedihan dan ketakutan. Ini keluarganya, orang-orang yang ia sayangi, tetapi kini mereka berubah menjadi makhluk yang sama sekali berbeda.

Namun, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah geraman dari mulut mereka, "Rrraaaww!"

Tanpa peduli pada Ara, ibu dan adiknya terus mendekat dengan tujuan yang jelas: menggigit lehernya, menjadikannya bagian dari mereka.

Ara terdiam beberapa detik, tubuhnya seolah membeku. Namun, naluri bertahan hidup kembali memaksa tubuhnya bergerak. Dengan cepat, ia membuka pintu rumah dan melarikan diri ke luar.

Begitu berada di luar, ia menutup pintu secepat mungkin dan bersandar di sana, menahan pintu dengan tubuhnya agar keluarganya yang kini menjadi Zombie tidak bisa keluar mengejarnya.

Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. Dalam hati ia berteriak, "Kenapa ini terjadi pada mereka... pada keluargaku?!"

Namun Ara melupakan satu hal penting.

"Rraawww!"

Suara itu kembali terdengar, lebih dekat, lebih mengancam. Dan benar saja, sosok Zombie yang sebelumnya mengejarnya kini berdiri tepat di hadapannya. Ara menelan ludah, tubuhnya menegang. Ia menyadari satu hal: ia belum membeli beras yang diminta ibunya dan buru-buru pulang karena Zombie ini, tapi itu kini menjadi masalah terakhir yang ingin ia pikirkan.

Zombie itu terlihat mengerikan. Kulitnya hijau gelap, penuh noda darah yang kering dan segar bercampur, menutupi hampir setiap inci tubuhnya. Mulutnya terbuka lebar, memamerkan gigi tajam yang berlumuran darah. Bau busuk menyengat menguar dari tubuhnya, cukup untuk membuat siapa pun merasa mual.

Ara membeku sejenak, tubuhnya gemetar karena ngeri. Namun, rasa takut itu segera berubah menjadi dorongan untuk bertahan hidup.

"Kyaaaa!" teriak Ara sekuat tenaga. Dalam kepanikan, ia mengangkat kakinya yang beralaskan sandal selow hitam dan menendang Zombie itu tepat di ulu hatinya. Tendangan itu cukup kuat untuk membuat Zombie terhuyung ke belakang.

Tanpa membuang waktu, Ara langsung berbalik dan mulai berlari secepat yang ia bisa. Napasnya memburu, jantungnya berdebar kencang, tapi ia tahu ia tidak boleh berhenti. Kakinya terus melangkah, menjauhi rumah dan Zombie yang ada di sekitarnya, mencari tempat aman yang entah ada atau tidak.

"Kenapa ini terjadi?!" gumam Ara di tengah larinya, suaranya parau oleh ketakutan. "Padahal tadi aku hanya asal bicara!"

Ia mengingat ucapannya saat di jalan tadi, tentang keinginannya hidup di dunia penuh Zombie bersama pria tampan seperti di game. Sekarang, kenyataan itu justru menjadi mimpi buruk.

Ara menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba menyingkirkan rasa bersalah yang merayapi pikirannya. "Tidak!" katanya tegas pada dirinya sendiri. "Aku tidak mau dunia ini penuh Zombie. Mereka jelek... menjijikkan!"

Matanya mencari-cari jalan keluar di depan, sementara pikirannya terus berusaha mengabaikan suara langkah-langkah pincang yang mungkin mengikutinya dari belakang.

Bugh!

Suara keras terdengar saat sesuatu jatuh dari atas.

"Kyaaaa!" Ara menjerit panik ketika melihat dengan jelas apa yang baru saja terjatuh. Seekor Zombie, dengan tubuh yang penuh luka dan noda darah, terhempas dari atap rumah. Tubuh Ara membeku beberapa detik, sebelum akhirnya ia terjatuh terduduk di tanah, seluruh tubuhnya gemetar.

Zombie itu perlahan bangkit dari posisinya. Gerakannya kaku, namun matanya yang kosong menatap langsung ke arah Ara. Dari mulutnya keluar suara mengerikan, "Rrraaww!"

Tanpa menunggu lebih lama, Ara mencoba bangkit. Niatnya jelas: melarikan diri sejauh mungkin. Namun langkahnya terhenti saat ia menyadari ada lebih banyak Zombie yang kini berlari ke arahnya dari berbagai arah.

Ketakutannya berubah menjadi tindakan impulsif. Dengan sisa keberanian, Ara menendang Zombie yang ada tepat di depannya. Tendangan itu cukup kuat untuk membuat makhluk itu tersungkur ke tanah.

"A-aku harus keluar dari sini!" pikir Ara dengan panik.

Ia segera berlari ke depan, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang semakin mencekam. Namun dari kanan, kiri, bahkan belakang, Zombie terus bermunculan. Mereka berjalan terseok-seok, tapi jumlah mereka yang semakin banyak membuat pemandangan itu terlihat seperti mimpi buruk yang hidup.

Ara berlari secepat yang ia bisa, menghindari tangan-tangan kasar yang mencoba meraihnya. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak, tapi ia tahu ia tidak boleh berhenti. Adegan ini hampir seperti seorang idola yang dikejar oleh segerombolan penggemar fanatik. Bedanya, para pengejar ini bukan meminta tanda tangan-mereka ingin menggigit dan menghancurkan hidupnya.

"Tolong!" jeritnya tanpa tahu siapa yang akan mendengar.

Di tengah kekacauan itu, Ara hanya bisa berharap ada keajaiban yang akan menyelamatkannya.

Ara berhenti mendadak. Napasnya terengah, tubuhnya gemetar. Jalan di depannya penuh sesak oleh segerombolan Zombie yang bergerak lambat namun mengancam. Mata kosong mereka menatap ke arahnya, seperti pemburu yang baru saja menemukan mangsanya. Ara tahu, jika ia nekat maju, ia akan terkepung dan dikeroyok tanpa ampun.

Panik, ia menoleh ke kanan, mencari harapan. Pandangannya jatuh pada sebuah bangunan SMA dengan gedung tiga lantai yang menjulang di kejauhan. Sekolah itu tampak sunyi senyap, seolah tidak tersentuh oleh kekacauan yang melanda dunia ini.

"Libur sekolah..." pikir Ara cepat. "Ya, itulah alasannya mengapa tempat itu begitu tenang. Tidak ada manusia, tidak ada Zombie. Sekolah itu bisa menjadi tempat perlindungan sementara."

Hati kecilnya bergetar di antara rasa takut dan dorongan untuk bertahan hidup. "Itu satu-satunya pilihan..." gumamnya, menggenggam sisa keberanian yang ia miliki.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan Abu
7.8
Di kekaisaran pemuja api, Asha menyamar sebagai gadis bisu saat dikirim ke kuil Ezen. Ia memiliki bakat terlarang membaca memori dari abu, mengungkap sejarah perang yang terkubur. Bersama Kael, pejuang penuh rahasia, Asha menelusuri asal-usulnya di tengah konspirasi besar. Hubungan mereka tumbuh saat pemberontakan pecah. Melalui ritual dan pelarian berbahaya, kekuatan Asha menjadi penentu apakah dunia akan bangkit kembali atau musnah selamanya dalam kehampaan.
Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Navila terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada prajurit Erdan demi mendapatkan obat bagi ayahnya. Meski awalnya hanya rencana sekali saja, ia justru terjerat dalam keinginan sang Jenderal yang mulai jatuh hati padanya. Di tengah perseteruan dua kerajaan, mereka menyadari bahwa hubungan ini terhalang oleh waktu yang singkat. Akankah perasaan mereka mampu bertahan dan tersampaikan dengan tulus saat perang besar sedang berkecamuk di antara kedua belah pihak?
Sampul Novel Dicintai Raja Siluman Ular
9.4
Alana nekat menikahi Cakra tanpa restu orang tua demi cinta dan kemewahan. Namun, kehidupan barunya berubah mencekam saat ia menyadari hobi aneh suaminya yang memelihara ular liar di dalam rumah. Selain sering menemukan ular besar di ranjangnya, Alana dihantui mimpi erotis bersama pria asing. Penyelidikannya mengungkap rahasia kelam bahwa mantan istri Cakra hilang secara misterius, memicu kecurigaan besar tentang identitas asli sang suami yang sebenarnya.
Sampul Novel Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
8.5
Yun Xiaowen, calon ratu iblis, terjebak dalam nestapa usai bertemu Liuu Qiang Wen. Kaisar manusia berjuluk The Cyanide King itu membantai orang tua Xiaowen demi ambisi menguasai tujuh dunia. Tanpa cinta, ia menikahi Xiaowen hanya untuk memanfaatkan kelemahannya sebagai pion politik. Di tengah mimpi buruk yang seakan tak berakhir, Xiaowen meratapi nasibnya yang hancur sambil mempertanyakan apakah masih ada sisa kasih sayang di hati sang kaisar yang kejam.
Sampul Novel Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk
9.7
Sepuluh tahun pernikahan dengan Pradipa hanya menyisakan luka pedih karena ia masih terobsesi pada cinta pertamanya. Puncaknya, Pradipa tega memaksaku mendonorkan darah demi wanita itu. Di ambang maut, sebuah penglihatan masa lalu mengungkap dosa besarku yang telah menghancurkan Adam, pria tulus yang mencintaiku. Kini aku terbangun dengan kesempatan kedua. Aku bertekad melepaskan Pradipa dan menebus kesalahan demi menemukan kedamaian sejati.
Sampul Novel Pindahnya Jiwa Permaisuri Ke Tubuh Siluman Rubah
9.3
Saat nyawanya terancam, jiwa Permaisuri Chou Zui Ran berpindah secara misterius ke tubuh siluman rubah di masa depan. Di sana, ia bertemu Kim Daehyung, pemuda yang sangat mirip dengan suaminya dahulu. Berharap mendapatkan kasih sayang yang tak pernah ia rasakan, Zui Ran pun menjalin hubungan bahagia bersamanya. Namun, takdir kembali menarik jiwanya pulang ke raga manusia. Mampukah cinta mereka bertahan meski terpisah dimensi dan waktu yang berbeda?